Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 9 - Noda Lipstik


__ADS_3

Kebohongan itu candu. Sekali dilakukan, maka akan terus berlanjut. Hingga rahasia-rahasia baru terus tercipta - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin baru pulang kuliah. Dia datang dengan raut wajah lesu. Zerin menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Saat itulah Lia muncul sambil membawakan tas karton.


"Rin! Malam ini Nyonya Arni akan mengadakan acara ulang tahun pernikahan. Kita semua di undang ke sana. Nih! Nyonya Arni sampai beliin baju segala." Lia memberikan tas karton berisi baju kepada Zerin. Isinya sendiri adalah sebuah dress cantik berwarna hitam.


"Amira sama Ibu juga dapat. Makanya kita wajib datang ke sana," ucap Lia. Dia dan Amira akan bersiap.


Zerin langsung melompat dari ranjang. Dia merias diri sedemikian rupa. Entah kenapa dirinya ingin tampil cantik di mata Zidan.


Setelah siap, Zerin dan keluarganya langsung berangkat. Setibanya di rumah keluarga Dirgantara, Zerin, Amira, dan Lia segera membantu menyiapkan hidangan di meja.


Bertepatan dengan itu, Zidan muncul. Dia terlihat juga berusaha membantu menyiapkan kebutuhan untuk acara.


"Kak! Itu Kak Zidan kan?" imbuh Amira antusias.


"Hah? Kamu kenal sama dia?" Zerin kaget mendengar ucapan sang adik.


"Kenal dong. Sudah satu minggu dia rutin memberikan bantuan ke orang-orang tidak mampu. Aku kagum sama Kak Zidan," ungkap Amira sembari menatap Zidan dengan mata yang berbinar-binar.


Amira mengenal Zidan karena bekerja paruh waktu di sebuah organisasi sosial. Makanya Amira mengetahui orang-orang konglomerat yang sering membantu.


"Padahal dia baru datang ke Indonesia loh, Mir!" tanggap Zerin. Merasa tak percaya.


"Emang. Tapi membantu orang itu adalah hal yang baik kan?" balas Amira. Mengulurkan dua tangan ke depan.


"Ish! Nggak apa-apa kalau cuman kagum. Tapi usahakan jangan jatuh cinta sama orang kayak Zidan!" Zerin memberitahu sambil mengacungkan jari telunjuk.


"Emangnya kenapa? Dia ganteng terus baik. Siapa yang nggak bisa jatuh cinta sama dia coba." Amira tidak mendengarkan nasehat sang kakak. Tatapannya ke arah Zidan semakin blak-blakkan


"Amira!" Zerin menyenggol Amira. Memaksa sang adik berhenti menatap Zidan.


Selang sekian menit, semakin banyak tamu yang berdatangan. Zerin membantu membawakan minum serta makanan ke meja. Sesekali dia juga mengambil piring dan gelas kotor untuk dicuci ke dapur.

__ADS_1


Sekarang Zerin tengah membawa nampan berisi gelas kotor ke dapur. Dia meletakkannya ke wastafel dengan hati-hati. Dari arah belakang sosok Zidan muncul.


"Ternyata apa yang aku lakukan kemarin nggak mempan..." bisik Zidan ke telinga Zerin. Membuat Zerin kaget sampai terlonjak. Tubuhnya juga langsung merinding hebat.


"Zidan!" seru Zerin dengan mata yang membulat. Ia juga mengedarkan pandangan ke segala arah. Berharap tidak ada orang di sekitar. Terutama ibu dan adiknya sendiri.


"Aku pikir kau akan mencariku setelah ciuman di toilet. Tapi ternyata tidak. Apa kau menahannya? Atau melampiaskannya pada orang lain?" tukas Zidan sembari melipat tangan ke depan dada.


"Apa maksudmu? Kau bicara melantur!" sinis Zerin. Berlagak tidak mengerti. Padahal perkiraan yang disebutkan Zidan benar seratus persen.


Zerin berusaha membuang muka dari Zidan. Dia menahan diri. Terlebih Zidan terlihat rapi dan lebih tampan dari biasanya.


"Pergilah! Aku yakin kau sangat sibuk sekarang," hardik Zerin. Dia memutar tubuhnya menghadap wastafel. Posisinya kini membelakangi Zidan.


Di belakang Zidan memutar bola mata jengah. Tangannya segera melingkar ke pinggul Zerin. Tanpa permisi, dia menenggelamkan wajah ke ceruk leher Zerin. Mengecup begitu dalam. Sampai membuat Zerin bergidik.


'Sialan! Kenapa aku malah senang dia menyentuhku?' batin Zerin. Ia segera membalikkan badan menghadap Zidan. Ulahnya mengharuskan lelaki itu berhenti mencumbu.


Zidan menarik sudut bibirnya ke atas. Lalu menyatukan bibirnya dengan mulut Zerin. Satu tangannya merengkuh tengkuk perempuan tersebut. Suara decapan lidah keduanya mulai terdengar. Ciuman sempat terjadi berselang satu menit.


