
Ketakutan itu kadang menyiksa. Tetapi ada yang menganggap sebagai pembangkit adrenalin - Auraliv.
...༻∅༺...
Setibanya di tempat tujuan, Zidan dan Zerin turun dari mobil. Zidan segera menggunakan kacamata hitam. Guna melindungi mata dari sinar matahari yang menyilaukan.
"Kau tidak punya kacamata?" tanya Zidan.
Zerin tidak menjawab. Dia membuka tas selempang, lalu mengambil kacamata hitam dari sana. Zerin langsung menggunakan kacamata tersebut.
Zidan tersenyum gemas. Ia menautkan tangannya dengan jari-jemari Zerin. Mereka melangkah bersama menuju kapal pesiar. Di sana sudah ada nahkoda yang menunggu.
"Gila! Kamu ternyata beneran sewa kapal pesiar cuman kita berduaan dong," seru Zerin antusias. Kelopak matanya melebar.
"Kamu itu sudah berapa kali bilang aku gila. Kayaknya hampir tiap hari," tanggap Zidan sembari tersenyum tipis. Ia menuntun Zerin untuk menjejakkan kaki ke kapal.
"Apa yang kamu lakukan untukku itu gila! Bahkan sejak pertama kita bertemu," tukas Zerin yang balas tersenyum.
"Orang yang bersikap gila saat pertama bertemu itu justru kau!" balas Zidan. Mengingat kesan pertamanya saat bertemu Zerin. Dia sangat ingat, perempuan tersebut langsung memberitahukan rahasianya kepada Zidan.
"Tapi sikapmu lebih gila dariku." Zerin tak ingin kalah. Zidan lantas hanya bisa memutar bola mata malas.
Dalam sekian menit, kapal melaju di atas lautan. Entah tempat apa yang akan dituju Zidan kali ini.
Zerin berdiri ke bagian depan kapal. Di sana dia bisa melihat hamparan laut yang luas. Tangan Zidan perlahan melingkar ke perut Zerin. Lelaki itu memeluk dari belakang.
Zidan menyampirkan rambut Zerin ke pinggir. Hingga dia dapat menenggelamkan wajah ke leher kekasihnya. Dia tentu melepas kacamata hitamnya terlebih dahulu.
Darah disekujur badan Zerin berdesir hebat. Ia reflek memejamkan mata.
"Aku pikir nahkoda kapal pasti menontoni kita sekarang," cetus Zerin. Dia merasa geli terhadap ulah Zidan. Sebab lelaki itu masih bergumul dengan kulit lehernya.
"Biarkan saja," sahut Zidan yang berhenti sejenak. Saat itulah Zerin menjauh dari Zidan.
"Apa kita hanya akan berkeliling dengan kapal ini?" tanya Zerin. Dia sudah berada di jarak yang agak jauh dari Zidan.
"Tidak. Kita hanya menyeberang menggunakan kapal ini," jawab Zidan sembari mendengus kasar. Dia menghampiri meja. Lalu menuang sampanye ke dalam dua gelas secara bergantian.
"Menyeberang? Kemana?" Zerin menyelidik.
"Ke tempat dimana kita hanya bisa bersenang-senang." Zidan berujar sambil menyodorokan segelas sampanye untuk Zerin.
"Bersenang-senang? Bisakah kau lebih spesifik?" Zerin meraih sampanye yang diberikan Zidan. Dia segera menghabiskan cairan mengandung kadar alkohol itu.
__ADS_1
"Kita akan naik wahana seperti taman bermain. Aku jamin akan menyenangkan."
"Taman bermain? Apakah tempat seperti itu ada di Bali? Aku belum pernah mendengarnya."
"Nanti kau bisa lihat sendiri." Zidan membawa Zerin ke dalam rangkulan.
Tak lama kemudian, kapal pesiar menepi ke pinggir pantai. Di sana sudah ada seorang pria asing yang menyambut.
Dahi Zerin berkerut dalam. Karena orang bule yang dilihatnya tampak berpakaian rapi. Meskipun begitu, Zerin tetap menyambut salam dari pria bernama Marcel tersebut. Marcel juga sangat fasih berbahasa Indonesia.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Zidan.
"Ya, aku bahkan hampir tertidur." Marcel berpura-pura menguap. Dia bermaksud bercanda.
"Maaf, tadi pacarku terlalu lama berganti baju," sahut Zidan merasa tidak enak. Dia langsung dapat kritikan Zerin dengan senggolan siku.
"Hahaha! Aku hanya bercanda. Aku baru saja menyiapkan semuanya. Kau dan pacarmu bisa langsung naik," imbuh Marcel. Dia memimpin jalan menuju sebuah pesawat amfibi.
"Kita akan naik pesawat? Bukankah tadi katanya kita akan bersenang-senang?" Zerin memastikan. Dia segera melepas kacamata hitam dan memasukkannya ke dalam tas.
Zidan tidak menjawab. Dia menyeret Zerin untuk ikut bersamanya. Kini mereka sudah berada di dalam pesawat amfibi. Pesawat yang dapat lepas landas dan berhenti di atas air.
Marcel menyalakan pesawat. Zerin dan Zidan segera menggunakan penutup telinga yang tampak seperti headphone.
"Bersiap? Untuk apa?!" Zerin tidak mengerti. Perasaannya mulai dirundung rasa cemas.
"Sudah, menurut saja." Zidan menggenggam tangan Zerin sambil tersenyum lebar.
