
Roda terus berputar. Yang telah lama hilang terkadang bisa kembali - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin kewalahan dengan ulah Zidan. Tubuhnya sekarang bermandikan akan keringat. Hal tersebut membuat kulit Zerin tampak memancarkan kilap.
Parahnya Zidan belum juga selesai. Padahal lelaki itu sudah mencapai puncak dan melepaskan penyatuan. Namun sepertinya Zidan masih belum puas.
"Bukankah harusnya kita istirahat dulu?..." lirih Zerin. Ia masih duduk di atas wastafel. Membiarkan Zidan yang terus bermain lidah dengan buah dadanya. Suara kecup-mengecup diperdengarkan Zidan. Lelaki itu juga terdengar kesulitan mengatur nafas. Sama seperti Zerin, Zidan juga sudah bermandikan keringat.
"Satu ronde lagi..." sahut Zidan. Dia melakukan pemanasan lagi agar alat vitalnya bisa beraksi untuk kali kedua.
Zidan menurunkan Zerin dari wastafel. Perempuan itu nyaris terhuyung karena sudah merasa lemas. Namun dia hanya terkekeh menerima keadaannya sekarang.
"Maaf, Sayang. Tapi sepertinya aku akan menawanmu cukup lama di sini," ujar Zidan. Ia menggendong Zerin dengan gaya bridal. Lalu membawanya ke bawah pancuran shower. Zidan menurunkan Zerin di sana.
Air shower dinyalakan dalam kecepatan kecil. Hingga air yang keluar hanya beberapa tetes bak air gerimis. Saat itulah Zidan memeluk Zerin. Memagut bibir istrinya tersebut dengan liar.
Zerin sesekali harus memiringkan kepala agar bisa melampaui pergerakan bibir Zidan yang begitu menggebu. Keduanya melenguh dalam keadaan mulut yang saling menyatu.
Jari-jemari Zerin yang berhiaskan kotex berwarna merah merekah di punggung Zidan. Keduanya bisa merasakan gairah yang seolah lama hilang.
Rambut Zerin dan Zidan sepenuhnya basah. Terdapat bulir-bulir air yang menghiasi wajah mereka.
Puas melakukan pemanasan, Zidan mematikan shower. Kemudian menyuruh Zerin berbalik membelakanginya.
Zerin berpegang pada dinding kaca yang menjadi sekat tempat shower dan closet. Perlahan dia mulai merasakan benda asing yang masuk pada organ intimnya. Siapa lagi yang berulah selain Zidan? Lelaki itu jelas melakukan penyatuan.
Hentakan demi hentakan diberikan Zidan dari belakang. Zerin mulai melenguh. Mulutnya tak berhenti menganga. Wajah Zerin memerah padam.
Pergerakan Zidan membuat seluruh badan Zerin bergetar. Bahkan sampai membuat helaian rambut perempuan itu berhamburan ke wajah.
Di belakang, Zidan tak berhenti mencumbu punggung Zerin yang putih dan mulus. Ulahnya sukses membuat punggung sang istri dihiasi oleh beberapa tanda merah. Zidan juga tak berhenti mengerang seperti Zerin. Ia sangat merindukan kenikmatan bercinta dengan Zerin lebih dari apapun.
"Sial! Ini nikmat sekali, Sayang..." desis Zidan. Di sela-sela desa-hannya yang terus membara.
__ADS_1
Zerin semakin lemas. Dia hanya ingin istirahat dan tidur sekarang. Tetapi permainan Zidan tak kunjung usai.
Selang sekian menit, Zidan akhirnya merasakan puncak kenikmatan. Hantaman akhir yang begitu dalam membuat Zerin mengerang nyaring.
Wajah Zerin meringis nikmat, tatkala Zidan melepaskan penyatuan dengan pelan. Perempuan tersebut menyandar lemah ke dinding kaca. Mencoba mengatur nafas yang masih memburu.
Zidan kembali menyalakan shower. Ia mengambil sabun dan mengoleskannya ke badan Zerin.
Zerin tergelak kecil saat menerima perlakuan dari Zidan. Dia berbalik menghadap lelaki itu. Lalu merebut sabun dari tangan Zidan. Sekarang Zerin yang mengoleskan sabun ke tubuh sang suami.
Zidan iseng menggelitiki perut Zerin. Hal tersebut membuat Zerin reflek berteriak dan tertawa.
Lama-kelamaan busa sabun semakin melimpah karena Zerin dan Zidan terus bermain-main.
