Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 38 - Pengakuan


__ADS_3

Cinta terkadang membuat kita tidak punya pilihan lain selain menerima - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin baru saja pulang ke rumah. Dia langsung didekati oleh sang ibu.


"Tadi Zidan mencarimu ke sini? Apa kalian sedang bertengkar? Kenapa dia tidak tahu pacarnya pergi kemana?" Lia memberikan Zerin pertanyaan beruntun.


Kelopak mata Zerin melebar. Dia tentu kaget mendengar Zidan datang ke rumah untuk mencarinya.


"Aku akan segera meneleponnya," ujar Zerin sembari masuk ke kamar. Meninggalkan Lia dengan rasa penasaran.


"Zerin!" panggil Lia. Membuat langkah kaki Zerin sontak terhenti. Perempuan itu menoleh ke arah sang ibu.


"Zidan lelaki yang sangat baik. Ibu sangat menyukainya. Aku harap hubunganmu dan Zidan dapat bertahan lama," tutur Lia bersungguh-sungguh.


Zerin hanya tersenyum tipis. Dia tidak mengatakan apapun dan masuk ke kamar. Keningnya mengernyit. Tanpa pikir panjang, Zerin segera menghubungi Zidan.


"Kau kemana saja, hah?!" Zidan langsung menimpali dari seberang telepon.


"Harusnya orang yang pantas marah di sini adalah aku! Kenapa kau cari muka pada ibuku? Apa maumu? Katakan yang sebenarnya padaku!" balas Zerin dengan nada penuh penekanan.


"Hei! Kau tidak pantas marah! Karena di sini akulah yang terus diabaikan! Kalau kau terus begini, aku akan mengirimkan foto telanjangmu pada Ernest." Zidan kembali memberikan ancaman pamungkasnya.


"Zidan! Kenapa kau begini? Asal kau tahu, aku juga punya senjata untuk melawanmu! Video mengenai ruang rahasiamu itu masih tersimpan rapi di ponselku!"


"Lakukan saja. Lagi pula orang sepertiku sangat mudah mengatasinya. Tapi tidak dengan orang sepertimu! Kau itu seperti parasit dalam keluargaku!" ujar Zidan. Perkataannya sukses membuat Zerin terdiam seribu bahasa. Bukannya karena dia tidak bisa melawan, melainkan karena ucapan Zidan begitu menusuk hati.


Zerin memilih mengakhiri panggilan telepon. Air matanya berjatuhan. Dia terduduk ke tepi ranjang. Zerin menangis tersedu-sedu. Pesan dan panggilan Ernest juga diabaikan.


Sebenarnya Zerin telah menyadari perasaannya terhadap Zidan. Tepat setelah dia menghabiskan banyak waktu dengan Ernest. Namun saat semua itu berlangsung, nama yang selalu terlintas dalam pikirannya hanyalah Zidan.


Niat Zerin menelepon Zidan awalnya untuk memancing lelaki tersebut. Akan tetapi Zidan seakan terus berusaha menghindar untuk bicara mengenai perasaan.


Setelah mendengar ucapan Lia, niat Zerin mengenai perasaannya semakin kuat. Namun Zidan malah membuat hatinya semakin sakit. Menurut Zerin, hinaan lelaki itu sangat keterlaluan. Sekarang dia merasa kalau dirinya tidak akan bisa bersatu dengan Zidan.


Zerin merebahkan diri ke kasur. Dia mencoba tidur agar bisa melupakan semuanya. Terutama tentang Zidan.


Sebelum tidur, Zerin tidak lupa untuk membalas pesan Ernest. Dia kali ini akan berusaha merubah perasaannya. Zerin berharap bisa jatuh cinta kepada Ernest.


Di waktu yang sama, Zidan sedang sibuk merenung. Dia merasa bersalah karena sudah melemparkan kata kasar kepada Zerin.


"Apa tadi itu keterlaluan?" gumam Zidan. Merasa bersalah. Dia segera menggeleng kuat. Zidan meyakinkan bahwa dirinya tidak salah. "Lagi pula Zerin juga sering menghinaku. Apa yang kukatakan tadi tidaklah masalah," sambungnya lagi. Kemudian telentang ke ranjang dan tidur.


...***...


Satu malam berlalu. Di kampus Zerin menghindari Zidan habis-habisan. Dia bahkan tidak menatap lelaki itu sedikit pun. Zerin lebih asyik mengobrol bersama teman-temannya dan Ernest.

