
Masa awal-awal cinta memang penuh gairah - Auraliv.
...༻∅༺...
Zidan sebenarnya sedang terjebak macet. Dia tidak bisa menjemput Zerin tepat waktu. Sialnya ponsel Zidan ketinggalan di kantor Wira. Kebetulan ia sedang tidak membawa ponsel cadangan. Tidak heran Zidan tidak bisa menanggapi panggilan atau pesan Zerin.
"Sial! Ini semua karena karyawan Papah tadi!" Zidan mengeluh sambil memukul setir. Dia sudah tidak tahan dengan kemacetan. Terlebih hujan turun sangat deras.
Setelah cukup lama terjebak macet, Zidan akhirnya bisa melajukan mobil. Dia menggunakan kecepatan tinggi karena waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam.
Di waktu yang sama, Zerin masih berada di gazebo. Dia menunggu hujan. Namun bukannya reda, hujan justru semakin lebat.
Zerin mengedarkan pandangan. Mencoba mencari sesuatu atau seseorang yang bisa membantu. Atensinya tertuju ke arah kotak telepon.
Ilustrasi kotak telepon yang dilihat Zerin :
Karena sudah teramat bosan menunggu, Zerin menerobos hujan. Dia berlari menuju kotak telepon yang dilihatnya. Zerin langsung masuk ke dalam kotak telepon untuk berteduh. Ia memeras baju dan rambutnya yang terlanjur basah.
Zerin mencoba menggunakan telepon yang tersedia. Tetapi telepon itu tidak bisa digunakan. Bahkan jika masih bagus sekali pun, Zerin tetap tidak bisa memakainya. Sebab dia tidak punya uang sama sekali.
"Sudah kuduga. Kotak telepon begini hanya pajangan saja," keluh Zerin. Dia terpaksa berdiam diri di kotak telepon sembari memeluk tasnya dengan erat.
Bersamaan dengan itu, sebuah mobil muncul. Pemiliknya tidak lain adalah Zidan. Lelaki tersebut bergegas keluar dari mobil. Awalnya dia tidak sadar Zerin berada di dalam kotak telepon. Zidan fokus memeriksa semua gazebo di taman.
Zerin yang melihat, sengaja diam. Ia ingin membiarkan Zidan diguyur air hujan sebagai hukuman. Lelaki itu memang tidak menggunakan payung.
Zidan yang ingin cepat-cepat menemui Zerin, tidak peduli lagi dengan hujan. Alhasil seluruh pakaian dan tubuhnya sudah basah kuyup.
Langkah Zidan terhenti ketika tidak melihat Zerin dimana-mana. Dari ke-empat gazebo yang ada, Zidan bahkan tidak menemukan satu orang pun di sana. Alhasil dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Lelaki itu memperhatikan dengan seksama.
Pupil mata Zidan membesar saat menangkap sosok wanita di dalam kotak telepon. Dia langsung berlari menuju ke sana. Benar saja, setelah ditilik lebih dekat, orang yang ada di kotak telepon adalah Zerin.
__ADS_1
"Zerin!" panggil Zidan. Dia mencoba membuka pintu kotak telepon. Namun Zerin menahannya. Hingga Zidan tidak bisa masuk ke dalam. Lelaki itu masih dihantam oleh air hujan yang deras.
"Pergi kamu! Sok-sokan kasih minuman untuk banyak orang! Tapi kenyataannya kau terus mempermainkanku! Kenapa, Dan?! Kau itu serius nggak sih sama aku?!" timpal Zerin. Bicara dengan penuh amarah.
"Tentu saja aku serius! Aku tadi telat karena macet! Kau pikir aku sengaja membuatmu menunggu?!" balas Zidan sembari berusaha membuka pintu. Dia mengerahkan seluruh kekuatannya. Hingga Zerin tidak mampu lagi bertahan.
Zidan berhasil masuk. Dia ada di hadapan Zerin sekarang. Perempuan itu langsung memukulinya dengan tas.
"Aku minta maaf! Apa itu yang ingin kau dengar dari mulutku?!" tukas Zidan. Membuat Zerin berhenti memukulinya.
"Kau keterlaluan! Untung saja tidak ada penjahat yang menyerangku di sini! Kau tidak tahu betapa takutnya aku!" pekik Zerin sambil menghentakkan salah satu kakinya. Dia meluapkan semua amarah. Zerin akhirnya memecahkan tangis. Cairan bening berjatuhan di pipinya.
Zidan segera memeluk Zerin. Usahanya berhasil membuat amarah Zerin mereda. Perempuan itu membalas pelukan Zidan. Dia merasa lega Zidan tetap mendatanginya walau sudah larut malam.
"Harusnya aku meninggalkan mobilku dan berlari menemuimu ke sini." Zidan perlahan melepas pelukan. Dia mengusap wajah cantik Zerin dengan tangannya.
