Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 41 - Perdebatan Di Telepon


__ADS_3

Kebenaran yang terkuak tidak selalu sepenuhnya adalah kebenaran - Auraliv.


...༻∅༺...


"Katakan siapa orang yang sudah membuatmu begini, Dan!" Wira menuntut jawaban.


Zidan menggeleng. "Lupakan saja, Pah. Aku tidak apa-apa," jawabnya.


"Zerin, apakah kau tahu siapa orang yang menyerang Zidan?" kali ini Wira bertanya kepada Zerin.


Sebelum menjawab, Zerin melirik ke arah Zidan sejenak. Lelaki tersebut terlihat menggeleng. Seolah memberikan kode pada Zerin untuk tetap tutup mulut.


"Aku nggak tahu, Pak Wira..." ucap Zerin.


"Terus kenapa kamu bisa sama Zidan di sini? Kalian ketemu dimana?" Arni menyelidik.


"Kami kebetulan olahraga di tempat yang sama. Aku ketemu Tuan Zidan pas ingin pulang. Saat aku melihat Tuan Zidan babak belur begitu, aku langsung membawanya ke sini untuk diobati," terang Zerin. Dia memberikan jawaban dengan sangat baik. Hingga Zidan tersenyum.


"Kalau begitu, beritahu aku dimana alamat tempat gym yang sering kau dan Zidan datangi," pinta Wira seraya membuka lebar telapak tangan.


Zerin lagi-lagi melirik ke arah Zidan. Lelaki itu menganggukkan kepala. Zerin lantas memberitahu alamat yang di inginkan Wira.


Jujur saja, Zerin masih belum bisa sepenuhnya mengetahui rencana Zidan secara detail. Dia akan menunggu lelaki tersebut pulih. Hingga Zidan dapat menjelaskan segalanya.


"Ya sudah, Rin. Kamu bisa pulang sekarang. Biar aku yang jaga Zidan di sini," ujar Arni sembari tersenyum tipis. "Terima kasih ya, Rin. Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu gimana nasib Zidan," lanjutnya bersungguh-sungguh.


"Kalau nggak ada aku, pasti ada banyak orang yang tolongin Tuan Zidan kok," jawab Zerin lembut.


"Zidan, panggil aku Zidan..." kata Zidan. Tanpa menoleh ke arah Zerin.


Arni sontak menatap sang putra dan tersenyum. Kemudian kembali menengok ke arah Zerin. "Tuh, Zidan nggak mau dipanggil tuan katanya. Ingat mulai sekarang ya, Rin..." tuturnya.


"I-iya, Nyonya..." Zerin tergagap. Jantungnya berdebar saat Zidan bicara begitu di hadapan Arni. Entah kenapa hal tersebut membuat hati Zerin tersentuh.


"Kamu pulang sama Pak Tio saja, Rin. Lagian ini sudah malam," ujar Arni. Dia segera menghubungi sopir pribadinya.

__ADS_1


Zerin pamit pulang. Dia mencium punggung tangan Arni.


Tanpa diduga, Zidan menyodorkan satu tangannya. Berharap juga mendapat perlakuan yang sama seperti Arni.


"Zidan! Kamu lagi sakit masih sempat-sempatnya bercanda," tegur Arni. Dia memukul betis sang putra karena gemas.


Sementara Zerin, dia hanya tersenyum. Lalu benar-benar beranjak pergi.


Dalam perjalanan, Zerin terpaku menatap layar ponsel. Dia terus memandangi nomor telepon Ernest. Zerin benar-benar ingin bicara kepada lelaki tersebut.


Bertepatan dengan itu, Zerin menerima banyak pesan dari grup chat pertemanan. Di sana dia mendapatkan permintaan maaf dari Kinar dan kawan-kawan. Kebetulan sekali ketiganya sama-sama tidak bisa pergi ke gym.


Zerin justru mendengus lega. Dia merasa beruntung ketika tiga temannya tidak datang ke gym. Dengan begitu, mereka tidak akan mengetahui apa yang terjadi.


...***...


Waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Zidan terbangun dari tidur. Dia melirik ke sofa. Di sana Arni terlihat masih tidur.


Zidan merubah posisi menjadi duduk. Dia meraih ponsel yang ada di atas nakas. Lalu langsung menghubungi Jaka.


"Aku minta maaf atas semuanya, Ka. Aku tidak pernah menyangka semuanya akan berakhir begini," jawab Zidan. Sebenarnya dia merasa tidak enak dengan kedua temannya. Namun bagaimana lagi, Zidan tidak bisa membatasi hati untuk tidak jatuh cinta kepada perempuan secantik Zerin.


