
Pengakuan terkadang bisa menyakitkan. Bahkan membuatmu lupa untuk peduli - Auraliv.
...༻∅༺...
"Bohong! Itu nggak benar!" Zerin membantah. Sebab dia tahu Fadli tidak memiliki bukti.
"Om! Jangan pernah sebut Zerin begitu! Dia itu gadis berharga untukku!" Adi membela Zerin. Dia berdiri sambil mengacungkan jari telunjuk ke wajah Fadli.
"Kalau kau tidak percaya. Ayo ikut Om! Aku akan buktikan kalau apa yang kukatakan adalah kebenaran. Om melakukan ini demi kebaikanmu, Di!" tegas Fadli dengan nada penuh penekanan.
"Sayang... Aku ingin pulang saja," pinta Zerin yang sudah bercucuran air mata.
"Lihat! Dia langsung ingin pulang. Apa kau tidak curiga? Ayo ikut Om! Kita pergi sekarang." Fadli berjalan keluar lebih dulu.
"Sayang, kamu percaya kan sama aku? Aku takut. Aku ingin pulang. Kau tidak perlu mengantarku." Akibat didera rasa panik, pikiran yang terlintas dalam benak Zerin adalah melarikan diri.
Tetapi Adi justru curiga. Mengingat identitas Zerin memang terbilang agak tertutup. Perempuan itu bahkan sangat jarang membicarakan keluarganya. Meskipun begitu, Adi membuang perasaan janggalnya secepat mungkin. Ia memutuskan percaya kepada Zerin.
"Maafkan Om aku, Rin." Adi menggenggam dua tangan Zerin. Dia mencoba menenangkan. "Aku percaya kepadamu. Tapi kita harus ikuti Om Fadli. Dia tidak akan berhenti kalau kita menolak untuk ikut. Lagi pula kau tidak perlu takut kalau apa yang dikatakannya tadi adalah kebohongan," tuturnya.
Zerin tertegun. Matanya mengerjap pelan. Ia tak menyangka Adi mengajaknya untuk mengikuti Fadli. Zerin bisa saja tidak ikut. Namun dia takut hal buruk akan dilewatkannya.
"Baiklah kalau begitu." Zerin tidak punya pilihan lain selain setuju. Ia dan Adi segera berangkat bersama Fadli.
Kini Zerin tengah berada di mobil. Dia terus memainkan jari-jemarinya karena merasa gugup. Membiarkan Adi menjalankan mobil untuk mengikuti sang paman.
"Kira-kira Om kamu mau mengajak kita kemana?" tanya Zerin dengan binar getir di sorot matanya.
"Aku nggak tahu. Pokoknya kita ikutin saja." Fadli menggenggam tangan Zerin dengan lembut. Dia tahu perempuan itu gelisah sejak tadi. "Kau tidak perlu cemas. Ada aku bersamamu. Jika terjadi apa-apa, aku pasti akan menjagamu," tuturnya yang terdengar bersungguh-sungguh.
Di waktu yang sama, Zidan baru saja selesai mengantar Kinar pulang. Dia mendadak mendapat panggilan dari Reza. Teman dekatnya saat di Amerika.
Reza kebetulan kembali ke Indonesia. Dia mengajak Zidan bertemu di klub malam.
"Kapan kau pulang? Kenapa baru kasih tahu sekarang? Kau nggak tahu betapa membosankannya lingkaran pertemananku di sini!" cetus Zidan dengan wajah sumringah. Mendengar kedatangan Reza saja dia sudah antusias.
"Biar suprise. Lagian aku baru datang tadi sore. Kau benar, suasana di sini agak membosankan. Cepat sini! Aku sudah tunggu di ruang VIP," ujar Reza dari seberang telepon. Ia menjadi orang yang mengakhiri panggilan lebih dulu.
Zidan tersenyum lebar. Dia melajukan mobil menuju klub malam dimana Reza berada.
