Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 77 - Insiden Setelah Pesta


__ADS_3

Kesetiaan bisa dikendalikan jika seseorang benar-benar serius - Auraliv.


...༻∅༺...


Kini Zerin terpaku memperhatikan Anna dan Zidan. Dia melihat Anna terus berusaha menggoda Zidan. Perempuan itu sengaja menari dengan gerakan seksi. Anna bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari Zidan.


Sementara Zidan sendiri, terkesan tidak peduli. Lelaki itu sepertinya fokus ingin bersenang-senang sendiri. Meskipun begitu, Zidan tidak mencoba menjauh dari Anna. Dia menganggap Anna hanya berusaha mengajaknya bercanda.


Zerin yang melihat, otomatis geram. Dia menuang bir ke dalam gelas sampai penuh. Lalu menghabiskannya dengan terburu-buru. Cairan alkohol tersebut jadi belepotan.


"Kau sangat seksi, Zerin..." komentar Reza. Dia sejak tadi tidak berhenti mengamati Zerin.


Zerin mengusap bir yang belepotan didagu dan leher. Dia berjalan memasuki kerumunan orang yang menari.


Reza buru-buru mengikuti. Dia memeluk Zerin dari belakang. Kemudian berusaha memberikan cumbuan. Reza jelas jatuh dalam pesona Zerin. Ia tidak memperdulikan bahwa Zerin adalah istri dari temannya sendiri.


Zerin yang tidak menduga dengan serangan Reza, merasa kesal. Dia menginjak kaki lelaki tersebut sekuat tenaga. Tindakannya sukses membuat Reza mengaduh dan melepaskan Zerin.


Tanpa rasa bersalah, Zerin pergi meninggalkan Reza. Lalu mendorong Anna menjauh dari Zidan. Kali ini ulahnya berhasil membuat perempuan itu terhuyung. Anna hanya bisa terperangah dengan perlakuan Zerin terhadapnya.


"Hei!" protes Anna sembari menyalangkan mata. Namun itu tidak berlangsung lama. Dia segera pergi ketika melihat Zerin mendekati Zidan.


Atensi Zerin hanya tertuju kepada Zidan. Dia menarik kerah baju lelaki itu. Lalu meletakkan dua tangannya ke pundak Zidan.


Zidan menarik sudut bibirnya ke atas. Ia tentu melihat bagaimana Zerin memperlakukan Anna tadi.


"Apa-apaan itu?" Zidan mengangkat dua alisnya bersamaan.


"Tidak ada." Zerin menjawab singkat.


"Cih! Bilang saja kau sedang cemburu," terka Zidan dengan tatapan penuh selidik.


"Tidak!" bantah Zerin. Dia membuang muka dari Zidan.


"Benarkah? Lalu kenapa kau memperlakukan Anna sekasar itu? Apalagi alasannya kalau bukan cemburu?"


"Aku bilang tidak!" Zerin terlalu gengsi untuk mengakui kalau dirinya sedang cemburu.

__ADS_1


"Ya sudah, aku akan mengajak Anna bergabung lagi." Zidan melepas tangan Zerin. Ia mencoba beranjak. Pergerakannya tentu dihentikan oleh Zerin.


"Kau benar! Aku memang cemburu! Jadi jangan coba-coba dekat dengan wanita lain lagi!" tegas Zerin. Setelah itu, dia langsung mencium bibir Zidan.


Tangan Zidan sigap melingkar ke pinggul Zerin. Sentuhan perempuan itu adalah sesuatu yang sudah dia tunggu.


Dengan nafas yang tersengal-sengal, ciuman Zerin dan Zidan semakin menggebu. Mereka saling mengacak-acak pakaian dan rambut satu sama lain.


Zerin mendorong dada Zidan. Hingga tautan bibirnya terlepas dari mulut lelaki tersebut.


Zidan yang mengerti, segera menyeret Zerin pergi dari keramaian. Keduanya ingin cepat-cepat kembali ke kamar. Namun saat pintu dibuka, kamar mereka sudah di tempati pasangan yang sibuk bercinta. Zidan dan Zerin lantas tidak jadi masuk.


"Sudahlah! Kita lakukan sebentar di sini." Zerin menarik Zidan ke hadapannya. Mereka lantas kembali bercumbu di depan pintu kamar.


Zidan mengangkat Zerin. Kedua kaki perempuan itu mengunci erat di pinggulnya. Walau musik terdengar masih berbunyi, tetapi suara kecupan bibir yang terjadi dapat didengar Zerin dan Zidan dengan jelas. Pagutan demi pagutan dilakukan oleh keduanya.


Perlahan Zidan menurunkan Zerin. Dia segera memberikan cumbuan ke ceruk leher istrinya itu.


