
Memang sulit menyatukan manusia yang berbeda pendapat. Hanya waktu yang bisa menjawab - Auraliv.
...༻∅༺...
Zidan mendatangi klinik Ernest dengan wajah cemberut. Dia menerobos masuk begitu saja ke ruangan Ernest.
"Harusnya aku tidak mempercayaimu?!" geram Zidan. Dalam keadaan dua tangan mengepalkan tinju.
"Kau baru sadar? Aku pikir kau dokter berprestasi, bagaimana bisa baru menyadarinya sekarang?" tanggap Ernest sembari terkekeh. Dia memeriksa arloji yang ada di pergelangan tangan.
"Dasar keparat!" umpat Zidan. Ia menghampiri Ernest. Lalu mencengkeram kerah baju lelaki tersebut. Menyalangkan mata penuh amarah.
"Kenapa kau marah? Bukankah tadi katanya kau sangat berterima kasih kepadaku?" tukas Ernest. Membuat kemarahan Zidan kian memuncak.
"Aaargghhh!!!" Zidan melayangkan bogem ke wajah Ernest. Namun tangan Ernest dengan cepat mencekal.
"Aku rasa sekarang kita sudah impas. Bagaimana? Pengkhianatan itu sakit bukan?" ujar Ernest. Membalas pelototan mata Zidan tanpa rasa takut. Dia puas bisa membalas Zidan. Walau harus menunggu tiga tahun lebih berlalu.
"Tapi haruskah kau membalasnya dengan cara begini, hah?!" Zidan mengguncang badan Ernest dengan histeris.
"Kau mau aku membalas dengan cara apa lagi?! Kau punya segalanya! Sekarang adalah satu-satunya kesempatanku untuk membalasmu!"
"Kumohon... Nest. Kau pasti bisa melakukan sesuatu! Aku tidak mau menjadi suami yang membosankan begini! Kami juga mengharapkan kehadiran anak..." Zidan melemah. Dia benar-benar putus asa sekarang.
"Aku bisa membantumu, tapi berikan Zerin kepadaku. Dia memang membuatku kecewa, namun sampai sekarang aku masih tidak bisa melupakannya," ujar Ernest panjang lebar.
Mendengat keinginan Ernest, Zidan terperangah. Bisa-bisanya Ernest menginginkan Zerin, sementara dirinya melakukan segala hal demi perempuan tersebut.
Tanpa pikir panjang, Zidan kembali menghantam wajah Ernest dengan satu kali tinju. Ulahnya sukses membuat Ernest terjatuh hingga terduduk ke lantai.
Bersamaan dengan itu, Zerin datang. Dia langsung menghampiri Zidan.
__ADS_1
"Zidan! Sudahlah. Kita lupakan saja. Kita bisa mencari dokter lain," kata Zerin seraya berusaha mengajak Zidan pergi.
"Zerin! Kau yakin ingin tetap bersama Zidan? Aku yakin kelainan yang akan dideritanya sekarang akan permanen. Mengingat aku memberikan dosis tinggi saat menyuntiknya," cetus Ernest sambil berdiri. Dia mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah.
"Sialan!" Zidan kembali geram. Dia kembali mencoba menyerang Ernest. Tetapi ditahan oleh Zerin.
"Aku akan tetap bersamanya sampai akhir!" tegas Zerin dengan penuh keyakinan.
"Kau yakin? Apa kau tidak merindukan bagaimana nikmatnya bercinta? Kau bisa melakukannya denganku kalau mau," pungkas Ernest. Tersenyum sampai menampakkan deretan giginya.
Kini Zerin yang dibuat marah atas perkataan Ernest. Tanpa basa-basi, dia melayangkan tamparan ke pipi lelaki itu.
"Aku harap kau puas dengan segala perbuatanmu ini. Tapi kau sudah membuat karma baru untuk dirimu sendiri!" ucap Zerin. Dia dan Zidan segera pergi dari ruangan Ernest.
"Awas saja! Aku akan sebarkan masalahmu ini kepada semua orang! Kau akan menanggung malu, Zidan!" pekik Ernest. Tepat sebelum Zidan dan Zerin melangkah melewati pintu. Namun keduanya sama sekali tidak hirau. Mereka terus berjalan bersama sambil berpegangan tangan.
Zerin membiarkan Zidan untuk duduk di sebelah kursi kemudi. Sementara dirinya akan menyetir mobil. Zerin tahu kalau sang suami butuh waktu untuk menenangkan diri.
Zerin baru mendapatkan pesan bahwa pelanggan selebritinya memundurkan jadwal temu. Zerin sendiri merasa senang akan hal itu. Dengan begitu, dia dapat menghabiskan banyak waktu untuk menemani Zidan.
"Kau yakin ingin tetap bersamaku?" celetuk Zidan sembari memasang tatapan kosong. Dia tidak menatap Zerin. Terus memperhatikan jendela mobil yang memperlihatkan pemandangan kota.
