Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 83 - Karma [3]


__ADS_3

Dendam memang sulit dideteksi untuk korbannya - Auraliv.


...༻∅༺...


Zidan segera menoleh ke arah Zerin. "Kau tidak memeriksa nama dokternya sebelum ke sini?" tanyanya. Merasa tak percaya.


"Tidak, kita tadi terburu-buru. Aku bahkan tidak kepikiran untuk mencari tahu siapa dokternya," jawab Zerin. Dia merasa bersalah sekarang.


"Harusnya kau..." Zidan menghela nafas. Ia juga tampak mengatup mulutnya rapat-rapat. Kesal dengan segala yang sudah terlanjur terjadi.


"Tiga tahun lalu aku melihat berita pernikahan kalian di beberapa media. Kalian sangat bahagia. Apalagi Zerin, kau sangat cantik dengan balutan gaun pengantin," imbuh Ernest sembari menatap Zerin. Sepertinya perasaannya terhadap perempuan itu masih belum hilang.


"Sayang, lebih baik kita mencari tempat lain. Dokter urologi di kota ini tidak hanya dia!" seru Zidan seraya berdiri. Dia meraih pergelangan tangan Zerin. Zidan tentu risih menyaksikan Ernest memandangi sang istri.


"Kau yakin, Dan? Aku sudah terlanjur mengetahui masalahmu sekarang? Apa kau tidak takut aku akan menyebarkan fakta tentangmu ke semua orang," ujar Ernest. Menyebabkan langkah kaki Zidan sontak terhenti.


"Aku memilih pergi karena aku yakin kau tidak akan membantu," tukas Zidan.


"Tentu saja aku akan membantu. Menyembuhkan pasien adalah tugas seorang dokter bukan?" tanggap Ernest dengan senyuman pongah.


"Bagaimana?" Zerin menatap Zidan. Dia akan mendukung apapun keputusan sang suami.


Alhasil Zidan memutuskan duduk kembali. Dia tidak mau masalah biologisnya sekarang tersebar ke khalayak umum. Zidan tidak punya pilihan lain sekarang.


"Biar aku berikan beberapa pertanyaan dahulu," ucap Ernest sembari mengambil lembar kertas untuk mendiagnosa penyakit.


"Nest, kau benar-benar bersedia membantu Zidan kan?" Zerin yang meragu, mencoba memastikan.


"Tentu saja. Kalau tidak, aku pasti sudah mengusir kalian," sahut Ernest.


Zerin dan Zidan saling bertukar pandang. Mereka merasa semakin malu ketika Ernest melakukan perbuatan tak terduga. Keduanya tidak menduga lelaki itu bersedia membantu setelah kejadian kelam di masa lalu.


"Sekarang katakan kepadaku. Sejak kapan milikmu itu tidak berfungsi?" tanya Ernest.


"Sekitar satu bulan yang lalu. Mungkin pertengahan September," jawab Zidan.


"Apa setelah itu kau terus berusaha mencoba?" Ernest menyelidik. Dia meletakkan lembar diagnosanya. Lalu menatap Zidan dan Zerin secara bergantian.


"Ya, tentu saja. Tapi tetap tidak berhasil. Padahal aku merasakan gairah seperti biasanya," ungkap Zidan.

__ADS_1


"Jadi sudah sebulan kalian tidak melakukan hubungan suami istri?"


"Menurutmu? Bukankah itu sudah jelas?"


Ernest tergelak. "Zerin istri yang benar-benar baik ya," komentarnya sambil melirik selintas ke arah Zerin.


Zidan yang mendengar, memaklumi ucapan Ernest. Pikirannya sedang runyam untuk berpikiran yang tidak-tidak.


"Apa kau merasakan sakit? Mungkin saat kencing atau di waktu tertentu?" Ernest kembali bertanya.


"Tidak. Semuanya tetap terasa normal bagiku," jawab Zidan.


Ernest lantas mengangguk. Pertanyaannya berakhir di situ. Dia terlihat serius membaca ulang lembar kertas yang tadi ditulisnya.


"Aku akan memberikan suntikan dan obat," kata Ernest sambil berdiri. Dia menyuruh asistennya untuk menyiapkan keperluan untuk menyuntik.


Zerin menoleh ke arah Zidan. Lalu berbisik, "Kau yakin kita bisa mempercayainya?"


Zidan memegangi jari-jemari Zerin. "Ini sudah terlanjur. Aku juga tidak mau pergi ke dokter lain dan memberitahukan keluhan memalukanku lagi," tuturnya.


Zerin mengangguk dan tersenyum. Dia akan mendukung apapun keputusan Zidan. Dirinya berharap semuanya dapat berjalan lancar.


"Nest, aku sangat berterima kasih dengan bantuanmu. Aku juga minta maaf dengan segala masalah yang pernah menimpamu dulu," ungkap Zidan.


