Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 40 - Alasan Zidan Tidak Melawan


__ADS_3

Ada beberapa orang jenius yang menyalahgunakan bakatnya. Dan itu membuat orang yang bodoh terlihat semakin bodoh - Auraliv.


...༻∅༺...


"Ernest! Hentikan!" pekik Zerin sembari menarik lengan Ernest. Dia memohon dalam keadaan berlinang air mata.


Ernest tidak hirau. Dia seperti orang yang kerasukan setan.


"Ernest! Kau bisa membuat Zidan mati!" Jaka yang sempat didorong, kembali mendekati Ernest. Dia mencoba memperingatkan lelaki itu agar tidak semakin menjadi-jadi.


"Pergi kau! Aku tidak peduli dia mati atau tidak!" hardik Ernest. Dia kembali mengabaikan peringatan Jaka.


Hidung Zidan terlihat mengeluarkan darah. Begitu pun mulutnya. Bagian bawah mata lelaki tersebut juga tampak bengkak dan sudah berwarna kebiruan.


Zerin tentu dibuat semakin cemas. Dia kali ini memegangi salah satu tangan Ernest.


"Nest! Kumohon hentikan! Kau sudah keterlauan!" Zerin berteriak sangat nyaring. Ulahnya sukses membuat Ernest berhenti memukuli Zidan.


"Keteraluan?! Aku? Kau bilang aku keterlaluan?!" kini mata Ernest melotot ke arah Zerin. "Kau yang keterlaluan!" pekiknya sambil menghempaskan tangan Zerin dengan kasar. Ernest segera berdiri dan meninggalkan Zidan.


Saat itulah Zerin memeriksa keadaan Zidan. Memeluk lelaki itu sembari mengisakkan tangis. Zerin tentu tidak lupa mengelap darah yang berlumuran di wajah Zidan.


"Zidan?... Kau bisa mendengarku?" tanya Zerin. Dia memegangi wajah tampan Zidan yang telah babak belur.


Ernest belum beranjak dari toilet. Dia melihat apa yang dilakukan Zerin untuk Zidan. Sakit hatinya kembali menusuk. Ernest tidak hanya merasa dikhianati Zerin, tetapi juga teman sendiri.


"Aaaaargghhh!!!" Ernest kembali mengamuk. Dia menendang bak sampah. Hingga sampah yang ada di sana berhamburan. Ernest keluar dan terduduk di lantai. Ia menangis tersedu-sedu.


Meski sudah memukuli Zidan habis-habisan, namun Ernest tetap merasa kalah. Apalagi ketika menyaksikan bagaimana kekhawatiran Zerin terhadap Zidan tadi. Hati Ernest sekarang bagaikan diobrak-abrik dengan sebilah pisau berulang kali. Tidak berdarah, tetapi rasanya sungguh memilukan.


Sementara itu, Jaka masih ada di toilet. Ia membantu Zerin untuk membawa Zidan ke rumah sakit. Mengingat keadaan Zidan terlihat cukup parah. Lelaki tersebut bahkan agak kesulitan membuka lebar matanya. Area di sekitaran mata Zidan membengkak.

__ADS_1


"Zidan!" panggil Zerin dengan terisak. Dia dan Jaka membopong Zidan. Lalu keluar dari toilet. Di sanalah mereka kembali bertemu Ernest. Lelaki tersebut duduk menyandar sambil menenggelamkan wajah di balik lutut yang terlipat. Suara rengekan Ernest dapat terdengar jelas.


Zerin merasa bersalah. Dia ingin bicara dengan Ernest sebentar dan membiarkan Jaka membawa Zidan. Namun sebelum Zerin menghampiri Ernest, tangan Zidan sigap menghentikan.


Walau keadaan Zidan sekarang terluka cukup parah, dia masih sepenuhnya sadar. Zidan tidak membiarkan Zerin bicara dengan Ernest.


"Tapi..."


"Zidan benar, Rin. Suasana hati Ernest akan tambah buruk jika kau mengajaknya bicara. Biar aku saja yang menemaninya nanti. Setelah aku mencarikanmu dan Zidan taksi untuk ke rumah sakit," ujar Jaka.


Zerin mengangguk. Dia, Jaka, dan Zidan meninggalkan Ernest sendiri. Mereka yakin lelaki itu butuh waktu untuk menyendiri.


Ketika sudah menemukan taksi, Zerin masuk lebih dulu. Kemudian barulah Jaka membantu Zidan masuk.


"Zidan! Aku membantumu bukan karena berada dipihakmu. Tapi karena mimpiku adalah menjadi seorang dokter! Aku selalu bertekad akan membantu siapapun tanpa pandang bulu. Termasuk sekarang," tukas Jaka. Sebelum menutup pintu mobil untuk Zidan.


