Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 34 - Zidan Selalu Punya Cara


__ADS_3

Ketika seorang perempuan melihat lelaki bertutur kata lembut pada ibunya, maka dari situlah rasa cinta semakin tumbuh - Auraliv.


...༻∅༺...


Setibanya di tempat tujuan, Zerin menjadi orang yang berjalan lebih dulu. Di iringi Zidan dari belakang. Lelaki tersebut menenteng plastik berisi kue kesukaan Lia.


"Bu?" panggil Zerin sembari membuka pintu. Dia bergegas mencari keberadaan Lia dan menyuruh Zidan duduk menunggu di sofa.


Ketika memeriksa kamar, barulah Zerin menemukan sang ibu. Lia tampak murung sambil telentang miring menghadap jendela.


"Bu..." Zerin mendekat. Dia duduk bersimpuh di lantai. Lalu menyentuh lembut bahu sang ibu.


Lia segera merubah posisi menjadi duduk. Dia tidak sedikit pun menatap ke arah Zerin.


"Rin, katakan padaku. Kau tidak dibayar Tuan Zidan untuk melakukannya kan?" tanya Lia. Air matanya lagi-lagi menetes. Ibu mana yang tidak sakit hati ketika menyaksikan putrinya dijamah seenaknya oleh seorang lelaki.


Zerin lekas menggeleng. "Maafkan aku... Hiks..." isak Zerin. Dia merasa tidak bisa menyembunyikan kedoknya lagi. Pertanyaan yang dilontarkan Lia sangat tepat sasaran.


Saat itulah Zidan datang. Dia segera berjalan menghampiri Lia. Duduk bersimpuh di sebelah Zerin.


Kening Lia mengernyit samar. Dia tentu merasa tidak enak melihat majikannya duduk bersimpuh di kaki. Namun di sisi lain, Lia juga merasa Zidan memang harus meminta maaf kepadanya.


"Tuan Zidan... Apa yang sudah kau lakukan kepada anakku? Kami memang miskin, Tuan. Tapi kami juga punya harga diri. Aku kira kau...."


"Aku mencintai Zerin!"


Pengakuan Zidan sukses membuat Lia berhenti bicara. Dia dan Zerin membelalakkan mata. Keduanya sama-sama terkejut.


"Aku awalnya berusaha menahan diri. Tapi tidak bisa. Putrimu sangat mempesona. Dia cantik, baik, dan pintar. Hal itu membuatku tidak peduli lagi dengan statusnya sebagai anakmu. Dan aku juga merasa semakin terbawa suasana ketika Zerin juga memiliki perasaan yang sama," tutur Zidan. Menjelaskan panjang lebar. Dia berucap dengan kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Zerin yang mendengar, kian dibuat kaget. Dia bisa menduga kalau Zidan hanya berpura-pura. Tetapi jantungnya berdegub sangat kencang. Ia jadi terbawa perasaan lagi terhadap sikap Zidan.


"Rin... Benarkah itu?" akhirnya Lia menatap ke arah Zerin. Menuntut jawaban dari putrinya sendiri.


Zerin awalnya terdiam. Dia bertukar pandang dengan Zidan sejenak. Zerin tentu lebih memilih rencana lelaki tersebut dari pada harus membongkar rahasianya.


"Itu benar, Bu. Aku juga menyukai Zidan. Maafkan aku..." lirih Zerin. Terisak di lutut sang ibu.


Lia menatap nanar Zerin dan Zidan secara bergantian. Dia segera berdiri dan mengajak untuk duduk ke sofa. Lia ingin membicarakan semuanya dengan serius.


Namun Zidan menolak. Dia ingin tetap berada di posisi yang sama.


"Aku minta maaf dengan apa yang aku dan Zerin lakukan saat di dapur tadi. Jujur saja, itu pertama kali kami melakukannya. Dan mulai sekarang aku berjanji akan menjaga Zerin dengan baik..." ungkap Zidan.


"Aku percaya kepadamu, Tuan Zi--"


"Bu, jangan panggil aku dengan sebutan tuan lagi. Mulai sekarang aku juga akan memanggilmu dengan sebutan ibu." Zidan bertutur kata lembut. Sengaja memotong perkataan Lia.


"Kumohon maafkan aku... Jika kau sangat marah dengan apa yang kulakukan terhadap anakmu, maka pukul saja aku sesuka hati. Atau kau bisa melaporkanku ke polisi." Zidan memegangi salah satu kaki Lia. Dia bersujud di sana.


Zerin terkesiap menyaksikan Zidan. Dia tidak menduga Zidan akan bersikap sejauh itu.