Zerin mulai melenguh pelan. Matanya reflek memejam rapat. Dia hanya menginginkan Zidan sekarang.


Tanpa ba bi bu, Zerin dan Zidan melepaskan pakaian masing-masing. Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa kembali bercinta.


Penyatuan terjadi. Suara erangan Zerin mulai diperdengarkan. Terlebih kali ini dialah yang memimpin.


Zerin menghentakkan diri di atas badan Zidan. Suara desa-hannya dan Zidan saling sahut menyahut.


Satu tangan Zerin mencengkeram erat rambutnya sendiri. Sedangkan satu tangan yang lain menjadi penopang tubuhnya yang bergerak naik turun.


Suara tepukan daging juga terdengar mengiringi lenguhan Zerin dan Zidan. Dalam sekejap, keringat mulai mengalir di kulit putih keduanya. Membuat tubuh mereka tampak sedikit mengkilap.


Zerin bergerak di atas badan Zidan bak menunggang seekor kuda. Gairahnya benar-benar sangat menggebu. Puncak kenikmatan yang dia rasakan terjadi secara berangsur-angsur.


"Zidan! Akh!" Zerin tidak berhenti mengelu-elukan nama Zidan. Buah dada besarnya tampak bergerak naik turun mengikuti pergerakannya. Gila! Mungkin itulah definisi yang tepat untuk menjelaskan kenikmatannya sekarang.


"Sayang! Kau luar biasa, akh..." seru Zidan. Dia juga merasakan hal serupa seperti Zerin. Mengingat pemandangan yang dilihatnya adalah pergerakan panas Zerin yang tiada henti.


Merasa gairah belum tuntas, Zidan segera mengambil alih posisi Zerin. Dia menghentikan pergerakan sang istri. Kemudian melepas penyatuan dalam sesaat.

__ADS_1


Sekarang Zerin yang telentang. Kedua kakinya terbuka lebar dan melingkar erat ke pinggang Zidan. Persenggamaan dilakukan lagi. Erangan kembali terdengar.


"Lebih cepat, Sayang! Akh!" Puncak gairah terus dirasakan Zerin sampai tubuhnya mulai lemas. Meskipun begitu, dia masih tidak ingin berhenti. Zerin dan Zidan bersenggama lebih lama dari biasanya malam itu.


Segalanya berakhir ketika Zidan telah mencapai puncak. Kini dia dan Zerin telentang sambil berusaha mengatur nafas. Lalu menutupi badan yang telanjang dengan selimut.


"Ini malam yang luar biasa..." lirih Zerin seraya mengerjap pelan. Dia menatap Zidan dengan tatapan sayu.


"Ya, aku juga mengakuinya..." Zidan tersenyum di sela-sela pengaturan nafas. Dia segera mengecup kening Zerin. Zidan senang istrinya sudah tidak lagi memikirkan masalah secara berlarut-larut.


...***...


Pagi telah tiba, Zerin menjadi orang yang bangun lebih dulu. Dia duduk sambil memeluk lutut. Sibuk memandangi Zidan lamat-lamat.


Perlahan ditarik Zerin selimut yang menutupi badan Zidan. Sampai tubuh atletis suaminya terlihat. Perhatian Zerin terpaku pada tato-tato yang ada di tubuh Zidan.


Ketika Zidan terbangun, Zerin menyambut dengan senyuman.


"Kenapa?" tanya Zidan.


"Tidak apa-apa. Aku hanya terpikir untuk membuat tato. Kau bilang temanmu yang ahli membuat tato itu ada di Amerika bukan?" tanggap Zerin.


"Ya. Apa kau mau? Kita bisa menemuinya sekarang," ujar Zidan.


"Aaarkkhh!!! Sialan!" terdengar suara teriakan Reza dari luar.


Zerin dan Zidan bergegas mengenakan pakaian. Kemudian keluar untuk memeriksa apa yang terjadi.


Reza tampak mengenakan handuk kimono berwarna merah. Dia menampakkan wajah panik sambil menunjuk ke arah kolam renang.


"Ada apa?" tanya Zidan sembari melihat ke kolam renang. Dia merasa heran karena tidak menyaksikan hal serius di sana.


Zerin juga merasakan hal yang sama. Dia bingung kenapa Reza ketakutan.


"Ada seseorang yang buang air besar di kolam renangku. Lihat itu!" ucap Reza sembari menunjuk ke arah kotoran manusia yang mengambang di air kolam renangnya.


Zerin dan Zidan mendengus lega. Keduanya sempat takut kalau Reza mengalami masalah serius. Alhasil mereka berakhir tergelak bersama.

__ADS_1


__ADS_2