Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 90 - Kematian & Kelahiran [Ending]


__ADS_3

Terkadang akhir adalah awal dari cerita baru. Terima kasih untuk yang sudah setia membaca cerita ini sampai akhir - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin menemui Defan. Anak itu terlihat duduk di teras villa. Zerin segera mendekat dan merangkulnya dengan lembut.


"Aku ingin kau melupakan apa yang kau lihat tadi," ujar Zerin.


"Mama dan Papa tadi sedang apa?" tanya Defan dengan wajah polosnya.


'Ini gara-gara Zidan! Haruskah aku menjawabnya? Menurutku ini bukan waktu yang tepat untuk memberikan pendidikan se-ks. Defan masih terlalu kecil,' batin Zerin.


"Papa sama Mama tadi cuman sayang-sayangan," kata Zerin. Memberi alasan.


Defan tampak menganggukkan kepala. Ponsel Zidan mendadak berdering. Zerin dan Defan dapat mendengar dari luar. Akan tetapi Zidan tidak kunjung menjawab telepon.


"Sayang! Ponselmu bunyi terus!" seru Zerin. Memberitahukan sang suami.


Ponsel terus berdering. Namun masih saja diabaikan Zidan.


"Yuk kita cari Papa." Zerin menggandeng tangan Defan. Keduanya melangkah bersama menuju kamar dimana Zidan berada. Lelaki itu ternyata sedang asyik tertidur.


"Kamu bangunkan Papa ya. Biar Mama angkat teleponnya," suruh Zerin.


Dengan langkah cepat, Defan melompat ke atas ranjang. Lalu mengganggu Zidan agar bangun dari tidur.


"Papa! Papa! Ayo bangun! Ada pasien yang menelepon tuh," kata Defan. Dia selalu menganggap panggilan telepon yang diterima Zidan adalah hal darurat.


Zerin terkekeh saat mendengar perkataan Defan. Dia baru saja mengangkat telepon.


Senyuman Zerin memudar ketika mendengar kabar mengejutkan. Dia diberitahu kalau Firda dibawa ke rumah sakit.


Tanpa pikir panjang, Zerin segera memberitahukan kabar tentang Firda kepada Zidan. Zerin memberitahu secara diam-diam. Ia dan Zidan bergegas pulang. Keduanya sepakat untuk membawa Defan ke rumah lebih dulu. Selanjutnya, barulah mereka pergi ke rumah sakit.


Keadaan Firda benar-benar tidak tertolong lagi. Penyakit yang dideritanya sudah mengalami komplikasi. Menyebar ke bagian-bagian tubuh yang lain.


Dokter tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan Firda. Termasuk Zidan sendiri. Dia dan Zerin hanya perlu menunggu waktu.


"Bagaimana dengan Defan?" tanya Zerin. Dia dan Zidan tengah duduk di bangku depan kamar Firda dirawat.


"Kita harus memberitahunya. Mengingat Nenek Firda adalah sosok penting baginya," jawab Zidan.


"Tapi aku tidak mau keceriaan Defan hilang." Zerin menggelengkan kepala.


"Itu lebih baik dari pada dia terlambat mengetahuinya. Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji." Zidan merangkul Zerin. Membawa kepala perempuan itu menyender ke pundaknya.

__ADS_1


"Ya sudah. Besok kita bawa Defan untuk menemui Nenek Firda," imbuh Zerin dengan tatapan kosong.


Keesokan harinya, Zerin dan Zidan menemani Defan untuk melihat keadaan Firda. Kebetulan wanita itu sedang tak berdaya. Firda juga kesulitan bicara.


"Apa yang terjadi pada Nenek, Pa?" tanya Defan. Matanya nampak berkaca-kaca.


"Nenek sedang sakit parah," sahut Zidan.


"Kalau begitu lakukan sesuatu! Kau dokter bukan?" tukas Defan.


"Papa sudah berusaha dengan maksimal. Kau--"


"Papa harus selamatkan Nenek! Bagaimana pun caranya!" Defan mendesak. Namun tangan keriput Firda perlahan menyentuhnya.


Firda mengusap lembut pundak Defan. "Aku... Baik-baik... Saja, Defan..." lirihnya terbata-bata.


"Nenek! Jangan tinggalkan aku..." Defan memeluk sang nenek dengan perasaan sedih.


"Kau punya keluarga sekarang... Kau harus bahagia... Jika Nenek pergi, berjanjilah kau tidak akan sedih terlalu lama..." Firda memaksakan diri bicara.


Defan tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menangis sambil memeluk Firda. Perlahan Zidan memeluknya dari belakang. Berharap Defan bisa lebih tenang.


Satu minggu telah berlangsung, Firda menghembuskan nafas terakhir. Kini semua orang berada di pemakaman untuk mengantarkan wanita itu ke peristirahatan terakhir.


Defan terlihat menatap nanar kuburan Firda. Dia sudah berjanji tidak akan merasa sedih terlalu lama.


Setelah acara pemakaman selesai, semua orang melangkah menuju mobil masing-masing. Termasuk Zerin, Zidan, dan Defan.


