Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 52 - Minuman Mahal Untuk Zerin


__ADS_3

Hati perempuan itu begitu lembut. Dia selalu luluh dengan yang namanya ketulusan - Auraliv.


...༻∅༺...


Amira sepakat untuk merahasiakan fakta bahwa Zerin pernah menjadi sugar baby. Dengan catatan sang kakak tidak akan kembali bekerja seperti itu.


Sebelum pulang ke rumah, Zerin meminta Amira berganti pakaian. Tepatnya pakaian yang dikenakan sang adik saat pergi les.


Kepulangan Amira disambut Lia dengan pelukan. Lia merasa lega melihat Amira baik-baik saja.


"Kamu kemana saja, Mir? Nggak biasanya kamu pulang larut begini," tukas Lia. Menuntut jawaban.


"Tadi Amira pulang sama teman, Bu. Tapi motor temannya itu mogok di jalan." Zerin sudah memberikan alasan untuk Amira.


Lia lantas percaya saja. Dia segera menyuruh kedua anaknya tidur.


Keesokan harinya, Zerin pergi ke kampus seperti biasa. Hari itu perkuliahan di mulai jam sembilan pagi. Zerin dan kawan-kawan kebetulan duduk santai di bangku depan kelas.


Saat itulah Zidan datang sambil membawa bungkus plastik. Ia terlihat menyuruh teman-temannya menunggu. Lalu berjalan menghampiri Zerin.


Zidan menyodorkan apa yang dibawanya untuk Zerin. "Nih untukmu. Aku rasa kau sudah sarapan. Jadi aku hanya membelikanmu minuman hangat dan manis," ucapnya.


Zerin yang sejak tadi fokus menatap layar ponsel, segera menatap Zidan. "Kalau mau kasih itu harusnya lihat keadaan dong. Aku tidak mau minum sendirian. Sementara teman-temanku tidak," ungkapnya sambil membuang muka dari Zidan. Zerin terlihat memainkan rambut pendek sebahunya dengan jari-jemari.


Astrid dan Gita diam-diam cekikikan. Apa yang dilakukan Zerin memang adalah rencana mereka.


Jujur saja, interaksi Zidan dan Zerin menjadi bahan tontonan banyak orang. Mengingat keduanya merupakan orang terpopuler di kampus.


"Jadi kau tidak mau?" tanggap Zidan.


"Tidak, kalau teman-temanku tidak minum," sahut Zerin.


"Baiklah kalau begitu." Zidan tersenyum. Dia pergi tanpa menunjukkan raut wajah kecewa.


Tak lama kemudian, dosen yang mengajar datang. Zerin dan kawan-kawan bergegas masuk ke kelas. Mereka menerima materi perkuliahan selama dua jam lamanya.

__ADS_1


Di tengah materi perkuliahan berlangsung, seorang kurir tiba-tiba mengetuk pintu. Dia membawa minuman dan membagikannya kepada semua orang. Termasuk dosen yang mengajar.


"Dari siapa ini, Mas?" tanya Pak Gibran. Selaku dosen yang mengajar. Untung saja dia bukan dosen galak. Tidak heran Pak Gibran bersedia meluangkan waktunya.


"Tunggu ya, Pak. Nanti saya akan umumkan," sahut kurir yang masih tampak sibuk membagikan minuman.


Astrid mengerutkan dahi. Karena dia mencurigai sesuatu. Astrid segera mendekati Zerin.


"Rin, jangan-jangan ini dari Zidan lagi. Gila sih kalau benar-benar dari dia. Kamu bisa meleyot," bisik Astrid menduga.


Pupil mata Zerin membesar. Dia merasa kalau Astrid ada benarnya. Jantung Zerin jadi berdegub lebih cepat. Perempuan mana yang tidak berdebar ketika lelaki memperlakukannya bak seorang putri? Dan Zidan melakukannya secara terang-terangan.


Kurir yang mengantar makanan segera berdiri ke depan. Dia meminta izin untuk membacakan pesan.


"Silahkan, Mas. Monggo, saya senang malah dapat minuman gratis starbubuk," canda Pak Gibran.


"Starbucks, Pak!"


"Starbucks!"


Pak Gibran ikut tertawa sembari melambaikan tangan. Dia segera meletakkan jari telunjuk ke depan bibir. Menyuruh semua anak didiknya diam.


Kurir yang mengenakan topi berwarna hitam itu lantas dipersilahkan bicara. Dia segera mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya.