Zerin terkesiap. Dia bertukar tatapan lekat dengan Zidan. Sensasi jantung yang berdebaran kembali membuncah.
Zidan dan Zerin saling mendekatkan wajah. Kemudian menautkan bibirnya satu sama lain. Mereka mengawali ciuman dengan pagutan lembut.
Zidan melangkah maju sampai membuat Zerin tersudut. Saat itulah dia melu-mat dalam mulut Zerin. Bibir mereka tampak merekat kuat seakan begitu sulit dilepaskan.
Sensasi gelitikan di perut dirasakan Zidan dan Zerin. Keduanya mulai dihantui nafas yang menderu.
Tangan Zidan yang tadinya melingkar di pinggul Zerin, perlahan bergerak ke bokong perempuan tersebut. Ia mere-masnya dengan kuat. Ulah Zidan berhasil membuat Zerin melenguh dalam keadaan mulut yang disumpal ciuman.
Zerin mendorong Zidan. Hingga kegiatan ciuman panasnya terhenti. Zerin tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap Zidan sambil mengontrol nafas.
Zidan segera menarik tangan Zerin. Keduanya keluar dari kotak teleon. Lalu masuk ke dalam mobil. Mereka melanjutkan aktifitas intim di sana.
Satu per satu pakaian ditanggalkan Zerin dan Zidan. Keduanya berakhir tidak mengenakan satu helai benang pun. Proses penyatuan langsung dilakukan mereka.
Mobil bergerak senada dengan pergerakan Zidan. Di iringi suara desiran air hujan serta erangan lepas Zerin.
__ADS_1
Tubuh Zerin dan Zidan menghentak berulangkali. Keduanya tidak berhenti mende-sah. Rasa dingin yang tadinya sempat menyelimuti, terasa terobati dengan kegiatan panas. Mereka mengakhiri persenggamaan ketika merasa saling terpuaskan.
Kini Zidan telentang di kursi mobil belakang bersama Zerin. Perempuan itu telentang miring dan menjadikan dadanya sebagai bantal. Keduanya sama-sama merasa lemas dan masih telanjang bulat. Satu kaki Zerin memeluk pinggul Zidan. Hingga alat vital lelaki tersebut tertutupi oleh pangkal pahanya yang putih bersih. Zerin memeluk Zidan bak bantal guling.
"Aku rasa kita terjebak," celetuk Zerin.
"Benar. Pakaian kita semua basah." Zidan menyahut sambil melirik pakaiannya dan Zerin. Pakaian-pakaian itu terlihat dijemur di atas kursi mobil. Kebetulan Zerin yang berinisiatif melakukannya.
"Apa kita begini saja sampai pakaian kita kering?" cetus Zidan. Dia langsung mendapat tamparan pelan dari Zerin.
"Kalau menunggu pakaian kita kering, pasti bakalan menunggu semalaman!" tukas Zerin sembari merubah posisi menjadi duduk. Dia memicingkan mata. Karena dirinya merasa melihat cahaya lampu yang kian mendekat.
"Kenapa? Serius banget?" tanya Zidan.
"Aku melihat ada cahaya," jawab Zerin ambigu.
Zidan terkekeh geli. "Ya ampun, di sini ada banyak cahaya kali," tanggapnya santai.
Zerin semakin memperhatikan cahaya yang mendekat. Setelah di amati baik-baik, akhirnya dia sadar kalau itu adalah petugas keamanan yang memegang senter.
"Sial! Zidan! Cepat pakai bajumu!" Zerin bergegas mengambilkan pakaian Zidan. Lalu melemparkannya kepada lelaki tersebut.
Zerin buru-buru mengenakan pakaiannya sendiri. Sedangkan Zidan tampak masih bingung.
"Kenapa? Ada orang?" Zidan memastikan.
"Bukan orang lagi! Tapi satpam!" ucap Zerin dengan nada penuh penekanan.
"Satpam juga orang kok." Zidan terkesan tenang.
"Cepat pakai bajumu!!" desak Zerin.
Zidan segera mengenakan pakaian. Lalu duduk ke kursi kemudi. Zidan menjalankan mobil sebelum petugas keamanan memberikan teguran.
__ADS_1
"Hei! Tunggu!" pekik petugas keamanan yang baru saja tiba ke dekat mobil Zidan. Dia tidak sempat mengetahui orang yang ada di mobil. Parahnya petugas keamanan tersebut terkena cipratan air kubangan akibat laju mobil Zidan.
Zidan melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Dia dan Zerin malah tertawa bersama. Zerin yang masih ada di kursi belakang. Memeluk Zidan dari sana. Dia mencium bibir Zidan dari samping. Lelaki itu membalas ciuman Zerin sambil terus mengemudikan mobil.