
Kekhawatiran akan terus bersarang jika solusi belum ditemukan - Auraliv.
...༻∅༺...
Lia melangkah cepat meninggalkan Zerin. Hingga menghilang ditelan pintu.
Zerin yang cemas bergegas mengambil tas. Dia berniat mengejar. Namun Zidan mendekat dan menghentikan kepergian Zerin.
"Biarkan saja ibumu pergi. Aku yakin dia butuh waktu untuk sendiri. Kau harus menyelesaikan pekerjaanmu di sini," ujar Zidan. Tangannya menggenggam lengan Zerin cukup erat.
"Ini semua gara-gara kau! Sudah kubilang untuk--" ucapan Zerin terhenti ketika Zidan sigap meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Kita sebaiknya jangan membicarakannya dahulu. Cepat selesaikan pekerjaanmu. Beritahu aku kalau sudah selesai!" ucap Zidan. Dia langsung pergi dari hadapan Zerin.
"Kenapa aku harus menuruti keinginan lelaki bajingan sepertimu?!!" timpal Zerin. Dua tangannya mengepalkan tinju.
Zidan berhenti melangkah. Dia berbalik dan berkata, "Karena kau membutuhkanku untuk menjelaskan segalanya pada ibumu. Bukankah begitu?"
Usai berucap begitu, Zidan segera menghilang dari pandangan Zerin. Lelaki itu masuk ke dalam kamar.
Sementara Zerin masih mematung di tempat. Dia memang tidak bisa membantah kalau dirinya membutuhkan Zidan.
Zerin melanjutkan tangisnya. Perlahan dia berjongkok dan menghamburkan derai air mata. Dirinya sangat takut akan mendapat kebencian dari Lia.
Zerin memutuskan untuk fokus menyelesaikan pekerjaan. Diambilnya barang belanjaan sang ibu yang masih berserakan di lantai. Dia segera membuat hidangan untuk makan siang keluarga Dirgantara.
Raut wajah Zerin terlihat sangat sendu. Dia ingin tahu apa yang dilakukan ibunya sekarang. Zerin bisa saja bertanya kepada Amira. Tetapi adik perempuannya itu sedang melakukan studi tur dan akan pulang saat petang nanti.
"Maafkan aku, Bu..." Zerin tenggelam dalam kesedihan. Di tengah-tengah kesibukannya, dia meneteskan air mata. Merasa bersalah kepada Lia. Meskipun begitu, dia berusaha menyelesaikan pekerjaan.
Tak lama kemudian Bi Ranti datang ke dapur. Ia berhasil memergoki Zerin menangis.
"Kamu kenapa menangis, Rin?" tanya Bi Ranti cemas.
Zerin membulatkan mata. Dia tersenyum sembari menghapus air mata yang ada di wajah.
__ADS_1
"Aku nggak apa-apa. Ini karena bawang merah, Bi." Zerin berkilah. Padahal sayuran yang dipegangnya adalah selada.
Bi Ranti mengerutkan dahi. "Bawang merah?" tanya-nya meragu. Memperhatikan sayuran yang ada di tangan Zerin. Jelas itu bukan bawang merah.
"Bawang merahnya baru saja aku masukkan ke wajan," jawab Zerin seraya menunjuk wajan yang telah bertengger di atas kompor.
Bi Ranti mengangguk ketika melihat apa yang dikatakan Zerin benar adanya. Dia segera membantu perempuan tersebut untuk memasak.
"Ibu kamu mana, Rin?" tanya Bi Ranti yang baru menyadari kalau Lia tidak terlihat sejak tadi.
"Dia ada urusan. Jadi dia menyuruhku untuk menggantikannya di sini." Zerin terpaksa menyembunyikan kesedihan. Hingga akhirnya dia dapat menyelesaikan hidangan untuk makan siang.
Arni mendatangi dapur saat waktu menunjukkan jam dua belas siang. Dia memastikan masakan sudah jadi atau tidak.
"Wah, hari ini Zerin yang masak ya? Ibumu kemana, Rin?" Sama seperti Bi Ranti, Arni juga penasaran kemana perginya Lia. Mengingat Lia selalu minta izin kalau ingin pulang lebih dulu.
Zerin tentu memberikan jawaban yang sama seperti sebelumnya. Dia tentu berusaha menutupi fakta yang sesungguhnya.
