
Seorang murid memang selalu kesulitan mengalahkan gurunya - Auraliv.
...༻∅༺...
"Rin, kita makan kue yuk!" ajak Arni sembari membawa Zerin memisah dari Zidan. Hingga lelaki itu terpaksa melepas rangkulannya.
"Jangan terlalu sering mesra-mesraan depan umum," bisik Wira ke telinga Zidan.
"Papah kayak nggak pernah muda aja," komentar Zidan.
Gigi Wira menggemertak. Jari-jemarinya sigap menyentil kuping Zidan. Hingga sang putra reflek memekik kesakitan. Zidan hanya bisa mengusap-usap kuping bekas sentilan Wira.
Saat acara pernikahan sudah selesai, Zidan, Zerin, dan yang lain langsung pulang. Sekarang mereka sudah berada di pesawat.
Untuk kali kedua, Wira duduk di sebelah Zidan. Dia juga berusaha keras agar tetap terjaga. Memastikan Zidan tidak pergi kemana-mana. Terutama berdekatan dengan Zerin.
Sebenarnya Wira tidak masalah Zidan dan Zerin berdekatan. Dengan catatan, keduanya harus melakukan itu saat di hadapan orang tua. Namun bagi Zidan dan Zerin hal tersebut sulit dilakukan. Terutama untuk Zerin yang sering merasa malu.
Setibanya di Jakarta, Zerin dan keluarganya pulang menggunakan taksi. Hal serupa juga dilakukan pembantu lain yang ikut. Sedangkan Zidan dan keluarganya dijemput oleh sopir.
Usai libur selama tiga hari, Zerin dan Zidan kembali kuliah. Kebetulan sebentar lagi ujian akhir akan dilaksanakan. Semua mahasiswa dan mahasiswi sedang sibuk-sibuknya belajar. Perpustakaan bahkan tampak lebih ramai dari biasanya.
Zidan duduk bersama teman barunya. Mereka tidak lain adalah Dimas, Fani, dan Zaki.
Bola mata Zidan melirik ke arah Jaka. Dia melihat temannya itu sekarang selalu sendirian. Memang tidak ada yang bisa dilakukan Zidan selain membiarkan. Karena Jaka terus saja tak acuh saat di ajak bicara oleh Zidan.
"Sumpah, aku itu penasaran sama masalahmu dan Jaka. Kalau masalah sama Ernest ya semua orang bisa nebaklah," cetus Zaki. Dia memergoki Zidan yang kedapatan menatap ke arah Jaka.
"Emang apa tebakanmu?" tanggap Zidan menantang.
"Ya pasti karena Zerin. Iyakan?" Zaki meminta pendapat dari Fani dan Dimas. Kedua temannya tersebut lantas mengangguk setuju.
"Secara semua orang tahu gimana sukanya Ernest sama Zerin," ujar Fani. Memperkuat asumsi dari Zaki.
"Terserah kalian mau ngomong apa." Zidan memutar bola mata jengah.
"Baru juga di omongin. Pacarmu nongol tuh," kata Dimas sembari menatap ke arah pintu masuk.
Zidan lantas ikut menoleh ke tempat yang sama dengan Dimas. Benar saja, dia dapat melihat Zerin datang bersama teman-temannya. Mereka terlihat memisah untuk mencari buku. Termasuk Zerin.
__ADS_1
"Aku pergi bentar ya." Zidan beranjak dari tempat duduk.
"Dih! Pasti mau nyamperin Zerin. Budak cinta banget kau, Dan!" komentar Zaki. Tergelak kecil bersama Dimas dan Fani.
"Ya iyalah, Ki. Secara pacarnya Zerin gitu. Sang primadona kampus." Fani menanggapi.
"****** kalian!" balas Zidan seraya menunjuk teman-temannya. Dia berucap begitu sebelum benar-benar beranjak.
Zidan berjalan menghampiri Zerin yang sibuk mencari buku. Perempuan itu tampak berada di bagian rak buku paling belakang.
"Sengaja pilih bagian rak paling sepi?" tukas Zidan sambil berderap kian dekat.
Zerin menoleh. Lalu memutar bola mata jengah. "Buku yang aku cari memang ada di sini kali," sahutnya.
"Oh... Yang benar?" Zidan berdiri ke hadapan Zerin. Tangannya menopang ke rak yang ada di belakang perempuan tersebut. Ulahnya sukses membuat sang kekasih tersudut.
Zerin menatap Zidan sambil menyilangkan tangan ke depan dada. "Di ruangan ini lagi banyak orang loh," ucapnya.
"Aku tahu." Zidan menjawab singkat. Matanya menatap dalam manik hitam Zerin.
Zerin tersenyum lembut. Ia membalas tatapan lekat Zidan. Perlahan tangan lentiknya menyentuh wajah Zidan.
Zidan balas tersenyum. Dia segera mendekatkan wajah ke arah Zerin. Tujuannya tentu ingin memberikan ciuman ke bibir Zerin.
