
Sebutan kata 'gila' sebenarnya memiliki dua makna. Yaitu bisa berkaitan dengan hal positif dan negatif - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin berhenti mencium Zidan. Mengingat lelaki itu sedang mengemudi. Dia segera berpindah tempat duduk ke kursi yang ada di samping Zidan.
"Satpam itu bodoh. Kalau dia ingin menangkap seseorang, seharusnya dia tidak menyalakan senter," celetuk Zidan seraya tergelak remeh.
"Mungkin dia sedang takut. Waktu sedang tengah malam. Cuaca juga masih hujan. Aku yakin satpam itu sudah sering diganggu hantu. Jadi menyalakan senter seolah seperti pertahanan dirinya," tanggap Zerin.
"Kau percaya hantu?" Zidan menatap Zerin selintas. Lalu fokus mengemudi.
"Kau tidak?" Zerin menyelidik.
"Entahlah. Aku tidak begitu suka berurusan dengan hal seperti itu," jawab Zidan seraya membelokkan mobil ke persimpangan. Dia akan mengantarkan Zerin pulang. Mobilnya berhenti tepat di depan gang.
Zerin terdiam. Atensinya terpaku menatap rumah mewah yang selalu dia akui sebagai rumahnya.
"Kenapa? Masih tidak ingin berpisah denganku? Kalau begitu sebaiknya kita ke hotel saja," tukas Zidan yang melihat Zerin tak kunjung turun dari mobil.
"Kau lihat rumah mewah itu? Aku ingin membelinya dengan uang satu milyar darimu. Tapi sepertinya tidak akan cukup," ujar Zerin. Dia tidak menanggapi penukasan Zidan tadi.
"Kau ingin rumah itu?" Zidan memastikan.
"Ya. Aku selalu bilang kepada semua orang kalau itu rumahku. Jadi aku ingin mewujudkannya." Zerin menatap Zidan sejenak. Lalu kembali menoleh ke arah rumah mewah impiannya.
"Aku akan membelikannya!" cetus Zidan. Membuat mata Zerin membulat sempurna. Perempuan itu menatap Zidan dengan perasaan tak percaya.
"Jangan gila. Aku yakin rumah itu sangat mahal! Lagi pula kita masih berpacaran. Aku--"
"Apa kau lupa? Kalau aku akan mengangkat derajat keluargamu? Aku bersungguh-sungguh dengan perkataanku!" potong Zidan dengan raut wajah serius.
"Zidan... Kau yakin?" Zerin meragu.
"Tentu saja aku yakin! Aku tidak pernah ragu dengan keputusanku, Rin. Apalagi berkaitan denganmu," tutur Zidan seraya menatap lekat.
"Terima kasih!" Zerin sangat senang. Dia langsung memeluk Zidan. Lalu menghamburkan ciuman ke wajah lelaki tersebut.
"Tapi pertama-tama, aku ingin ibumu berhenti bekerja sebagai pembantu. Katakan kepadaku apa keahlian yang dia miliki," imbuh Zidan.
__ADS_1
"Dia hebat memasak dan juga membuat kue. Ibuku juga pandai menjahit. Meski dia akhir-akhir ini sudah jarang melakukannya," jawab Zerin.
"Oke, aku akan mengingatnya." Zidan tersenyum lembut. Dia dan Zerin berciuman bibir dalam sesaat.
"Sikapmu ternyata sangat berubah saat jatuh cinta. Aku sangat menyukai Zidan yang sekarang," komentar Zerin sembari memegangi wajah Zidan. Kemudian mencubit pipi lelaki itu.
"Aku juga suka Zerin yang sekarang," sahut Zidan. Dia balas memberikan cubitan ke hidung Zerin. Keduanya tergelak bersama.
"Aku pikir sudah saatnya kita mengungkap hubungan ini. Apa yang kau lakukan untukku di kampus sudah lebih dari cukup," ungkap Zerin. Matanya memancarkan binaran kagum.
"Aku juga berpikir begitu." Zidan setuju. Dia dan Zerin sudah berada ditahap percintaan yang mandalam.
Zerin segera pulang. Dia tidak ragu lagi berjalan di bawah hujan. Terlebih keadaan hujan sudah mulai mereda.
...***...
Karena sudah sepakat go publik, Zerin memberitahukan kepada semua temannya kalau dia sudah berpacaran dengan Zidan. Astrid dan kawan-kawan merasa ikut senang.
"Traktiran besar-besaran Zidan kemarin memang sangat berkesan. Aku kalau jadi Zerin juga pasti akan langsung menerimanya untuk jadi pacar," kata Gita.
"Aku juga. Zidan sweet banget. Dia kayaknya memang berniat begini sejak awal. Tapi karena Ernest, jadi Zidan baru bisa beraksi sekarang," tanggap Astrid.
