
Dalam setiap masalah, orang yang selalu menang tidak akan terus-terusan menang - Auraliv.
...༻∅༺...
Zidan menyarankan Zerin untuk kembali ke hotel. Raut wajah Zidan berubah drastis. Dia menjadi lebih serius. Lelaki itu bergegas mengenakan pakaian.
"Ayahmu bilang apa?" tanya Zerin penasaran.
"Entahlah. Kayaknya masalah pekerjaan," jawab Zidan. Dia mengibaskan kain pantai milik Zerin ke udara. Setelahnya, barulah dia melilitkan kain itu ke pinggul Zerin.
"Kau harus beli kain pantai yang baru. Buang saja yang kau pakai itu!" tukas Zidan sembari menyerahkan sebuah kartu debit.
"Kau tidak ikut?" Zerin menuntut jawaban.
"Tidak. Ayahku terdengar marah. Sepertinya ini terkait masalah bisnis. Aku harus cepat-cepat menemuinya." Zidan beranjak meninggalkan Zerin.
"Baiklah," sahut Zerin datar. Ketika hendak melangkah, kakinya tidak sengaja tersandung sesuatu. Setelah melihat ke bawah, dia menemukan kamera Zidan yang tertinggal.
Senyuman licik mengembang di wajah Zerin. Ia mengambil kamera Zidan dan membawanya.
Di waktu yang sama, Zidan sedang menuju kamar Wira. Dia sekarang berada di dalam lift.
Saat pintu lift terbuka, Zidan melenggang menuju kamar Wira. Dia tentu mengetuk lebih dulu.
Wira yang telah lama menunggu, langsung membuka pintu. Mimik wajahnya tampak cemberut dan marah.
"Kenapa, Pah? Serius banget?" tukas Zidan.
"Gimana aku nggak serius?! Aku tadi lihat kamu ciuman sama Zerin di pantai!!" ujar Wira dengan nada penuh penekanan.
Deg!
Jantung Zidan berpacu keras tatkala mendengar pernyataan Wira. Matanya juga membulat sempurna. Dia tidak bisa berkata-kata.
Wira mencengkeram kerah baju Zidan. "Beritahu aku. Apa kau dan Zerin sudah melakukannya lebih dari itu?!" timpalnya dengan mata yang membuncah hebat.
"Te-tentu saja tidak, Pah. Kami hanya sebatas bercium--"
"Kau tergagap! Kau pikir aku percaya?! Andai kalian melakukannya dengan pakaian lengkap, mungkin aku bisa percaya. Tapi kenyataannya tidak!" Wira memotong ucapan Zidan. Dia tahu putranya pasti akan berusaha berkilah.
Zidan memejamkan matanya sejenak. Dia mencoba mencari jalan keluar untuk menghadapi masalah sekarang. Sebab orang yang di hadapinya kini adalah Wira. Sosok jenius yang sering mengajarinya rencana brilian semenjak kecil.
"Maafin aku, Pah... Aku dan Zerin memang pernah melakukannya. Tapi--"
__ADS_1
"Kau membuatku kecewa, Dan! Kecewa!!!" Wira mengguncang Zidan dengan perasaan dangkal. Matanya juga tampak berpendar akan cairan bening.
Wira melepaskan kerah baju Zidan. Dia duduk ke sofa dan memegangi kepala dengan dua tangan. Jelas Wira sedang berupaya menenangkan diri.
"Tapi kami hanya pernah melakukannya sekali, Pah. Kami juga tidak sebodoh itu. Aku selalu menggunakan pengaman!" jelas Zidan. Dia duduk di sofa yang ada di depan Wira.
"Melakukannya sekali?" Wira menatap Zidan dengan tatapan tajam. "Tapi kenapa kau menyebut kata 'selalu'? Jadi yang mana yang benar? Satu kali atau selalu?" sambungnya. Wira berhasil menemukan kata ganjil di kalimat yang diucapkan sang putra.
Zidan terhenyak. Dia yang tadinya sempat menjalankan rencana, kini justru terkena batunya. Zidan tidak sengaja keceplosan.
"Pah, aku--"
"CUKUP! Aku muak dengan semua alasanmu! Semuanya sudah jelas bagiku! Kau tidak pernah berpikir bagaimana jadinya kalau semua orang tahu kelakuanmu!" geram Wira. Dia kembali memotong ucapan Zidan.
Zidan tertunduk. Dia sudah kehabisan rencana. Semakin dirinya banyak bicara, mungkin kemarahan Wira akan menjadi-jadi.
"Aku punya dua solusi untukmu dan Zerin. Pertama, kalian menikah. Dan kedua, kau harus pindah kuliah ke luar negeri," cetus Wira.
Mata Zidan terbuka lebar. Pilihan yang diberikan Wira adalah hal buruk baginya.
"Pah, Kami belum lama berpacaran! Aku dan Zerin ingin fokus dengan pendidikan kedokteran kami!" tolak Zidan. "Lagi pula, bukankah orang-orang akan curiga kalau kami terlalu cepat menikah? Mereka pasti mengira sesuatu hal buruk terjadi. Kau tidak mau mendengar rumor bahwa pernikahanku terjadi karena hamil diluar nikah bukan?!" pungkasnya.
