Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 50 - Tentang Bali


__ADS_3

Tiada hal yang membahagiakan selain mendapat balasan cinta - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin memejamkan mata. Dia sesekali melenguh. Membiarkan kemejanya terbuka lebar. Zerin membiarkan Zidan menjelajah dadanya dengan bibir. Lelaki tersebut sibuk menyesap buah dada Zerin secara bergantian.


"Zidan... Aku rasa sudah cukup. Aku tidak mau melakukannya di sini..." ungkap Zerin. Di sela-sela pengaturan nafas.


"Katakan padaku... Kau mau melakukannya dimana?..." tanggap Zidan. Dia menjeda cumbuannya sejenak untuk bicara. Selanjutnya, dia kembali bergumul dengan kulit putih Zerin.


"Bisakah kau membawaku ke tempat paling mewah. Aku akan sangat bergairah jika melakukannya di tempat seperti itu," kata Zerin. Tangannya sibuk mengacak-acak rambut Zidan. Lelaki tersebut terkekeh dan mendongak menatapnya.


"Penthouse? Atau kamar hotel VIP keluargaku yang ada di Bali?" tawar Zidan.


Mata Zerin terbuka lebar. Dia memegang wajah Zidan dengan dua tangan. Dalam keadaan bra yang masih belum diperbaiki. Penutup dada Zerin itu masih belum terpaut dan mengendor di bahunya.


"Kau punya hotel di Bali?" Zerin memastikan.


"Ya. Keluargaku kebetulan baru membelinya satu tahun lalu."


"Aku tidak pernah ke Bali. Aku sangat ingin berkunjung ke sana satu kali." Zerin akhirnya mengaitkan bra-nya. Lalu menyematkan kancing kemeja. Dia segera duduk ke kursi sebelah.


"Nanti aku akan membawamu ke sana," ucap Zidan. Dia menyematkan kancing bajunya yang sejak tadi terbuka. Kemudian menyalakan mobil.


"Orang tua kita akan panik jika kita pergi berduaan," sahut Zerin. Kini dia terlihat merapikan rambut.


"Bilang saja kalau kita sedang melakukan studi tur." Zidan tergelak kecil. Ia lantas menjalankan mobil.


"Nggak lucu!" balas Zerin sembari memukul pundak Zidan dengan tas. Dia heran kenapa lelaki itu selalu bersikap santai. Seolah tidak ada kekhawatiran dalam kepalanya.


Ponsel Zidan berdering. Ia mendapat telepon dari Arni. Ibunya tersebut memberitahu agar Zidan membawa Zerin ke rumah. Sebab Arni, Lia, dan Wira, sedang menyiapkan makan malam bersama.


"Siapa?" tanya Zerin. Setelah melihat Zidan selesai bicara di telepon.

__ADS_1


"Ibuku dan ibumu ingin kita melakukan malam malam bersama," ungkap Zidan seraya tersenyum tipis.


"Benarkah?" Zerin langsung merasa gugup. Dia menghela nafas panjang satu kali.


Tahu kekasihnya sedang gelisah, Zidan menggenggam lembut jari-jemari Zerin. "Tidak ada yang perlu dicemaskan. Kedua orang tuaku sangat menyukaimu. Aku yakin itu. Aku sangat mengenal mereka. Karena itulah aku tidak perlu berpikir dua kali untuk mengungkap hubungan kita," ucapnya. Berusaha menenangkan Zerin.


"Aku tahu kedua orang tuamu baik. Tapi tetap saja aku merasa gugup. Aku yakin suasananya akan berbeda," tanggap Zerin. Dia lagi-lagi menghembuskan nafas berat.


"Ya, suasananya pasti berbeda. Tapi aku yakin akan jadi lebih baik dari sebelumnya." Zidan merasa percaya diri.


Selang sekian menit, Zidan dan Zerin tiba di tempat tujuan. Keduanya segera mendatangi ruang makan. Di sana semua orang telah menunggu. Termasuk Lia, selaku ibunya Zerin. Wanita paruh baya itu mengenakan pakaian baru yang dibelikan oleh Arni. Lia juga tampak semakin akrab dengan Arni.


"Dua bintangnya sudah datang. Ayo duduk, Rin. Ibumu dan Mamahnya Zidan sudah buatkan sop ayam kesukaanmu," ujar Wira ramah. Dia mengambil kesempatan untuk memperhatikan Zerin.


"Terima kasih..." balas Zerin sembari tersenyum manis.