Hidangan segera disiapkan di meja makan. Arni segera memanggil Zidan dan Wira untuk makan siang. Dia juga tidak lupa mengajak Zerin dan para pembantu lain ikut makan.
"Zerin, kamu nggak makan, Nduk?" tanya Bi Eka. Dia terlihat sudah duduk bersila sambil memegang piring berisi nasi dan lauk.
"Aku kebetulan nggak lapar, Bi. Aku mau pulang saja," ucap Zerin. Ia telah menggandeng tasnya ke bahu. Zerin tersenyum dan berpamitan kepada semua orang. Bersikap sopan dan mencium punggung tangan para pembantu yang lebih tua darinya.
Usai berpamitan dengan para pembantu keluarga Dirgantara, Zerin masuk ke ruang makan. Kini dia meminta izin kepada majikannya. Termasuk Zidan yang juga kebetulan ada di sana. Lelaki itu menatap serius ke arah Zerin. Seakan ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
"Rin, jangan lupa bawakan ibumu makanan juga ya? Kan masih banyak lauk dan sayurnya tuh," saran Arni yang langsung direspon dengan anggukan oleh Zerin. Alhasil perempuan tersebut segera mengambil makanan untuk dibawa pulang.
Bersamaan dengan itu, sebuah pesan diterima Zerin dari Zidan. Dia segera memeriksa.
'Tunggu aku di depan gerbang. Kita akan jelaskan semuanya pada ibumu.' Begitulah bunyi pesan yang dikirim oleh Zidan.
Zerin menoleh ke arah Zidan yang masih duduk menikmati makan siang. Lelaki itu juga menatap ke arahnya. Mereka seolah bicara melalui sorot mata.
Sesudah memasukkan makanan ke dalam wadah, Zerin beranjak dari rumah keluarga Dirgantara. Dia keluar dari gerbang dan menunggu Zidan di pohon yang ada di seberang jalan. Di sana Zerin duduk di atas beton pembatas jalan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sebuah mobil merek bugatti keluar dari gerbang rumah keluarga Dirgantara. Zerin memicingkan mata, mencoba memperhatikan orang yang duduk di kursi kemudi. Dahinya berkerut ketika menyaksikan Zidan yang ada di sana. Karena seingat Zerin, Zidan biasanya menggunakan mobil tesla. Sepertinya lelaki itu membeli mobil baru.
Zidan menghentikan mobil tepat di depan Zerin. Membiarkan perempuan itu untuk masuk.
"Mobil baru lagi?" tanya Zerin dengan mimik wajah datar.
"Ya. Mobil yang dulu sudah kotor karena ulah kita," tanggap Zidan seraya menjalankan mobil.
"Kau membuang mobilmu yang dulu karena kita melakukan se*x di sana?" Zerin memastikan.
"Tentu saja. Terlebih, kita melakukannya lebih dari satu kali di sana."
Zerin mengamati tampilan mobil yang dinaikinya. Sebagai orang yang suka mengikuti perkembangan zaman, dia tahu kalau mobil Zidan sekarang salah satu mobil termahal di dunia.
"Setahuku mobil ini sangat mahal. Berapa banyak uang tabunganmu?" tanya Zerin.
"Kau tidak akan bisa membayangkannya," sahut Zidan sembari tersenyum miring.
Zerin mendengus kasar. Dia memejamkan mata dan mencoba bersiap untuk menghadapi Lia.
"Katakan kepadaku. Apa makanan kesukaan ibumu? Apa dia punya barang yang sangat dibutuhkannya sekarang?" cetus Zidan. Membuat Zerin langsung membuka mata.
"Kau mau apa?" Zerin justru berbalik tanya.
"Aku tidak mungkin datang dengan tangan kosong dan hanya minta maaf bukan? Dimata ibumu pasti aku sudah dianggap lelaki kurang ajar." Zidan menjelaskan.
"Itu benar kok. Kau memang kurang ajar," tanggap Zerin.
"Zerin!" Mata Zidan mendelik.
Zerin membalas dengan tatapan malas. Menurutnya Zidan memang ada benarnya. Lelaki tersebut tidak bisa datang ke rumah dan minta maaf. Alhasil dia dan Zidan singgah sebentar untuk membeli sesuatu untuk diberikan kepada Lia.
"Apa rencanamu? Kau tidak akan mengatakan kalau aku--"
"Tidak! Kau tenang saja," sahut Zidan yang terkesan tenang.
__ADS_1