
Rasa malu, itulah yang tertinggal saat keburukan kita diketahui banyak orang - Auraliv.
...༻∅༺...
"Tidak, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja." Zidan mendekap Zerin. Lalu mencium puncak kepala perempuan tersebut.
Zerin lantas hanya bisa terisak dalam pelukan Zidan. Keputusan untuk menjadi sugar baby adalah sesuatu hal yang paling dia sesali dalam hidupnya.
"Sebaiknya kau istirahat. Aku akan menemanimu." Zidan mengajak Zerin berjalan. Dia membawa sang istri beristirahat ke dorm. Kamar yang memang disediakan untuk para dokter. Di kamar tersebut terdapat dua ranjang bertingkat.
Zidan telentang sambil memeluk Zerin. Istrinya tersebut masih berusaha menenangkan diri.
"Kau tenang saja. Setelah ini aku akan mengurusnya. Kau lebih baik tidur dan memimpikan seorang anak yang mirip denganku," ucap Zidan. Kalimat terakhir yang dikatannya berhasil membuat Zerin terkekeh. Lalu menghapus air mata.
"Anak? Kau sudah memikirkannya?" tanggap Zerin.
"Sedikit."
"Dih! Aku saja belum mikirin itu sedikit pun." Zerin mulai bisa tersenyum kembali.
"Iya aku tahu. Itu karena kau lebih hobi bikinnya dari pada mengurus," canda Zidan.
"Idih! Itu kamu kali!" balas Zerin. Suasana kembali mencair. Keduanya lantas mencoba untuk tidur.
Baru dua detik terlelap, sebuah tangan tiba-tiba menyentuh pundak Zidan. Pemilik tangan itu adalah Yoga. Dia merupakan salah satu dokter intern/magang. Posisi tersebut tentu lebih tinggi dibanding dokter koas. Akan tetapi Yoga malah sering meminta bantuan Zidan dalam menangani pasien.
"Maaf ganggu ya. Tapi sekarang aku butuh bantuanmu..." bisik Yoga.
"Kau duluan saja. Aku akan menyusul." Zidan balas berbisik.
Yoga mengangguk. Dia bergegas pergi lebih dulu.
Selepas Yoga pergi, Zidan menatap Zerin. Istrinya itu tampak sudah tertidur dengan nyenyak.
"Tidurlah yang nyenyak. Mimpikan anak yang mirip denganku," bisik Zidan ke telinga Zerin. Selanjutnya, dia segera beranjak meninggalkan sang istri.
Di sisi lain, Diky baru saja dipindahkan ke sebuah kamar VIP. Dia memang orang yang cukup kaya untuk bisa mendapat pelayanan khusus seperti itu.
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju kamar, Diky banyak bercerita mengenai Zerin kepada perawat yang mengantarnya. Namun tidak ada satu pun orang yang mempercayai perkataannya.
"Kau sepertinya salah satu lelaki yang terkena sihir Dokter Zerin. Dia memang dokter paling cantik dan pintar di sini. Banyak lelaki yang tergila-gila kepadanya. Persis seperti yang kau lakukan ini, Pak." Linda selaku perawat yang mengantar Diky menanggapi.
"Jadi kau menganggap aku bicara omong kosong?" Diky terperangah. Dia tidak menyangka Zerin memiliki reputasi sebaik itu dimata orang. Hingga terlintas sesuatu dalam ingatannya. Dia mengambil ponsel dari saku celana.
"Kalau kau tidak percaya, bagaimana kalau aku membuktikannya," ujar Diky seraya sibuk dengan layar ponsel. Dia baru saja tiba di kamar VIP-nya.
"Selamat beristirahat," kata Linda. Dia nyaris beranjak. Akan tetapi Diky memanggilnya dengan lantang. Hingga langkah kaki Linda terhenti.
"Lihat! Aku tidak berbohong." Diky memperlihatkan video Zerin saat di diskotik. Dalam video tersebut, Zerin terlihat bergelayut manja dengan Diky. Pakaian yang dikenakannya juga sangat minim. Memperlihatkan pangkal paha serta belahan dada. Kemungkinan video itu diambil beberapa tahun lalu.
Linda membulatkan mata. Mulutnya sedikit menganga. Dia tentu tidak menyangka, sosok Zerin yang selalu terlihat ramah dan menenangkan, ternyata memiliki kedok tak terduga.
"Ini Dokter Zerin?" Linda memastikan.
"Jelas sekali kalau itu dia!" sahut Diky yakin.
"Aku boleh minta videonya?" pinta Linda.