"Terima kasih, Nar." Zerin tersenyum dan mengangguk. Dia, Gita, dan Astrid memang mengira Kinar sudah tidak menyukai Zidan lagi.
Kala itu Zerin dan kawan-kawan sedang ada di kelas. Mereka lanjut mengobrol sampai Zidan muncul dari pintu. Kedatangan lelaki tersebut langsung menjadi pusat perhatian.
"Aku boleh bergabung?" tanya Zidan sembari menarik kursi ke dekat Zerin.
"Boleh dong. Masa kami melarang," jawab Astrid.
Zidan lantas duduk ke sebelah Zerin. Kemudian ikut berbaur bersama teman-temannya Zerin.
"Tadi pagi sudah sarapan kan?" merasa telah puas mengakrabkan diri dengan Astrid dan kawan-kawan, Zidan memfokuskan atensinya kepada Zerin. Jari-jemari Zidan mengaitkan rambut sang kekasih ke daun telinga. Ia melayangkan tatapan cinta secara blak-blakkan.
Jantung Zerin tidak berhenti berdetak bagai gendang yang ditabuh. Dia membalas tatapan lekat Zidan. "Kali ini sudah," jawabnya.
"Bagus." Zidan tersenyum.
Menyaksikan Zerin dan Zidan tampak menikmati waktu berduaan, Astrid dan kawan-kawan menjauh. Mereka sengaja memberikan ruang untuk dua sejoli tersebut.
__ADS_1
"Kau tahu apa yang terlintas dalam benakku tentangmu?" tukas Zerin.
"Apa?" Zidan bertanya sambil menopang kepala dengan satu tangan.
"Kau gila! Apa yang sudah kau lakukan kepadaku itu gila." Zerin berucap dengan nada pelan namun penuh penekanan. Dia melipat tangan di atas meja. Lalu mendekatkan diri ke hadapan Zidan.
"Ya, itu mengartikan kalau apa yang kulakukan adalah hal luar biasa. Maksudmu begitu bukan?" Zidan duduk tegak. Menarik sudut bibirnya ke atas. Hingga senyuman arogan Zidan terpancar di wajah tampannya.
"Entahlah. Tapi aku senang kita tidak sembunyi-sembunyi lagi." Zerin menopang dagu dengan satu tangan. Wajahnya dan Zidan begitu dekat. Hanya berhelatkan beberapa senti. Membuat orang-orang di sekitar, merasa gugup saat melihat mereka.
"Aku sangat ingin menciummu sekarang..." ujar Zidan dengan nada pelan.
"Bisakah kau sesekali menahan gairah gilamu itu?" balas Zerin. Ikut berbicara pelan.
"Kali ini bukan gairah. Tapi cinta," ungkap Zidan. Semakin mendekatkan wajahnya ke hadapan Zerin.
"Yang benar? Cinta?" Zerin memajukan bibir bawahnya. Dia seolah tidak mempercayai ucapan Zidan.
"Iya, cinta!" Zidan menarik tangan Zerin. Hingga perempuan itu menjadi lebih dekat. Tinggal sedikit lagi bibir Zidan dan Zerin bersentuhan.
Orang-orang yang ada di kelas semakin gugup melihatnya. Meskipun begitu, mereka tidak bisa melepas perhatian dari Zerin dan Zidan.
"Zidan!" Zerin memperingatkan. Dia bahkan sengaja mengatup mulutnya rapat-rapat.
Zidan tersenyum lebar. Sampai menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. Dia kian mendekat ke hadapan Zerin. Bibir Zidan nyaris menyentuh bibir Zerin!
Semua orang di sekitar heboh. Ada yang reflek berteriak, membekap mulut sendiri, bahkan membuang muka. Sesuatu seperti ciuman bibir di depan umum tentu bukanlah budaya yang wajar untuk mereka.
Zerin tidak tahu apa yang merasukinya. Tetapi dia hanya bisa memejamkan mata.
Zidan yang hampir membuat bibirnya bersentuhan dengan mulut Zerin, segera merubah haluan. Dia tidak memberikan ciuman ke bibir. Melainkan ke pipi.
"Zidan!" teman barunya Zidan yang bernama Hendrik tiba-tiba memanggil. Zidan otomatis langsung berdiri.
"Pak Wawan sudah mau masuk kelas!" ujar Umay memberitahu. Saat itulah Zerin membuka matanya. Dia mendengus lega.
"Aku pergi dulu," kata Zidan. Tanpa diduga, dia melayangkan kecupan singkat ke bibir Zerin. Hal tersebut membuat jantung Zerin seolah seperti akan meledak. Gila! Zidan benar-benar gila! Perkataan itu terus terulang dalam benak Zerin.
Orang-orang yang melihat sangat kaget. Walaupun begitu, mereka hanya bisa melayangkan tatapan tak percaya ke arah Zidan.
__ADS_1