Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 69 - Pesan Teror Misterius


__ADS_3

Sakit hati bisa membuatmu melakukan sesuatu di luar kendali - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin merasa sangat ketakutan. Hal itu karena masa lalunya yang pernah menjadi sugar baby adalah rahasia besar. Dia tentu tidak ingin fakta tersebut diketahui Arni dan Wira. Apalagi ibunya sendiri.


Saat Zerin tengah sibuk menghubungi nomor telepon misterius, Zidan muncul dari balik pintu. Kebetulan sekali posisi Zerin sedang berdiri membelakangi pintu masuk.


Zidan yang iseng, diam-diam mendekat. Lalu mengejutkan Zerin dengan cara memeluk dari belakang.


"Dapat!" seru Zidan. Membuat Zerin kaget sampai berjengit. Perempuan itu bahkan reflek berteriak. Tetapi Zerin sigap membekap mulutnya sendiri.


"Ish! Jahat banget sih ngagetin gitu." Zerin memukul Zidan dengan sikunya. Raut wajahnya tampak cemberut.


"Serius banget? Padahal kita sebentar lagi nikah loh. Terus tinggal serumah," goda Zidan sembari mendekatkan wajahnya ke hadapan Zerin. Namun perempuan itu tidak hirau. Zerin terlihat sibuk menghubungi seseorang dengan ponsel. Ekspresinya juga sangat serius.


"Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Zidan.


Zerin mendengus kasar. Dia segera memberitahukan pesan misterius yang diterimanya.


"Kapan kau menerima pesan ini?" Zidan memastikan.


"Sekitar sepuluh menit yang lalu," jawab Zerin yang masih tampak gelisah.


"Kau tenang saja. Aku akan mencoba melacak nomor ini," ujar Zidan seraya menyalin nomor orang yang mengganggu Zerin ke ponselnya.


"Kau bisa menghacking?" tanya Zerin.


Zidan memasang tatapan malas. "Tentu saja tidak. Tapi aku punya kenalan ayahku yang bisa membantu. Aku pastikan kita akan mengetahui identitas orang ini," katanya. Dia membawa Zerin masuk ke dalam pelukan.


"Sudah jangan dipikirkan. Apapun yang terjadi aku pasti akan bersamamu." Zidan menenangkan Zerin. Perempuan itu lantas membalas dekapannya dengan erat.


"Aku beruntung banget bisa punya kamu," ungkap Zerin. Dia membenamkan wajah ke dada Zidan. Zerin dapat mencium aroma maskulin dari lelaki tersebut. Serta bau alami khas Zidan yang selalu membuatnya candu.


Pintu mendadak terbuka. Amira datang. Matanya terbelalak ketika melihat Zerin dan Zidan berpelukan. Wajah Amira memerah. Entah kenapa justru dia yang merasa malu. Ia langsung menundukkan kepala.


Mendengar suara pintu terbuka, Zidan dan Zerin menoleh secara spontan. Mereka berhenti berpelukan saat menyaksikan kehadiran Amira.

__ADS_1


"Maaf mengganggu, Kak. Aku akan keluar saja." Amira merasa tidak enak mengganggu kegiatan pribadi sang kakak.


"Tidak, Mir. Aku baru saja mau pergi. Aku harus mengurus sesuatu." Zidan beranjak dari ruangan. Dia tidak lupa melemparkan senyum untuk Amira.


Amira balas tersenyum. Lalu membiarkan Zidan pergi. Setelah itu, dia mendekati Zerin. Amira memeluk dan meletakkan kepala ke pundak kakaknya tersebut.


"Hidup keluarga kita berubah drastis karena Kakak. Ibu juga sudah punya ponsel sendiri. Kita tidak perlu kesusahan lagi menghubunginya," ucap Amira.


Zerin tersenyum lembut. "Setelah aku menikah, kau harus menjaga Ibu baik-baik," katanya. Memberi nasihat.


"Dih! Sok-sokan. Orang yang paling sering menjaga Ibu di rumah kan memang aku?" tanggap Amira. Mengingat Zerin yang lebih jarang berada di rumah dibanding dirinya. Terutama saat malam hari.


"Iya juga sih. Tapi tetap saja. Tunggu dulu, Lihatlah dirimu." Zerin membawa Amira berdiri ke depan cermin. Adiknya itu nampak semakin cantik. Dia memang sudah rutin melakukan perawatan ke dokter kecantikan.


"Sudah kubilang kau itu cantik. Kau akan lebih cantik kalau aku yang merawatmu nanti," ucap Zerin lagi.


"Merawatku? Kak Zerin mau jadi dokter kecantikan?" Amira memastikan.