"Kau!" geram Zerin.


"Lebih baik kita lakukan di kamarku!" ajak Zidan. Dia segera membawa Zerin ke kamarnya. Menaiki tangga dalam langkah cepat.


Saat telah tiba di kamar, Zidan langsung menutup dan mengunci pintu. Dia dan Zerin kembali melanjutkan percumbuan.


Pagutan demi pagutan diberikan oleh Zidan maupun Zerin. Naf-su keduanya sudah mencapai ubun-ubun.


Dengan cepat Zidan menanggalkan pakaian tanpa harus melepas tautan bibir dari mulut Zerin. Ia mendorong perempuan tersebut ke ranjang. Kemudian memberikan luma-tan lebih dalam lewat ciumannya.


Bibir Zerin dan Zidan bertaut erat seakan sulit untuk dilepaskan. Satu tangan Zidan sibuk menyingkap dress Zerin dari bawah. Nafasnya dan Zerin mulai memburu.


Zerin mendorong dada bidang Zidan. Memaksa lelaki itu mengambil posisinya. Sekarang Zidan telentang di ranjang. Membiarkan Zerin duduk di atas perutnya.


Dengan nafas yang ngos-ngosan, Zerin melepas dressnya. Sekarang dia terlihat hanya mengenakan bra dan celana dal-am.

__ADS_1


Melihat tubuh seksi Zerin, Zidan segera duduk tegak. Lalu bergegas melepas pengait bra milik Zerin. Ia sudah tak sabar ingin melahap dua buah dada Zerin yang terbilang besar itu.


Belum sempat melanjutkan ke tahap lebih intim, pintu tiba-tiba diketuk. Suara Arni memanggil nama Zidan terdengar.


Zerin dan Zidan sontak membeku. Keduanya relfek menoleh ke arah pintu. Memastikan pintu tidak dibuka oleh Arni.


"Zidan?" panggil Arni sembari memainkan gagang pintu. "Aku tahu kau di dalam! Tidak biasanya kau mengunci kamar? Zidan! Cepat buka pintunya!" serunya mendesak.


"Sial! Sial! Sial!" Zidan mengumpat berkali-kali. Dia dan Zerin langsung bubar dari atas ranjang. Bergegas mengambil pakaian masing-masing.


"Gimana sama aku, Dan?" Zerin kebingungan. Dia berada di posisi sangat panik.


"Cepat sembunyi!" titah Zidan. Dia mengedarkan pandangan ke sudut ruangan. "Masuklah ke bawah ranjang! Di dalam lemari terlalu beresiko!" sambungnya seraya menunjuk ke arah kolong tempat tidur.


Tanpa basa-basi, Zerin langsung menyusup ke kolong tempat tidur. Saking paniknya, dia bahkan tidak sempat memakai dress. Keadaan Zerin masih hanya mengenakan bra dan celana dal-am.


"Zidan! Mamah buka nih pintunya! Kau pikir aku tidak punya kunci cadangan? Emang kamu lagi ngapain di dalam?!" Arni kembali memanggil. Menyebabkan Zerin dan Zidan tambah gelagapan. Mereka seperti penjahat yang sedang dikejar-kejar oleh polisi.


"Bentar, Mah!" pekik Zidan sambil mengenakan kemejanya kembali. Setelahnya, barulah dia membuka pintu. Sayangnya Zidan melewatkan sesuatu untuk diperbaiki. Yaitu noda lipstik Zerin yang ada di mulut serta kemeja.


"Kamu..." Pupil mata Arni membesar, tatkala menyaksikan noda lipstik di sekitar mulut dan kemeja sang putra.


"Apa-apaan itu! Apa kau habis berciuman?!" timpal Arni.


"Apa maksud Mamah?" Zidan yang belum tahu keadaannya, tentu tidak mengerti.


"Itu bibirmu dipenuhi sama lipstik! Bajumu juga!" tukas Arni dalam keadaan mata yang melotot. Tanpa ba-bi-bu, dia menerobos masuk ke kamar Zidan. Mencoba mencari wanita yang telah bersentuhan dengan putranya.


Jantung Zidan berdegub kencang. Dia langsung mencoba menghentikan Arni. Zidan tentu takut ibunya akan mengetahui hubungannya dengan Zerin. Mengingat Zerin merupakan salah satu orang terdekat untuk keluarga Dirgantara.


"Mah! Ini bukan apa-apa. Tadi ada wanita aneh yang tiba-tiba menciumku. Tapi dia sudah pergi." Zidan berusaha mengemukakan alasan.


Arni tak acuh. Dia terlihat membuka lemari terlebih dahulu. Mencari tempat yang kemungkinan jadi persembunyian wanita simpanan sang putra.


"Mah!" Zidan berusaha keras menghentikan.

__ADS_1


Sementara itu, Zerin membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya gemetaran. Dia takut setengah mati.


__ADS_2