Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 85 - Lupakan Semuanya


__ADS_3

Masalah memang akan datang. Tapi pasti akan berlalu - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin baru saja selesai mengirim pesan kepada Zidan. Bersamaan dengan itu, ponselnya mati karena kehabisan baterai.


Zerin mendengus kasar. Dia segera mendatangi kamar dimana Ernest sedang menunggu. Lelaki itu langsung membuka pintu saat mendengar suara ketukan.


"Masuklah!" ujar Ernest sembari membuka pintu lebar-lebar. Zerin lantas menurut dan duduk ke sofa yang sudah tersedia.


"Sebaiknya aku langsung bicara saja. Ini mengenai Zidan. Aku harap kau bersedia merahasiakan apa yang kau ketahui. Aku tidak mau itu menjadi beban pikirannya. Sudah cukup kau melakukan balas dendam kepadanya," ucap Zerin dengan nada seolah memohon.


"Baiklah, aku tidak akan menyebarkan apa yang sedang diderita Zidan sekarang. Tapi aku punya satu syarat. Kau harus tidur denganku malam ini," cetus Ernest. Dia memperhatikan Zerin dari ujung kaki hingga kepala. "Gila, kau masih secantik dulu. Bahkan mungkin lebih cantik. Mungkin ini karena efek kau bekerja sebagai dokter kecantikan," sambungnya yang belum berhenti jelalatan. Dia segera berdiri dan duduk ke sebelah Zerin.


"Nest, kalau syaratnya begitu, jelas aku tidak bisa melakukannya!" Zerin berdiri dan mencoba menjauhi Ernest.


"Kalau begitu, aku akan menyebarkan fakta tentang Zidan," sahut Ernest yang ikut berdiri.


"Dasar bajingan! Harusnya aku tidak pernah menemuimu ke sini!" bentak Zerin. Dia berlari menuju pintu keluar. Ketika nyaris membuka pintu, Ernest berhasil menariknya. Lalu menyudutkan Zerin ke dinding.


"Zidan harus merasakan sakit hati yang aku rasakan! Kau tidak tahu betapa hancurnya aku saat mendengar suara desa-hanmu malam itu bersama Zidan! Itu terus terngiang di telingaku selama bertahun-tahun!" pekik Ernest. Membuat Zerin semakin ketakutan. Tatapan lelaki itu seakan ingin menerkamnya hidup-hidup.


"Kau harus bercinta denganku sebagai bayaran atas sakit hatiku!" tegas Ernest. Dia menyumpal bibir Zerin dengan mulutnya. Ernest memegang tangan Zerin kuat-kuat agar tidak memberontak.


Di waktu yang sama, Zidan baru saja tiba di hotel dimana Zerin berada. Dia mengetahuinya karena pesan Zerin beberapa saat lalu. Ketika membaca pesan tersebut, Zidan bergegas pergi untuk menyusul sang istri. Dia yakin Ernest pasti merencanakan sesuatu.


"Apa yang dia pikirkan sampai mau menemui Ernest ke sana!" gerutu Zidan. Dia tidak habis pikir dengan Zerin. Dirinya melangkahkan kaki begitu cepat. Sampai tiba di kamar dimana Zerin dan Ernest berada.


Bruk!

__ADS_1


Zidan langsung membuka pintu dengan bantingan. Ia berhasil memergoki Ernest yang sudah mencium bibir Zerin.


Tanpa ba bi bu, Zidan langsung menarik kerah baju Ernest dan melayangkan bogem berkali-kali. Ulahnya sukses membuat Ernest tumbang ke lantai.


"Ini tidak bisa disebut karma, Nest! Tapi dendam! Kau harus tahu, aku sama sekali tidak takut dengan segala ancamanmu! Jadi mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapanku dan Zerin!" tukas Zidan. Dia meraih tangan Zerin dan pergi meninggalkan Ernest.


"Zidan, maafkan aku... Aku tidak tahu semuanya akan begini..." lirih Zerin yang merasa bersalah. Kepalanya tertunduk malu. Ia dan Zidan sedang berada di dalam lift.


Zidan menoleh ke arah Zerin. "Harusnya kau bicara dulu kalau ingin menemui bajingan itu! Kenapa kau nekat menemuinya?! Ajakan dia yang menyuruhmu datang ke kamar saja sudah aneh!" omelnya dengan dahi berkerut.


"Aku hanya ingin membantumu..." lirih Zerin seraya menitikkan air mata. Dia memegangi dress yang dikenakannya dengan erat.