Dalam sekejap, berita mengenai Zerin langsung tersebar. Apalagi Linda menyebarkan video Zerin ke grup chat pertemanan.
Ketika waktu menujukkan jam lima pagi, Zidan kembali ke dorm. Dia sama sekali tidak tahu perihal berita Zerin. Sebab Zidan terlalu sibuk membantu Yoga untuk mengurus pasien. Kini Zidan telentang di sebelah Zerin.
"Enak ya bisa tidur berdua. Awas saja kalau kalian macam-macam!" tukas Yoga yang terlihat tidur di ranjang satunya. Dia memilih ranjang bagian atas.
"Terserah kami mau ngapain. Siapa yang suruh ikut tidur di dorm sini." Zidan menjawab sambil memejamkan mata.
"Kau kan tahu sendiri aku takut tidur sendiri," jawab Yoga. Dia juga bicara dalam keadaan mata tertutup. Tanpa terasa, dirinya dan Zidan sama-sama tertidur.
Baru satu jam tidur, sinar mentari menyapa dari balik jendela. Zerin perlahan membuka mata. Dia segera merubah posisi menjadi duduk. Kemudian meregangkan badannya sebentar.
Zerin yang tidak tahu kalau sang suami baru saja tidur, segera membangunkan. Seperti biasa, dia dan Zidan akan joging bersama saat pagi.
"Sayang, sudah pagi. Ayo kita joging." Zerin mengguncang badan Zidan.
"Aku nggak ikut dulu ya..." lirih Zidan malas. Dia masih memejamkan mata.
__ADS_1
"Ayo cepat. Kan kamu yang selalu bilang kalau mau jadi dokter itu harus sehat." Zerin memaksa. Dia menarik Zidan sampai lelaki itu membuka mata.
"Tapi aku capek, Sayang..." Zidan mengucek matanya berulang kali. Berusaha mengumpulkan kesadaran.
"Kau pikir aku nggak capek?" balas Zerin. Dia tidak tahu kalau suaminya tidak tidur semalaman.
"Ayo cepat... Aku nggak mau kalau joging sendiri," kata Zerin.
"Iya, iya..." Zidan memaksakan diri. Dia dan Zerin segera berganti pakaian.
Zidan mengenakan kaos hitam dan celana pendek berwarna senada. Sedangkan Zerin mengenakan bra sport yang dibalut dengan jaket. Perempuan itu menyempurnakan penampilan dengan celana legging panjang.
Zerin dan Zidan melenggang bersama menuju pintu keluar rumah sakit. Orang-orang tampak aneh. Mereka sesekali berbisik sambil menatap Zerin.
"Dokter Zidan nggak capek? Seingatku jam lima pagi baru saja selesai mengurus--" seorang perawat bernama Linda menegur Zidan. Ucapannya terhenti saat melihat Zidan meletakkan jari telunjuk ke depan bibir.
"Jam lima?" dahi Zerin berkerut.
"Dokter Zerin nggak tahu?" tukas Linda sinis. "Dokter Zidan bantuin Dokter Rey semalaman di UGD!" sambungnya memberitahu.
Zerin menatap kesal Zidan. "Kenapa kau nggak bilang?!" geramnya. Dia tentu merasa bersalah.
"Karena aku memang ingin joging. Ayo kita pergi!" Zidan tersenyum lebar. Dia segera mendorong Zerin agar bisa cepat-cepat berjalan.
"Enggak! Kamu harus kembali ke dorm dan istirahat." Zerin menolak. Dia tentu tidak mau melihat suaminya kelelahan.
"Nggak apa-apa. Lagian aku sudah ganti pakaian juga," ujar Zidan. Dia sebenarnya berupaya keras menahan kantuk.
"Dokter Zidan suami idaman banget. Tapi sayang, malah nikah sama mantan sugar baby," sindir Mira sinis. Dia adalah salah satu dokter koas senior.
Deg!
Jantung Zerin serasa disambar petir. Dia langsung menoleh ke arah Mira. Wanita itu terlihat saling berbisik dengan para perawat dan rekan sesama dokter. Zerin bertambah getir tatkala melihat tidak Mira saja yang menatapnya sinis, tetapi juga orang-orang sekitar. Dari sana, Zerin mengetahui bahwa jati dirinya telah terungkap.
"Eh! Jaga mulutmu ya!" Zidan menimpali Dinda.
"Sudahlah. Kita pergi saja." Zerin memegangi Zidan. Dia mengajak suaminya itu kembali ke dorm.
__ADS_1