Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 72 - Masa Koas


__ADS_3

Kesibukan tidak akan menjadi penghambat cinta - Auraliv.


...༻∅༺...


Sekarang Zidan sedang berada di balkon. Menunggu Zerin yang masih belum selesai dirias. Dia tampak asyik menyesap sebatang rokok.


Wira datang menghampiri. Dia mengambil rokok yang ada di tangan Zidan. Lalu mematikannya.


"Kau sebentar lagi akan berkeluarga. Hentikan kebiasaan tidak baik ini!" ujar Wira.


Zidan memutar bola mata malas sambil memasukkan dua tangan ke saku celana. Hening menyelimuti dalam beberapa saat.


"Pah, sebentar lagi aku akan jadi dokter koas. Aku butuh bantuanmu agar bisa ditugaskan di rumah sakit yang sama dengan Zerin," ungkap Zidan.


"Kau itu posesif atau berusaha mencari kesempatan?" tanggap Wira.


"Keduanya. Aku harus menjaga istriku dengan baik bukan?" Zidan mengangkat kedua bahunya bersamaan.


"Ya, jagalah dia dengan baik. Kalian juga tidak usah cepat-cepat punya anak. Selesaikan kuliah dahulu. Nanti repot." Wira merangkul Zidan. Pembicaraan ayah dan anak itu berakhir.


Pernikahan Zerin dan Zidan berlangsung lancar. Hanya dalam hitungan waktu, keduanya telah resmi menjadi suami istri. Baik secara agama maupun negara.


Keluarga dan kerabat dekat datang silih berganti. Mereka bersalaman serta mengambil foto bersama pasangan pengantin secara bergantian.


Acara pernikahan berakhir saat jam tiga sore. Kini yang tertinggal hanya rasa lelah. Setelah berganti pakaian, Zerin dan Zidan langsung tumbang ke ranjang. Mereka sedang berada di kamar VIP yang khusus disiapkan pihak hotel.


"Capek banget. Seluruh tubuhku rasanya pegal semua," keluh Zerin sembari menghela nafas panjang.


"Kau pikir aku tidak?" sahut Zidan.


"Kita nggak bisa malam pertama dulu ya. Aku pengen langsung tidur." Zerin memeluk Zidan dari samping.


"Iya. Kita tidur saja. Lagian kita sudah sering juga begituan." Zidan meletakkan satu tangan ke atas jidat.


Zerin sigap memukul dada Zidan. "Biar sering, malam pertama ya malam pertama. Kan beda!" tegasnya.


"Sama saja..." lirih Zidan yang sudah kelelahan. Selang sekian menit, dia dan Zerin perlahan tertidur.


Waktu menunjukkan jam delapan pagi, Zidan menjadi orang yang pertama kali bangun. Dia berbalik menghadap Zerin. Memandangi perempuan yang telah menjadi istrinya tersebut.

__ADS_1


Zidan segera duduk ketika mengingat kalau hari ini adalah akan diumumkan pembagian tugas dokter koas. Dia memeriksa website kampus. Memastikan di rumah sakit mana dirinya dan Zerin ditugaskan.


"Papah pasti membantuku kan?" gumam Zidan. Dia sibuk berkutat dengan layar ponsel. Pupil matanya membesar saat melihat dirinya dan Zerin ditugaskan di rumah sakit yang sama.


Zidan menoleh ke arah Zerin yang masih asyik terlelap. Dia segera mendekat. Perlahan Zidan meniup wajah Zerin. Sampai anak-anak rambut perempuan itu menyisih ke pinggir. Menampakkan wajah cantik Zerin tanpa make up.


Zidan meniupi Zerin berulang kali. Ulahnya berhasil membangunkan Zerin dari tidur.


Zerin hampir membuka mata, tetapi urung dilakukan karena dia ingin mengerjai Zidan. Alhasil dia kembali memejamkan mata rapat-rapat.


Sayangnya, Zidan sempat melihat mata Zerin sempat terbuka. Tanpa pikir panjang, dia langsung menggelitiki perut Zerin.


Gelak tawa Zerin memecah kesunyian. Dia tidak bisa menahan geli.


Zidan ikut tergelak. Dia berhenti menggelitiki dan segera memeluk Zerin.


"Mau mandi bareng?" tawar Zidan.


Zerin terkekeh. "Mau... Tapi tunggu dulu," ucapnya sembari melepas pelukan Zidan. Dia mengambil ponsel karena baru teringat kalau hari ini adalah pengumuman pembagian tugas dokter koas.


"Kau dan aku satu rumah sakit," ucap Zidan.


"Benarkah?" kelopak mata Zerin melebar.


"Kau benar! Kita satu rumah sakit! Ini rumah sakitnya bagus lagi!" Zerin merasa tak percaya. Namun itu tidak berlangsung lama. Karena dia bisa merasakan keanehan.