Tiba-tiba Defan berhenti melangkah. Dia menatap Zerin dan Zidan secara bergantian.


"Mama sama Papa nggak akan tinggalin aku juga kan?" tanya Defan.


Zerin dan Zidan tersenyum bersamaan. Keduanya berjongkok dan mendekati Defan.


"Kami akan selalu bersamamu. Sampai Defan sukses dan bisa menggapai cita-cita," tutur Zidan sambil memegangi pundak Defan.


"Mama sama Papa akan selalu bersamamu, asal kau bisa bahagia dan bangkit lagi. Mengerti?" ujar Zerin.


Defan mengangguk. Dia mencium pipi Zerin dan Zidan secara bergantian.


Bertepatan dengan itu, Zerin kembali mual. Dia tiba-tiba muntah-muntah.


"Sayang!"


"Mama!"

__ADS_1


Zidan dan Defan otomatis khawatir. Mereka segera memastikan keadaan Zerin.


"Aku nggak apa-apa. Cuman mual-mual biasa." Zerin menjawab seraya melirik Zidan. Dia merasakan firasat kuat tentang gejala mual yang dialaminya.


Zidan yang mengerti dengan lirikan Zerin, tersenyum tipis. "Defan, aku rasa kita harus membawa Mamamu ke dokter kandungan," cetusnya.


"Mama jangan sakit." Defan memeluk Zerin. Dia tentu tidak langsung mengerti apa yang dimaksud Zidan.


Satu hari berlalu. Waktu menunjukkan jam sembilan pagi. Zidan menemani Zerin memeriksakan diri ke dokter kandungan.


Benar saja, Zerin sedang hamil! Kabar itu adalah kebahagiaan besar untuk Zerin dan Zidan. Sekarang keduanya melangkah bersama menuju mobil. Mereka sangat bersemangat untuk memberikan kabar bahagia kepada semua orang.


Namun langkah Zidan terhenti ketika mendengar isakan tangis Zerin. "Kau kenapa menangis?" tanya Zidan.


"Aku hanya... Merasa sangat bahagia... Aku pikir kita tidak akan pernah memiliki anak kandung..." rengek Zerin.


"Ya ampun. Aku kira apa tadi." Zidan mendekap Zerin. Lalu mencium puncak kepala istrinya tersebut.


"Tidak ada istilah anak kandung dan bukan. Aku tidak ingin kau membedakan anak kita sekarang dengan Defan. Bagiku dia juga anak kandungku," ungkap Zidan.


"Aku tahu. Aku juga merasa begitu... Defan memang sudah ditakdirkan untuk menjadi anak kita," tanggap Zerin. Ia dan Zidan melangkah sambil berpelukan.


...***...


9 bulan kemudian...


Suara tangisan bayi menggema. Zerin berhasil melahirkan anak dengan lancar. Anak mereka berjenis kelamin perempuan. Zidan menamakan anak itu dengan nama Giana Pelita Dirgantara.


Kehadiran Giana menambah kebahagiaan di keluarga Dirgantara. Semua orang turut hadir untuk melihat baby Giana yang baru saja lahir. Termasuk Defan. Anak itu sedang berdiri menatap Giana yang tertidur di dalam tabung bayi.


"Adikmu cantik ya," bisik Lia.


"Cantik banget, Nek! Kalau dia gede nanti, aku pasti akan menjaganya," sahut Defan sembari tersenyum. Dia sudah tidak sabar bisa melihat Giana tumbuh dewasa. "Nanti kita main di kebun teh saat ke puncak nanti," tambahnya.


Lia mendadak dipanggil oleh Zerin. Sekarang hanya tinggal Defan berduaan bersama Giana. Anak lelaki itu berbisik, "Sebenarnya aku punya rahasia, Giana. Papa dan Mama nggak boleh tahu. Saat ke puncak, aku sering menjelajah hutan di belakang villa sendirian. Di sana cukup menyenangkan. Nanti kalau kau sudah besar, aku janji akan mengajakmu ikut. Pssst... Ini rahasia kita berdua..."


..._____...


Catatan Author :


Aku ucapkan terima kasih banget buat readers yang setia membaca sampai akhir. Aku juga minta maaf kalau ada kesalahan kata atau typo yang bertebaran, atau alur cerita yang tidak sesuai harapan.


Tapi tenang saja untuk semuanya yang masih belum rela berpisah sama Zerin dan Zidan. Bakalan ada bonus chapter yang menceritakan kisah remaja Defan dan Giana. Aku juga sudah bikin cerita mereka di novel baru. Dengan novel yang terpisah tentu saja. Defan dengan novelnya sendiri. Sedangkan Giana juga.


Karena Defan kakaknya, novelnya akan lebih dulu up. Biar aku perlihatkan covernya di bawah. Pokoknya buat yang menunggu bonus chapter stay terus ya... Love you...😘

__ADS_1



Judulnya aku rahasiakan dulu ya guys. Pokoknya cerita Defan sama sahabatnya Disha bakal mengambil genre komedi romantis.


__ADS_2