"Tuan Zidan..." tangisan Lia semakin menjadi-jadi. Melihat kesungguhan Zidan, dia merasa terharu. Tanpa pikir panjang, Lia bergegas membawa Zidan berdiri. Hal serupa juga dilakukannya dengan Zerin.


"Aku tentu merestui hubungan kalian. Apalagi kalian memiliki perasaan suka sama suka." Lia menghentikan tangis. Dia ingin membicarakan semuanya lebih lanjut. "Tapi bagaimana dengan Nyonya Arni dan Tuan Wira? Mereka pasti akan sangat terkejut. Terlebih kami bukanlah keluarga yang sekelas dengan keluargamu, Zidan..." ucapnya.


Zidan tersenyum tipis. "Ibu tenang saja. Nanti aku pasti akan bicara dengan mereka. Tapi untuk sekarang aku ingin merahasiakan hubunganku dengan Zerin. Kami butuh waktu..." sahutnya lembut. Dia segera menyenggol Zerin dengan kaki. Berharap perempuan tersebut bisa mengatakan sesuatu untuk membantu.


Sedari tadi Zerin hanya diam. Dia berusaha mengontrol jantungnya yang berdebar tidak karuan. Zerin langsung tersadar ketika Zidan memberikan senggolan.

__ADS_1


"Itu benar, Bu. Lagi pula masa depanku dan Zidan masih panjang untuk menjadi dokter. Dan mulai sekarang, kami akan saling menjaga diri." Zerin langsung angkat suara.


"Kami akan pastikan kejadian di dapur tadi tidak akan terulang. Tegur dan nasihatilah, jika kami melakukan kesalahan lagi," kata Zidan. Dia sukses membuat Lia mengembangkan senyum dan mengangguk. Untuk sekarang, rahasia Zerin kembali bisa diselamatkan.


Kini Zerin, Zidan, dan Lia sudah duduk di sofa. Mereka saling tidak bicara dalam sesaat.


"Oh iya. Ini, Bu. Aku membelikan kue kesukaanmu. Zerin yang bilang padaku kalau kau sangat suka kue putu," ujar Zidan seraya menyodorkan plastik berisi kue yang disebutkannya.


"Wah, terima kasih... Aku akan buatkan minuman untukmu." Lia hendak beranjak ke dapur. Tetapi Zerin dengan cepat menghentikan.


"Biar aku saja, Bu!" sergah Zerin. Dia mengambil alih tugas ibunya untuk membuatkan minuman.


Sesampainya di dapur, Zerin malah termangu. Dia memegangi dada kiri. Jantungnya masih berdebar lebih cepat dari biasanya.


"Kenapa denganku? Jelas-jelas aku sudah tahu kalau Zidan hanya berakting. Tapi kenapa aku salah tingkah begini?" gumam Zerin. Dia takut dirinya jatuh cinta pada Zidan.


Zerin menggeleng kuat. Dia berusaha menyadarkan diri sebisa mungkin. Lalu fokus membuat minuman. Zerin segera mengantarkan minuman setelah semuanya jadi.


Langkah Zerin terhenti ketika melihat Zidan dan Lia mengobrol sangat akrab. Dia dapat melihat sang ibu tidak berhenti tersenyum. Apa yang dilakukan Zidan benar-benar merubah keadaan secara drastis.


Setelah puas meluruskan kesalahpahaman, Zidan pamit pulang. Kini dia dan Zerin berdiri saling berhadapan di dekat mobil. Kebetulan Lia terlihat sudah masuk ke rumah karena harus ke kamar mandi. Jadi wanita paruh baya itu membiarkan Zerin yang melepas kepergian Zidan.


"Kau harus pastikan kalau ibumu akan tutup mulut mengenai hubungan kita," kata Zidan.


Zerin mengangguk. Dia menundukkan kepala karena enggan menatap Zidan. Hal itu karena jantungnya masih belum berhenti berdebaran.


"Kau kenapa? Tidak suka dengan rencanaku ini?" Zidan mengerutkan dahi. Dia merasa Zerin menunjukkan reaksi aneh.


"Memang sedikit keterlaluan. Tapi ini lebih baik dari pada aku harus mengatakan rahasia besarku," tanggap Zerin. Dia mendongak dan hanya menatap Zidan sejenak.

__ADS_1


"Hutangmu tambah banyak, Rin..." bisik Zidan. Tersenyum lebar sembari memasukkan dua tangan ke saku celana. Dia segera masuk ke mobilnya dan pergi.


Zerin hanya membisu. Dia memang tak bisa tertolong jika Zidan tidak ada. Zerin menatap mobil Zidan sampai menghilang digerus jarak.


__ADS_2