
Cinta memang sulit di akui. Apalagi dijelaskan - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin tiba di kediaman Zidan. Dia selalu lewat pintu belakang seperti biasanya. Di sana Zerin langsung bertemu ibunya dan Arni.
Lia langsung cemberut. Dia segera mengajak Zerin untuk bicara empat mata sebentar. Sepertinya wanita paru baya itu hendak membicarakan kebiasaan Zerin yang pulang larut malam.
"Dari kemarin ya. Baru sore sekarang aku bisa lihat kamu! Rin, kamu itu perempuan. Jangan terlalu sering kelayapan sampai larut malam. Apa sesulit itu mengerjakan tugas kuliah? Kan bisa dikerjakan di rumah juga. Kamu juga punya laptop sendiri," omel Lia dengan dahi yang berkerut dalam.
"Maaf, Bu. Tapi aku usahakan lain kali nggak akan terulang lagi." Zerin menundukkan kepala. Ia tentu merasa bersalah kepada sang ibu. Sudah berbohong, dia juga berbuat seenaknya dengan cara pergi semalaman tanpa kabar.
"Makanya Ibu beli handphone dong. Biar aku dan Amira bisa kasih kabar kalau apa-apa. Nanti aku belikan ya." Zerin memegang lembut salah satu tangan Lia. Namun ibunya itu langsung melepaskan pegangan sang anak.
"Nah! Ini satu yang aku juga nggak suka. Jangan pakai uang beasiswamu sembarangan. Lagian Ibu juga sudah terbiasa hidup tanpa ponsel. Sudah! Mending kamu fokus sama kuliahmu saja. Nanti kalau ada rezeki lebih, Ibu pasti beli ponsel sendiri." Lia beranjak lebih dulu.
Zerin yang ditinggal mendengus kasar. Ia segera membantu Lia bekerja di dapur. Selain memiliki otak pintar, Zerin juga ahli memasak.
Setengah jam terlewat. Cuaca di luar sedang hujan deras. Zerin sekarang sibuk menggoreng pisang, tahu dan tempe. Semuanya tentu dia lakukan berdasarkan suruhan Arni dan Lia.
Zidan terlihat muncul menuruni tangga. Dia berjalan sambil menenteng sebuah buku. Zidan menoleh ke dapur sejenak. Saat itulah dia bertukar pandang dengan Zerin. Namun tidak berlangsung lama. Karena Zidan membuang muka lebih dulu dan melangkah maju menuju kolam renang.
"Zidan!" panggil Arni. Membuat Zerin sedikit kaget.
"Kenapa, Mah?" Zidan lantas kembali. Kepalanya terlihat muncul dari balik pintu. Lelaki tersebut terlalu malas berjalan ke dapur.
"Kamu mau gorengan?" tawar Arni.
Zidan terdiam. Bola matanya beralih memperhatikan Zerin yang tampak sibuk membuat gorengan. Dia lantas mengiyakan tawaran sang ibu. Lalu akan menunggu hidangannya di pavilion dekat kolam renang.
Di waktu yang sama, Zerin baru saja selesai membuat gorengan. Dia langsung disuruh Arni untuk membawakan gorengan dan minuman hangat untuk putra kesayangannya.
Zerin tentu tidak bisa menolak. Dia segera membawa gorengan beserta minuman yang diletakkan di atas nampan. Zerin melangkah pelan hingga tiba di hadapan Zidan. Ia memindahkan hidangan untuk Zidan ke meja. Lalu berdiri mematung sambil memeluk nampan.
__ADS_1
Sadar Zerin belum pergi, Zidan berhenti membaca buku. Dia mendongak dan menatap perempuan di hadapannya.
"Ingin mengatakan sesuatu?" tanya Zidan.
"Ya. Ini terkait apa yang kau lakukan untukku. Maksudku tentang rahasia terbesarku," ungkap Zerin. Nada bicaranya lebih rendah dari biasanya. Seolah dia sedang bersikap sopan.
"Ah... Itu..." Zidan menenggak salivanya sendiri. Jujur saja, dia bahkan tidak tahu alasannya. Meskipun begitu, Zidan berusaha keras menemukan alasan yang tepat. Sampai sesuatu akhirnya terlintas dalam benaknya.
"Aku hanya tidak suka melihatmu cengeng." Zidan menjawab dengan singkat. Dia berdehem, lalu kembali membaca buku. Duduk sambil menyilangkan kaki dengan santai.
"Hah?" Zerin tentu bingung. Keningnya mengernyit.
Zidan berusaha bersikap santai dan mengabaikan kebingungan Zerin. Ia segera mengambil pisang goreng dan memakannya. Entah kenapa dia mendadak tidak terpikirkan alasan apapun. Segalanya terasa tidak logis bagi Zidan.
"Pergilah! Aku ingin sendiri," ujar Zidan. Dia memilih mengusir Zerin.
