
Masalah bisa muncul di saat tak terduga. Dan penanganan setiap individu itu berbeda-beda - Auraliv.
...༻∅༺...
Zidan tampak muram. Bahkan saat jasad pasien sudah dibawa pergi dari rumah sakit. Semua panggilan telepon dia abaikan. Termasuk dari Zerin. Zidan memutuskan tetap berada di rumah sakit. Bahkan sampai memilih bermalam di sana.
'Malam ini aku mungkin tidak bisa pulang.' Hanya begitulah pesan yang ditulis Zidan untuk Zerin. Namun setidaknya dia masih mau memberi kabar kepada sang istri.
Meskipun begitu, Zerin tentu saja khawatir. Mengingat Zidan tidak pernah bersikap begitu sebelumnya. Yang Zerin tahu, Zidan adalah sosok yang sangat percaya diri dan kuat.
Awalnya Zerin mencoba mengerti. Dia berpikir, mungkin Zidan butuh sendiri terhadap masalah yang sedang terjadi. Akan tetapi setelah beberapa hari terlewat, suaminya tersebut tetap memilih berada di rumah sakit.
Saat itulah Zerin bertindak. Dia menghubungi salah satu temannya di rumah sakit tempat Zidan bekerja. Zerin lantas mendapat kabar bahwa Zidan selalu tidur di dorm. Lelaki itu juga tampak murung.
Tanpa pikir panjang, Zerin segera menemui Zidan ke rumah sakit. Dia menyesal, seharusnya dirinya datang lebih awal. Mengingat Zidan selalu berada di sampingnya saat ada masalah.
Semua orang tentu mengenal Zerin. Mereka langsung memberitahukan dimana posisi Zidan berada. Lelaki tersebut sedang ada balkon. Asyik menikmati sebatang rokok.
"Sayang!" panggil Zerin sembari menghentakkan sebelah kaki. Dia tentu kesal menyaksikan Zidan merokok. Terlebih lelaki itu sudah menjadi dokter spesialis.
Zerin bergegas mendekat. Lalu mencoba mengambil rokok dari tangan Zidan. Namun lelaki tersebut sigap menjauhkan rokok dari jangkauannya.
"Aku sedang ingin sendiri," ungkap Zidan dengan nada datar. Dia bahkan tidak menoleh ke arah Zerin.
"Sayang? Apa kau begini karena merasa bersalah? Kumohon ceritakan semuanya kepadaku. Jangan menyimpan kegelisahanmu sendirian," tutur Zerin. Dia tahu kalau kemarahan tidak akan mampu membuat perasaan Zidan membaik.
Zidan hanya diam. Ia malah kembali menghisap rokok. Lalu mengeluarkan asapnya dari mulut.
Zerin menyentuh lengan Zidan. Berharap sang suami menanggapi. Hingga atensinya tertuju ke arah kantong jas putih Zidan. Dia dapat melihat sebungkus rokok dan alat pemantik.
Tanpa berpikir lama, Zerin mengambil bungkus rokok dan pemantik dari kantong Zidan. Dia langsung mengambil sebatang rokok. Menjepitnya di bibir, setelah itu barulah dinyalakan dengan pemantik.
Zidan akhirnya menoleh. Pupil matanya membesar ketika menyaksikan aksi Zerin.
__ADS_1
"Aku memang sudah lama tidak merokok. Tapi bukan berarti aku lupa caranya," cetus Zerin. Usai menyesap rokok dalam satu kali isapan.
"Berikan rokoknya kepadaku!" pinta Zidan seraya membuka lebar telapak tangan.
Zerin lantas menyerahkan bungkus rokok serta pemantik kepada Zidan. Tetapi tidak untuk rokok yang sedang dinikmatinya.
"Yang dimulutmu juga," desak Zidan.
"Kau merokok. Maka aku juga. Kau masih suamiku kan?" tanggap Zerin. Menatap Zidan dengan sudut matanya.
Zidan dibuat geram. Ia membuang rokok ke lantai. Lalu menginjaknya. "Kau puas sekarang?" tukasnya dengan tatapan tajam.
"Tidak. Rokokmu itu hampir habis. Punyaku masih banyak. Tunggu sebentar," sahut Zerin sambil menatap lurus ke depan. Dia meletakkan tangan ke atas pagar pembatas balkon. Menatap ke arah jalanan yang dipenuhi alat transportasi.
Zidan memutar bola mata sebal. Dia menarik lengan Zerin. Sampai wajah Zerin menghadap ke arahnya.
"Kumohon... Beri aku waktu sendiri. Aku berjanji akan membaik dalam beberapa hari," ucap Zidan. Dia terlihat begitu serius.
"Bagaimana aku bisa percaya kau akan membaik kalau melihatmu merokok begini?!" balas Zerin.
