Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 86 - Mengadopsi Anak


__ADS_3

Musibah dapat memunculkan niat baik dalam diri seseorang - Auraliv.


...༻∅༺...


Nafas Zerin dan Zidan mulai memburu. Zidan bergegas melepas seluruh pakaian Zerin. Sampai tidak menyisakan satu helai benang pun.


"Kau tidak lepas baju? Tidak adil!" kata Zerin. Dia lantas menanggalkan baju atasan milik Zidan. Kemudian barulah celananya.


"Aku pikir sudah cukup!" sergah Zidan. Dia memutuskan untuk tetap mengenakan celana pendek berwarna hitam.


Zidan mendorong Zerin hingga telentang ke sofa. Ia segera mencumbu Zerin. Zidan memulai dari kulit leher perempuan itu. Satu tangannya secara bergantian menjamah buah dada Zerin. Sementara satu tangan Zidan yang lain harus menopang tubuhnya sendiri. Posisi lelaki tersebut sekarang berada di atas badan Zerin.


"Sayang..." lirih Zerin. Ia menggigit bibir bawahnya. Membiarkan Zidan berbuat sesuka hati.


Zerin mulai melenguh ketika Zidan mulai memainkan lidah di salah satu buah dadanya. Zidan mengecup dan menjilati bagian ujung depan buah dada Zerin yang berwarna merah muda itu. Sedangkan jari-jemari lelaki tersebut bermain lembut di alat vital Zerin.


"Akh..." tubuh Zerin yang polos dan langsing sesekali melekuk ke depan. Ia merasakan gairah tiada tara. Tangannya hanya bisa mengacak-acak rambut Zidan.


Wajah Zerin memerah padam. Dia mengangakan mulut sambil mendongakkan kepala. Walau tidak melakukan penyatuan, Zerin masih mampu merasakan puncak kenikmatan. Itulah yang dirinya suka dari Zidan. Sentuhan suaminya tersebut tak pernah mengecewakan.


Puas merasakan puncak, Zerin mengambil alih posisi Zidan. Sekarang dia yang berada di atas badan lelaki tersebut.


"Sayang, kau tidak perlu melakukan ini..." des-ah Zidan yang berusaha mengatur nafas. Terutama ketika Zerin sibuk menciumi area perutnya.


Zidan tentu menikmati sentuhan yang diberikan Zerin. Dia sesekali melenguh pelan.


"Aku ingin kau melupakan kekuranganmu. Apapun yang terjadi, gairahku tetap untukmu...." ucap Zerin. Tanpa diduga, dia melepas seluruh celana Zidan. Kini lelaki itu juga telanjang bulat sepertinya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Zidan.


Zerin duduk tegak di atas perut Zidan. Di sana dia mengeluskan alat vitalnya yang berbentuk seperti huruf v berulang kali. Zerin sekali lagi merasakan puncak ketika melakukannya.


"Sayang, kau luar biasa..." ujar Zidan. Atensinya tidak teralihkan dari Zerin yang masih asyik memberikan sentuhan.

__ADS_1


Hasrat Zidan semakin membara ketika menyaksikan perutnya telah basah akibat ulah Zerin. Lelaki itu meraih tengkuk Zerin. Memaksa istrinya untuk menyatukan bibir.


"Aku sangat mencintaimu..." ungkap Zidan yang melepaskan tautan bibirnya sejenak.


Zerin menatap dengan tatapan sayu. Wajahnya dan Zidan memerah dan dipenuhi keringat. Keduanya kembali melanjutkan kegiatan intim sampai merasa saling terpuaskan.


...***...


Satu tahun berlalu. Hubungan Zerin dan Zidan tetap terjalin harmonis. Itu terjadi dari hari ke hari. Keduanya bahkan tidak mempermasalahkan lagi kondisi alat vital Zidan yang tak kunjung sembuh.


Meskipun begitu, Zidan tetap melakukan konsultasi terkait masalah kesehatannya kepada dokter spesialis. Dia disarankan untuk tidak terlalu stres dalam memikirkan sesuatu. Terutama masalah biologis yang sedang menimpanya.


Alhasil Zidan dan Zerin mulai sering bepergian ke tempat menenangkan. Dengan tujuan agar dapat menghilangkan semua beban pikiran.


Sampai sekarang, apa yang diderita Zidan masih dirahasiakan dengan rapi. Terutama dari keluarganya. Tidak heran Arni, Wira, dan Lia selalu mendesak ingin mendapatkan cucu.