Setelah Zidan dan Zerin duduk, semua orang langsung menikmati makan malam. Karena sudah saling mengenal, tidak ada rasa canggung sama sekali. Terutama di antara Arni dan Lia. Keduanya memang seperti sahabat. Bahkan sebelum adanya hubungan spesial yang terjadi di antara Zerin dan Zidan.


"Ke Bali?" Zerin mengerutkan dahi. Dia penasaran sekaligus tertarik. Mengingat dirinya dan Zidan tadi baru saja membicarakan tentang Bali.


"Iya, Bi Devi kan orang Bali. Kamu lupa ya, Rin? Tadi dia baru saja minta izin buat pulang. Katanya banyak hal yang harus disiapkan untuk acara pernikahan anaknya," jelas Arni. Dia menatap semua orang yang ada di sekitar secara bergantian. "Bagaimana? Kalian akan ikut kan?" tanya-nya memastikan.


"Iya, Nyonya. Aku bisa ikut," sahut Zerin antusias.


"Zerin, jangan panggil Nyonya lagi ya. Mulai sekarang panggil Tante saja," imbuh Arni.


"Nanti kalau kau dan Zidan sudah menikah, baru ikut panggil Mamah," canda Wira. Dia sukses membuat Zerin terkekeh malu. Semua orang tergelak kecil dalam sesaat.


"Zidan? Kamu akan ikut kan?" Sekarang Arni bertanya kepada Zidan.


"Ya iyalah dia ikut. Orang pacarnya juga ikut kok." Bukannya Zidan, justru Wira yang menyahut. Arni menatapnya dengan malas. Sementara Zerin, Zidan, dan Arni tampak tertawa kecil. Makan malam berlangsung menyenangkan.


Tibalah Zerin dan Lia harus pulang. Zidan menjadi orang yang mengantarkan.

__ADS_1


"Oh iya, Bu. Kenapa Amira nggak ikut makan malam? Dia nggak di ajak?" tanya Zerin. Dia baru sadar bahwa adiknya tidak ada saat makan malam berlangsung.


"Dia katanya ada kegiatan setelah pulang les sama temannya. Tapi dia nggak kasih tahu mau ngapain. Ibu yakin dia pasti ngerjain tugas sekolah," ucap Lia.


"Amira? Luka di kakinya sudah sembuh kan?" cetus Zidan yang ingin masuk ke dalam pembicaraan.


"Bagaimana kau tahu Amira punya luka di kakinya?" Zerin berbalik tanya.


"Amira nggak kasih tahu?" balas Zidan.


"Enggak." Zerin menggedikkan bahu.


"Pas di kegiatan amal kemarin, Amira jatuh dari motor. Kebetulan aku yang bantuin dia. Terus mengobati luka di kakinya," terang Zidan.


Mata Zerin terbelalak. Dia ingat kalau Amira banyak membicarakan perihal orang yang sudah menolongnya. Sang adik bahkan menyebut orang yang menolongnya dengan sebutan malaikat. Tetapi Zerin tidak pernah menduga kalau orang yang menolong Amira adalah Zidan.


Zerin menoleh ke kursi belakang. Ia yakin ibunya akan memiliki pendapat yang sama. Namun Lia sudah tertidur pulas di sana. Hari memang sudah cukup larut. Wajar wanita paruh baya itu sudah tertidur. Terlebih dia sudah bekerja seharian di rumah keluarga Dirgantara.


Zerin mendengus kasar. Lagi pula semuanya terlanjur terjadi. Amira juga sudah tahu mengenai hubungannya dan Zidan.


Zidan menghentikan mobil di depan gang. Mobilnya tidak bisa dipaksakan masuk ke gang karena akan sulit memutar balik.


"Makasih ya, Dan. Kamu mau mampir dulu?" tawar Lia ramah.


"Enggak. Lain kali saja. Ini sudah larut malam. Kau dan Zerin harus istirahat," tutur Zidan. Lia lantas beranjak lebih dulu. Di ikuti Zerin yang berjalan dari belakang.


Langkah Zerin terhenti ketika Zidan memeluk dari belakang. Lalu memberikan kecupan dalam ke pipi Zerin.


"Zidan!" jerit Zerin dengan nada pelan. Matanya membulat. Tepat ke arah Lia yang berjalan di depan. Dia takut ibunya akan memergoki.


Zidan malah tergelak. Kemudian melepas pelukan. Dia langsung mendapat pukulan di pantat dari Zerin.


"Anak nakal!" geram Zerin. Dia bergegas meninggalkan Zidan. Keduanya sama-sama tertawa senyap. Di akhir mereka saling melambaikan tangan.

__ADS_1


__ADS_2