"Kau harusnya mengatakan itu pada Ernest! Tadi malam dia minum alkohol lebih dari lima botol!"


Zidan mendengus kasar. Ia bersiap membicarakan alasan utama dirinya menelepon Jaka.


"Begini. Mengenai kejadian di toilet. Aku ingin kau menghapus Zerin. Anggap dia tidak ada di sana," ujar Zidan serius. Sesekali dia melirik ke arah Arni. Memastikan ibunya itu tidak bangun dari tidur.


"Apa yang kau rencanakan? Apa kau ingin melakukan sesuatu untuk menjatuhkan Ernest?! Kau harus tahu, aku dan Ernest bisa dengan mudah menyebarkan fakta tentangmu. Terutama mengenai apa yang kau lakukan dengan Zerin!"


"Ayolah, Ka. Apa kau tidak berkaca? Aku, Ernest, dan kau. Kita semua bajingan. Kau mau tahu kenapa aku bilang begitu? Karena kita sering bermain dengan wanita. Meski kau dan Ernest hanya menyewa wanita PSK, tapi mereka juga bisa disebut wanita bukan?"


Jaka terdiam seribu bahasa. Sebab apa yang dikatakan Zidan memang benar adanya. Dia tidak bisa berkilah sama sekali.


"Dengar, jika kau menyebarkan berita mengenaiku dan Zerin. Maka aku akan turun tangan untuk menuntaskannya. Sekarang ayahku mungkin sedang berencana menuntut Ernest. Jika kau ingin Ernest lepas dari tuntutannya, beritahu aku."

__ADS_1


"Kenapa kau melakukan ini?! Bukankah kita berteman?" Jaka terdengar kecewa.


"Tentu saja kita berteman. Maka dari itu aku ingin membantu Ernest lepas dari tuntutan yang sedang disiapkan ayahku." Jawaban Zidan tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan Jaka.


"Membantu kau bilang?!" Jaka menghela nafas panjang dan meneruskan, "apa semua ini karena Zerin? Kau melakukannya karena Zerin bukan?!" tebaknya.


Zidan membisu sejenak. Namun tidak berlangsung lama. Karena dia segera mengatakan kata ya dari mulutnya.


"Sial! Firasatku benar mengenai hubungan Zerin dan Kak Adi. Apa kau yang membuat mereka putus?"


"Kalau itu jelas tidak. Mungkin berita mengenai Kak Adi ingin fokus dengan masa koasnya itu benar."


"Sejak kapan kau dan Zerin--"


"Aku rasa sudah cukup kita bicara. Kau dan Ernest punya waktu paling lama dua hari. Karena ayahku tidak memerlukan waktu lama untuk menemukan bukti. Sekali lagi maaf atas semuanya." Zidan menjadi orang yang lebih dulu mematikan telepon.


Satu hari terlewat. Zidan sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Bengkak diwajahnya sudah sembuh. Hanya tinggal luka goresan dan rasa sakit yang tersisa. Zidan diharuskan tetap beristirahat di rumah.


Kini Zidan telah berada di kamar. Ia sibuk membaca buku.


Pintu perlahan terbuka. Zerin muncul sambil membawa nampan berisi martabak manis dan minuman. Perempuan itu tidak lupa untuk menutup pintu rapat-rapat.


Zidan tersenyum lebar saat melihat Zerin. Begitu pun sebaliknya.


Zerin meletakkan nampan ke nakas terlebih dahulu. Kemudian duduk ke tepi ranjang.


"Apa yang sudah kau lakukan kali ini? Aku tidak mendengar sedikit pun gosip tentang kita di kampus?" tanya Zerin seraya memicingkan mata.


"Sudah kubilang, aku bisa mengatasinya," tanggap Zidan. Dia menutup buku yang tadi dibacanya.


Zerin tersenyum. Dia telentang ke samping Zidan. Merebahkan kepala ke dada bidang lelaki itu.


"Menurutmu, sampai kapan aku bisa menjaga rahasiaku? Mengingat sudah tiga kali aku ketahuan," ungkap Zerin. Jari-jemarinya iseng memainkan kemeja yang dikenakan Zidan.


"Entahlah. Mungkin dari sekarang kita harus berhati-hati," sahut Zidan.

__ADS_1


"Kau sudah berjanji akan memberitahukan rencanamu. Sekarang beritahu aku." Zerin mendongak untuk menatap Zidan. Berharap lelaki tersebut segera bicara.


__ADS_2