Tangan Zidan sigap mencegat kepergian Jaka. Dia mendekatkan mulut ke telinga lelaki tersebut. "Tapi... Kau berkuliah di universitas milik keluargaku..." lirihnya. Berusaha menahan sakit.


"Terima kasih..." sahut Zidan seraya melepas tangan Jaka. Dia dan Zerin segera pergi ke rumah sakit.


Jaka tampak mematung menyaksikan kepergian Zidan dan Zerin. Dia tentu memikirkan apa yang dikatakan Zidan tadi. Meskipun begitu, Jaka langsung teringat dengan Ernest. Ia bergegas menemui temannya yang sedang kalut itu.


...***...


Sekarang Zidan sudah berada di rumah sakit terdekat. Dia telentang sambil menatap Zerin yang duduk melamun di sampingnya.


"Kau memikirkan Ernest atau reputasimu?" tanya Zidan dengan suara parau. Ia sudah mendapat pengobatan, jadi keadaannya sudah agak membaik.


"Semuanya," jawab Zerin jujur. Ia menggenggam jari-jemari Zidan. "Kali ini aku tidak masalah jika harus berhenti kuliah. Aku..." Zerin tidak bisa melanjutkan perkataanya karena tidak kuasa menahan tangis. Sebab dia yakin kalau reputasinya tidak akan terselamatkan lagi. Terlebih tidak hanya Ernest yang tahu hubungannya dan Zidan, tetapi juga Jaka. Zerin harus bersiap kalau fakta tentangnya akan tersebar kepada tiga temannya.


"Aku sudah terlalu banyak menyakiti hati orang... Hiks..." Zerin menangis sambil membenamkan wajah ke tangan Zidan. Ia mengutarakan segala keresahannya.

__ADS_1


"Zerin... Jangan menangis... Aku tidak suka melihatmu cengeng," ucap Zidan. "Percayalah kepadaku. Aku akan memperbaiki semuanya," lanjutnya.


Zerin mengangkat kepala. Dia perlahan berhenti menangis.


"Sekarang, sebaiknya kau hubungi keluargaku. Dan beritahu apa yang terjadi kepadaku. Tapi jangan sebutkan nama orang yang sudah memukuliku. Mengerti?" Zidan sepertinya selalu punya cara untuk menutupi kedok Zerin. Entah apa yang sedang direncanakannya kali ini.


"Kau mau apa?" tanya Zerin.


"Nanti aku akan beritahu. Keadaanku sekarang, tidak memungkinkanku untuk menjelaskan panjang lebar. Aku ingin tidur dan istirahat sebentar," sahut Zidan.


Zerin mengangguk. Dia langsung menghubungi Arni dan memberitahukan keadaan Zidan.


Kabar tersebut sangat membuat Arni cemas. Dia dan Wira buru-buru datang ke rumah sakit. Ketika tiba di rumah sakit, keduanya memastikan keadaan Zidan.


"Ya ampun, Zidan... Siapa yang melakukan ini kepadamu?" tanya Arni cemas. Dia menyentuh lembut wajah sang putra.


Wira menatap nanar Zidan. Sebagai orang tua, dia jelas juga sangat khawatir. Terlebih keadaan wajah Zidan cukup memprihatinkan. Mungkin perlu waktu sekitar lima hari lebih untuk membuat Zidan benar-benar pulih.


"Zerin, apa yang terjadi kepada Zidan?" Wira menoleh ke arah Zerin. Hal serupa juga dilakukan Arni yang juga merasa penasaran.


"A-aku..." Zerin bingung harus menjawab apa. Sebab Zidan melarangnya untuk menyebutkan perihal Ernest. Masalah yang menimpanya sekarang, membuat Zerin tidak bisa menemukan alasan apapun. Jadi yang dia lakukan hanya menunduk dan memainkan jari-jemari.


Zidan yang sebenarnya belum tidur, dapat mendengar segalanya. Ia perlahan membuka mata.


"Ada seseorang yang tiba-tiba menyerangku, Pah... Aku tidak berkelahi," jelas Zidan.


"Benarkah?! Beritahu aku namanya. Aku akan menuntutnya!" kata Wira yang langsung tersungut amarah. Hal itu karena dia sangat menyayangi Zidan. Lebih dari apapun.


Zerin terkesiap. Kini dia mengerti apa rencana Zidan. Zerin juga sadar kalau Zidan sudah membuat rencana saat mendapat pukulan dari Ernest.


Zerin menyimpulkan, mungkin karena itulah Zidan memilih tidak melawan. Lelaki tersebut sengaja diam agar dapat mempunyai alibi kuat untuk melawan Ernest. Nampaknya begitulah cara Zidan menyelamatkan reputasinya dan Zerin.

__ADS_1


"Sial! Kenapa aku jatuh cinta dengan orang sepertinya?" keluh Zerin sembari memejamkan mata rapat-rapat. Ada perasaan lega sekaligus gelisah yang menghantui.


__ADS_2