Zerin mengangguk yakin sambil mengatakan iya. Dia berharap semua impiannya tercapai. Zerin percaya segalanya akan terwujud. Terlebih dirinya akan menikah dengan Zidan.


Selang sekian menit, Zerin kembali menerima pesan baru. Pesan tersebut lagi-lagi dikirim oleh nomor yang sama seperti sebelumnya.


Zerin mengerutkan dahi. Dia mulai memikirkan nama orang-orang yang mengetahui tentang jati dirinya. Satu hal yang pasti. Orang itu jelas bukan Adi. Tanpa pikir panjang, Zerin buru-buru mencari Zidan.


Bersamaan dengan itu, Zerin sedang sibuk berbicara di telepon. Dia meminta bantuan temannya yang bekerja dibidang komunikasi.


Orang yang membantu Zidan sekarang sebenarnya adalah salah satu karyawan Wira di perusahaan. Zidan diam-diam menghubunginya dan tidak lupa memberikan bayaran untuk upah serta uang tutup mulut.


Zidan disuruh menunggu beberapa saat. Dari belakang, Zerin berjalan mendekat. Dia memperlihatkan pesan yang baru diterimanya.


"Sepertinya orang yang menerorku adalah orang terdekat," imbuh Zerin.


"Kau benar." Zidan berpikir sejenak. Dia mengamati area sekitar dengan seksama. "Aku yakin, dia pasti juga hadir di acara pertunangan kita!" ujarnya menduga.


"Tapi siapa?" Zerin merasa penasaran sekaligus gelisah.


Sementara Zidan, dia terdiam seraya terus membaca pesan yang meneror Zerin berulang kali. Sampai akhirnya satu nama muncul dalam benak Zidan. Ia perlahan menatap Zerin.

__ADS_1


"Kenapa?" Zerin mengernyitkan kening.


"Aku pikir pelakunya adalah Kinar," cetus Zidan.


"Kinar?" Zerin menggigit bibir bawahnya. Jika dipikir-pikir, pesan yang dibacanya memang terkesan seperti menyudutkan Zerin seorang. Pengirim pesan misterius itu juga sama sekali tidak mengancam Zidan.


Andai orang yang meneror itu adalah Ernest atau Adi, keduanya pasti akan melibatkan Zidan. Alhasil Zerin tidak bisa membantah bahwa pelakunya adalah teman baiknya sendiri.


Dugaan yang diberikan Zidan semakin kuat, saat Zerin ingat kalau Kinar sudah tidak kuliah selama beberapa hari.


"Kinar tadi datang ke acara pertunangan kita bukan?" tanya Zidan.


"Iya. Dia datang bersama Astrid dan Gita. Tapi Kinar lebih pendiam dari biasanya. Astrid dan Gita bahkan merasa canggung bicara dengannya."


"Kita sebaiknya menemui dia. Aku takut kalau--"


"Zidan! Biarkan aku mengurus masalahku sendiri. Lagi pula Kinar temanku. Dia juga gadis yang baik. Aku yakin alasan Kinar melakukan ini karena sangat marah kepadaku." Zerin menggenggam tangan Zidan. Dia merasa tidak bisa terus-terusan mengharapkan bantuan Zidan. Calon suaminya itu sudah terlalu banyak berkorban untuk membantunya.


"Ya sudah. Aku mau berganti pakaian dulu." Zerin mencoba beranjak. Namun Zidan dengan cepat menghentikan.


"Kau mau menemui Kinar sekarang?" tanya Zidan.


"Iya! Kapan lagi? Aku tidak mau menunda."


"Baiklah. Tapi sebelum kau memberikan pertanyaan yang tidak-tidak, kau harus pastikan dahulu apakah benar pengirimnya adalah Kinar. Karena belum ada bukti yang mengatakan kalau pemilik nomor yang menerormu itu adalah dia!"


"Iya. Aku akan memastikannya." Zerin melepas tangan Zidan.


Sebelum beranjak, dia mengecup singkat pipi Zidan terlebih dahulu. "Terima kasih..." bisiknya. Lalu berlari kecil memasuki ruang ganti.


Zidan tersenyum sambil menelengkan kepala. Dia berharap Zerin bisa mengatasi masalahnya dengan baik.


Dari jauh, ada tiga orang yang tampak tegang saat melihat kedekatan Zidan dan Zerin. Mereka tidak lain adalah Wira, Arni, dan Lia.


"Aku pikir Zerin akan mencium bibir Zidan," ucap Lia seraya mengelus dada.


"Sama. Aku juga berpikir begitu," tanggap Arni.

__ADS_1


"Aku heran kenapa mereka tidak pernah malu berbuat begitu?" Wira menekan jidatnya ketika menyaksikan kelakuan pasangan anak muda Zaman sekarang.


__ADS_2