Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 27 - Ancaman Zidan


__ADS_3

Apakah cinta dan naf-su itu sama? Atau saling berkaitan erat? - Auraliv.


...༻∅༺...


Dua jam sebelum Zerin terbangun dari tidur...


Tiga buah mobil mewah berhenti di depan rumah sakit Wijaya Dirgantara. Orang yang ada di mobil pertama adalah Zidan. Ia tidak sendiri. Ada Wira yang datang bersamanya.


"Aku senang kau mulai peduli dengan bisnis milikku. Hari ini aku juga akan memperkenalkanmu kepada semua orang-orang penting di rumah sakit," ujar Wira. Dia kesenangan dengan permintaan Zidan yang tiba-tiba ingin ikut.


Kebetulan ada kegiatan rapat yang harus dilakukan Wira di rumah sakit. Semuanya terkait kebutuhan fasilitas serta membahas penanganan salah satu penyakit serius pasien VVIP.


"Aku nanti akan menggantikan Papah bukan? Tentu saja aku harus peduli," jawab Zidan. Dia dan Wira segera keluar dari mobil. Didampingi dengan seorang sekretaris pribadi bernama Yohan.


Wira tergelak bangga. Dia merangkul Zidan. Wira merasa sudah berhasil mendidik sang putra dengan baik. Setidaknya begitulah pandangan Wira terhadap Zidan sekarang.


Selain sekretaris pribadi, langkah Wira dan Zidan juga di iringi oleh lima dewan direksi penting. Saat berjalan memasuki rumah sakit, semua pasang mata langsung tertuju ke arah Wira dan Zidan. Terutama untuk para petugas medis yang sudah lama bekerja di rumah sakit.


Seperti biasa, Zidan tidak peduli terhadap perhatian semua orang. Dia hanya menyapa seadanya. Zidan justru fokus mengedarkan pandangan ke segala arah. Niat kedatangannya yang sebenarnya adalah mencari Adi. Akan tetapi Zidan tidak bisa menemukan lelaki itu dimana-mana.


Ketika masuk ke ruang rapat, barulah Zidan dapat melihat Adi. Lelaki itu terlihat duduk bersama teman-temannya. Memang rapat yang dilaksanakan adalah kegiatan terbuka. Dokter yang masih koas biasanya ikut andil untuk menambah ilmu dan pengalaman.


Adi tampak sangat murung. Sepertinya kejadian tadi malam bersama Zerin masih membuatnya terganggu.


"Zidan, kamu bisa duduk di--"


"Aku duduk di sana saja, Pah. Kan aku di sini masih bukan siapa-siapa," potong Zidan dengan nada berbisik. Dia menunjuk tempat kosong yang ada di sebelah Adi.


Wira mengangguk sembari tersenyum. Dia lagi-lagi menampakkan binar bangga di sorot matanya. Bagi Wira, Zidan adalah anak yang paling berbakti. Berbeda dengan kakak perempuannya yang nekat meninggalkan keluarga hanya demi seorang lelaki.


"Zidan, tunggu!" Wira memanggil.


Zidan sontak menghentikan langkahnya dan berbalik. Semua orang di ruangan juga langsung terdiam. Atensi mereka tertuju ke arah Zidan dan Wira.

__ADS_1


"Kemarilah!" suruh Wira.


Zidan mengamati sekitar terlebih dahulu. Terutama kepada Adi. Lelaki itu juga menatap ke arahnya. Zidan tersenyum miring. Ia senang Wira memanggilnya. Dengan begitu, Zidan tidak perlu menjelaskan lagi mengenai posisi pentingnya kepada sasarannya hari itu.


"Kenapa, Pah?" tanya Zidan.


"Aku lupa memperkenalkanmu kepada semua orang." Wira kembali merangkul Zidan. Lalu memperkenalkan sang putra kepada dewan direksi serta dokter spesialis rumah sakit.


Zidan menyalami orang-orang penting itu satu per satu. Mereka semua bersikap sangat ramah kepada Zidan. Bahkan sudah ada sebagian dari mereka yang sengaja mencari muka.


Usai berkenalan dengan beberapa orang, Zidan melanjutkan niatnya untuk duduk di sebelah Adi. Dia langsung mendapat sapaan hangat dari Adi dan teman-temannya. Adi bahkan tampak senang melihat Zidan memilih duduk di sampingnya.


Zidan duduk bersandar sambil menyilangkan tangan di dada. Mendengarkan kegiatan rapat yang baru saja dimulai. Bola matanya bergerak ke arah Adi. Dia lantas bergeser lebih dekat kepada lelaki tersebut.


"Kau masih pacaran sama Zerin?" tanya Zidan dengan nada pelan.


Adi langsung cemberut. Dia menjawab, "Sudah tidak lagi. Kami baru saja putus."


"Ekhem!" Adi berdehem sejenak. Lalu melanjutkan dengan berbisik, "Dia bukan gadis baik-baik. Jangan tertipu olehnya. Aku juga akan memberitahu tentang ini kepada semua orang. Terutama para lelaki yang tergila-gila kepadanya. Kau juga harus beritahu hal ini pada temanmu Ernest."


