
Pernahkan kau melakukan rencana hal buruk kepada seseorang? Tetapi justru kau sendiri yang kena akibatnya - Auraliv.
...༻∅༺...
"Zerin... Sekarang aku yang curiga kalau kau psikopat," cetus Zidan seraya memutar gagang pintu berulang kali. Namun dia masih belum mampu membuka pintu tersebut.
"Kenapa? Marah ya?" ujar Zerin dengan nada mengejek. Dia meneruskan dengan tawa kecilnya.
Zidan memutar bola mata malas. Dia bersandar di depan pintu sambil menyilangkan tangan di dada. Zidan memilih diam.
"Aku akan mengeluarkanmu saat kita sudah sampai di Bali," kata Zerin. Bermaksud menggoda Zidan. Akan tetapi lelaki itu tidak mengatakan apapun.
Kening Zerin mengernyit. Dia menempelkan telinga ke pintu. "Zidan?" panggilnya dengan perasaan heran.
"Jangan bercanda. Aku tahu alasan kau diam karena ingin mengerjaiku. Aku tidak akan tertipu kali ini!" tegas Zerin. Menatap ke arah pintu seakan tahu kalau Zidan di sana.
"Zidan!" Zerin kembali memanggil.
"Iya... Aku masih hidup. Kau tenang saja." Zidan akhirnya angkat suara.
Zerin mendengus lega. Dia sempat mengira sesuatu yang buruk terjadi kepada Zidan.
"Dengar, aku akan menekan tombol darurat jika kau tidak mengeluarkanku dari sini," ancam Zidan.
"Tombol darurat?" Zerin merasa tak percaya ada tombol darurat di dalam toilet.
"Kau tidak tahu? Selalu ada tombol darurat di dalam toilet pesawat. Terutama jika ada penumpang yang tidak sengaja terjebak atau dijebak sepertiku."
"Omong kosong! Aku tidak pernah mendengarnya!"
"Itu karena kau jarang naik pesawat. Bukankah begitu?" Zidan menyeringai.
Benar saja. Apa yang dikatakan Zidan, mampu membuat Zerin sedikit cemas. Dia merasa percaya dan tidak percaya.
"Aku akan pencet tombolnya dalam hitungan detik ke tiga." Zidan menatap arloji di pergelangan tangan. Dia segera berhitung, "Satu... Dua... Ti--"
Belum sempat menyebut tiga, pintu sudah dibukakan oleh Zerin. Saat itulah Zidan menarik perempuan tersebut masuk ke toilet. Pintu langsung tertutup rapat.
"Zid--" Zerin ingin memekik. Namun mulutnya langsung dibekap Zidan.
__ADS_1
Ketika tangan Zidan melepaskan mulut Zerin, barulah lelaki itu mengganti bekapannya dengan ciuman.
Kini Zerin tak kuasa menolak apalagi melawan. Dia merasakan yang namanya senjata makan tuan.
Dua puluh menit terlewat. Wira yang sempat tertidur, membuka mata. Dia menoleh ke samping. Namun dirinya tidak melihat Zidan. Padahal putranya itu pergi sebelum Wira tertidur.
"Kemana dia?" Wira mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hingga perhatiannya tertuju ke arah tempat duduk Zerin. Dia melihat kursi itu kosong.
Wira didera perasaan cemas. Takut kalau Zidan dan Zerin berbuat yang tidak-tidak.
Wira lantas berdiri. Dia berniat mencari Zidan. Dirinya mengira sang putra ada di toilet.
Langkah Wira terhenti ketika menyaksikan Zidan muncul. Lelaki itu berjalan gagah dan langsung duduk ke sebelah Wira.
"Apa kau menderita gangguan buang air besar? Kenapa lama sekali berada di toilet?" timpal Wira yang merasa heran.
"Lama? Siapa bilang begitu." Zidan berusaha menjawab dengan tenang. "Saat Papah ingin tidur tadi, itu pertama kalinya aku pergi ke toilet. Sepertinya kepergianku yang kedua membuat kau menyimpulkan kalau aku terlalu lama di toilet. Padahal aku hanya kencing sebentar," jelasnya.
"Santai saja. Kenapa kau memberikan alasannya sampai berbelit begitu. Lagian ini bukan masalah besar," tanggap Wira. Matanya tidak sengaja menatap Zerin yang baru muncul dari arah toilet. Perempuan tersebut tampak terus memperbaiki rambut. Padahal rambut pendek sebahunya itu sudah rapi.
Sempat ada rasa curiga yang terlintas dalam benak Wira. Akan tetapi dia langsung menepis karena mempercayai Zidan dan Zerin sepenuhnya.
"Kak, kenapa kulit Kak Zerin merah gitu?" tegur Amira yang terfokus menatap tanda merah di kulit leher kirinya.
"Apa? Merah?!" Zerin membulatkan mata. Dia sigap menutupi tanda merah itu dengan rambut.
"Kenapa, Kak?" Amira menuntut jawaban.