...***...
__ADS_1
Zerin dilanda perasaan gugup ketika melihat mobil Fadli berhenti di parkiran area klub malam. Dia mematung di tempat dengan mimik wajah sangat gelisah. Zerin ingin sekali kabur. Namun tidak bisa, karena Adi pasti akan curiga.
"Ayo kita masuk!" ajak Fadli yang berjalan lebih dulu.
Adi dan Zerin segera keluar dari mobil. Lalu mengikuti Fadli dari belakang.
"Om kenapa bawa kami ke sini? Ini klub malam kan?" imbuh Adi dengan dahi berkerut.
"Ikuti saja jika kau ingin tahu siapa pacarmu yang sebenarnya," kata Fadli.
Adi menoleh ke arah Zerin. Dia hendak mengajak sang kekasih pergi. Tetapi urung dilakukan saat menyaksikan Zerin begitu gelisah. Perasaan curiga Adi kembali muncul. Zerin bahkan tidak melakukan pembelaan dengan maksimal. Seakan apa yang dikatakan Fadli adalah fakta.
Karena diamnya Zerin, Adi memilih tetap mengiringi sang paman. Hingga mereka benar-benar masuk ke klub malam. Suara musik yang menggema nyaring langsung menyambut.
Fadli yang sudah biasa dengan suasana diskotik tampak santai. Begitu pun Zerin. Perempuan itu tenggelam dalam kekhawatirannya sendiri.
Sementara Adi menjadi satu-satunya orang yang terganggu. Dia memang hampir tidak pernah menjejakkan kaki di klub malam. Lelaki tersebut menutup dua telinganya rapat-rapat. Kening Adi lagi-lagi mengernyit. Terutama saat melihat Zerin yang terkesan biasa-biasa saja.
Fadli mengajak Adi dan Zerin memasuki sebuah ruang VIP. Mata Zerin terbelalak tatkala menyaksikan dua lelaki yang sudah ada di sana. Mereka adalah Marcel dan Aryan. Dua lelaki yang juga pernah menyewa jasa Zerin. Nampaknya Fadli-lah yang mengundang Marcel dan Aryan untuk datang.
"Zerin... Senang bertemu denganmu. Kau sangat cantik hari ini," sapa Aryan sembari mencoba meraih tangan Zerin. Dia hendak mencium punggung tangan perempuan itu.
Zerin tentu mengindar. Dia berlindung ke balik punggung Adi.
"Ayolah Zerin sayang. Kamu nggak kangen sama uang Om?" Marcel segera angkat suara.
Adi meringiskan wajah. Kepercayaannya terhadap Zerin semakin goyah.
Fadli yang melihat tingkah Zerin, tergelak sambil menggelengkan kepala. Dia kagum dengan akting yang dilakukan perempuan tersebut.
"Hei wanita ***-***! Aku tidak suka dengan caramu membohongi Adi! Katakan saja yang sebenarnya!" tukas Fadli.
"Zerin sayang? Kau juga bisa menangis?" ujar Marcel. Dia mendekati Zerin. Menyentuh pundak perempuan itu dengan lembut.
Zerin sekali lagi menghindar. Dia berpegang erat ke lengan Adi. Akan tetapi lelaki itu dengan cepat menjaga jarak.
"Zerin! Katakan saja. Apa yang dikatakan Om Fadli benar?" Adi menuntut jawaban.
Zerin menangis tersedu-sedu. Dia menggelang untuk menanggapi ucapan Adi.
"Kenapa kau tidak mengaku, Rin? Kau sudah tiga kali bermesraan denganku di ruangan seperti ini," ucap Marcel sembari menampakkan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.
__ADS_1
"Zerin, kau lebih baik mengaku saja. Sebelum aku nekat menyebarkan pekerjaan kotormu itu kepada semua orang. Mencari bukti adalah hal mudah untukku. Apalagi dengan bantuan Marcel dan Aryan. Mengingat mereka berdua bekerja dibidang hukum." Fadli memberikan ancaman yang membuat Zerin perlahan menghentikan tangis.