"Aku harus pergi," kata Zidan yang baru saja selesai mematikan telepon. Lalu merampas rokok Zerin. Dia mematikan dan membuang rokok tersebut. Selanjutnya, Zidan beranjak lebih dulu dari balkon.
Zerin mematung di tempat. Melihat Zidan bersikap begitu, dia jadi teringat masa lalu. Yaitu masa ketika dirinya mengurus Zidan saat sakit. Lelaki itu memang terkesan tidak mau di urus ketika mendapat masalah.
'Kalau begitu aku akan menemuinya lagi besok,' batin Zerin bertekad.
Karena Zidan disibukkan dengan jadwal operasi, Zerin terpaksa pulang. Ketika waktu menunjukkan jam lima pagi, Zerin kembali mendatangi Zidan. Dia mencari lelaki itu ke dorm.
Zerin mengguncang badan Zidan. Sampai suaminya itu membuka mata.
Mata Zidan terbuka lebar saat melihat kehadiran Zerin di pagi buta. "Kau kenapa ke sini sepagi ini?" tanyanya.
"Mengajakmu joging. Kau sudah melewatkannya beberapa hari," jawab Zerin. Ia memang terlihat sudah siap dengan setelan olahraga. "Nih! Aku juga bawakan pakaian baru untukmu," sambungnya seraya menyodorkan pakaian yang dimaksud.
__ADS_1
Zidan merubah posisi menjadi duduk. Ia mengusap kasar wajahnya.
"Ayo cepat! Nanti keburu siang!" desak Zerin. Dia memaksa Zidan berdiri. Tujuan Zerin sekarang hanyalah ingin membuat Zidan lupa dengan masalahnya. Persis seperti yang sering Zidan lakukan kepada Zerin.
Meski sangat malas, Zidan mau saja menuruti keinginan Zerin. Keduanya lantas lari pagi bersama seperti biasa.
Zerin tidak berhenti melirik ke arah Zidan. Memastikan sang suami membaik atau tidak. Benar saja, Zidan terlihat merekahkan senyuman tipis ketika berlari. Lelaki tersebut tampak menatap ke arah matahari terbit.
"Akhirnya kau tersenyum. Sayangnya bukan karena aku, tapi karena matahari," sindir Zerin sambil membuang muka. Dia berhenti berlari.
"Hei!" Zidan ikut berhenti berlari. Dia merangkul pundak Zerin. "Justru karena kaulah aku bisa melihat matahari itu," ucapnya.
Zidan segera mengapit Zerin dengan tangannya. Hingga perempuan itu reflek memekik.
"Sayang! Ketiakmu itu keringatan tahu nggak!" protes Zerin. Dia berusaha melepaskan kekangan Zidan. Walaupun begitu, keduanya memperdengarkan gelak tawa penuh canda.
Usai melakukan olahraga, Zerin dan Zidan memilih pulang ke rumah. Mereka langsung masuk ke kamar mandi. Saling menanggalkan pakaian masing-masing.
Pemanasan demi memulai hubungan intim dilakukan oleh Zidan dan Zerin. Tetapi anehnya, Zidan merasakan ada hal yang tidak wajar. Terutama ketika dirinya hendak melakukan penyatuan.
"Kau bisa melakukannya sekarang, sayang..." lirih Zerin yang sudah siap menerima penyatuan dari Zidan. Dia dalam posisi membelakangi lelaki itu. Berpegang erat pada wastafel di hadapannya.
"Sepertinya aku tidak bisa melakukannya," sahut Zidan. Wajahnya terlihat panik. Dia langsung mengambil handuk. Lalu melilitnya ke pinggang. Zidan juga tidak lupa memakaikan handuk kimono kepada Zerin.
Perbuatan aneh Zidan, otomatis membuat Zerin heran. Bagaimana tidak? Karena biasanya orang yang selalu lebih bergairah adalah Zidan. Lelaki tersebut bahkan seringkali tidak mengenal tempat dan waktu.
"Apa maksudmu?" Zerin menuntut jawaban.
"Aku yakin ini hanya dampak stress yang kurasakan," jelas Zidan ambigu.
Zerin berusaha memahami. Sampai dia akhirnya dapat menarik kesimpulan. "Apa kau membicarakan tentang alat vitalmu? Apa itu tiba-tiba tidak bisa berfungsi?" tanyanya memastikan.
"Ya, mungkin kita bisa melakukannya lain kali." Zidan mencoba berpikir positif.
__ADS_1
"Mungkin kita harus melakukan pemanasan lebih lama. Aku bisa melakukan apapun yang kau mau! Apapun, sayang." Zerin berusaha meyakinkan Zidan. "Tapi kau harus melakukannya tanpa memikirkan masalahmu. Pikirkan saja aku."