
Banyak sekali rencana kecil yang dapat membahagiakan orang lain - Auraliv.
...༻∅༺...
"Zidan?" Zerin menatap tak percaya. Bagaimana bisa Zidan tiba-tiba menjadi pelayan spa? Ia tentu sangat terkejut.
"Kenapa, Mbak? Kau mengenalku?" tanggap Zidan. Berpura-pura seolah tidak mengenal Zerin.
Zerin terperangah. Dia tidak bisa berkata-kata saat menyaksikan lagak Zidan. Lelaki itu bahkan mengambil minyak berbau harum yang akan dioleskan ke tubuh Zerin.
"Kau tidak lupa dengan sumpah yang kusebutkan beberapa saat lalu bukan?" timpal Zerin dengan mata mendelik.
"Kita sebaiknya fokus saja sama pemijatannya. Aku jamin kau pasti akan terpuaskan," ujar Zidan ramah. Dia benar-benar berlagak seperti seorang pelayan spa.
"Zidan, kau--" Zerin berhenti berucap saat Zidan membuka kain batik. Hingga punggung putih nan mulus milik Zerin terpampang nyata.
Zidan tidak menggunakan sama sekali minyak yang tadi diambilnya. Ia langsung memberikan pijatan lembut.
Zerin tidak jadi melakukan protes. Karena pijatan Zidan cukup membuatnya nyaman.
"Ternyata kau berbakat jadi tukang pijat. Kenapa malah pengen jadi dokter?" cetus Zerin. Bermaksud mengejek.
Zidan hanya diam dan fokus memijat lembut punggung Zerin. Tanpa diduga, lelaki itu memposisikan diri berada di atas badan Zerin. Ia berhenti memijat. Melainkan memberikan kecupan demi kecupan ke punggung Zerin.
"Sudah kuduga, pasti ada maunya. Kau padahal tidak perlu repot-repot menjadi pelayan spa untuk melakukan ini," ungkap Zerin. Ia reflek menggigit bibir bawahnya. Terutama saat tangan Zidan menjatuhkan kain batik ke lantai. Kini keadaan tubuh Zerin tidak tertutupi oleh sehelai benang pun.
Nafas Zidan mulai memburu. Ia segera melepas kancing baju yang dirinya kenakan. Zidan belum berhenti melu-mat kulit putih bersih di punggung Zerin. Ulahnya sukses memberikan tanda merah yang khas.
"Zidan..." panggil Zerin lirih. Sama seperti Zidan, dia mulai merasa bergairah. "Apa tidak apa-apa kita melakukannya di sini?" tanya-nya yang merasa dihantui rasa cemas.
Zidan membisu. Ia sibuk mengatur nafas sambil mendekatkan mulut ke telinga Zerin. Lalu menggigit pelan kuping perempuan itu.
Dua tangan Zidan perlahan menyusup ke bagian dada Zerin. Saat itulah Zerin sedikit mengangkat tubuhnya. Hingga Zidan dapat mere-mas kedua buah dadanya sekaligus.
__ADS_1
Zerin segera memegangi wajah Zidan. Lelaki itu lantas memagut bibirnya dari samping. Ciuman panas terjadi. Lidah Zidan dan Zerin bergulat hebat. Membuat mulut mereka mengunci erat.
"Mmphh..." Zerin melenguh dalam keadaan mulut yang sibuk berciuman.
Wajah Zerin dan Zidan memerah padam. Detak jantung mereka sama-sama memacu lebih cepat.
Puas mencium bibir Zerin, Zidan segera berubah haluan ke ceruk leher. Dengan gerakan mulut yang menggebu, cumbuannya berhasil membuat sekujur badan Zerin bergidik nikmat. Tangan Zidan juga tidak kunjung berhenti mencengkeram buah dada kekasihnya tersebut.
Tanpa diduga Zidan perlahan berhenti memberikan cumbuan. "Sekarang barulah kita oleskan minyak," ujarnya yang kembali berlagak seperti pelayan spa.
"Zidan... Jangan main-main. Aku menginginkanmu..." lirih Zerin. Hasratnya sudah memuncak karena pemanasan yang diberikan Zidan tadi.
"Kenapa kau terus bicara, Mbak? Kau seperti mengenalku saja," sahut Zidan sembari mengoleskan minyak ke punggung Zerin. Aroma harum minyak tersebut menyeruak. Zidan mengolesnya dari punggung sampai kaki Zerin.
"Zidan!" Zerin mencoba berbalik untuk telentang. Namun Zidan tidak membiarkan.
"Bagian belakang masih belum ya," ucap Zidan.
