Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bonus Chapter - Giana Pelita Dirgantara


__ADS_3

...Sang Perfeksionis...


...༻∅༺...


Sebelas tahun terlewati. Giana yang merupakan anak kedua Zerin dan Zidan, sudah tumbuh dewasa. Dia menjadi gadis berusia 21 tahun yang mandiri dan cantik.


Kini Giana sedang memperhatikan Bi Naura memasukkan pakaian ke dalam koper. Gadis itu memastikan seluruh pakaiannya tersusun rapi.


Giana terbilang sosok gadis yang nyaris sempurna. Cantik jelita dan penuh empati. Namun Giana juga manusia. Dia memiliki kekurangan yang terkadang membuat orang-orang sekitar jengah.


Giana adalah sosok perfeksionis. Dia juga sangat suka mengatur orang lain. Psikolog juga sudah memvonisnya menderita OCPD, atau bisa juga disebut Obsessive Compulsive Personality Disorder. Artinya sendiri adalah gangguan kepribadian yang menyebabkan seseorang memiliki pola pikir perfeksionisme berlebihan, hingga memiliki keinginan untuk mengendalikan semua aspek hidupnya.


"Bi, kau melipat baju yang merah itu kurang rapi. Jadi susunannya tidak bisa merata," ujar Giana sambil menunjuk pakaian yang dia maksud.


"Saya akan melipatnya lagi, Non." Bi Naura sudah terbiasa terhadap sikap perfeksionis Giana.


"Ya ampun, itu sudah rapi banget kok. Dibilang belum rapi," ungkap Defan. Ternyata sedari tadi dia mengamati dari ambang pintu.


"Jangan ikut campur!" tukas Giana sembari mengacungkan jari telunjuk.


Defan mendengus kasar. Sebab dia mendengar Giana akan pindah ke Bali untuk mengurus hotel milik keluarga Dirgantara di sana.


"Na, tega kamu tinggalin aku di sini ya," imbuh Defan seraya mendengus kasar.


Giana tersenyum. "Itu sudah kewajibanmu sebagai pewaris. Kau harus belajar banyak dari Papa," sahutnya.


"Belajar indehoy maksudmu," tanggap Defan. Dia dan Giana sudah biasa menyaksikan kemesraan orang tua mereka. Jujur saja, itu adalah salah satu alasan keduanya memutuskan tinggal di tempat berbeda dari orang tua.

__ADS_1


Defan tinggal di apartemen miliknya. Sedangkan Giana baru saja diperbolehkan pindah dari rumah setelah berhasil menyelesaikan pendidikan kuliah.


Giana terkekeh. Dia berdiri ke hadapan Defan. "Itu juga. Terutama kalau kau menikah nanti," ujarnya.


"Aku sudah berapa kali bilang, aku tidak akan menikah," sahut Defan.


"Kalau begitu, kau tidak bisa jadi pewaris Dirgantara. Aku tidak mau hak itu jatuh kepadaku. Kumohon carilah gadis yang cocok dan menikahlah!"


"Kau sama saja seperti Papa dan Mama," komentar Defan. Dia beranjak dari kamar Giana.


Setelah mempersiapkan segala hal, Giana siap untuk pergi. Dia tak lupa berpamitan dengan Zerin dan Zidan.


"Kau yakin ingin mengelola hotel di Bali? Kita punya banyak perusahaan di sini," kata Zerin.


"Aku ingin melakukan semuanya dengan caraku sendiri, Ma. Aku sama sekali tidak berbakat di bidang bisnis kesehatan. Bisnis perhotelan adalah bakatku," tutur Giana. Dia segera memeluk Zerin. Lalu beralih ke dekapan Zidan.


"Jangan lupa memberi kabar. Kami akan berusaha mendatangimu setiap seminggu sekali," ucap Zidan.


Sesampainya di bandara, Giana berpamitan kepada Defan.


"Berhati-hatilah. Di Bali banyak orang asing," ujar Defan. Dia saling berpelukan dengan Giana.


"Ya iyalah. Namanya juga kota wisata. Semoga cepat ketemu jodoh ya, Kak! Calling aku kalau sudah dapat. Nanti biar bisa belajar sesi indehoy sama Papa," tanggap Giana. Dia mendapatkan geplakan di jidat dari Defan.


"Eh! Mentang-mentang udah gede, makin sering aja bahas indehoy," kata Defan. Dia melepas kepergian Giana. Gadis itu perlahan menghilang ditelan jarak.


Perlu waktu satu jam untuk sampai ke Bali. Kedatangan Giana langsung di sambut oleh Bisma. Lelaki paruh baya yang memegang posisi direktur di hotel Dirgantara. Salah satu hotel bintang lima di Bali. Namun sayangnya hotel tersebut tidak cukup laku dalam beberapa tahun terakhir.

__ADS_1


Bisma tidak sendiri. Dia dan seluruh karyawan hotel berbaris untuk menyambut kedatangan Giana.


"Nona Giana, selamat datang di Bali," sambut Bisma. Dia menyuruh Lukman memakaikan kalung bunga khas Bali.


"Tunggu, apa kalian membuat kalung bunga ini dengan asal? Lihatlah bunganya bau dan tidak beraturan. Warnanya juga tidak berpadu dengan baik," kritik Giana. "Apa kalian menjadikan kalung ini untuk menyambut tamu?" lanjutnya sambil terperangah.


Giana melingus masuk begitu saja ke dalam hotel. Bisma lantas bergegas mengikuti.


"Astaga, pantas saja hotel ini sepi." Giana merasa furniture di hotel tidak cocok dan kotor. "Banyak yang harus kita rubah," cetusnya.


"Nona Giana. Boleh aku bertanya?" Bisma mengangkat satu tangan ke udara.


"Ya?" Giana mengerutkan dahi.


"Apa kau akan menggantikan posisiku di sini?" tanya Bisma.


Giana tersenyum seraya menyentuh pundak Bisma. "Tenang saja Pak Bisma. Aku akan mengambil posisi kepala manager di sini. Kau tetap dengan jabatanmu," ujarnya. Berhasil membuat senyuman mengembang di wajah Bisma. Lelaki tersebut merasa senang.


Tetapi kesenangan Bisma perlahan pudar saat menyadari kehadiran Giana sangat berdampak dengan keadaan hotel. Gadis itu memang memegang posisi di bawah darinya. Namun lebih berkuasa dibanding Bisma. Seluruh karyawan hotel menurut kepadanya.


"Kita harus pastikan seprai kasur diganti setiap tamu pergi. Pokoknya kamar yang ada di hotel ini harus bersih! Kalung bunga juga harus segar dan alami! Kita harus membeli bunga dari kebunnya, atau membuat kebun bunga saja sekalian di sini!" titah Giana kepada para seluruh karyawan hotel. Dia bahkan memeriksa semua kamar hotel. Saat ada debu sedikit saja, maka Giana tidak akan segan mengomel.


Di sisi lain, Bisma baru masuk ke kantornya. Seharian dia merasa stress menghadapi Giana.


Pintu mendadak terbuka. Salah satu karyawan hotel bernama Lukman datang.


"Pak! Nona Giana ingin warna cat di kamar VIP dirubah lagi!" seru Lukman.

__ADS_1


Bisma yang mendengar merasa sangat kesal. Bagaimana tidak? Ini sudah yang kelima kalinya Giana meminta warna cat di kamar VIP dirubah.


Bisma berlari ke balkon. "Aaaaarggghhhh!!!" dia berteriak nyaring karena merasa saking kesalnya.


__ADS_2