Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 79 - Pasien Yang Meninggal


__ADS_3

Satu kesalahan kecil, terkadang bisa memberikan dampak besar - Auraliv.


...༻∅༺...


Segalanya berjalan baik selama bertahun-tahun. Hubungan Zerin dan Zidan selalu mesra dan penuh cinta. Dalam tiga tahun, mereka dapat melewati masa koas dan magang dengan nilai terbaik.


Sekarang Zerin dan Zidan telah menjadi dokter spesialis. Zerin sebagai dokter kecantikan yang sudah membuka kliniknya sendiri. Sementara Zidan menjadi dokter spesialis bedah yang mumpuni.


Meski sibuk, Zerin dan Zidan sebisa mungkin meluangkan waktu berdua walau hanya sebentar. Di tahun ini, mereka dan keluarga mengharapkan seorang anak.


Waktu menunjukkan jam 11.25 malam, Zerin dan Zidan baru menyelesaikan makan malam berduaan. Itu malam pertama mereka dapat meluangkan waktu lama. Setelah satu minggu Zidan sangat sibuk dengan pekerjaan. Dia juga sedang disibukkan dengan pendidikan magister.


"Tunggu di sini! Aku punya sesuatu yang sepesial untuk ditunjukkan," ujar Zerin. Menyuruh Zidan menunggu di ranjang.


"Benarkah? Sepertinya aku bisa menebak," sahut Zidan seraya duduk ke tepi kasur.


Zerin hanya tersenyum. Dia lantas beranjak masuk ke kamar mandi. Selang sekian menit, Zerin keluar. Ia terlihat mengenakan lingerie seksi berwarna hitam.


"Sudah kuduga." Zidan memberikan reaksi. "Kenapa baru sekarang kau memakainya?" tanyanya.


"Entahlah. Baru kepikiran sekarang. Mungkin karena aku merasa diriku selalu seksi tanpa mengenakan pakaian ini," sahut Zerin sembari berjalan mendekati Zidan. Lalu duduk ke pangkuan lelaki tersebut. Kedua kaki Zerin mengapit ke pinggul Zidan.


"Kau benar. Kau memang selalu seksi. Bahkan tanpa mengenakan pakaian ini sekali pun," desis Zidan. Tatapannya tidak teralihkan dari belahan dada Zerin yang terpampang nyata.


Zerin tersenyum sambil membelai wajah Zidan. Selanjutnya, dia perlahan memagut bibir Zidan. Sang suami lantas membalas pagutannya. Hingga bibir mereka mulai bertautan erat.


Bertepatan dengan itu, ponsel Zidan berdering. Namun Zidan sama sekali tak menghiraukan panggilan telepon tersebut. Ia lebih memilih tetap berciuman dengan istrinya.


Dua menit lebih berlalu. Akan tetapi ponsel masih terus berdering. Zerin lantas melepas tautannya dari mulut Zidan.


"Sayang, bukankah sebaiknya kau--"


"Tidak! Ayo kita lakukan dulu. Sebentar saja," potong Zidan. Dia menarik Zerin. Kemudian merebahkannya ke ranjang.


Tanpa basa-basi, Zidan segera memberi sentuhan demi sentuhan kepada Zerin. Sampai akhirnya mereka melakukan penyatuan.


Ponsel berhenti berdering saat Zidan mencapai puncak kenikmatan. Ketika kegiatan intim berakhir, dia dan Zerin istirahat sejenak untuk mengontrol nafas.

__ADS_1


"Kau sebaiknya periksa ponselmu, sayang..." saran Zerin. Di tengah-tengah pengaturan nafas.


"Ponselnya sudah diam. Sepertinya keadaan berjalan baik," tanggap Zidan santai.


"Kau seharusnya tidak menjadi dokter bedah. Lihatlah dirimu sekarang. Kau sangat sibuk," ungkap Zerin seraya meletakkan kepala ke dada bidang Zidan.


"Mau bagaimana lagi? Lagi pula aku menikmatinya. Aku merasa senang bisa menyelamatkan banyak nyawa orang," tutur Zidan.


"Baiknya suamiku..." Zerin yang mendengar, merasa tersentuh. Ia lantas memberikan pelukan hangat kepada Zidan.


Puas bemesraan, barulah Zidan memeriksa ponsel. Pupil matanya membesar tatkala melihat ada banyak nama yang menelepon. Kebetulan mereka yang menelepon adalah para petugas medis shift malam.


Ketika baru ingin menelepon balik, ponsel sudah lebih dulu berdering. Zidan langsung mengangkat panggilan dari salah satu dokter magang bernama Angga tersebut.


"Dokter Zidan! Akhirnya kau menjawab! Ini Dok, ada seorang pasien darurat! Aku pikir dia sudah sekarat!" ujar Angga dengan nada bicara tergesak-gesak.