Mata Zerin memicing penuh curiga. "Kamu menyuruh Papah mengurusnya ya?" selidiknya.


"Tahu aja kamu. Ya iyalah!" Zidan mengaku seraya mengusap kasar puncak kepala Zerin.


"Pakai cara orang dalam ternyata. Pantesan," sahut Zerin sinis.


"Tapi kau suka kan?" Zidan mengangkat kedua alisnya bersamaan.


"Banget!" Zerin merasa senang. Dia merasa dunianya sekarang seperti surga. Dimana Zerin selalu bisa mendapatkan apa yang dirinya mau.


...***...


Tiga hari setelah melakukan acara pernikahan, Zerin dan Zidan langsung disibukkan dengan tugas koas mereka.

__ADS_1


Jujur saja, kehadiran Zidan di rumah sakit milik ayahnya sendiri sangat menarik perhatian. Begitu pun Zerin, selaku wanita yang telah menjadi istrinya Zidan. Mereka semakin populer karena keahlian dan kepintaran masing-masing. Baik Zerin maupun Zidan, keduanya melakukan tugas dengan sangat baik.


Kini Zidan sedang duduk di ruang tunggu dekat UGD. Tak lama kemudian, Zerin datang. Perempuan itu membawakan kopi untuk Zidan. Wajah keduanya terlihat kelelahan. Bagaimana tidak? Selama tiga hari tiga malam, mereka hanya bisa tidur beberapa jam saja.


"Tiga hari saja sudah begini. Apalagi dua tahun? Astaga..." Zerin mendecakkan lidah kesal.


"Kita pasti akan terbiasa." Zidan menyesap kopi. Lalu menyerahkannya kepada Zerin. Setelah itu, dia merebahkan diri ke pangkuan Zerin.


"Kau benar, kita pasti akan terbiasa. Tapi kita jadi kesulitan mencari waktu untuk bersama." Zerin mengelus lembut kepala Zidan.


"Itulah salah satu alasanku membuat kita ditugaskan di satu rumah sakit," tanggap Zidan. Dia menguap panjang lebar.


"Kau bisa tidur sebentar. Nanti kalau operasi akan dimulai, aku akan membangunkanmu," ujar Zerin.


"Makasih, Sayang..." Zidan memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Dia bangun saat dokter spesialis akan melakukan operasi terhadap pasien. Sebagai dokter koas, Zidan dan Zerin bertugas memperhatikan serta mencatat hal-hal penting.


Karena masa koas sangat padat dan melelahkan, Zidan dan Zerin terpaksa tidak melakukan bulan madu. Menghabiskan waktu berduaan saja sudah untung bagi mereka.


Waktu menunjukkan jam dua belas malam. Kebetulan Zerin, Zidan, dan dua orang dokter koas lain ditugaskan berjaga di UGD. Suasana rumah sakit begitu sepi.


Zerin yang baru selesai buang air kecil, melangkah cepat melewati ruang rumah sakit. Dia memeluk tubuh sambil meringiskan wajah. Zerin selalu merinding ketika merasakan suasana rumah sakit yang begitu mencekam pada malam hari.


Sebuah tangan tiba-tiba menarik Zerin masuk ke dalam ruangan. Pemilik tangan itu tidak lain adalah Zidan.


Zerin kaget bukan kepalang. Namun dia merasa lega saat melihat orang yang menyeretnya adalah suaminya sendiri.


"Sayang! Kamu tuh hobi banget ngagetin!" protes Zerin seraya memukul pundak Zidan.


Zidan tersenyum. Dia justru menyambar bibir Zerin dengan ciuman buas. Ulahnya sukses membuat Zerin melangkah mundur. Hingga terpojok ke lemari loker yang berjejer.


Nafas Zidan dan Zerin mulai memburu. Keduanya bergegas membuka jas putih tanpa harus melepaskan ciuman.


"Mmmph!" gairah Zerin muncul dengan cepat. Mengingat dia dan Zidan tidak pernah bercinta lagi semenjak menjalani tugas koas.


Zidan merasakan hal serupa. Sambil terus berciuman bibir, tangannya melepas kancing kemeja yang dikenakan Zerin. Ia langsung memainkan buah dada Zerin dengan dua tangan.


Bersamaan dengan itu, ponsel Zidan berdering. Selang sekian detik, ponsel Zerin ikut berdering. Terdengar juga suara sirine ambulan dari arah depan.


"Sepertinya ada pasien darurat!" seru Zerin seraya menyematkan kancing kemejanya.

__ADS_1


"Sial! Kenapa harus sekarang?!" keluh Zidan. Dia mengambil dua jas putih yang tergeletak di lantai. Kemudian menyerahkan salah satunya kepada Zerin.


"Ish! Kayak nggak tahu resiko jadi dokter," komentar Zerin. Dia dan Zidan berlari untuk memeriksa pasien yang baru datang.


__ADS_2