Meski merasa kalah, Zidan berusaha melakukan pertahanan sebaik mungkin. Dia tahu kalau Wira sangat peduli dengan reputasi. Rumor sekecil apapun adalah masalah baginya.
"Kalau kau mencintai Zerin, harusnya kau senang mendengarku menyuruhmu menikah dengannya." Wira tak ingin kalah.
"Tentu saja aku mencintai Zerin! Tapi aku tahu kalau menjalani rumah tangga itu tidak mudah. Aku bahkan belum bekerja!"
"Kenapa orang sepertimu mengkhawatirkan pekerjaan? Itu adalah hal yang mudah bagiku. Aku bahkan bisa langsung membuatmu menjadi direktur rumah sakit!"
Perkataan Wira kali ini membuat Zidan tertohok. Dia mendengus kasar. Alhasil Zidan tidak punya rencana lagi selain memohon dan berjanji.
Zidan berjalan ke hadapan Wira. Dia duduk bersimpuh di lantai.
"Baiklah kalau Papah ingin aku menikah. Tapi setidaknya bisakah kau memberi waktu untukku dan Zerin? Setidaknya sampai kami menjadi dokter spesialis," tutur Zidan dengan raut wajah penuh harap.
"Kalau kau tidak mau menikah, sebaiknya besok kau bersiap untuk kembali ke Amerika." Wira mengabaikan permohonan sang putra.
Zidan dirundung rasa gelisah. Sungguh, dia memang sangat mencintai Zerin. Akan tetapi dirinya belum siap untuk menikah. Di sisi lain, Zidan tentu tidak sudi berpisah dengan Zerin. Solusi kedua yang diberikan Wira adalah pilihan terburuk baginya.
"Aku berjanji akan menjaga Zerin, Pah. Aku juga berjanji kalau dialah satu-satunya perempuan yang akan kunikahi! Aku mohon beri kami waktu."
Wira membuang muka dari Zidan. Dia mencoba membuat keputusan tepat.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan memberimu waktu. Bersiaplah menikah saat kau menjalani masa koasmu nanti. Kebetulan hanya tinggal beberapa bulan lagi kan?" kata Wira.
"Koas?" Zidan meragu. Baginya waktu yang ditentukan Wira masih terlalu cepat.
"Kalau masih menolak, maka sekarang aku akan memaksamu pergi ke Amerika. Bagaimanapun caranya!" tegas Wira sembari bangkit dari sofa.
"Baiklah! Aku bersedia menikahi Zerin saat masa koas nanti." Zidan terpaksa menerima tawaran terakhir Wira. "Tapi Papah nggak akan memberitahu semua ini sama Mamah kan?" tanya-nya.
"Tidak. Ini adalah rahasia kita berdua. Kau bisa menceritakan rencana pernikahan dengan Zerin mulai sekarang."
"Terima kasih, Pah." Zidan merasa sedikit lega. Dia sebenarnya ragu apakah Zerin setuju menikah dengannya dalam waktu cepat.
"Tapi kalau Zerin hamil, kau harus menikahinya secepat mungkin!" Wira beranjak dari hadapan Zidan. Pembicaraan mereka berakhir. Kini Zidan hanya bisa pasrah menerima keadaan.
Malam telah tiba, semua rombongan sudah melakukan perjalanan menuju rumah Bi Devi. Arni kebetulan sengaja menyewa bus agar tidak repot membawa terlalu banyak mobil.
Sejak masuk ke bus, Zerin menyapa Zidan. Lelaki itu lantas mengembangkan senyum. Wira yang berada tidak jauh, berusaha mengawasi sebaik mungkin.
Sesampainya di tempat tujuan semua orang dipersilahkan untuk makan malam. Setelah itu, mereka melihat pertunjukkan kesenian khas Bali yang dilakukan di halaman rumah Bi Devi.
Zerin menonton pertunjukkan dari paviliun. Di sana dia mengambil banyak foto dengan kamera Zidan. Kebetulan Zerin sendirian di sana. Karena kebanyakan orang memilih melihat pertunjukkan dari jarak dekat.
"Pantas saja aku cari-cari nggak ada. Ternyata kau yang mencurinya." Zidan menghampiri Zerin. Dia menyindir kamera miliknya yang sedang dipakai Zerin.
Zerin tidak hirau. Dia berpura-pura tidak mendengar.
"Eh, pacarnya lagi ngomong loh," sindir Zidan.
Zerin tersenyum miring. Dia berbalik dan mengambil foto Zidan secara tiba-tiba.
"Zerin!" protes Zidan seraya mengerutkan dahu. Dia berusaha menutupi wajah dengan dua tangan. Tetapi tidak sempat.
"Gimana rasanya? Nggak enakkan?" tukas Zerin. Ia segera sibuk memeriksa foto Zidan yang baru diambilnya.
"Eh hasilnya bagus loh, Dan. Pacarku ini memang ganteng," imbuh Zerin. Terpaku mengamati hasil fotonya.
Ilustrasi foto Zidan :
Zidan memutar bola mata jengah. Dia melipat tangan ke atas pagar pembatas pavilion. Zidan dan Zerin sama-sama terdiam sejenak.
"Rin, apa kau ingin menikah?" celetuk Zidan.
__ADS_1
Mata Zerin sontak membulat. "Apa?!" ujarnya kaget.