"Ekhem!" sang kurir berdehem. Lalu membaca sebuah tulisan yang berbunyi, "Teruntuk Zerin. Gadis paling luar biasa yang pernah aku temui. Aku sudah pastikan sekarang kalau kau tidak minum sendirian. Tertanda, Zidan."


Seluruh orang langsung berseru histeris. Terutama para kaum hawa. Mereka begitu terbawa suasana.


Zerin langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Perempuan itu lantas menutupi wajah dengan dua tangan. Zerin tidak tahu harus bagaimana. Dirinya memang merasa malu. Tetapi di sisi lain dia juga merasa bahagia dengan debaran jantung yang menggebu.


"Sudah kuduga," ucap Asrtrid. Dia cengengesan bersama Gita.


Hal serupa juga dilakukan Kinar. Ia berusaha menunjukkan bahwa dirinya ikut bahagia dengan hubungan asmara Zerin dan Zidan.


Kurir pengantar minuman segera pergi. Sekarang Pak Gibran kembali mengambil alih kelas.

__ADS_1


"Sebelumnya kita ucapkan terima kasih buat Zerin. Sampaikan sama Zidan ya, Rin..." canda Pak Gibran sembari menurunkan kacamata. Dia menatap ke arah Zerin. Semua orang lagi-lagi bersorak untuk menggoda sang primadona kampus tersebut.


Usai mendapat pesan yang dibacakan kurir, Zerin langsung meminta izin ke toilet. Dia merasa tidak sanggup lagi menyembunyikan wajah merahnya.


"Zidan gila banget nggak sih?" ungkap Zerin merasa tak percaya. Dia kebetulan tidak sendiri. Ada Gita yang menemani.


"Bayangin saja, Rin. Dia kasih minuman starbucks untuk orang satu kelas dan itu pun lebihan lima buah. Aku nggak bisa bayangin berapa uang yang dia pakai buat beli itu semua. Kalau aku jadi Zidan, aku pasti beli minuman biasa," kata Gita seraya geleng-geleng kepala.


Zerin yang mendengar, hanya terkekeh. Ia menghela nafas beberapa kali. Zerin kembali ke kelas setelah bisa menenangkan diri.


Ketika di kelas, ponsel Zerin bergetar. Dia mendapat pesan dari Zidan. Lelaki itu mengajak berkencan di restoran. Kebetulan Zidan sudah pulang lebih dulu karena ada janji dengan Wira.


Senyuman mengembang di wajah Zerin. Dia yang sedang berbunga-bunga sudah tidak sabar ingin bertemu Zidan.


...***...


Jam menunjukkan jam lima sore. Zerin baru beranjak dari gedung kampus. Dia berdiri di halte bus. Berniat menghadang taksi untuk dinaiki. Tetapi saat memeriksa tas, Zerin tidak menemukan dompetnya.


"Astaga, apa sejak berangkat tadi dompetku tidak terbawa?" keluh Zerin. Saking bahagianya dengan perlakuan Zidan, dia sampai tidak makan siang. Zerin bahkan tidak sadar kalau dompetnya ketinggalan. Perempuan itu hanya memukuli jidatnya berulang kali.


Zerin segera menghubungi Zidan. Menyuruh lelaki tersebut untuk menjemput.


"Tunggulah di taman kampus. Aku akan menjemputmu di sana," ujar Zidan dari seberang telepon.


"Oke, sayang..." sahut Zerin sambil tersenyum lebar.


"Tumben panggil sayang. Kenapa? Pasti gara-gara minuman yang aku belikan tadi kan?"


"Menurutmu? Ya sudah, mending kamu jemput aku sekarang!" Zerin mematikan telepon lebih dulu. Dia segera menunggu Zidan di salah satu gazebo taman.


Satu jam, dua jam, hingga tiga jam kemudian. Zidan tidak kunjung datang. Lelaki itu juga tidak mengangkat telepon atau membalas pesan yang dikirim Zerin.


"Dia kemana coba?" keluh Zerin yang sudah bosan menunggu. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Mengingat hari sudah malam. Hujan juga turun dengan deras.


Zerin tidak bisa pergi kemana-mana. Dia terjebak di gazebo. Ia hanya sendirian di taman. Parahnya baterai ponsel milik Zerin sudah habis. Ponsel tersebut sekarang dalam keadaan mati.

__ADS_1


"Zidannn!!! Awas saja kalau dia datang! Biar dia kasih aku minuman seratus ember, aku nggak akan luluh lagi!" gerutu Zerin yang terlampau kesal.


__ADS_2