"Zidan, benar. Kami mengucapkan maaf dan terima kasih sebanyak-banyaknya. Aku tidak menyangka kau tetap berbuat baik kepada kami. Apa yang kau lakukan sekarang sebenarnya benar-benar membuatku dan Zidan merasa malu," tutur Zerin. Dia tersenyum lembut.


Ernest membalas senyuman Zerin. "Kalian juga seorang dokter. Aku yakin kalian pasti mengerti kenapa aku memilih membantu," ujarnya.


Zidan berdiri. Dia segera memeluk Ernest sebagai ucapan terima kasih dan maaf yang tak terkira.


"Nanti minggu depan ke sini lagi. Biar kita lihat perkembangannya. Oke?" ucap Ernest sambil menepuk pundak Zidan.


"Baiklah." Zidan mengangguk sembari melepas pelukannya.


"Sekali lagi terima kasih ya, Nest." Zerin saling bersalaman dengan Ernest. Namun lelaki itu justru memeluknya. Persis seperti yang dilakukan Zidan kepadanya tadi.


Zidan sama sekali tak masalah. Ia merasa bisa mempercayai Ernest.


Saat Zerin dan Zidan sudah pergi, Ernest langsung berseringai. Dia puas dengan apa yang dilakukannya.

__ADS_1


...***...


Zerin dan Zidan baru saja masuk ke mobil. Keduanya mematung dan saling membisu sejenak.


"Entah kenapa hatiku merasa tenang saat melihat Ernest begitu," ungkap Zerin.


"Aku juga. Aku pikir dia akan mencaci maki dan mengusir kita berdua," sahut Zidan. Dia segera menjalankan mobil.


Sesampainya di rumah, Zerin dan Zidan makan malam terlebih dahulu. Mereka hanya perlu waktu beberapa menit untuk menghabiskan hidangan makan malam.


Sekarang Zerin mengambil piring dan gelas kotor untuk dibawa ke wastafel. Ketika hendak mencucinya, Zidan menghentikan. Lelaki tersebut membuat Zerin berbalik menghadapnya.


"Satu ciuman," desis Zidan.


Zerin tersenyum. Dia segera mengalungkan tangan ke leher Zidan. Ciuman bibir dilakukan oleh keduanya. Dengan intens dan penuh gairah.


Saat hasrat semakin memuncak, Zidan malah melepaskan tautan bibirnya dari mulut Zerin. "Kurasa masih tidak bisa," katanya.


"Tentu saja. Tubuhmu butuh waktu yang lama untuk menyerap obat." Zerin membulatkan mata. Dia beranjak meninggalkan Zidan. "Aku akan mengambilkan obatmu," serunya.


Zidan tersenyum dan menunggu. Dia menyiapkan segelas air putih untuk minum obat.


Tak lama kemudian, Zerin kembali. Dia membawakan obat yang masih terbungkus dalam plastik. Zerin langsung membuka plastik tersebut. Dahinya berkerut tatkala menyaksikan obat-obat pemberian Ernest. Sebagai dokter, dia tentu mengenali berbagai jenis obat-obatan.


"Aku rasa obat-obat ini tidak akan menyembuhkanmu. Tapi malah akan memperparah. Bukankah begitu?" imbuh Zerin.


Pupil mata Zidan membesar. Dia segera memeriksa obat-obatan yang diberikan Ernest. Benar saja, obat-obatan itu memang bukanlah obat yang seharusnya dikonsumsi Zidan. Obat-obat itu justru hanya akan memperparah keadaan Zidan. Lantas, bagaimana dengan suntikan yang sudah diberikan Ernest?


"Ernest sialan! Dia menipu kita!" Zidan membanting obat-obatan ke lantai. Lalu menginjaknya berulang kali.


"Sayang!" Zerin berusaha menenangkan. Dia memeluk Zidan dengan erat. Usahanya sukses membuat Zidan berhenti mengamuk.


Kini Zidan benar-benar frustasi. Dia mengusap wajahnya berkali-kali.


"Aku harus menemui Ernest sekarang!" ujar Zidan seraya melepas pelukan Zerin. Dia melangkah cepat menuju pintu keluar. Zidan juga tidak lupa mengambil kunci mobil dari atas nakas.


"Aku ikut!" Zerin mengejar dari belakang.


"Tidak! Biar aku saja!" tolak Zidan. Dia benar-benar pergi sendiri. Melesat laju dengan mobilnya.

__ADS_1


Zerin terdiam di ambang pintu. Dia membekap mulutnya sendiri. Matanya juga terlihat meneteskan cairan bening. Karena merasa cemas, Zerin akhirnya mengikuti Zidan. Ia menyetir mobil sendiri.


__ADS_2