Zerin tertegun sejenak. Kemudian beranjak dengan hembusan nafas berat. Tetapi langkahnya harus terhenti saat tiba-tiba mendengar Zidan memanggil.
"Kenapa? Tadi katanya mau aku pergi?" timpal Zerin.
Zerin berdecak kesal. Dia lantas mengambil teh milik Zidan. Kemudian membawanya ke dapur. Di sana Zerin melihat Lia dan Arni masih sibuk membuat kue. Katanya mereka akan memberikan kue tersebut kepada anak-anak panti asuhan. Tidak heran kue yang dibuat tidaklah sedikit.
"Tinggal berapa kue lagi, Bu?" tanya Zerin dengan nada pelan. Kebetulan Arni sedang pergi ke toilet sebentar. Namun ibunya Zidan tersebut pergi cukup lama meninggalkan dapur.
"Dua lagi," jawab Lia sembari mengacungkan dua jarinya.
"Kenapa Nyonya Arni nggak pesan di luar saja? Kan tinggal pesan doang. Ini malah memilih repot-repot bikin kue sendiri," komentar Zerin. Dia langsung mendapat tatapan malas dari sang ibu.
"Kamu kan tahu sendiri hati Nyonya Arni bagaimana. Dia kalau disuruh mengurus sawah, pasti akan turun ke tanah berlumpur sendiri," tanggap Lia. Dia sangat mengenal Arni bak seorang sahabat. Walau Arni adalah majikannya, tetapi Lia selalu mendapat perlakuan baik.
"Apa maksudnya coba. Kalau mau bilang Nyonya Arni baik, ya tinggal langsung katakan saja, Bu. Nggak usah pakai kalimat berbelit-belit," pungkas Zerin seraya sedikit memanyunkan bibirnya.
"Iya, iya. Aku tahu kalau kau calon dokter. Sampai berlagak sok pintar depan ibunya sendiri," sahut Lia sinis.
__ADS_1
"Ish! Ibu kenapa malah ngomong gitu?" protes Zerin yang merasa tidak enak. Lia lantas terkekeh sambil mengusap puncak kepalanya.
"Ibu tuh cuman gemas sama putriku yang cantik dan pintar ini." Lia menunjukkan kasih sayangnya. Dia mencubit hidung mancung Zerin dengan gelak kecil. "Makanya aku selalu cemas kalau kamu pulang larut malam," tambahnya.
Zerin memutar bola mata malas. "Ya ampun, bahas itu lagi coba," imbuhnya. Dia cukup lama mengobrol bersama Lia. Zerin melakukannya sambil membuat kue. Sampai Arni akhirnya kembali dari toilet.
Tanpa sadar, Zerin lupa untuk membuatkan Zidan kopi. Dia baru teringat saat sempat bicara lima menit bersama Arni.
"Eh, aku lupa bikinin Zidan kopi!" Zerin menepuk jidatnya sendiri.
Bersamaan dengan itu, Lia menyenggol Zerin dengan siku. Matanya mendelik dan berucap, "Maksudnya Tuan Zidan kan?"
"I-iya. Tuan Zidan maksudnya." Zerin hampir saja kelupaan dengan posisinya saat di rumah keluarga Dirgantara. Dia sudah terlalu terbiasa bicara kepada Zidan dengan cara informal.
"Ya ampun, Rin. Nggak apa-apa juga kalau nggak panggil tuan. Lagian kau dan Zidan kan seumuran," cetus Arni sembari terkekeh.
"Iya, Nyonya," sahut Zerin. Dia bergegas membawakan kopi untuk Zidan.
Ketika tiba di pavilion dekat kolam renang, Zidan sudah tidak ada. Hanya ada piring yang berisi beberapa gorengan.
Zerin menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba mencari Zidan. Memindai penglihatan ke sekitar. Namun lelaki itu tetap tidak ada.
Langkah Zerin akhirnya ditujukan ke kamar Zidan. Dia merasa bersalah karena sudah lupa membuatkan kopi. Mengingat gorengan yang ditinggalkan Zidan masih banyak tersisa.
Zerin mengetuk pintu. Saat Zidan mengizinkan masuk, dia segera membuka pintu.
Zidan tampak duduk di tepi ranjang. Dia memainkan musik dengan volume pelan, sambil memegangi sebuah kamera digital.
"Maaf terlambat. Aku tadi sempat lupa karena harus bantu Ibuku membuat kue," ucap Zerin. Dia meletakkan kopi ke atas nakas.
Zidan membisu. Dia menatap Zerin dengan serius. Seakan mempunyai koneksi yang kuat, Zerin membalas tatapan Zidan.
Zidan menarik sudut bibirnya ke atas. Dia langsung berdiri dan menutup pintu yang masih terbuka. Lelaki itu juga tidak lupa untuk menguncinya.
__ADS_1
Zerin membeku. Jantungnya berdetak kencang. Apalagi ketika Zidan berjalan dengan wajah serius ke arahnya. Kemudian langsung memagut bibir Zerin.