"Gatal, Mir. Kayaknya ada semut yang menempel di bajuku. Makanya aku tadi ke toilet." Zerin mengungkapkan alasan sembari tersenyum.
Amira mengerutkan dahi. Dia merasa tidak mempercayai pernyataan Zerin. Terlebih sang kakak menghabiskan waktu cukup lama di toilet. Meskipun begitu, Amira tidak mau memikirkannya berlarut-larut.
...***...
Tepat jam 08.10 pagi, pesawat akhirnya sampai di Bali. Zerin, Zidan, dan yang lain segera pergi ke hotel. Mereka memutuskan beristirahat di kamar masing-masing. Saat sore nanti, barulah mereka akan pergi ke rumah Bi Devi. Kebetulan ada acara penting yang dilakukan saat malam hari. Termasuk adanya acara kesenian meriah.
Waktu menunjukkan jam sepuluh, Zerin baru terbangun dari tidur. Dia menyaksikan Amira dan Lia masih terlelap.
Zerin meraih ponsel dari atas nakas. Kebetulan ponselnya sedang mati karena kehabisan baterai. Zerin lantas menyalakannya. Dia langsung menerima banyak sekali pesan dan panggilan tak terjawab dari Zidan. Lelaki itu ingin mengajaknya pergi ke suatu tempat.
__ADS_1
"Baru juga bangun tidur," keluh Zerin.
Tak lama kemudian, panggilan dari Zidan masuk. Zerin dengan cepat menjawab sambil berlari menjauh dari Amira dan Lia. Ia tentu tidak mau menimbulkan suara berisik.
"Kau kemana saja?! Aku sudah menghubungimu dari jam sembilan tadi. Tapi baru sekarang kau menjawab?!" timpal Zidan dari seberang telepon.
Zerin memutar bola mata jengah. "Maaf, tadi ponselku mati. Dia dikasih makan dulu, baru bisa nyala," jawabnya seraya berjalan ke depan jendela. Kamar yang ditempati Zerin dan keluarganya hanyalah kamar biasa. Bahkan tidak terlihat ada balkon di sana.
"Cepat temui aku di lobi. Pakailah pakaian yang tidak akan membuatmu kepanasan. Aku akan mengajakmu ke pantai."
"Bilang saja menyuruhku mengenakan pakaian kurang kain."
"Ya, kalau tahu bagus dong. Cepatlah! Nanti keluarga kita ngajakin jalan duluan!" Zidan mendesak. Zerin lantas mematikan telepon dan bersiap.
Zerin membuka koper. Sebelum berganti pakaian. Dia tidak lupa mengoleskan sunblock ke seluruh tubuh. Guna mempertahankan kulit putih bersihnya yang mulus. Selanjutnya, Zerin mengenakan baju bertali spageti. Baju itu agak pendek. Hingga bagian perut dan pinggul Zerin yang ramping terlihat jelas.
Untuk celana, Zerin menggunakan celana jeans pendek sepangkal paha. Lalu mengikat kain pantai ke pinggul. Zerin tidak lupa membawa tas selempang kecilnya yang bermerek.
Setelah itu, barulah Zerin menemui Zidan di lobi. Lelaki tersebut tampak mengenakan celana pendek di atas lutut. Ia memakai kemeja motif bunga khas pantai. Di kerah bajunya tergantung kacamata hitam yang terlipat rapi.
Zidan memposisikan ponsel ke telinga. Dia menghubungi Zerin karena sudah terlalu lama menunggu.
Suara dering ponsel terdengar dari arah belakang Zidan. Dia otomatis berbalik. Menyaksikan pemilik ponsel yang berbunyi itu adalah Zerin, Zidan langsung mematikan panggilan telepon.
"Wow..." Zidan menilik Zerin dari ujung kaki hingga kepala. Dia sangat terpesona.
"Mesum!" Zerin menekan hidung mancung Zidan. Dia ingin lelaki tersebut berhenti memandanginya secara berlebihan.
"Si cantik dan seksiku," imbuh Zidan seraya merangkul pundak Zerin. Keduanya melenggang bersama meninggalkan hotel.
"Kau mau mengajakku kemana? Kumohon beritahu aku lebih dulu. Aku tidak mau kejadian di bioskop terulang!" Zerin memperingatkan.
"Kita akan naik kapal pesiar. Aku sudah menyewa satu untuk kita berdua," jawab Zidan sembari menarik sudut bibirnya ke atas. Sebenarnya ada banyak rencana tersembunyi yang ingin dia lakukan bersama Zerin.
"Benarkah?" Mata Zerin berbinar-binar karena kesenangan. Dia selalu suka dengan hal-hal yang berbau kemewahan. Zerin lantas memberikan kecupan singkat ke pipi Zidan.
"Dih, katanya nggak suka ciuman di depan umum," komentar Zidan.
"Nggak apa-apa kalau di tempat orang yang tidak kenal kita," sahut Zerin. Dia dan Zidan segera menaiki mobil.
__ADS_1