
Kebahagiaan tidak bisa lepas dari uang. Termasuk cinta - Auraliv.
...༻∅༺...
Sepulang dari kampus, Zerin dan Zidan sepakat pergi ke bioskop. Seolah tidak malu lagi, mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Hubungan istimewa di antara Zidan dan Zerin sudah diketahui banyak orang.
"Dan, kamu jangan coba-coba cium aku di depan orang banyak! Awas saja kalau kau melakukannya lagi!" tegas Zerin. Menunjukkan raut wajah seolah marah.
"Dih! Padahal dalam hati suka," tanggap Zidan tak percaya.
"Beneran loh! Itu malu-maluin banget!"
"Biarin. Aku nggak peduli sama orang-orang. Aku cuman memperdulikanmu."
"Cih! Gombal." Zerin menyenggol Zidan dengan bahu. Meskipun begitu dia tidak bisa menahan senyuman.
"Aku itu bukan tipe lelaki yang suka gombal, Rin. Apa yang aku katakan itu adalah faktanya," tukas Zidan serius.
"Iya, iya. Aku percaya." Zerin memutar bola mata malas. Dia dan Zidan segera berangkat ke bioskop untuk menonton film.
Sesampainya di bioskop, Zidan langsung membeli popcorn dan cola. Dengan seringai yang terukir di wajah, dia sengaja memesan satu popcorn dan cola.
Zerin terlihat duduk menunggu di sebuah sofa empuk yang nyaman. Ia berdiri ketika melihat Zidan berjalan mendekat.
"Kamu cuman beli satu? Aku nggak dibeliin gitu?" tanya Zerin dengan dahi yang berkerut. Dia heran kenapa Zidan hanya membeli satu popcorn dan cola.
"Ini untuk kita berdua. Aku sengaja beli satu karena kalau kebanyakan makan yang manis-manis itu nggak bagus. Nanti kena diabetes," ujar Zidan berkilah.
"Cih! Bilang aja ada modus!" Zerin mengambil cola dari tangan Zidan. Lalu meminumnya. "Apa kita akan menunggu lama," tanya-nya.
"Tidak. Ayo!" Zidan menggenggam tangan Zerin. Dia menuntunnya ke salah satu ruang bioskop.
Kedatangan Zidan dan Zerin disambut sangat ramah. Zerin yang tidak tahu apapun, hanya tersenyum.
Saat memasuki bioskop, Zerin kebingungan. Bagaimana tidak? Dia tidak melihat ada seorang pun di dalam bioskop. Kecuali dirinya dan Zidan.
"Ini bioskop atau kuburan?" cetus Zerin.
Zidan tergelak. "Ya bioskoplah! Tapi aku menyewanya khusus untuk kita," jawabnya sembari duduk ke kursi yang ada di paling belakang.
"Apa?! Kau membuang uangmu untuk hal seperti ini?" Zerin melebarkan kelopak matanya. Dia duduk ke sebelah Zidan. Menanti jawaban lelaki tersebut.
__ADS_1
"Aku tidak membuang uang. Aku memanfaatkannya dengan baik. Untuk membuat pacarku bahagia. Bukankah begitu?" Zidan merangkul Zerin dengan mesra. Senyumannya merekah lebar.
"Terserah kau. Tapi boleh aku tahu berapa biaya sewanya?" Zerin penasaran.
"Tentu saja tidak boleh." Zidan menjawab sambil melonggarkan kerah baju. "Lihat! Sepertinya film akan dimulai," sambungnya. Sengaja merubah topik pembicaraan. Zidan memang paling malas membicarakan perihal uangnya.
Zerin menatap sinis. Dia menghempaskan diri ke sandaran kursi. Menatap lurus ke depan karena ingin fokus menonton.
"Ah benar, aku belum tahu kita akan menonton film apa," imbuh Zerin seraya menatap Zidan dengan sudut matanya.
"Film slasher," jawab Zidan santai.
"Film apa itu?" Zerin mengerutkan dahi. Sebagai orang yang tidak gemar menonton film, dia tidak tahu apapun.
Zidan tertawa kecil melihat ekspresi bingung Zerin. Popcorn yang tadinya ingin dia masukkan ke mulut, urung dilakukan.
"Kenapa tertawa? Aku ini memang jarang nonton karena lebih memilih belajar dan bekerja," pungkas Zerin yang merasa tersinggung dengan tawa Zidan.
"Nanti kau lihat sendiri bagaimana filmnya. Yang jelas ini latihan yang bagus untuk masa depan kita saat menjadi dokter," ujar Zidan. Ia mengelus pelan pundak Zerin.
"Benarkah? Bagus kalau begitu." Zerin jadi bersemangat.
Film sudah dimulai. Zidan dan Zerin fokus untuk menonton film yang diputar. Film di awali dengan cerita pengenalan yang seru.
