Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 76 - Pesta Di Rumah Reza


__ADS_3

Suasana hati yang buruk dapat mereda secara perlahan - Auraliv.


...༻∅༺...


"Aku yakin bisa," bisik Zidan dengan penuh penekanan. Dia merangkul pundak Zerin. Lalu mengecup singkat pipi istrinya itu.


Zerin menghela nafas kasar. Dia masih tampak sendu.


"Kalau kau tidak bisa bersenang-senang, maka akulah yang akan membuatmu melakukannya," ujar Zidan. Setelah membeli pakaian, dia dan Zerin segera berangkat menaiki pesawat.


Dalam perjalanan, Zerin sibuk menjelajah internet. Memeriksa media sosialnya yang mulai dipenuhi komentar-komentar kebencian.


Zidan sigap mengambil ponsel dari tangan Zerin. Dia mencegat seorang pramugari yang kebetulan lewat.


"Mbak, ini untukmu." Zidan memberikan ponsel Zerin dan miliknya kepada sang pramugari.


"Apa?" pramugari cantik itu sontak bingung. Begitu pun Zerin.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memberikan ponselku kepadanya?!" protes Zerin tak terima.


"Kau tidak akan bisa bersenang-senang kalau benda itu masih ada di tanganmu. Aku janji akan membelikan ponsel baru," sahut Zidan.


Zerin mendelik. Dia tidak bisa menghentikan keputusan Zidan. Apalagi saat lelaki itu terlanjur menyuruh sang pramugari pergi.


"Aku benci saat sikap menyebalkanmu kembali!" komentar Zerin cemberut. Dia membuang muka sambil melipat tangan ke depan dada.


"Benarkah? Tapi katanya kau suka segala hal tentangku," balas Zidan. Menampakkan wajah seolah-olah kecewa.


Zerin hanya diam. Dia memejamkan mata dan memilih untuk tidur saja. Perjalanan menuju Amerika tentu membutuhkan waktu yang lama.


"Mau melakukan malam pertama sekarang?" cicit Zidan.


"Nggak! Aku nggak mood!" tolak Zerin yang masih membuang muka.


Lidah Zidan mendecak. Dia meletakkan kepala ke pundak Zerin. "Yakin nggak mau? Nggak mau dicoba dulu gitu?" godanya. Lalu tiba-tiba menggelitiki perut Zerin. Usahanya berhasil membuat perempuan tersebut tergelak.


"Udah deh." Zerin menjauhkan tangan Zidan darinya. Dia segera menunjukkan ekspresi datarnya lagi.


"Sayang, aku butuh menenangkan pikiranku sejenak. Kau bisa memberiku waktu kan?" tutur Zerin. Berharap Zidan mengerti.


Zidan tersenyum. "Baiklah, aku akan memberikanmu waktu. Tapi setelah kita sampai di Amerika, jangan harap aku akan berhenti," ucapnya.


Zerin hanya geleng-geleng kepala. Dia segera memejamkan mata dan mencoba menenangkan diri. Setidaknya melupakan segala masalah yang sedang terjadi. Jujur saja, Zerin merasa dia tidak seharusnya pergi. Namun mau bagaimana lagi? Dia selalu tidak bisa menolak keputusan Zidan terhadapnya.


Selepas melalui perjalanan panjang dengan pesawat, Zerin dan Zidan akhirnya sampai di tempat tujuan. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.


"Kau mau membawaku kemana?" tanya Zerin.

__ADS_1


"Bersenang-senang. Kita akan bertemu Reza dan teman-temanku yang lain," jawab Zidan.


Zerin ikut saja. Dia sama sekali tidak menikmati perjalanan yang terjadi.


Zidan membawa Zerin ke penthouse Reza. Kebetulan lelaki itu ingin mengadakan pesta. Reza melakukannya hanya untuk menyambut kedatangan Zidan dan Zerin.


Waktu menunjukkan jam lima sore. Jadi pesta yang diadakan Reza belum sepenuhnya di mulai.


Reza langsung heboh ketika menyaksikan kedatang Zidan dan Zerin. Dia segera merangkul pundak Zidan.


"Aku minta maaf tidak bisa datang ke acara pernikahan kalian. Jadi sebagai gantinya aku membuatkan pesta ini," ujar Reza. "Ah, benar. Kau belum pernah memperkenalkan istrimu kepadaku," lanjutnya seraya melirik ke arah Zerin.


"Pesta? Aku yakin kau mengadakan pesta bukan karenaku," tanggap Zidan. Dia melepas rangkulan Reza. Lalu melingkarkan satu tangan ke pinggul Zerin. "Kenalkan, dia Zerin. Istriku," ucapnya memperkenalkan.


Zerin tersenyum tipis. Sedangkan Reza tampak memicingkan mata.


"Bukankah dia gadis yang kau tolong di klub itu?" tebak Reza. Atensinya tidak teralihkan dari sosok Zerin. Dia memang pernah bertemu Zerin sebelumnya. Meskipun begitu, baru sekarang Reza mengamati Zerin dengan seksama. Hanya satu hal yang terlintas dalam benaknya saat melihat Zerin. Yaitu sangat cantik!


"Kau benar. Dia orangnya," sahut Zidan. Dia mendorong jidat Reza dengan satu tangan. "Bisakah kau kondisikan tatapanmu?! Itu membuatku terganggu!" tukasnya.


"Istrimu sangat cantik. Pantas kau rela membuang lencana playboymu demi perempuan seperti dia," ucap Reza.


Zerin yang mendengar terkesan tenang. Pujian seperti itu sudah biasa didengarnya.


Sambil menunggu malam, Zerin dan Zidan disuruh beristirahat di kamar. Kini keduanya baru saja memasuki kamar yang sudah disiapkan oleh Reza.