"Aku harap kau tetap tutup mulut," imbuh Zidan. Menyebabkan dahi Adi berkerut heran.


"Apa maksudmu?" Adi menuntut jawaban.


"Jika kau melakukannya, maka aku akan membuatmu berhenti menjadi dokter koas di sini." Zidan mengabaikan pertanyaan Adi. Ia justru fokus meneruskan hal yang ingin dibicarakannya.


"Kau bicara apa? Kau juga tahu siapa Zerin yang sebenarnya? Tapi kenapa kau malah mengancamku?" Adi bingung. Ia mencecar Zidan dengan banyak pertanyaan.


"Karena Zerin adalah salah satu orang penting untukku. Aku tidak mau kau menghancurkan kehidupannya." Zidan menoleh ke arah Adi. Dia memancarkan tatapan tajam. Sebab apa yang dikatakannya bukanlah candaan.


"Apa kalian berpacaran?" Mata Adi bergetar. Dia merasa sakit hati sekaligus marah. Setelah mendengar penuturan Zidan tentang Zerin, Adi jadi menyimpulkan banyak hal. Termasuk menyimpulkan bahwa Zerin dan Zidan memiliki hubungan khusus.


"Apa itu penting untuk dijawab? Lagi pula kau sudah putus dengan Zerin kan?" tanggap Zidan. Tersenyum remeh sambil terus melayangkan tatapan mengancam. "Yang terpenting kau tetap menjaga rahasia tentang Zerin. Jika ada berita tidak enak yang tersebar, maka aku akan menganggap itu dilakukan olehmu. Mengerti?" sambungnya.

__ADS_1


Adi mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia sangat ingin memukul Zidan. Tetapi keadaan sekarang sedang tidak mendukung. Adi juga harus berpikir dua kali jika ingin melawan Zidan. Hal itu karena lelaki tersebut merupakan putra Wira Dirgantara. Dia bahkan sering mendengar kalau Zidan akan menjadi pewaris seluruh bisnis keluarga Dirgantara.


"Kenapa kau diam saja? Lebih baik katakan kalau kau akan tutup mulut!" desak Zidan.


Adi menggertakkan gigi kesal. Dia memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Sebenarnya Adi bisa saja melakukan perlawanan. Namun perjuangannya untuk menjadi dokter sudah sangat panjang. Ia juga telah menghabiskan banyak uang pamannya terkait biaya kuliah yang terlampau mahal. Terlebih Adi sudah berada di tahun ketiga masa koasnya.


Dengan berat hati, Adi menganggukkan kepala. Meskipun begitu, ekspresi wajahnya terlihat marah.


"Baguslah kalau begitu." Zidan merangkul pundak Adi. Senyuman puas mengembang di wajahnya.


Setelah rapat selesai, Zidan langsung pergi dengan Wira. Langkah mereka kembali di ikuti oleh orang-orang penting.


Adi baru saja keluar dari ruang rapat. Dia berdiri mematung sambil menatap punggung Zidan dengan penuh kebencian.


"Eh, kamu dekat sama Zidan, Di? Aku lihat tadi dia rangkul kamu akrab banget," sapa salah satu teman Adi.


Adi sudah mengangakan mulut untuk menjawab, namun satu teman perempuannya lebih dulu bicara. "Iya, kenalin dong. Kali aja kalau dekat sama dia, kita bisa lulus masa koas lebih cepat," ujarnya yang langsung dianggukkan oleh yang lain.


"Ganteng lagi orangnya. Nggak bisa bayangin nanti kalau Zidan sudah gantiin posisi Pak Wira. Wah... Pasti penggemarnya bakalan bejibun," tukas teman perempuan Adi satunya.


Adi berdecak kesal. Tanpa mengatakan apapun, dia beranjak pergi. Semua temannya hanya bisa menatap heran.


Adi duduk menyendiri sebentar di sebuah tempat sepi. Di sana dia mengamuk. Mengeluarkan segala kekesalannya terhadap Zidan maupun Zerin.


Puas berkutat dengan kekesalan, Adi mengambil ponsel. Dia langsung menghubungi Zerin.


"Beritahu aku. Apa hubunganmu dengan Zidan? Apa kau sudah memacarinya sebelum mempermainkanku, hah?!" timpal Adi.


Di sisi lain, Zerin kaget mendengar penukasan Adi. Dia tentu tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Bertepatan dengan itu, Zidan datang.


Zerin sontak menoleh ke arah pintu. Dia melihat Zidan berjalan ke arahnya dengan raut wajah serius. Lelaki itu segera merampas ponsel Zerin. Zidan langsung mematikan panggilan telepon dan membanting ponsel ke ranjang.


Zerin semakin bingung saat melihat sikap Zidan. Dia menatap lelaki tersebut penuh tanya.

__ADS_1


"Kau harus membayar banyak padaku!" pungkas Zidan.


"Apa--" belum sempat Zerin bicara, Zidan sudah membekap mulutnya dengan ciuman. Ia melu-mat mulut Zerin sambil memegang erat tengkuk perempuan itu. Kekangan Zidan membuat Zerin tersudut ke depan nakas.


__ADS_2