"Tentu saja! Aku bahkan akan memilih tetap bersamamu meski kita tidak punya anak. Aku sangat mencintaimu, lebih dari apapun!" ucap Zerin bersungguh-sungguh.
"Mengenai anak dan hasratmu. Jika kau sangat menginginkannya, kau bisa melakukannya dengan lelaki lain. Jujur aku--"
"Zidan!!!" geram Zerin. Dia reflek menghentikan mobil. Kebetulan mobilnya sudah masuk ke jalanan menuju rumahnya. Jadi jalanan tersebut sepi. Apalagi keadaan sekarang sudah cukup larut.
"Aku tidak ingin lagi mendengarmu mengatakan itu! Kumohon, seputus asa apapun dirimu, jangan pernah menyuruhku melakukan hal yang tidak-tidak!" Zerin menegaskan. Keningnya mengernyit dalam.
"Aku hanya ingin kau bahagia. Lagi pula, aku mengharapkan kehadiran seorang anak sekarang. Aku yakin kau pasti mengharapkan hal yang sama." Zidan akhirnya menatap Zerin. Dengan tatapan sayu.
__ADS_1
"Mengenai anak. Kita masih bisa menggunakan cara lain. Melakukan program bayi tabung misalnya."
"Bayi tabung." Zidan menggelengkan kepala. "Mungkin itu terdengar mudah bagimu. Tapi kalau ada kesalahan, rahimmu yang akan bermasalah. Aku tidak mau kau menanggung resiko itu," jelasnya. Sebagai dokter, Zidan tentu tahu bagaimana detail kesulitan melakukan program bayi tabung.
"Kita coba saja dulu. Kita bisa mengikuti program bayi tabung di rumah sakit terpercaya. Di luar negeri kalau perlu." Zerin berusaha meyakinkan Zidan.
"Tidak. Aku tetap tidak setuju." Zidan tetap menolak. Dia mendekatkan wajah ke hadapan Zerin. "Kita lihat mulai sekarang, apa benar kau akan tetap bertahan bersamaku?" pungkasnya seraya mengaitkan helaian rambut Zerin ke daun telinga.
"Lihat saja sendiri," sahut Zerin. Dia percaya kalau dirinya akan selalu berada di sisi Zidan.
Saat tiba di rumah, Zerin dan Zidan langsung membersihkan diri. Zerin menjadi orang yang lebih dulu telentang ke ranjang. Dia mencoba menunggu Zidan. Namun suaminya tersebut tak kunjung datang. Karena mengantuk, Zerin akhirnya tertidur.
Keesokan harinya, Zerin bangun ketika waktu menunjukkan jam tujuh pagi. Dia segera menyiapkan sarapan. Akan tetapi saat dirinya memanggil Zidan, tidak ada orang yang menyahut.
Zerin lantas mencari Zidan ke segala penjuru rumah. Kala memeriksa garasi, barulah dia sadar kalau Zidan sudah pergi. Zerin bergegas menghubungi lelaki tersebut.
"Kenapa pergi tidak bilang-bilang?! Aku memasakkan sarapan untukmu tahu nggak!" omel Zerin.
"Maaf, kau tidur sangat nyenyak tadi malam. Aku pergi sejak tadi malam. Kau tahu kalau aku ada jadwal operasi bukan?" jawab Zidan dari seberang telepon.
"Tapi harusnya kau memberitahuku." Zerin gusar. Namun Zidan justru mematikan telepon lebih dulu.
"Aku yakin dia merasa kehilangan kepercayaan dirinya lagi. Zidan pasti takut Ernest akan membeberkan semuanya," gumam Zerin yang merasa cemas. Dia lantas terpikir untuk menemui Ernest lagi. "Zidan sudah banyak membantuku. Sekarang giliranku yang akan membantu," ucapnya.
Zerin menghubungi Ernest. Dia bisa mengetahui nomor telepon lelaki itu lewat kartu nama yang diberi bersamaan dengan obat Zidan kemarin.
Ernest mengajak bertemu di sebuah restoran yang ada di hotel bintang lima. Dia dan Zerin akan bertemu jam delapan malam nanti. Tepat setelah mereka selesai dengan pekerjaan masing-masing.
Jam delapan malam telah tiba, Zerin mendatangi restoran lebih dulu. Tetapi dia tidak melihat Ernest di sana. Bertepatan dengan itu, ponsel Zerin berdering. Ia menerima panggilan dari Ernest.
"Kau dimana? Aku sudah sampai," ujar Zerin.
__ADS_1
"Aku ada di kamar VIP. Aku tiba-tiba merasa malas makan di tempat orang banyak. Lagi pula aku yakin kau ingin membahas perihal pribadi kan? Jadi tempat yang tertutup mungkin lebih baik," jawab Ernest.
"Di kamar?" Zerin sontak curiga. Meskipun begitu, dia setuju untuk datang. Namun sebelum menemui Ernest, Zerin menghubungi Zidan terlebih dahulu.