Zerin berpikir. Dia tentu dilema. Mengingat pekerjaannya sebagai sugar baby adalah rahasia terbesar.
"Aku melakukan ini karena Adi keponakanku. Aku memang menyukaimu, Rin. Tapi aku tidak akan membiarkan wanita sepertimu dekat dengan Adi," kata Fadli lagi.
"Rin, ayo kita pulang. Itu yang kau mau bukan? Sepertinya Omku sudah gila." Adi yang sangat menyukai Zerin, kembali membuang jauh rasa curiga.
"Katakan sekarang, atau aku sebarkan semuanya kepada semua orang!" Fadli kembali berucap.
Marcel dan Aryan terlihat tertawa. Keduanya terus menatap ke arah Zerin.
"Lupakan saja! Kita pulang--"
"Itu benar. Apa yang dikatakan Om Fadli benar!" ungkap Zerin. Tanpa sengaja memotong ucapan Adi. Mata lelaki itu membola. Hatinya langsung sakit. Seakan ada sebilah pisau yang menghujam.
"Maafkan aku, Kak. Itu benar. Tapi itu dulu. Sebelum aku pacaran sama Kakak! Sekarang aku sudah tidak melakukannya. Aku bersumpah..." ujar Zerin dengan air mata yang kembali berderai. Berharap Adi mengerti.
"Aku nggak menyangka kamu ternyata wanita seperti itu!" Adi menatap Zerin dengan tatapan jijik. Dia terlampau kecewa terhadap kenyataan yang diterimanya.
Tanpa pikir panjang, Adi pergi begitu saja. Dia tidak peduli lagi. Di ikuti oleh Fadli setelahnya. Fadli sepertinya puas dengan pengakuan Zerin tadi.
Zerin bergegas mengejar Adi. Namun Marcel dan Aryan sigap menghentikannya.
"Kak Adi! Tunggu aku!" pekik Zerin. Tetapi Marcel memeluknya dengan erat dari belakang.
"Ayolah, Rin. Layani kami berdua. Aku dan Aryan akan memberikan uang ratusan juta untuk satu malam," desis Marcel ke telinga Zerin.
"Kak Adi! Tolong aku! Tolong..." teriak Zerin lagi. Sebenarnya dia memang sudah berhenti menjadi sugar baby semenjak membuat kesepakatan bersama Zidan. Apalagi saat telah berpacaran dengan Adi. Ia berubah menjadi lebih baik.
Ketika bersama Adi, Zerin merasa bisa menjadi lebih normal. Ia juga selalu berharap Adi akan menjadi suaminya kelak. Tetapi sekarang pupus sudah harapan tersebut.
Aryan tergelak. Dia segera mencoba melepas dress yang dikenakan Zerin.
Karena merasa terancam, Zerin menginjak salah satu kaki Marcel. Usahanya sukses membuat lelaki itu melepas pelukan.
Zerin memanfaatkan waktu untuk melarikan diri. Dia berlari keluar dari pintu sambil memperbaiki dresanya. Jujur saja, air mata terus meleleh dari pipinya.
Belum sempat berlari jauh, Aryan menangkap Zerin dari belakang. Lalu menggendongnya bak sebuah karung beras.
"Tenagamu itu tidak sepadan denganku, Zerin sayang..." ujar Aryan seraya tersenyum puas. Dia segera membawa Zerin kembali masuk ke ruang VIP.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu, Zidan muncul. Dia sedang berjalan menuju ruang dimana temannya berada. Namun keributan yang dibuat Aryan dan Zerin tadi membuat langkah kakinya terhenti. Mata Zidan memicing. Ia merasa kenal dengan wanita yang tadi dibawa oleh Aryan.