"Baiklah! Aku ke sana!" Zidan mematikan telepon. Kemudian bergegas mengenakan pakaian.


"Kau akan pergi?" tanya Zerin dengan semburat wajah kecewa. Dia masih tidak rela berpisah dengan sang suami.


...***...


Sesampainya di rumah sakit, Zidan langsung mencari pasien yang harus ditangani. Namun belum sempat bertemu, Angga memberitahukan sesuatu hal mengejutkan. Pasien tersebut sudah kehilangan nyawa.


"Tidak! Biar kulihat dulu. Dia pasti bisa diselamatkan!" Zidan bersikeras. Dia menghampiri pasien yang disebutkan Angga sudah meninggal.


"Detak jantungnya sudah berhenti, Dok. Dia sudah..."


"Tidak! Aku yakin masih ada kesempatan!" Zidan mencoba berpikir positif. Jujur saja, dia merasa takut sekaligus bersalah. Andai dirinya tadi tidak mengabaikan panggilan telepon, pasti nyawa pasien di hadapannya bisa diselamatkan.


Zidan mencoba menggunakan alat pacu jantung. Namun tetap tidak bisa. Sampai akhirnya dia mendengus kasar dan menerima kenyataan bahwa pasien memang sudah meninggal.


"Dimana Dokter Toni? Apa dia tidak bisa dihubungi?" tanya Zidan dengan perasaan kalut. Raut wajahnya tampak memucat.


"Bukankah kau tahu kalau Dokter Toni sedang cuti? Dia sudah memberitahumu bukan?" sahut Angga. Menatap Zidan dengan sudut matanya.


Zidan bergegas memeriksa ponsel. Dia memang menemukan pesan dari Toni yang kebetulan belum dibacanya. Kepala Zidan tertunduk. Kini dirinya semakin merasa bersalah.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Dok. Semuanya sudah terjadi. Mungkin ini memang sudah takdir pasien ini." Angga berusaha menenangkan Zidan.


"Mana keluarga pasien?" tanya Zidan.


"Dia sedang dalam perjalanan ke sini," jawab salah satu perawat.


Baru saja dibicarakan, keluarga pasien sudah tiba. Seorang wanita tua bergegas menanyakan kabar pasien.


Zidan segera menemui wanita tua tersebut. Sebagai dokter yang bertanggung jawab, dia akan memberitahukan bagaimana keadaan pasiennya.


"Maaf sebelumnya, Bu. Tapi anak Ibu tidak bisa diselamatkan..." kata Zidan dengan kepala tertunduk.


Wanita tua bernama Firda itu menatap tak percaya. Setelahnya, dia memecahkan tangis histeris. Sampai kakinya melemah dan terduduk ke lantai.


"Fadlan... Kenapa ini harus terjadi?... Hiks... Sekarang Defan jadi anak yatim piatu... Hiks..." rengek Firda.


Zidan membungkuk menghadap Firda. Dia mencoba membawa nenek itu duduk ke bangku panjang terdekat.


Dengan hati-hati, Firda membiarkan Zidan membantunya. Dia masih menangis dan tak berdaya


"Kenapa, Dok... Kenapa kau tidak bisa menyelamatkannya?... Harusnya kau lakukan sesuatu agar dia bisa selamat..." ucap Firda di sela-sela tangisannya.


Deg!


Perkataan Firda menghantam perasaan Zidan. Rasa bersalahnya semakin membuncah. Mata Zidan bahkan tampak berembun. Dia merasakan ketidaknyamanan dihatinya.


"Ini minum dulu, Bu. Biar bisa lebih tenang." Angga memberikan segelas air putih kepada Firda. Wanita tua tersebut lantas meminumnya meski hanya sedikit.


Setelah benar-benar tenang, Firda menemui putranya yang sudah tak bernyawa. Dia kembali menangis. Firda memeluk tubuh sang putra yang telah dingin bagaikan es batu.


Zidan menyaksikan kesedihan Firda dari luar. Dia bisa melihat dengan jelas melalui jendela.


Dering ponsel berbunyi. Zidan mendapat panggilan dari Wira. Ternyata kabar tentang kecerobohan Zidan sudah sampai ke telinganya.


"Kau tidak perlu cemas. Hal seperti itu sudah cukup sering terjadi. Pihak rumah sakit akan menutupinya. Lagi pula, dari yang kudengar keluarga pasien datang lebih terlambat darimu. Jadi mereka tidak tahu kejadian yang sebenarnya terjadi," ujar Wira dari seberang telepon.


Zidan tidak mengatakan apapun. Dia mematikan telepon setelah memastikan Wira selesai bicara. Hati Zidan sekarang benar-benar kalut.

__ADS_1


__ADS_2