Kini Zerin dan Zidan tengah berada di sebuah villa. Mereka sengaja memanfaatkan liburan untuk menghabiskan waktu bersama. Keduanya berjalan sambil bergandengan menyusuri kebun teh yang sejuk.


"Aku pikir kita harus memberitahu keadaanku kepada keluarga kita," ungkap Zidan.


"Iya. Aku hanya tidak mau mereka tahu dari orang lain. Itu pasti akan membuat mereka semakin cemas."


Zerin mengangguk. "Apapun yang terbaik bagimu, aku akan selalu mendukung," ujarnya.


Zerin tersenyum sambil mengusap puncak kepala Zerin. "Mengenai anak. Apa kau tidak masalah kalau kita mengadopsinya?" ucapnya seraya berhenti melangkah. Zidan ingin bicara serius perihal anak.


"Maksudmu kau ingin mengadopsi anak yatim piatu?" Zerin memastikan.


"Ya, menurutku itu lebih baik. Aku juga cukup sering bertemu dengan anak-anak yatim piatu setiap minggu."


"Apa kau sudah mengincar seseorang?"


"Belum. Kau ingin anak yang seperti apa? Laki-laki atau perempuan?" Zidan dan Zerin kembali melangkah. Tautan tangan mereka selalu bertautan erat.

__ADS_1


"Untuk anak pertama, aku rasa anak lelaki lebih baik," imbuh Zerin. "Dia harus baik, penurut, dan tampan sepertimu," jelasnya seraya meletakkan kepala ke dada bidang Zidan.


"Apapun untukmu, Sayang." Zidan mengecup kening Zerin.


Keesokan harinya, Zidan dan Zerin mengajak keluarga mereka makan malam. Kini semua orang telah berkumpul di meja makan. Zidan saling bertukar pandang dengan Zerin terlebih dahulu. Kemudian barulah dia angkat bicara. Memberitahukan masalah yang sedang menimpanya.


Semua orang terkejut mendengar kabar yang diberikan Zidan. Mereka tidak menyangka lelaki itu harus mengalami impoten pada alat vitalnya.


"Zidan, sudah berapa lama? Kenapa kau baru memberitahu kami sekarang?" tanya Arni khawatir.


"Sekitar satu tahun lebih," jawab Zidan.


"Harusnya kalian bilang dari awal. Kami jadi merasa bersalah sudah mendesak kalian untuk punya anak," ujar Lia sembari memegang tangan Zerin. Kebetulan dia duduk di sebelah putrinya tersebut.


"Zidan baru berani mengatakan semuanya sekarang kepada kalian," jelas Zerin. Dia melirik ke arah sang suami. Ketika Zidan mengangguk, Zerin kembali bicara. "Kami mengatakannya karena ingin melakukan sesuatu. Aku dan Zidan berniat mengadopsi anak dari panti asuhan."


Arni dan Wira saling bertukar pandang. Berbeda dengn Lia dan Amira, keduanya terlihat tersenyum.


"Aku sangat setuju kalau itu keputusan kalian. Lagi pula mengadopsi anak yatim piatu adalah sebuah kebaikan besar. Mungkin kehadirannya juga bisa mendatangkan keajaiban," cetus Lia.


"Ibu, benar. Itu tidak ada salahnya. Apalagi jika Kak Zerin dan Kak Zidan sudah tidak sabar menunggu seorang buah hati." Amira sependapat dengan Lia.


"Kenapa kalian tidak melakukan program bayi tabung saja?" saran Wira.


"Aku tidak mau Zerin mengambil resiko itu, Pah. Program bayi tabung tidak sesederhana yang kau bayangkan," sahut Zidan.


Wira menganggukkan kepala. Sebagai orang yang tidak bergelut di dunia kedokteran, dia tentu merasa kalah dengan pernyataan Zidan.


"Kumohon carilah anak yang baik dan pintar. Aku tidak mau dia memiliki sikap yang mirip sepertimu," canda Arni. Berbicara kepada Zidan. Itu adalah lampu hijau baginya.


Arni menoleh ke arah Wira. Berharap suaminya tersebut juga setuju.


"Ya sudah. Tapi carilah anak yang tidak terlalu tua. Supaya aku bisa mengajaknya bermain nanti," ucap Wira. Dia akhirnya setuju. Zidan dan Zerin lantas tersenyum tenang.

__ADS_1


Malam itu, mereka membahas banyak kriteria untuk anak yang akan diadopsi Zerin dan Zidan. Mereka juga tidak lupa membahas kondisi Zidan. Berbagai saran harus diterima Zerin dan Zidan. Keduanya akan pergi ke panti asuhan besok.


__ADS_2