Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 81 - Karma [1]


__ADS_3

Cinta tidak sepenuhnya tentang sek-s. Ada sisi lain yang menjadi penentu kesetiaan seseorang akan cinta - Auraliv.


...༻∅༺...


"Ya sudah. Kita bisa mencobanya." Zidan setuju dengan usulan Zerin.


"Kali ini kau diam saja dan nikmati," saran Zerin. Dia mulai memeluk erat Zidan. Kemudian mengulum dalam ceruk leher Zidan.


Kedua tangan lentik Zerin bergerak untuk menyentuh setiap jengkal badan Zidan. Mulutnya tidak berhenti beradu dengan kulit lelaki tersebut.


Apa yang dilakukan Zerin, memang membuat Zidan bergairah. Namun belum cukup mampu membangunkan organ tubuh kebanggan yang terletak di bawah perut.


Waktu sudah berlalu cukup lama, tetapi Zidan merasa semua perlakuan Zerin sia-sia. Lelaki itu lantas menyuruh Zerin berhenti.


"Aku rasa sudah cukup." Zidan mendorong Zerin menjauh. Lalu mengikat tali handuk kimono yang dikenakan sang istri. Raut wajah Zidan tampak begitu serius.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita mandi bersama saja. Hanya sekedar mandi," ujar Zerin. Dia berusaha menghibur Zidan. Dirinya tahu, suaminya itu benar-benar sedang memiliki masalah berat. Masalahnya jadi bertambah saat organ intimnya tidak bisa mengeras seperti biasa.


"Kau mandi saja duluan." Zidan menyahut dengan kepala tertunduk.


"Tidak! Aku ingin bersamamu." Zerin bersikeras. Dia segera membawa Zidan masuk ke dalam pelukan.


"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku yakin ini hanya sementara." Zidan mencoba berpikir positif. Dia mengelus puncak kepala Zerin. "Ya sudah, ayo kita mandi bersama," sambungnya.


Zerin tersenyum senang. Dia dan Zidan segera berdiri di bawah air shower. Seperti yang Zerin bilang, mereka hanya sekedar mandi bersama. Terdengar suara tawa dan canda yang mereka lakukan. Zidan selalu berbuat ulah dengan cara menggelitiki Zerin.


Segalanya berjalan membaik selama tiga hari. Zidan masih berpikir positif terhadap kelainan yang tiba-tiba terjadi dengan organ intimnya. Dalam ilmu medis sendiri, kelainan tersebut disebut dengan impoten.


Dalam seminggu, sudah lima kali Zidan dan Zerin mencoba bercinta. Akan tetapi masih tidak bisa karena keadaan Zidan yang tidak mendukung.


Zidan baru saja berhenti mencumbu Zerin. Dia yang merasa putus asa, langsung mengenakan celana pendek.


Zerin yang terlanjur terangsang, berusaha menahan diri. Ia bergegas mengenakan kimono berbahan satin.


"Sayang, bagaimana kalau kita konsultasikan saja keadaanmu pada dokter spesialis," usul Zerin.


"Tidak!" tolak Zidan sembari berdiri. Dia tampak cemberut. Keadaannya sekarang tidak hanya membuat kepercayaan dirinya menurun, tetapi membuat suasana hati menjadi lebih buruk.


"Kau adalah dokter! Kau tahu sendiri kalau diagnosis semakin cepat dilakukan, maka akan semakin baik!" Zerin menghampiri Zidan. Dia memegangi lengan suaminya tersebut. Dahi perempuan itu mengerut dalam.

__ADS_1


Zidan menghembuskan nafas berat dari mulut. Dia menghempaskan tangan Zerin. Lalu berbalik untuk menatap sang istri.


"Kau pasti kecewa kepadaku kan?!" tukas Zidan dengan nada penuh penekanan.


"Tidak! Aku tidak akan pernah kecewa kepadamu! Aku hanya ingin keadaanmu membaik. Itu saja," jawab Zerin.


"Oke, kalau begitu tunggu saja semampumu. Mungkin mulai sekarang aku tidak akan menyentuhmu lagi," pungkas Zidan. Dia beranjak dari hadapan Zerin. Zidan memilih pergi ke rumah sakit untuk bekerja seperti biasa.


Zerin mematung di tempat. Dia berharap Zidan bisa membaik seiring berjalannya waktu.


...***...


Satu bulan terlewat. Tidak ada perubahan yang terjadi. Hubungan Zidan dan Zerin bahkan semakin renggang. Mengingat Zidan cukup jarang pulang ke rumah.


Zerin sudah berusaha maksimal menemui Zidan. Dia selalu mendatangi Zidan ke rumah sakit dan membawakan makanan.


"Bagaimana? Kau suka?" tanya Zerin. Dia sedang berada di ruang kerja Zidan.


