
Jatuh cinta, membuat kita ingin fokus ke satu orang saja - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin merasa sedikit terkejut. Sebab dia sempat terbawa perasaan dengan bantuan yang diberikan Zidan. Namun kenapa lelaki itu baru membicarakannya sekarang? Kenapa Zidan tidak bilang saja sejak awal? Mengingat mereka sudah beberapa kali bertemu.
'Aku hampir saja salah tingkah dengan bantuan Zidan. Aku harusnya tahu kalau dia akan begini,' batin Zerin. Entah kenapa dia merasa sangat kecewa. Kepalanya bahkan perlahan menunduk.
"Kenapa hanya diam? Apa kau tidak setuju. Kalau begitu, aku biarkan saja Adi dan pamannya untuk--"
"Aku setuju. Kau tahu aku akan melakukan apapun untuk menjaga rahasiaku. Termasuk berhubungan intim denganmu." Zerin melangkah ke hadapan Zidan. Ia meneruskan, "tapi kau harus ingat. Aku tidak bisa menjadi mainanmu untuk selamanya. Beritahu aku, kau ingin melakukannya berapa kali lagi bersamaku?"
Zidan terdiam. Dia terpaku menatap perempuan berwajah cantik di depannya. Zidan sangat ingin menjawab kalau dirinya akan selalu memiliki keinginan bercinta dengan Zerin. Tetapi keinginan itu tidak bisa dia ucapkan dari mulut.
"Aku akan memberitahumu nanti. Yang jelas tadi masih belum cukup," jawab Zidan datar. Di balas Zerin dengan semburat wajah cemberut. Perempuan tersebut berjalan keluar dari kamar.
Zerin segera pulang bersama Lia. Keduanya sekarang berada di dalam bus. Duduk berdampingan di kursi belakang.
Pikiran Zerin masih memikirkan tentang Zidan. Entah kenapa perasaan kecewa begitu terasa di hatinya. Seakan ada sesuatu yang diharapkan Zerin terhadap Zidan. Akan tetapi harapan tersebut tidak menjadi kenyataan.
'Kenapa aku merasa galau? Aku nggak mungkin suka sama Zidan kan?' batin Zerin. Dia menggelengkan kepala berulang kali.
"Kenapa, Rin? Kepalamu pegal?" Lia yang melihat, tentu langsung menegur.
"Eh, nggak apa-apa, Bu." Zerin sempat kaget. Dia mengusap tengkuk tanpa alasan. Lalu bergegas membuang muka.
Lia hanya tersenyum dan menggeleng maklum. Dia mengusap pelan pundak Zerin.
Satu hari terlewat. Zerin menjalani keseharian seperti biasa. Karena rahasianya belum diketahui banyak orang, dia masih dapat menjalani kehidupan dengan normal.
Kini Zerin sedang berkumpul bersama tiga temannya di perpustakaan. Kebetulan juga hubungan Zerin dan Kinar sudah membaik. Mereka sibuk mengerjakan tugas kuliah.
"Eh, hari ini Zidan ngajakin aku makan ke restoran Jepang yang mahal itu loh," tukas Kinar seraya menangkup wajahnya sendiri.
__ADS_1
"Hah? Yang benar?"
"Irinya... Biar kita punya uang, tapi harus mikir-mikir dulu kalau mau makan di sana."
Gita dan Astrid menanggapi dengan antusias. Namun tidak untuk Zerin. Entah kenapa dia merasa tidak rela Kinar pergi dengan Zidan. Kali ini bukan karena kekhawatirannya kepada Kinar, melainkan karena rasa keterikatannya terhadap Zidan.
"Betul banget yang dibilang Gita. Benar kan Rin?" Astrid menatap Zerin. Begitu pun Gita dan Kinar. Mereka semua heran kenapa Zerin tampak melamun dan menunjukkan ekspresi biasa. Bahkan perempuan itu terkesan seperti sedang sedih.
"Rin? Kenapa diam saja? Lagi galauin apa coba?" Gita yang paling dekat, menyenggol Zerin.
Senggolan Gita sukses menyadarkan Zerin dari lamunan. Perempuan tersebut langsung merekahkan senyuman.
"Kamu kenapa, Rin?" tanya Kinar. Jujur saja, dia masih curiga dengan Zerin yang selalu bersikap aneh saat dirinya bicara tentang Zidan. Kinar mengira temannya tersebut menyukai Zidan.
"A-aku nggak kenapa-napa," kilah Zerin. Memaksakan dirinya tersenyum.
"Bohong. Mukanya murung gitu kok," tukas Gita menyelidik.
"Bilang aja, Rin. Kamu lagi ada masalah kan?" Astrid ikut cemas.
