
Harta, tahta, dan wanita. Sangat mengganggu, tetapi juga memuaskan - Auraliv.
...༻∅༺...
"Sebaiknya kedatanganku ke sini tidak diketahui siapapun," imbuh Zerin. Dia dan Zidan baru saja sampai ke kediaman keluarga Dirgantara.
"Aku juga berpikir begitu. Tunggulah! Aku akan melihat keadaan di rumah. Kalau aman, aku akan segera menelepon dan menunggumu di depan pintu." Zidan keluar lebih dulu dari mobil.
Zerin mengangguk. Dia akan tetap di mobil sampai mendapat pemberitahuan dari Zidan.
Beberapa menit kemudian, Zidan menelpon Zerin. Dia menyuruh perempuan itu untuk masuk ke rumah. Zidan mengatakan kalau tidak ada orang di rumah. Terutama di jalan menuju kamarnya sendiri.
Zerin lantas turun dari mobil. Dia mengedarkan pandangan saat melewati pintu. Tetapi Zidan tidak terlihat sama sekali.
"Boo!" sepasang tangan dari arah belakang tiba-tiba menyentuh. Membuat Zerin tersentak kaget. Untung saja dia tidak berteriak dan menimbulkan keributan.
Zerin langsung berbalik menghadap pelaku yang sudah mengerjainya. Siapa lagi kalau bukan Zidan. Lelaki tersebut cekikikan menyaksikan Zerin terkejut sampai berjengit.
"Zidan!!!" geram Zerin sembari mengepalkan tinju di kedua tangan. Dia menggetok kepala Zidan karena merasa kesal. Akan tetapi lelaki itu masih saja tertawa. Sampai menampakkan gigi-giginya yang rapi.
Zerin mendengus sebal. Tetapi itu tidak berlangsung lama. Sebab Zidan segera menarik tangannya. Mengajak untuk pergi ke kamar. Tepatnya ke ruang gelap yang ada di balik lemari.
Ketika sudah masuk ke kamar, Zidan tidak lupa untuk mengunci pintu. Sedangkan Zerin tampak mendorong lemari. Hingga tirai yang menjadi tempat masuk ruang gelap terpampang nyata.
Zerin masuk lebih dulu ke ruang gelap. Ruangan dengan penerang cahaya merah langsung menyambut. Pusat perhatiannya tertuju ke arah foto-foto yang tergantung di tali.
Ilustrasi ruang gelap khusus untuk foto :
Zidan melingus melewati Zerin. Dia membawa sebuah kardus. Lalu mengambil foto-foto yang tergantung. Zidan menaruh semua foto tersebut ke dalam kardus.
Zerin memperhatikan Zidan dalam diam. Dia sebenarnya penasaran dengan apa yang dilakukan sang kekasih selanjutnya.
"Kau mau apakan semua foto itu?" tanya Zerin.
"Tentu saja membakarnya!" jawab Zidan gamblang. "Harusnya aku melakukannya sebelum kau memperingatkan," tambahnya yang terlihat masih sibuk memasukkan foto ke kardus.
__ADS_1
"Kau yakin ingin membakarnya? Aku yakin jerih payahmu untuk mengambil foto itu butuh perjuangan besar," tanggap Zerin. Dia turun tangan untuk membantu Zidan memasukkan foto ke kardus.
"Itu pasti. Aku bahkan pernah hampir dibunuh oleh suami dari salah satu wanita yang kuambil fotonya." Zidan bercerita. Dia dan Zerin baru saja selesai memasukkan semua foto ke dalam kardus.
Zidan menyisakan satu foto untuk di ambil. Foto itu sekarang dipegang olehnya.
"Apa di sini ada foto wanita yang pertama kali bercinta denganmu?" Zerin bertanya sambil mengamati foto-foto yang telah ada di dalam kardus. "Sebenarnya aku merasa tidak adil. Kau menjadi orang yang pertama bercinta denganku. Sedangkan kau tidak," sambungnya.
Mendengar Zerin berucap begitu, Zidan menghampiri. Dia memutar tubuh Zerin menghadap ke arahnya.
"Kau memang bukan yang pertama. Kalau boleh jujur, pengalaman pertamaku sama sekali tidak berkesan. Tapi saat bersamamu, aku merasa berbeda. Aku pastikan kau menjadi yang terakhir untukku." Zidan memperlihatkan foto yang dipegangnya. Foto tersebut tidak lain adalah foto Zerin.
Senyuman mengembang di wajah Zerin. Dia mengambil foto yang diperlihatkan Zidan.
"Kau tidak tahu betapa kesalnya aku ketika kau mengambil foto tanpa sepengetahuanku. Saat itu rasanya aku ingin membunuhmu!" tukas Zerin. Namun malah direspon Zidan dengan tawa kecil.
"Sorry, tapi kau satu-satunya perempuan yang aku foto lebih dari satu kali." Zidan menjawab dengan nada menyebalkan. Ia juga memasukkan dua tangan ke saku celana. Berlagak keren seperti biasa.