__ADS_1


Zidan duduk diam di sudut dengan mimik wajah cemberut. Hanya Jaka dan tiga temannya Zerin yang memperhatikan Zidan. Terutama Kinar.


"Zidan, kamu nggak makan?" tanya Kinar.


Zidan menggeleng. "Enggak. Aku kebetulan tidak lapar. Kau saja yang makan," jawabnya seraya tersenyum. Mata Zidan sesekali mencuri pandang ke arah Zerin. Ia tidak bisa berhenti mengalihkan perhatian dari perempuan tersebut.


Ketika semua mata kuliah telah berakhir, Zidan sengaja tidak langsung pulang. Dia diam-diam mengamati kelas Zerin. Menunggu perempuan itu keluar dari kelas. Namun pupus sudah penantian Zidan, tatkala menyaksikan Ernest lebih dulu menyapa Zerin.


Zidan lagi-lagi kesal setengah mati. Dia hanya bisa mengepalkan tinju di kedua tangan. Lalu beranjak pulang.


Resah, gelisah, dan kalut. Itulah yang dirasakan Zidan. Dia tidak pernah menyangka seorang Zerin bisa membuatnya tersiksa.


Zidan ingin mengungkapkan perasaan. Tetapi keraguan selalu menghantui. Sehingga berbagai macam pertimbangan dipikirkannya.


Akhirnya Zidan mencoba memecahkan kekhawatiran. Ia menghubungi Reza. Kebetulan sahabatnya itu berkuliah di jurusan Psikologi. Jadi dia merasa kalau Reza mungkin dapat memastikan apa yang dirinya rasakan.


Zidan mengatakan apa yang dirasakannya kepada Reza. Termasuk mengenai hubungan liarnya bersama Zerin. Mungkin Reza adalah orang pertama yang tahu bagaimana hubungan Zerin dan Zidan.


"Bwahahaha! Mampus kau, Dan! Kena juga kau akhirnya!" bukannya memberi solusi, Reza justru mentertawakan.


"Apanya yang lucu?! Kau tidak seharusnya mentertawakan temanmu!" geram Zidan yang merasa tersinggung.


"Calm down, Bro. Aku tertawa karena bisa menyimpulkan apa yang kau rasakan. Kau mau tahu apa itu?"


"Apa?! Jangan berbelit-belit!"


"Kau jelas jatuh cinta pada Zerin. Tidak terbantahkan! Kau--"


Bersamaan dengan itu, Zidan mendapatkan pesan dari grup chat pertemanan. Jaka dan Ernest memberitahu bahwa mereka akan berangkat ke gym. Lewat pesan tersebut Zidan juga mengetahui Zerin dan temannya akan ikut ke gym.


Zidan menarik sudut bibirnya ke atas. Ia segera berangkat.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk tiba di gym. Di sana Ernest dan Zerin terlihat datang lebih dulu. Mereka bicara berduaan.


"Ciee... Berduaan doang nih?" sapa Zidan sembari berjalan menghampiri Zerin dan Ernest.


"Iya, kami soalnya baru habis makan malam bareng. Jadi datang lebih awal dari kalian," jawab Ernest seraya melirik ke arah Zerin. Perempuan itu hanya tersenyum.


"Oh..." Zidan mengangguk mengerti. Dia merogoh saku celana dan mengambil ponsel. Dirinya mengirim pesan kepada Zerin untuk yang kesekian kali. Namun perempuan tersebut tidak peduli. Zerin bahkan tidak tertarik memeriksa saat melihat nama Zidan di layar ponsel.


Zidan menganga tak percaya. Dia berusaha bersabar. Zidan akan melakukan cara lain untuk memancing Zerin agar mau diajak bicara.


"Nest, kau mau lihat foto telanjang nggak?" ujar Zidan. Membuat mata Zerin membulat sempurna. Hal serupa juga dilakukan Ernest. Lelaki itu tentu malu membicarakan sesuatu yang tidak-tidak di depan Zerin.


"Apaan sih, Dan! Kenapa tiba-tiba bicara begitu?" dahi Ernest berkerut. Sama seperti Zerin. Dia juga merasa tidak nyaman dengan topik yang dibicarakan Zidan.


"Ini menarik loh. Soalnya orang yang difoto pasti akan familiar di matamu," sahut Zidan.

__ADS_1


Zerin yang mendengar langsung dirundung rasa cemas. Usaha Zidan berhasil membuatnya harus memeriksa ponsel. Zerin mengajak lelaki itu bicara empat mata di toilet.