"Aku sudah muak!" Zerin berbalik badan. Ia merampas wadah berisi minyak di tangan Zidan. Kemudian langsung membuangnya ke lantai.
Zidan tentu tidak menolak. Sambil terus berciuman, dia bergegas melepaskan baju serta celana. Dirinya memaksa Zerin berdiri. Lalu membalikkan badan perempuan itu hingga berdiri membelakanginya.
Tanpa pikir panjang, Zidan melakukan penyatuan dari belakang. Hal itu membuat Zerin reflek memejamkan mata. Dia berpegang erat pada ranjang khusus tempat pijat yang ada di hadapan.
Suara tepukan daging terdengar. Tubuh Zerin bergetar hebat ketika Zidan memaju mundurkan badan dari belakang. Suara desa-han dari mulut mereka juga mulai terdengar. Terutama dari Zerin. Intonasi lenguhannya semakin cepat dari waktu ke waktu.
Wajah Zerin tidak hanya menampakkan garis-garis tertentu. Tetapi juga memerah dan berkeringat. Membuat rambut pendek sebahunya sedikit basah. Zerin merasakan puncak kenikmatan tiada tara. Dia selalu merasakan itu berulang kali ketika melakukannya bersama Zidan.
Sama seperti Zerin, wajah Zidan juga tampak memerah. Sesekali dia akan melayangkan kecupan ke punggung dan pundak Zerin.
"Akh! Zidan!" Zerin mengelukan nama Zidan disela-sela erangannya. Menyebabkan hasrat lelaki itu membuncah hebat. Ia juga tidak berhenti melenguh.
Saat hampir mencapai puncak, Zidan mencengkeram kuat rambut Zerin. Saat itulah dia memberikan hentakan lebih laju. Sampai membuat desa-han Zerin menjadi-jadi. Di akhir, Zidan menggelinjangkan badan. Pertanda bahwa dirinya sudah mencapai puncak kenikmatan.
__ADS_1
Zerin seketika merasakan cairan yang menghangatkan rahimnya. Kebetulan Zidan kelupaan menggunakan pengaman.
"Aku tidak pakai pengaman..." lirih Zidan sembari mengontrol nafas yang ngos-ngosan. Dia melepaskan penyatuan dari Zerin.
"Aku tahu. Aku bisa merasakannya..." Zerin menjawab lirih. Dia juga berusaha mengatur nafas yang masih memburu.
Setelah itu, Zidan bergegas mengenakan pakaian. Dia juga mengambilkan kain batik untuk Zerin. Melilitkan kain tersebut ke tubuh kekasihnya.
"Maaf atas kesalahan yang terjadi, Mbak. Aku sepertinya akan langsung dipecat dari sini," ucap Zidan. Dia kembali berakting sebagai pelayan spa. Lalu beranjak pergi.
Zerin terkekeh. Dia menyempatkan diri melayangkan pukulan ke punggung Zidan. Zerin berakhir merasa gemas kepada lelaki itu.
Selepas menerima pijatan, Zerin mendapatkan pelayanan bathup yang di isi dengan air dipenuhi bunga alami. Saat tiba di ruang bathup khusus, dia menyaksikan Zidan sudah ada di sana.
Zerin mendengus kasar. Dia geleng-geleng kepala sambil tergelak geli.
"Sekarang kau jadi apa lagi? Hantu kamar mandi?" tukas Zerin seraya berjalan mendekat.
Zidan malah menanggapi dengan ekspresi cemberut. Dia mendelik ke arah Zerin. Menyebabkan dahi perempuan itu sontak berkerut.
"Aku dengar orang yang memijatmu tadi adalah pelayan spa lelaki. Kau tidak melakukan hal aneh dengannya kan?" timpal Zidan dengan nada marah.
Zerin memutar bola mata jengah. Dia sudah tidak tahan dengan segala permainan Zidan yang tak ada habisnya.
Zerin melepas handuk kimononya. Dia buru-buru masuk ke bathup yang sama dengan Zidan. Zerin duduk ke atas pangkuan lelaki tersebut.
"Hei! Aku belum selesai--" Zidan masih saja berlagak marah. Namun jari telunjuk Zerin sigap diposisikan ke depan bibirnya.
"Sudah cukup..." desis Zerin ke telinga Zidan. Jari telunjuknya perlahan bergerak turun ke bawah. Jari-jemari Zerin sekarang bertengger ke dada bidang Zidan.
"Apa kau senang sekarang?" tanya Zidan seraya tersenyum tipis.
Zerin mengangguk. Dia mengalungkan tangannya ke leher Zidan. Keduanya saling menyatukan jidat satu sama lain.
__ADS_1
"I love you so much, Zidan..." ungkap Zerin sambil memejamkan mata.