Zerin meliarkan bola mata. Mencoba memikirkan topik yang cocok. Ia tentu tidak akan membicarakan tentang Zidan.
Hingga akhirnya Zerin terpikirkan mengenai hubungannya dengan Adi yang sudah kandas. Dia memberitahu ketiga temannya tentang hal tersebut.
Astrid dan Gita ikut sedih. Mereka berusaha menenangkan Zerin dengan perhatian tulus.
Sementara itu, Kinar merasa lega. Bukan karena Zerin putus dengan Adi, tetapi karena Zerin tidak membicarakan tentang Zidan. Kinar lantas ikut menenangkan Zerin.
"Kak Adi putusin aku karena ingin fokus sama masa koasnya." Zerin memberikan alasan kenapa hubungannya dan Adi berakhir.
"Kamu tenang saja, Rin. Banyak antrian lelaki yang suka sama kamu. Jangan pedulikan lelaki seperti Adi itu! Aku sudah malas memanggilnya dengan sebutan kakak," ucap Kinar dengan nada mengomel.
"Kinar benar. Lagian ada kami juga yang terus jadi temanmu di sini. Kami bisa bikin kau lupain si Adi itu dalam sekejap," ujar Gita. Berusaha menghibur.
__ADS_1
Zerin tersenyum lebar. Dia berterima kasih kepada tiga sahabatnya. Ketika menghadapi momen mengharukan seperti itu, perasaan bersalah selalu saja muncul dalam hati Zerin.
...***...
Zidan duduk tenang di depan setir. Dia memarkirkan mobil di tepi jalan untuk menunggu Kinar.
Bukannya memikirkan kekasih sendiri, yang ada dalam pikiran Zidan justru adalah Zerin. Entah sejak kapan perempuan itu menjadi momok pikirannya. Namun satu hal yang pasti. Niat Zidan mengajak Kinar pergi ke restoran karena ingin mengakhiri hubungan secara baik-baik.
Bagi Zidan, bermain dengan Kinar adalah kesalahan. Meski dia bukanlah lelaki yang sepenuhnya baik, tetapi orang seperti Zidan juga sadar diri terhadap gadis baik layaknya Kinar. Bermain hanya dengan Zerin sudah dirasa cukup.
Tak lama kemudian Kinar datang. Dia terlihat begitu ceria. Kinar juga membelikan Zidan minuman segar. Gadis itu lumayan banyak bicara. Zidan hanya menanggapi seadanya dan sekali-kali tersenyum tipis.
Sesampainya di restoran, Zidan dan Kinar langsung memesan makanan. Zidan membiarkan Kinar menikmati makanan terlebih dahulu, barulah dia akan bicara.
Tanpa diduga, Kinar mengambil gambar Zidan. Dia segera mengunggahnya ke story media sosial.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Zidan. Dia tidak terima fotonya di ambil tanpa izin. Sepertinya karma sedang menimpa Zidan. Mengingat dirinya sudah dua kali mengambil gambar Zerin sembarangan.
"Aku mengambil foto pacarku. Apa tidak boleh? Lagi pula dilihat dari gaya bagaimanapun, kau selalu tampan. Saat menyuap makanan bahkan tetap tampan," jawab Kinar bersungguh-sungguh.
"Tapi aku tidak suka itu!" ungkap Zidan. Membuat senyuman di wajah Kinar seketika pudar.
Zidan mengusap kasar wajahnya. Dia merasa sekarang adalah waktu yang tepat untuk bicara.
"Dengar, Kinar. Aku punya alasan kenapa aku tidak mau di foto. Kau mau tahu kenapa? Karena hari ini aku ingin kita putus. Maafkan aku... Tapi setelah mengenalmu, aku merasa kita tidak memiliki kecocokan dari segi banyak hal," ujar Zidan.
Kinar yang tadinya bahagia, berubah menjadi suram. Hatinya seolah dihujam sebilah pisau berkali-kali. Air matanya juga langsung berjatuhan. Sungguh, Kinar sangat sakit hati menerima kenyataan kalau Zidan baru saja meminta putus.
Di waktu yang sama, Zerin sedang duduk sendirian di depan mini market. Menunggu hujan yang turun sangat deras.
Zerin bermain ponsel dan berhasil melihat foto Zidan di media sosial milik Kinar. Perasaan kalut kembali menyelimuti.
Ilustrasi foto Zidan yang dilihat Zerin :
__ADS_1
"Jika Zidan ingin terus bercinta denganku, kenapa dia belum memutuskan Kinar? Aku tidak bisa terus diam tentang hal ini. Aku harus meminta Zidan untuk putus dengan Kinar!" gumam Zerin dengan kening yang mengernyit dalam. Dia berniat akan membicarakannya kepada Zidan nanti.