Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 28 - Sama-Sama Bingung


__ADS_3

Jika sudah terbiasa, maka rasa nyaman perlahan akan muncul. Kita bahkan bisa bingung dengan tindakan sendiri - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin merasakan kupu-kupu beterbangan di perut. Sungguh, dia tidak bisa menolak ciuman Zidan. Entah kenapa kali ini ciuman tersebut seakan dinantikannya.


Ketika Zerin mulai menikmati ciuman, Zidan mendadak melepas tautan bibirnya. Lelaki itu terlihat memasamkan wajah.


"Sial! Kau belum mandi? Aku masih bisa mencium bau alkohol!" tukas Zidan sembari mengusap kasar bibirnya. Ia reflek memukul pelan pipi Zerin.


"Hei! Kenapa malah memukulku?! Kau sendiri yang langsung cium tanpa izin!" sahut Zerin. Dia yang geram karena dipukul, menggertakkan gigi. Lalu melayangkan pukulan balasan. Zerin memukul Zidan tepat di kepala. Lelaki itu mengaduh sambil memegangi rambut cepaknya.


Zidan melotot sebal. Dia sudah mengangkat tangan untuk membalas Zerin. Sebuah bogem di arahkannya pada perempuan itu.


Zerin menghindar waspada saat Zidan mengarahkan kepalan tinju. Dia memejamkan mata spontan karena mengira Zidan akan benar-benar meninjunya.


Zidan mendengus kasar. Dia tentu tidak akan tega memberikan pukulan keras kepada seorang wanita. Zidan lantas memilih beranjak dari hadapan Zerin.


"Cepatlah mandi dan pulang!" ujar Zidan yang berjalan kian menjauh.


Zerin otomatis membuka mata. Dia melihat Zidan sudah pergi. Zerin termangu memandangi punggung Zidan yang berakhir menghilang ditelan pintu. Ia tidak tahu kenapa. Tetapi jantungnya menimbulkan debaran aneh.


Zerin segera masuk ke kamar mandi. Dia menyentuh bibirnya sendiri. Perempuan itu terkekeh sendiri saat mengingat kejadian tadi.


"Kenapa aku baru sadar kalau tadi itu sangat lucu," gumam Zerin. Dia perlahan berhenti tergelak. "Kenapa aku kecewa ciuman Zidan berakhir begitu cepat? Kenapa dia langsung pergi? Aku kira dia akan menungguku sampai selesai mandi," sambungnya. Zerin mulai terbawa perasaan. Namun itu tidak berlangsung lama. Sebab Zerin segera menggeleng kuat untuk menyadarkan diri.


Zerin terus menepis segala pikirannya tentang Zidan. Dia mencoba memikirkan hal lain sebisa mungkin.


Selepas mandi, Zerin langsung pulang dengan menggunakan taksi. Dia sekarang sibuk bermain ponsel. Zerin menemukan beberapa pesan dari Amira dan banyak panggilan tak terjawab dari Adi.

__ADS_1


Zerin menghela nafas panjang. Dia ingin menghubungi Amira. Tetapi waktu sedang menunjukkan jam dua siang, yang mengartikan kalau Amira masih berada di sekolah. Zerin ingin berterima kasih kepada adiknya tersebut. Karena Amira telah memberi alasan logis kepada Lia mengenai ketidakpulangannya tadi malam.


"Aku harus membelikan sesuatu untuk Amira. Aku juga harus secepatnya menemui Adi," ucap Zerin sambil menatap kosong ke jendela mobil.


Tak lama kemudian, Zerin tiba di rumah. Dia tidak menemukan siapapun ada di sana. Zerin yakin ibunya pasti sedang ada di rumah Zidan untuk bekerja.


Zerin berlari ke kamar. Dia segera mengambil koper berisi uang miliknya. Sebenarnya sudah lama Zerin ingin menyimpan uang itu ke bank. Namun dirinya belum bisa menemukan waktu yang tepat untuk membawa koper tanpa sepengetahuan Lia.


Hari itu Zerin pergi ke bank dahulu. Lalu barulah menemui Adi ke rumah sakit. Kini Zerin tengah duduk sendirian di kursi taman rumah sakit. Tepatnya di bangku dekat sebuah air mancur.


Zerin berdiri saat melihat Adi muncul dari kejauhan. Dia bisa menyaksikan lelaki itu menunjukkan mimik wajah marah yang jelas. Hingga Zerin tidak mampu untuk tersenyum.


"Mau apa ke sini?!" timpal Adi ketus.


"Aku mau minta maaf, Kak. Dan aku harap kau bersedia merahasiakan segala hal buruk tentangku," tutur Zerin dengan perasaan sesal yang mendalam.


"Kenapa kau berlagak sangat polos, Rin?! Apa kau tahu? Pacarmu yang berkuasa itu mengancamku habis-habisan! Dan aku juga baru saja diberitahu Om Fadli untuk merahasiakan hal busuk tentangmu itu!" geram Adi dengan mata yang menyalang penuh amarah.