"Aku ke toilet dulu ya, Nest." Zerin berucap sambil memegangi pundak Ernest. Dia segera beranjak ke toilet.


Zidan berseringai puas. Rencananya berhasil untuk membuat Zerin bersedia bicara dengannya.


"Gila kau, Dan! Ngapain bicara foto telanjang pas di depan Zerin?" geram Ernest. Mengomeli Zidan.


"Aku cuman bermaksud bercanda doang. Nih fotonya." Zidan memperlihatkan foto seekor kucing. "Dia nggak pakai baju kan? Terus familiar dimatamu," ujarnya menjelaskan.


"Sontoloyo nih anak!" Ernest yang merasa tertipu, menoyor kepala Zidan. Temannya tersebut hanya tertawa geli.


Tak lama kemudian, Jaka datang. Saat itulah Zidan menyusul Zerin ke toilet.


"Nest, aku ke toilet dulu. Tiba-tiba sakit perut. Tadi habis makan cabe banyak banget soalnya," ujar Zidan berdalih.


"Dih! Ganteng-ganteng berakan kau!" sahut Ernest. Dia dan Jaka tergelak bersama.


Zidan juga terlihat tertawa. Dia merasa bahagia karena akan menemui Zerin.


Saat hampir dekat ke tempat tujuan, Zidan dapat menyaksikan Zerin menunggu di depan toilet. Dia tersenyum miring dan melajukan pergerakan kaki.


"Tunggu!" seru Zidan sembari masuk ke toilet pria. Memastikan tidak ada orang di dalam.


Saat yakin toilet dalam keadaan sepi, Zidan segera menyuruh Zerin masuk.


"Kau itu kenapa sih?! Nggak suka lihat hidup orang bahagia ya?!" timpal Zerin dalam keadaan mata melotot kesal.


"Aku cuman pengen kau berhenti dekat dengan Ernest! Itu saja! Jika masih, maka aku akan terus mengganggu!" sahut Zidan dengan nada penuh penekanan.


"Kenapa?! Kasih tahu aku apa alasannya?! Bukankah kemarin kau bilang aku parasit? Harusnya kau senang aku berhenti mengusik hidupmu!!" Zerin melangkah lebih dekat ke hadapan Zidan. Dia bicara dengan nada cukup lantang. Untung saja suasana sekitaran toilet sedang sepi. Jadi tidak ada orang yang mendengar.


Zidan membisu. Lidahnya terasa kelu. Dia hanya menatap Zerin dengan lekat.


"Kenapa bengong?! Cepat bicara!" Zerin terlampau kesal. Dia memukul-mukul dada Zidan.


Zidan memegangi salah satu tangan Zerin. Kemudian menariknya agar perempuan itu bisa lebih dekat. Dia hendak memberikan ciuman di bibir Zerin.


Belum sempat Zidan mencium, Zerin lebih dulu memberikan tamparan.


"Apa kau akan selalu bersikap seperti ini?! Melarangku dekat dengan Ernest dan mencumbuku tanpa alasan?!" tukas Zerin. "Kau harus tahu... Aku sudah muak dengan sikapmu ini!!!" tegasnya dengan ekspresi ingin menangis.


"Kau mau tahu alasannya?" Zidan memegangi pundak Zerin. Ia terdiam untuk menghela nafas sejenak. "Itu karena aku mencintaimu, Rin!" ungkapnya.


Pengakuan Zidan membuat mata Zerin membola. Perempuan itu terpaku menatap Zidan.


"Kau dengar kan? AKU MENCINTAIMU!" Zidan mengguncang tubuh Zerin dengan histeris. Nafasnya tersengal-sengal. "Kau puas kan?! Aku terus berusaha menyangkalnya! Tapi tidak bisa! Aku--"

__ADS_1


Zerin menarik kerah kaos baju Zidan. Dia menyumpal bibir lelaki itu dengan ciuman. Bagaimana tidak? Pengakuan Zidan sepertinya adalah sesuatu yang sudah dinantinya sejak lama. Zerin juga tidak meragukan Zidan. Mengingat dia sudah melihat buktinya melalui tatapan dan sikap aneh lelaki tersebut. Tidak ada hal yang ingin dilakukan Zerin selain mencium bibir Zidan. Parahnya pikiran untuk bercinta dengan Zidan juga tercetus di kepalanya.


Zidan tentu tidak menolak. Dia membalas ciuman Zerin dengan liar. Hingga perempuan itu melangkah mundur dan tersudut ke depan pintu bilik toilet.


__ADS_2