"Makananmu selalu enak," jawab Zidan datar.


"Bisakah kau menjawabnya sambil tersenyum. Kau sudah jarang tersenyum kepadaku. Apakah kau menyadarinya?" tukas Zerin.


"Tapi--"


Pintu tiba-tiba terbuka. Membuat ucapan Zerin terjeda. Dia dan Zidan segera menoleh ke arah pintu. Ternyata yang datang adalah Arni.


"Ya ampun, pas sekali. Aku kebetulan ingin bertemu kalian berdua!" seru Arni sembari menutup pintu.


"Kalau mau masuk harusnya diketuk dulu, Mah!" protes Zidan sinis.


"Mamah lupa. Lagian kalian nggak lagi ngapa-ngapain kan?" tanggap Arni. Dia duduk ke sofa. Tepat di sebelah Zerin.


"Aku sama Zerin baru saja mau melakukannya. Cuman Mamah keburu datang," imbuh Zidan.


"Sayang!" Zerin sontak menegur. Dia tergelak kecil sejenak bersama Zidan. Keduanya memang selalu bersikap baik-baik saja saat berada di depan keluarga. Jadi hubungan yang sekarang merenggang hanya diketahui oleh mereka saja.


Kedatangan Arni hanya ingin mengajak untuk makan malam. Sebab sudah cukup lama keluarga mereka tidak berkumpul bersama.


Zerin dan Zidan setuju saja. Nanti malam keduanya berjanji akan datang.

__ADS_1


Selepas Arni pergi, suasana tegang Zerin dan Zidan kembali. Mereka saling terdiam cukup lama. Zidan nampak menghabiskan makanan yang dibawakan Zerin.


"Kalau begitu aku pulang sekarang," ujar Zerin. Setelah memastikan makanan sudah dihabiskan Zidan. Dia mengambil wadah makanan untuk dibawa pulang lagi.


Zerin melangkah menuju pintu. Tetapi dia berbalik karena merasa harus melakukan sesuatu. Perempuan tersebut menghampiri Zidan. Lalu mencoba memberikan ciuman ke bibir.


Zidan sigap menghindar. Pertanda kalau dirinya menolak ciuman Zerin.


"Apa aku tidak boleh mencium suamiku sendiri?" protes Zerin yang merasa kecewa.


"Aku tidak bisa. Kau tahu aku baru selesai makan." Zidan memberi alasan.


"Aku tak peduli!" Zerin kembali mendekatkan diri. Dia sekali lagi berusaha mencium Zidan. Namun lelaki itu justru menahan tangannya dengan kuat.


"Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Apa kau sudah tidak mencintaiku? Kau mengabaikanku selama sebulan lebih!" ungkap Zerin. Air matanya berlinang di pipi.


"Kau pasti sangat menginginkannya bukan? Itulah alasan aku tidak bisa menyentuhmu. Karena aku tidak mau kau kecewa!" jelas Zidan dengan tatapan getir.


"Kenapa kau berpikir begitu?! Aku tidak masalah tidak melakukannya! Sek-s bukan segalanya! Cinta tidak sepenuhnya tentang sek-s..." balas Zerin.


"Tapi bagiku iya." Zidan melepaskan Zerin. Lalu membuang muka. Dia sebenarnya tidak tahan menyaksikan Zerin menangis.


Zerin menghapus air mata. Dia bergegas keluar dari ruangan Zidan. Hatinya sedikit tersayat akan sikap dingin Zidan.


Setelah Zerin pergi, Zidan mengamuk sendiri. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri. Zidan benar-benar frustasi dengan keadaan yang diterimanya.


Ketika waktu menunjukkan jam 07.00 malam, Zidan pulang ke rumah. Zerin terlihat sudah menyiapkan pakaian untuknya.


"Maaf tentang tadi siang," ungkap Zidan.


"Aku juga," sahut Zerin. "Ayo cepat bersiap! Kita sudah terlambat," suruhnya.


Zidan mengangguk. Dia dan Zerin pergi setelah benar-benar siap. Mobil dihentikan Zidan dengan pelan.


Saat keluar dari mobil, Zerin dan Zidan langsung menampakkan senyuman cerah nan bahagia. Mereka bersikap seolah dunia baik-baik saja. Keduanya segera disuruh bergabung ke meja makan.


Semua orang sudah datang. Makan malam dilakukan. Wira terlihat mengamati Zerin dan Zidan secara bergantian.


"Bagaimana, Zidan? Apa sudah ada kabar baik?" celetuk Wira. Jelas dia menyinggung perihal cucu. Mengingat usianya semakin bertambah tua. Wira juga sebentar lagi ingin pensiun dari pekerjaan.

__ADS_1


__ADS_2