"Zidan! Kau merencanakan... Aaaarkhhh!!!" belum menyelesaikan kalimatnya, gerakan pesawat tiba-tiba menukik ke bawah. Jantung Zerin rasanya mau copot.
Seolah akan jatuh dari ketinggian. Begitulah hal yang dirasakan Zerin sekarang.
Berbeda dengan Zerin, Zidan justru berseru kesenangan. Lelaki itu jelas menikmati bagaimana cara Marcel mengemudikan pesawat.
"Zidan!!! Ini gila! Kau membohongiku lagi... Aaaaarrkkhhh!!!" Zerin kembali berteriak saat pesawat berputar seratus delapan puluh derajat di atas ketinggian. Hal itu membuat Zerin ketakutan setengah mati.
Marcel terus mengemudikan pesawatnya seperti manusia yang melakukan akrobat. Setiap kali dia melakukan itu, maka Zerin akan berteriak.
Zidan tertawa menyaksikan tingkah Zerin. Dia segera memeluk kekasihnya dengan erat dari samping.
"Kau bohong! Bohong!" Zerin melayangkan pukulan bertubi-tubi untuk Zidan.
Marcel yang mendengar tergelak lepas. Dia sama seperti Zidan. Menikmati pergerakan pesawat yang terjadi. Walau dirinya tahu nyawa bisa saja menjadi taruhan. Tetapi karena sudah memiliki lisensi, jad Marcel tidak khawatir.
__ADS_1
"Zidan aku tidak tahan lagi! Hiks..." Zerin akhirnya menangis karena sudah tidak tahan. Saat itulah Zidan menyuruh Marcel untuk berhenti. Lelaki tersebut segera menurunkan pesawat.
Zerin buru-buru keluar. Dia tidak hanya merasa marah pada Zidan, namun juga takut dan mual.
"Huek!" Zerin langsung tumbang ke pasir di pantai. Dia memuntahkan cairan dari mulut. Aktifitas memacu adrenalin tadi membuat perutnya tidak nyaman.
"Zerin!" Zidan menghampiri Zerin. Memastikan keadaan kekasihnya baik-baik saja. Akan tetapi Zerin langsung menjauh dari Zidan.
"Aku minta maaf. Aku pikir kau menyukai hal seperti tadi," ucap Zidan sembari meraih tangan Zerin. Ia berhasil menghentikan pergerakan kaki perempuan tersebut.
"Aku benci kamu! Kalau kau terus begini, kita putus saja!" Zerin memukulkan kepalan tinjunya ke dada Zidan. Amarah yang memuncak membuat nafasnya tersengal-sengal. Wajah Zerin bahkan memerah padam.
"Hei! Jangan asal ngomong putus dong, Rin." Zidan mencoba menenangkan. Walaupun begitu, dia terlihat masih tidak berhenti tersenyum. Membuat kekesalan Zerin sontak bertambah.
"Bacot!" geram Zerin seraya melepas genggaman tangan Zidan.
"Oke, oke. Aku minta maaf. Aku berjanji tidak akan mengajakmu naik pesawat amfibi lagi," imbuh Zidan.
"Enak ngomong janji terus! Kemarin juga begitu!" balas Zerin.
"Kali ini benar. Aku bersumpah. Bilang saja kau mau mengutukku jadi apa kalau hal begini terulang lagi," ujar Zidan. Perkataannya kini sukses membuat kerutan di kening Zerin memudar.
"Apa? Katakan saja." Zidan mengusap pelan puncak kepala Zerin.
"Kalau kau membuatku berteriak ketakutan seperti tadi atau seperti di bioskop tempo hari, maka kau akan jatuh miskin!" pungkas Zerin. Mengucapkan kutukan untuk Zidan.
"Oke, aku terima. Sekarang kamu bisa senyum kan?" tanggap Zidan yang terkesan santai. Ia memegangi wajah Zerin. Menunggu perempuan itu tersenyum. Namun Zerin masih saja cemberut.
Zidan menghela nafas panjang. Dia mencoba mencari sesuatu agar bisa melihat senyuman Zerin. Sampai akhirnya terlintas hal cemerlang dalam benaknya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau aku membawamu ke tempat spa mewah di Bali. Apa itu akan membuatmu tersenyum?" ujar Zidan. Tetapi Zerin masih saja menunjukkan raut wajah datar.
"Kau tidak mau? Ya sudah. Kalau begitu..."
"Tidak! Tentu saja aku mau." Zerin langsung tersenyum lebar. Dia dan Zidan lantas pergi ke tempat spa.
Ketika telah tiba di tempat spa mewah, Zidan membiarkan Zerin menikmati. Sedangkan dia akan menunggu.
Zerin melakukan berbagai perawatan untuk kecantikan. Termasuk pijatan lembut. Sekarang dia sudah tiarap di tempat dimana dirinya akan mendapat pijatan. Tubuh Zerin dalam keadaan telanjang bulat. Ia hanya ditutupi dengan kain bermotif batik.
Dari arah pintu, masuklah seseorang yang bertugas akan memberi pijatan. Dia terlihat mengenakan seragam seperti pelayan spa yang lain.
Zerin mengerutkan dahi. Bagaimana tidak? Pelayan spa yang datang adalah seorang lelaki. Zerin tentu dirundung perasaan cemas. Tetapi ketika menilik baik-baik wajah pelayan spa, Zerin merasa mengenal lelaki itu.
__ADS_1