Zerin dan Zidan sontak tidak jadi berciuman. Keduanya reflek menoleh kepada lelaki bertopi. Lelaki itu juga terlihat mengenakan masker yang menutupi hidung dan mulut. Jadi wajahnya tidak begitu jelas.
"Sudah kubilang, lagi banyak orang di sini." Zerin menepuk dada Zidan dengan pelan. Dia pergi ke rak sebelah.
Seperti anak ayam dan induknya, Zidan mengikuti Zerin. Ia seolah tidak mau terpisah satu detik pun dengan sang pacar.
Tanpa sepengetahuan Zidan, lelaki bertopi yang tadi sempat mengganggu juga ikut. Dia sebenarnya adalah orang suruhan Wira yang ditugaskan untuk memata-matai Zidan dan Zerin. Lelaki bertopi tersebut bernama Arkan.
Zidan menarik tangan Zerin. Hingga kini perempuan itu berada dalam pelukannya.
"Uhuk! Uhuk!" Arkan sengaja batuk. Membuat Zidan dan Zerin kembali menjaga jarak. Keduanya juga menoleh ke arah Arkan.
Zidan mengerutkan dahi. Matanya memicing penuh curiga.
"Udah deh. Kita sebaiknya sekarang fokus belajar dulu. Kalau perlu, nggak usah ketemuan untuk sementara." Zerin menepuk pundak Zidan. Dia mencoba melangkah jauh. Akan tetapi Zidan sigap memegang tangannya.
__ADS_1
"Ada yang ingin aku pastikan!" ungkap Zidan.
Kening Zerin mengernyit. "Apa?" tanya-nya.
Zidan tidak menjawab. Dia justru menyeret Zerin pergi bersamanya. Lelaki itu berlari keluar dari perpustakaan. Kepergiannya dan Zerin membuat semua orang bingung. Terutama bagi teman-temannya Zerin dan Zidan.
"Zidan! Kamu kenapa? Tas aku masih ada di perpus!" protes Zerin. Walaupun begitu, langkahnya terus mengikuti pergerakan Zidan.
"Aku tahu. Punyaku juga. Aku hanya ingin memastikan sesuatu." Zidan membawa Zerin bersembunyi ke tempat sepi. Dia bersandar ke dinding, lalu mengintip ke arah belakang.
"Zidan! Kamu kenapa?" Zerin menuntut jawaban.
"Diam!" Zidan lagi-lagi tidak menjelaskan. Dia meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya.
"Apaan sih?" Zerin mencoba memaklumi. Dia memasang tatapan malas sambil melipat tangan di depan dada.
Zidan sebenarnya hanya ingin memastikan lelaki bertopi yang tadi dia lihat. Dirinya merasa lelaki tersebut merupakan utusan yang dikirim Wira untuk mengawasi.
Pupil mata Zidan membesar tatkala menyaksikan orang yang dicurigainya muncul. Arkan tampak mencari-cari sesuatu. Dia jelas berupaya menemukan keberadaan Zidan dan Zerin.
'Papah!!!' batin Zidan yang merasa kesal. Dua tangannya mengepalkan tinju dengan erat.
"Sudah ah! Aku mau kembali ke perpus!" Zerin keluar begitu saja dari tempat persembunyian.
Zidan gelagapan. Dia tidak sempat mencegah hingga Arkan dapat melihat keberadaannya dan Zerin. Alhasil Zidan terpaksa ikut kembali ke perpustakaan. Lelaki tersebut segera duduk bergabung bersama teman-temannya. Begitu pun Zerin.
"Habis ngapain, Dan? Keringatan gitu," goda Fani. Cengengesan bersama Zaki dan Dimas.
"Habis indehoy!" Zidan yang kesal, menjawab asal. Membuat semua teman-temannya tertawa terpingkal-pingkal.
Zidan mengambil ponsel. Dia segera menghubungi Wira.
"Pah! Aku tahu kau mengirimkan seseorang untuk mengawasiku kan?!" timpal Zidan.
"Benarkah? Kau sudah berkenalan dengannya? Namanya Arkan." Wira menyahut dengan santai.
"Papah!" pekik Zidan. Membuat seluruh pasang mata tertuju ke arahnya. Sekarang Zidan hanya bisa menunduk malu. Kemudian fokus bicara dengan Wira.
"Bwahahaha..." Wira tergelak puas. Perlahan tawanya berhenti. Dia lantas berkata, "Kenapa? Terbatas buat ngapa-ngapain? Karena Arkan baru melapor bahwa kalian nyaris saja berciuman di perpustakaan. Coba bayangkan kalau ada dosen yang memergoki? Dimana kau akan menaruh reputasi keluarga Dirgantara?"
__ADS_1
Zidan mendengus kesal. Wira mungkin satu-satunya lawan yang sulit di hadapi Zidan. Lelaki tersebut memang selalu kalah dengan rencana sang ayah.
"Ngomong-ngomong Arkan akan mengawasimu dan Zerin sampai kalian menikah," ucap Wira lagi.