"Kau berlagak polos lagi." Adi menganga tak percaya sambil memutar bola mata jengah. "Wah... Kau harusnya mendapatkan piala oscar untuk aktingmu yang sangat hebat itu! Kenapa kau malah jadi dokter kalau keahlianmu adalah membohongi banyak orang!" lanjutnya lagi. Dia mendorong kasar Zerin beberapa kali. Hingga perempuan itu melangkah mundur dan sempat terhuyung. Untung saja Zerin dapat bertahan dan tidak jatuh.


Adi yang kemarahannya telah memuncak, mencengkeram tangan Zerin. Dia mendekatkan mulut ke telinga perempuan tersebut. "Kau pasti puas bisa menipu orang sepertiku kan? Sekarang enyahlah dari hadapanku, jallang!" cemohnya.


Zerin tentu sakit hati mendengar cacian Adi. Matanya langsung merembeskan cairan bening. Lalu berlari kecil meninggalkan Adi.


Setelah menjauh dari Adi, Zerin langsung berhenti menangis. Dia memasang raut wajah datar dan berusaha bersikap normal.


Zerin justru tenggelam memikirkan Zidan. Kenapa lelaki itu bersusah payah menolongnya? Rasa penasaran dan ketertarikan muncul begitu saja dalam dirinya. Seakan terhipnotis dengan pikiran sendiri, Zerin terpikir untuk menghubungi Zidan. Padahal sekarang tidak ada hal yang ingin dia bicarakan.


"Sial! Kenapa aku menelponnya!" umpat Zerin. Matanya membola saat ponsel memperdengarkan dering. Pertanda bahwa panggilan Zerin sudah terlanjur masuk. Perempuan itu gelagapan sendiri. Dia langsung mematikan telepon sebelum Zidan terlanjur mengangkat.

__ADS_1


"Aargghh!! Apa yang kupikirkan? Aku tidak akan berterima kasih pada lelaki biadab itu!" gerutu Zerin.


Saat Zerin ingin memasukkan ponsel ke saku, suara dering tiba-tiba terdengar. Setelah diperiksa, ternyata Zidan menelepon balik.


"Astaga!" Zerin terkejut. Dia lantas berpikir untuk mencari topik pembicaraan logis. Dirinya tentu tidak akan menelepon Zidan tanpa alasan yang jelas. Entah kenapa pikiran Zerin mendadak kosong.


Zerin cukup lama berpikir. Sampai panggilan Zidan berakhir sendiri. Namun anehnya, lelaki itu kembali menelepon.


"Ah, benar. Aku tanyakan tentang ibuku saja," gumam Zerin yang sudah mendapatkan ide. Dia segera mengangkat panggilan Zidan.


"Kenapa?" tanya Zidan dari seberang telepon.


"Apa kau di rumah? Aku ingin menanyakan tentang ibuku," ujar Zerin datar.


"Ya, aku di rumah. Ibumu juga ada di sini. Dia sibuk membuat kue bersama ibuku," jawab Zidan. Dia juga bicara dengan nada datar.


"Oke. Kalau begitu aku akan ke sana," ucap Zerin. Dia mengakhiri panggilan lebih dulu. Kemudian mendengus lega.


Zerin menggigit bibir bawahnya. Ia merasa hubungannya dan Zidan tiba-tiba terasa canggung. Jantungnya juga berdegub lebih cepat dari biasanya. Terlintas dalam bayangan Zerin mengenai apa yang sudah dilakukan Zidan terhadapnya. Dari mulai menolong saat di klub malam, serta membantu rahasianya untuk tetap terjaga.


"Kenapa Zidan melakukan itu? Dia membuatku bingung..." Zerin kembali bergumam. Dia terdiam sejenak sambil melangkah maju.


"Bodoh! Kenapa aku tadi tidak menanyakan itu saja pada Zidan?" Zerin memukul kepalanya sendiri. Dia heran kenapa dirinya tadi tidak membicarakan hal tersebut. Padahal sudah jelas-jelas tadi Zerin memikirkannya sampai berlarut-larut.


Zerin segera pergi ke rumah Zidan. Dia akan menjemput ibunya sekalian bicara serius dengan Zidan.


Di waktu yang sama, Zidan sedang telentang di ranjang. Dia meletakkan buku yang sejak tadi dibacanya ke atas perut. Sama seperti Zerin, Zidan juga dibuat gundah gulana dengan tindakannya sendiri.


"Sial, kenapa aku mau membantunya sejauh ini?" imbuh Zidan. Menatap kosong ke langit-langit pelafon.

__ADS_1


Jika Zidan juga bingung dengan ulahnya sendiri, apalagi Zerin. Perempuan itu mungkin tidak akan mendapatkan jawaban yang jelas.


__ADS_2