Mulut Zerin menganga lebar. "Aku bingung harus merasa ngeri atau teharu. Tapi aku ingin tahu alasanya apa?" tanya-nya.
Tawa menyebalkan Zidan berubah menjadi serius. Dia menatap dalam manik hitam Zerin. Meski keadaan ruang hanya bersinarkan cahaya remang merah, baginya kecantikan Zerin tetaplah menonjol.
Zidan menghentikan ciumannya dan berkata, "Sepertinya aku harus mengurus foto-foto ini terlebih dahulu. Tunggulah di sini."
Zerin mengangguk. Dia membiarkan Zidan pergi. Lalu berlari ke depan jendela. Di sana Zerin dapat menyaksikan Zidan membakar kardus berisi foto-fotonya.
Senyuman tipis terpatri di wajah Zerin. Dia memperhatikan Zidan sambil menopang dagu dengan satu tangan.
Setelah memastikan semua foto terbakar, Zidan kembali ke kamar. Zerin langsung menyambut dengan ciuman. Perempuan tersebut seolah melanjutkan sesi ciuman yang dirasa belum selesai. Sambil berjalan ke arah ranjang Zerin dan Zidan terus berciuman.
Tanpa diduga, ponsel Zerin berdering. Ia awalnya mengabaikan panggilan tersebut dan memilih menikmati ciuman Zidan. Tetapi karena ponsel terus berbunyi, Zerin terpaksa menghentikan kegiatannya sebentar.
Zerin menerima panggilan telepon dari Amira. Dia menghela nafas saat mengetahuinya. Kemudian langsung mengangkat telepon.
Amira tentu menanyakan keberadaan Zerin. Mengingat hari sudah larut malam. Zerin lagi-lagi lupa waktu.
"Katakan pada ibu kalau aku akan segera pulang. Aku sedang dalam perjalanan sekarang!" ujar Zerin. Amira lantas mematikan telepon.
__ADS_1
"Kau akan pulang?" tanya Zidan dengan raut wajah kecewa.
"Ya. Aku sudah berjanji pada ibuku untuk tidak pulang larut malam lagi. Kebetulan juga hari ini aku lupa meminta izin kepadanya," sahut Zerin.
"Aku akan mengantarmu," kata Zidan sembari mengambil kunci mobil dari atas nakas.
"Sebaiknya jangan! Amira ada di rumah. Nanti dia curiga dengan hubungan kita." Zerin menolak baik-baik. Ia sudah menyandang tas ke bahu. Akan tetapi Zidan mencegat kepergiannya.
"Hubungan kita sudah berubah sekarang. Aku ingin semua orang tahu kalau kau adalah milikku, dan aku milikmu!" ucap Zidan serius.
Zerin tertegun. Jantungnya semakin berdebar ketika mendengar Zidan bicara begitu. Namun kepala Zerin tertunduk saat terpikirkan sesuatu.
"Tapi... Kalau orang-orang tahu, maka mereka juga akan tahu kalau aku orang miskin. Kau pasti lupa rahasiaku yang satu itu?" ungkap Zerin. Dia merasa bahagia sekaligus cemas.
"Tentu saja tidak. Aku sudah punya rencana," tanggap Zidan santai.
"Rencana? Apa lagi kali ini?" Zerin menuntut jawaban. Kelopak matanya melebar.
"Pertama-tama, aku akan memberitahu hubungan kita pada keluargaku." Zidan tersenyum lebar. Dia mengusap lembut puncak kepala Zerin. Kemudian mengecup kening kekasihnya tersebut. "Setelah itu, barulah aku akan mengangkat derajat keluargamu," tambahnya.
"De-derajat keluargaku? Maksudmu?" Zerin mengerutkan dahi. Dia tak mengerti.
"Maksudku, aku akan membuat kebohonganmu menjadi nyata," terang Zidan. Mengangkat dua alisnya bersamaan.
Pupil mata Zerin membesar. Mulutnya juga sedikit menganga. Kini dia mengerti apa yang dimaksud Zidan. Meskipun begitu, dia masih merasa belum yakin.
"Maksudnya kau ingin membuat keluargaku menjadi kaya?" Zerin memastikan.
..._____...
Sayembara Author :
Aku berniat kasih hadiah transfer uang, pulsa, atau shopepay (sesuai keinginan pemenang) buat pembaca pertama yang bisa mencapai fans diamond, gold, dan silver. Dengan catatan pembaca tersebut selalu like dan komen di setiap update terbaru author.
Fans Diamond : 200.000
Fans Gold : 100.000
__ADS_1
Fans Silver : 50.000
Ingat ya! Ini khusus buat pembaca pertama yang bisa mencapai target. Pengumuman akan langsung dikeluarkan saat pemenang sudah ada. Terima kasih... Kalau misalnya gak ada yang mencapainya, ya hadiahnya author yang pakai... Hehehe. Author cuman pengen bagi-bagi rezeki atas hasil menulis di sini✌️