"Apaan sih!" ulah Zidan membuat Zerin terkekeh geli.
Zidan membalas dengan senyuman. Dia masih belum melepas tangan Zerin. Tanpa diduga, lelaki itu menggigit pelan jari telunjuk Zerin.
Tindakan Zidan berhasil membuat Zerin menoleh. Perempuan tersebut melayangkan tatapan malas.
"Tangan aku bukan popcorn loh," tegur Zerin.
"Aku tahu." Zidan melirik dengan tatapan berisi. Dia berhenti menggigit jari telunjuk Zerin. Lalu memberikan kecupan berulang kali ke tangan perempuan itu.
Zerin tersenyum. Dia menarik tangannya tanpa melepas tangan Zidan. Hingga kini, Zerin yang menciumi tangan lelaki tersebut.
Zidan yang iseng menyumpal mulut Zerin dengan popocron. Keduanya lantas tergelak bersama sejenak. Setelah itu, mereka kembali fokus menonton film.
Zerin mengerucutkan dahinya. Dia juga meringiskan wajah. Sebab Zerin merasa filmnya semakin menakutkan.
"Zidan! Kenapa filmnya jadi ngeri begini? Apa lelaki itu akan terus memukuli anaknya?" tanya Zerin seraya menghimpitkan badan ke dekat Zidan.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Lelaki itu kan psikopat," sahut Zidan santai. Dia sama sekali tidak takut.
"Psikopat? Ini film tentang psikopat?" Mata Zerin membulat sempurna.
"Tentu saja. Film slasher tidak bisa lepas dari yang namanya psikopat dan adegan sadis. Yang kau lihat sekarang baru awalnya saja. Aku kemarin baca di internet, katanya ada adegan memotong tubuh dengan gergaji mesin. Aku yakin pasti akan muncul dibagian akhir," ujar Zidan. Dia tampak antusias.
"Ge-gergaji mesin?" mulut Zerin menganga lebar. Dia memejamkan mata rapat-rapat. Film slasher jelas bukan tipe kesukaan Zerin.
"Kau bohong! Tadi kau bilang film ini bagus untuk masa depan kita saat jadi dokter nanti?!" timpal Zerin sembari mencengkeram baju Zidan. Ia mengguncang tubuh kekasihnya.
"Aku tidak bohong. Di sini banyak adegan darah-berdarah. Kita bisa jadikan film ini untuk latihan. Terutama kalau kita ingin mengambil jurusan spesialis bedah," tanggap Zidan. Dia berusaha melepas cengkeraman Zerin.
"Itu kau! Aku tidak mau jadi dokter bedah!" bantah Zerin. Sekarang dia membuka mata. Melotot tajam ke arah Zidan.
"Benarkah? Lalu?" Zidan menuntut jawaban.
"Aku ingin jadi dokter kecantikan," ungkap Zerin. "Dan kau?" sambungnya, balas bertanya.
"Entahlah. Mungkin bedah. Aku suka hal yang menantang," jawab Zidan yang selalu tampak santai dan tenang.
Tubuh Zerin berjengit tatkala mendengar keributan di adegan film. Jeritan ketakutan serta suara gergaji mesin menggema. Ternyata adegan yang diberitahukan Zidan tadi memang benar adanya.
"Wah, ini seru!" ucap Zidan. Tak mengalihkan pandangan dari layar bioskop.
"Seru apanya?! Zidan! Aku ingin pulang! Aku nggak sanggup nonton film beginian!" keluh Zerin dengan nada memohon. Dia sudah berdiri. Mendesak Zidan untuk segera keluar.
"Enggak apa-apa kali, Rin. Lagian ini cuman film. Bukan beneran kok." Zidan tak bergeming.
"Ish! Nyebelin! Aku pulang duluan saja." Zerin melingus melewati Zidan. Tetapi lelaki itu sigap menghentikan.
Zidan mendudukkan Zerin ke atas pangkuan. Dalam posisi membelakanginya. Ia memaksa sang kekasih untuk menonton. Zidan memeluk Zerin sangat erat. Hingga perempuan tersebut tidak bisa pergi.
"Zidannn!!!" pekik Zerin yang merasa kesal. Dia menggelepar bagaikan ikan yang keluar dari air. Matanya terpejam sambil menutup telinga. Karena adegan di layar bioskop sedang memperlihatkan aksi darah-berdarah.
Zidan tertawa lepas. Dia merasa gemas dengan Zerin. Perempuan itu sangat lucu ketika sedang kesal. Rasa sayang Zidan jadi bertambah dua kali lipat.
..._____...
Catatan Author :
Hai guys, aku baru saja up novel terbaru. Genrenya romansa/fantasi/misteri. Buat yang tertarik silahkan cek profilku ya!
__ADS_1