Selepas mandi bersama, Zerin dan Zidan segera mengenakan handuk. Zerin menjadi orang pertama yang keluar dari kamar mandi. Perempuan tersebut membuka tas. Ia mencari pakaian yang pantas untuk dikenakan.
"Sayang! Kita akan pulang jam tujuh nanti kan?" tanya Zerin dengan suara cukup lantang.
Zidan tidak menjawab. Zerin menggedikkan bahu. Dia melepas handuk kimono karena harus mengenakan pakaian.
Zidan berlari menghampiri Zerin. Menangkap perempuan itu dari belakang.
"Dapat!" seru Zidan. Ulahnya berhasil membuat mata Zerin membulat.
Zerin tertawa saat Zidan mengangkat dan memutarnya di udara. Terakhir Zidan menjatuhkan Zerin ke atas ranjang. Lelaki itu langsung menyambar bibir Zerin dengan ciuman.
"Mmmphh!" Zerin tentu kaget. Mengingat dia dan Zidan sudah melakukan dua ronde di kamar mandi. Apa itu masih belum membuat Zidan puas?
Zidan sedang hanya mengenakan handuk di pinggul. Kecupannya perlahan beralih ke leher Zerin.
"Sayang! Kau mau melakukannya lagi? Kita baru saja selesai mandi. Jangan gila!" ujar Zerin.
Zidan berhenti mencumbu. Dia mengangkat kepala untuk menatap Zerin. Seringai terukir di wajahnya.
"Ah, sudah lama aku tidak mendengar kau menyebutkan kata gila untukku. Jujur, aku merindukannya," kata Zidan.
__ADS_1
"Sayang!" Zerin memukul dada Zidan. Namun lelaki itu justru membuka handuk yang melilit pinggul. Dia melanjutkan dengan menghamburkan ciuman ke perut Zerin.
Di kamar sebelah, Defan baru saja terbangun dari tidur. Dia mengucek mata berulang kali sampai kesadarannya benar-benar terkumpul.
Defan segera turun dari ranjang untuk mencari papa dan mamanya. Dia melangkah keluar dari kamar. Mengedarkan pandangan ke segala arah.
Dengan kaki mungilnya, Defan berlari menghampiri kamar Zerin dan Zidan. Dahinya mengerut saat mendengar keributan aneh dari dalam.
Defan tentu penasaran dengan apa yang didengarnya. Suara erangan Zerin dan Zidan dia anggap sebagai keadaan bahaya. Takut kalau kedua orang tuanya kesakitan akan sesuatu.
"Papa? Mama? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Defan dengan perasaan cemas. Dia juga mengetuk pintu beberapa kali.
Mendengar suara Defan, Zerin menoleh ke arah pintu. Ia mengatup bibirnya agar berhenti melenguh.
"Sayang! Defan!" Zerin mencoba memperingatkan. Dia takut anaknya tiba-tiba membuka pintu. Mengingat pintu sedang tidak dikunci.
Zerin menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Zidan yang saling menyatu. Berjaga-jaga kalau Defan tiba-tiba masuk.
Bukannya berhenti, pergerakan Zidan malah menjadi-jadi. Menyebabkan Zerin kelepasan dan mengerang lebih nyaring.
"Sebentar lagi..." ujar Zidan. Dia hampir mencapai puncak gairah.
Pintu akhirnya dibuka oleh Defan. Anak itu mematung di tempat menyaksikan pemandangan di atas ranjang. Untung saja tubuh Zerin dan Zidan tertutupi oleh selimut.
Zerin menengok ke arah pintu. Dia sempat bingung harus bagaimana.
Sementara itu, Zidan menggapai puncak bersamaan dengan pergokan Defan. Lelaki itu sudah terpuaskan dan menjatuhkan diri dalam keadaan tengkurap di atas badan Zerin.
"Defan, kamu tunggu di luar ya. Nanti Mama akan menyusul," ucap Zerin.
Defan mengangguk. Dia buru-buru meninggalkan kamar Zerin dan Zidan. Entah apakah anak itu mengerti atau tidak, yang jelas dia terlihat canggung saat menangkap basah kedua orang tuanya bercinta.
"Kau gila!" Zerin mendorong Zidan. Hingga lelaki itu telentang ke sebelahnya. Akan tetapi Zidan malah tergelak.
"Kalau Defan tanya. Bilang saja kalau kita tadi sedang bikin adik untuknya," ucap Zidan.
__ADS_1
Zerin memukuli Zidan dengan bantal. Dia kesal dengan suaminya yang sangat sulit mengatur gairah. Bahkan saat di hadapan anak sendiri. Selanjutnya, Zerin bergegas mengenakan pakaian. Lalu menyusul Defan.