Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bonus Chapter - Defan Pratama Dirgantara


__ADS_3

...Ketos Yang Kejam...


...༻∅༺...


Sepuluh tahun berlalu. Defan sudah menjadi remaja yang berusia 17 tahun. Sedangkan Giana telah tumbuh menjadi anak berumur 10 tahun.


Waktu menunjukkan jam sepuluh malam. Giana sudah tertidur. Namun tidak untuk Defan. Lelaki itu sedang belajar. Defan telah menghabiskan waktu untuk belajar tiga jam lebih. Itu pun belum dihitung dengan kegiatan belajarnya di sekolah dan tempat les.


Defan mendadak merasa haus. Dia segera beranjak keluar kamar. Langkahnya terhenti tatkala mendengar suara orang berciuman.


Setelah menoleh ke sumber suara, Defan dapat melihat Zerin dan Zidan asyik berciuman di depan pintu kamar. Pasutri itu masih mengenakan pakaian kerja. Jelas mereka baru saja pulang bekerja.


"Pa, Ma! Aku di sini." Defan angkat suara. Membuat Zerin dan Zidan harus menghentikan ciuman mereka.


Defan sudah biasa menyaksikan aksi percumbuan kedua orang tuanya. Karena sejak berusia 12 tahun, Zerin dan Zidan sudah mengajarkan Defan mengenai pendidikan sek-s. Akan tetapi akibat pendidikan yang mereka berikan, Defan merasa enggan untuk berhubungan dengan gadis mana pun.


"Kau belum tidur?" tanya Zidan.


"Tidurlah, Defan..." saran Zerin pelan.


"Aku sedang belajar. Sebentar lagi pasti selesai," sahut Defan sembari berjalan menuruni tangga.


"Belum selesai juga? Defan, aku dan Papamu tidak pernah memaksamu untuk belajar terlalu giat. Kau bahkan sampai lupa waktu," kata Zerin. Dia tentu khawatir melihat kerajinan Defan yang berlebihan. Putranya itu bahkan nyaris tidak memiliki teman di sekolah. Setahu Zerin, teman akrab Defan hanya dua. Itu pun adalah teman SMP Defan dulu. Yaitu Disha dan Dimas. Tiga sahabat dengan nama berawalan D tersebut menyebut geng mereka sebagai 3D.

__ADS_1


"Aku tahu. Aku belajar dengan giat atas kemauanku sendiri. Itu lebih baik dari pada melakukan pergaulan bebas bukan?" sahut Defan. Ucapannya berhasil membuat Zerin tertohok.


"Sudahlah. Harusnya kau senang melihat Defan giat belajar. Dia juga anak yang baik di sekolah," ucap Zidan.


"Tapi kudengar dia tidak punya teman di sekolah. Guru BK di sekolahnya memberitahuku."


"Defan baru saja diangkat jadi ketua osis. Aku yakin dia segera punya teman yang banyak," tutur Zidan. Pembicaraannya dan Zerin berakhir.


Setelah meminum air putih dingin, Defan kembali ke kamar. Dia berhenti di depan pintu kamar karena mendengar suara erangan sahut-menyahut dari kamar Zerin dan Zidan.


Defan memasang tatapan malas. Dia yakin, yang berulah pasti Papa dan Mamanya sendiri.


"Pasangan hyper," gumam Defan dengan nada datar. Suara orang bercinta sudah hal biasa didengar Defan. Sungguh, dia muak karena harus mendengarnya hampir setiap hari. Oleh sebab itu, Defan sama sekali tidak berminat menjalin hubungan asmara dengan siapapun. Dia berniat ingin hidup sendiri saja selamanya. Entah kenapa dia merasa berhubungan intim itu adalah sesuatu yang menjijikan.


"Aku heran kenapa orang yang bercinta tidak merasa malu? Mereka harus melepas seluruh pakaian bukan? Bukankah itu hal memalukan dan menjijikan?" gumam Defan sambil bergidik ngeri. "Aku tidak akan pernah melakukan hal itu. Kau dengan dirimu sendiri adalah yang terbaik, Defan!" lanjutnya. Memuji diri sendiri.


Satu malam berlalu. Defan ke sekolah seperti biasa. Dia tentu sangat populer di sekolah. Terlebih dirinya baru saja terpilih menjadi ketua osis.


Siapa yang tidak suka Defan? Dia berwajah rupawan, berbadan atletis, dan berkulit putih bersih. Selain itu, Defan memiliki segudang prestasi. Lelaki tersebut jelas sangat digilai kaum hawa. Defan tambah mempesona karena sifat dingin dan cueknya. Tidak ada satu pun gadis yang berhasil mendekatinya. Sudah banyak korban yang harus menerima penolakan cinta dari Defan.


Kini Defan baru keluar dari kelas. Bel istirahat baru berbunyi. Tidak seperti siswa lain yang kebanyakan memilih ke kantin, Defan lebih suka mendatangi perpustakaan.


Defan selalu melangkah dengan percaya diri sendirian. Selain perempuan, tidak banyak juga lelaki yang bisa dekat dan menjadi temannya. Defan tipe orang yang sulit diakrabi. Memang teman terdekatnya hanyalah Disha dan Dimas. Kebetulan mereka bersekolah di tempat berbeda.

__ADS_1


"Defan!" seorang gadis tiba-tiba memanggil.


Defan lantas berhenti melangkah dan menoleh ke belakang. Seorang gadis cantik bernama Zoya menghampiri. Dia merupakan salah satu siswi terpopuler di sekolah. Zoya terlihat memegang kotak hadiah berwarna pink. Kebetulan hari itu adalah tanggal 14 Februari. Hari yang sering disebut sebagai valentine day.


"Ini untukmu. Aku membuatnya sendiri," ujar Zoya seraya menyodorkan hadiahnya kepada Defan. Sekarang interaksi keduanya sedang menjadi bahan tontonan banyak orang. Siapa yang tidak tertarik melihat dua orang populer tengah bicara?


"Aku bertaruh, Defan kali ini pasti luluh. Zoya kan cewek paling cantik di sekolah."


"Parah sih kalau dia tolak."


"Defan nggak normal kalau menolak cewek kayak Zoya!"


Beberapa siswa yang melihat, saling berbisik. Bahkan beberapa dari mereka ada yang melakukan taruhan.


"Terima kasih." Defan mengambil hadiah yang diberikan Zoya. Gadis itu membulatkan mata karena merasa senang. Senyuman lebar Zoya terukir di wajah.


Namun senyuman Zoya langsung pudar saat melihat Defan membuang hadiahnya ke bak sampah. Lelaki itu melakukannya dengan santai. Dia lantas berlalu sambil memasukkan dua tangan ke saku celana. Seolah apa yang dilakukannya adalah hal biasa. Zoya yang merasa sangat malu langsung berlari masuk ke toilet dan menangis.


"Defan gila!"


"Dia nggak normal."


"Bayar seratus ribu. Kau kalah taruhan."

__ADS_1


Semua siswa-siswi yang menonton memberikan reaksi.


__ADS_2