Zidan memutar bola mata kesal. "Dengar! Aku bisa mengurus diriku sendiri. Oke? Ernest tidak akan nekat menyebarkan segala hal tentangku. Mengingat kita juga punya senjata untuk melawannya! Lagi pula, kalau dia menyebarkan info tentang pasien, maka nama baik kliniknya akan tercemar," pungkasnya panjang lebar.


Zerin terdiam. Dia hanya bisa menangis tersedu-sedu. Zidan yang tidak tega, akhirnya membawanya ke dalam pelukan.


"Maaf, aku tidak bermaksud memarahimu. Aku hanya kesal melihatmu disentuh oleh bajingan itu," ungkap Zidan yang melembut. Ketika lift berhenti, dia dan Zerin melangkah bersama memasuki mobil. Kemudian langsung pulang.


Karena kesalahan yang dilakukan, Zerin jadi lebih pendiam dari biasanya. Dia benar-benar merasa bersalah kepada Zidan. Perempuan tersebut terus tertunduk sendu sepanjang hari.


Keadaan jadi terbalik. Jika biasanya Zidan yang terlambat pulang, kali ini Zerin yang melakukannya. Padahal Zidan sengaja pulang cepat karena ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan Zerin.


"Harusnya aku kemarin tidak memarahinya," gumam Zidan yang merasa bersalah. Dia lantas bersiap untuk menemui Zerin.


Saat hendak menemui Zerin ke klinik, Zidan malah mendapatkan jadwal operasi mendadak. Dia terpaksa pergi ke rumah sakit.


Di sisi lain, Zerin baru saja keluar dari kliniknya. Dia masih tampak murung. Zerin masih merasa kalut terhadap apa yang menimpanya kemarin malam.


Setibanya di rumah, dia langsung merebahkan diri ke ranjang. Beberapa jam tertidur, Zerin mendapat telepon dari Zidan. Suaminya itu minta dijemput. Katanya mobil Zidan baru saja mengalami mogok dan harus dibawa ke bengkel.

__ADS_1


Zerin menurut saja. Lagi pula dia sedang tidak sibuk. Dirinya segera menjemput ke lokasi yang dikirimkan Zidan.


Sesampainya di tempat tujuan, Zidan langsung masuk ke mobil. Ia duduk ke sebelah Zerin yang ada di kursi kemudi.


"Jangan pergi dulu. Aku ingin bicara," ucap Zidan seraya memegangi lengan Zerin. Perempuan itu otomatis menatapnya.


"Kau masih marah karena aku memarahimu kemarin?" tanya Zidan.


"Tidak. Aku hanya merasa tidak nyaman karena Ernest sudah terlanjur menyentuhku. Aku benar-benar merasa hina sekarang," jawab Zerin yang perlahan menundukkan kepala.


Zidan mendekat. Lalu mengangkat dagu Zerin. Hingga istrinya tersebut mendongak dan menatapnya.


"Aku tak peduli dengan itu. Yang aku tahu, kau melakukan semuanya karenaku. Harusnya aku berterima kasih dengan pengorbanan dan kesetiaanmu. Bahkan saat aku dalam keadaan begini kau masih tetap bersamaku," tutur Zidan. Dia saling bertukar tatapan lekat dengan Zerin. "Mulai sekarang, aku akan berusaha menjaga dan membuatmu nyaman lagi di sisiku," tambahnya seraya memegangi wajah Zerin.


"Tapi kau benar-benar tidak masalah dengan keadaanku kan?" Zidan mematikan.


Zerin menggeleng tegas. "Sudah aku katakan berkali-kali. Aku akan tetap bersamamu sampai kapan pun!" ujarnya dengan penuh keyakinan.


Zidan tersenyum. Dia menggenggam erat jari-jemari Zerin. Kemudian mengecup kening perempuan itu.


"Sekarang, ayo kita pulang! Aku ingin cepat-cepat melakukan sesuatu," ujar Zidan.


Zerin akhirnya tersenyum. Semuanya lagi-lagi karena Zidan. Lelaki itu memang selalu memberikan dampak yang kuat terhadap kehidupannya.


Saat sudah tiba di rumah, Zidan langsung menutup pintu. Dia menarik Zerin yang berjalan di depannya. Zidan segera melum-at bibir Zerin dengan buas.


Zerin tidak kuasa menolak. Dia sangat merindukan sentuhan liar Zidan seperti sekarang.


Karena merasa bergairah, Zerin melepas ciumannya sejenak. Dia mendorong Zidan hingga terduduk ke sofa. Selanjutnya, barulah dia kembali melanjutkan sesi ciuman. Zerin duduk ke pangkuan Zidan. Keduanya bergulat lidah tanpa henti. Menimbulkan suara kecup-mengecup yang memecah kesunyian malam.

__ADS_1



__ADS_2