Zidan yang tidak tahu, segera menyusul. Akan tetapi langkahnya tertahan karena pintu tidak bisa dibuka.


"Sayang?" panggil Zidan dengan dahi berkerut samar.


"Aku ingin mandi sendiri!" Zerin menyahut dari dalam kamar mandi.


Zidan menghembuskan nafas berat. Sepertinya masalah yang terjadi, membuahkan beban pikiran berat kepada Zerin. Kini Zidan sudah kebingungan untuk menghibur istrinya tersebut.


Alhasil Zidan memilih menunggu. Dia merebahkan diri ke ranjang. Mencoba mencari cara untuk membuat Zerin bangkit lagi. Setidaknya sampai perempuan itu lupa dengan masalah yang di hadapinya. Tetapi apa?


Di kamar mandi, Zerin berendam di dalam bathup. Dia menangis tersedu-sedu. Zerin benar-benar merasa bersalah dengan orang-orang terdekatnya. Terutama Zidan.


Setengah jam terlewat. Barulah Zerin keluar dari kamar mandi. Zidan langsung duduk tegak dan menatapnya. Lelaki itu bisa menyaksikan wajah Zerin yang sembab.


"Kau menghabiskan banyak waktu di kamar mandi hanya untuk menangis?" timpal Zidan.


"Kau bersenang-senang saja sendiri. Sepertinya aku akan tetap di kamar saja," ujar Zerin datar.


"Kalau begitu aku juga akan tetap di kamar," sahut Zidan yang kembali telentang ke ranjang.


Zerin cemberut. "Kau hari ini sangat menyebalkan," komentarnya.

__ADS_1


"Ayo sini!" Zidan menepuk sisi ranjang yang ada di sampingnya. Menyuruh Zerin untuk rebahan ke sana.


"Bukankah harusnya kau mandi dulu?" balas Zerin ketus.


"Wajah itu mengingatkanku saat pertama kali kita saling mengenal. Apa kau ingin memulainya dari awal lagi, Sayang?" goda Zidan.


"Cepat mandi! Kau ingin aku berada di pesta kan?" tanggap Zerin. Dia mengabaikan segala godaan sang suami.


Zidan tersenyum pongah. Dia segera beranjak ke kamar mandi.


Reza mengajak Zerin dan Zidan bergabung saat pesta sudah dimulai. Musik mulai dimainkan. Orang-orang mulai berdatangan. Sebagian besar tentu didominasi oleh orang asli Amerika. Beberapa dari mereka juga merupakan teman Zidan.


Zidan menyapa semua temannya. Dia juga tidak lupa memperkenalkan Zerin. Perempuan itu hanya bisa menanggapi dengan senyuman singkat. Zerin masih belum bersemangat untuk melakukan apapun.


"Aku tidak menyangka kau sudah menikah," ujar Anna. Dia merupakan teman dekat Zidan. Anna adalah blesteran Indonesia-Amerika. Jadi tidak heran dirinya dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan lancar.


"Aku sendiri bahkan tidak pernah menyangka. Apalagi kau," sahut Zidan sembari melirik Zerin. Dia sebenarnya cukup dekat dengan Anna. Bagaimana tidak? Zidan dan perempuan tersebut pernah satu kali melakukan hubungan intim. Namun itu tentu terjadi beberapa tahun lalu. Tepat sebelum Zidan bertemu Zerin.


"Zerin, apa kau juga menjadi korban potret nakalnya?" tukas Anna. Menyindir perihal hobi Zidan yang suka mengambil foto wanita telanjang.


"A-apa maksudmu?" raut wajah Zerin seketika pucat.


"Kau tidak tahu? Zidan--"


"Anna! Aku sudah tidak melakukannya. Semuanya juga karena Zerin," potong Zidan. Dia segera menenggak bir dari dalam gelas.


"Wah... Zerin benar-benar seperti malaikat dalam hidupmu ya," komentar Reza yang sudah setengah mabuk. Dia sedari tadi mendengarkan pembicaraan.


Suasana hati Zerin semakin buruk. Dari pembicaraan yang tadi dia dengar, dirinya dapat menyimpulkan bahwa Anna dan Zidan pasti pernah memiliki hubungan istimewa.


"Ayo kita menari! Reza menyewa seorang DJ handal malam ini," seru Anna seraya bergabung bersama kerumunan orang yang asyik menari bebas.


"Ayo, sayang! Mungkin kau--"


"Tidak! Kau saja!" Zerin langsung menolak. Dia membuang muka dari Zidan.


"Kau marah? Apa kau marah karena Anna? Ayolah, sayang. Kau tahu aku juga punya masa lalu yang sama buruknya denganmu," kata Zidan.


"Bukan begitu. Aku hanya lelah. Kau saja yang bersenang-senang," jawab Zerin. Dia memaksakan dirinya tersenyum agar Zidan tidak cemas.


"Kau tidak seru!" cetus Zidan. Dia segera bergabung dengan orang-orang untuk menari mengiringi musik yang dimainkan DJ.


"Kau yakin tidak mau ikut?" Reza tiba-tiba berbisik. Membuat kening Zerin sontak mengernyit.


"Zidan itu seperti magnet untuk para wanita. Aku bahkan tidak jarang melihatnya didekati oleh seorang gay. Kau akan menyesal tidak ikut bergabung dengannya," ucap Reza.


Zerin tersenyum remeh. Dia tak mau percaya dengan omong kosong lelaki yang sedang mabuk.

__ADS_1


"Aku percaya Zidan..." Zerin tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat Anna terus berusaha mendekati Zidan. Parahnya perempuan tersebut tampak melepas jaket jeans yang dia kenakan.


__ADS_2