
Orang tua selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya - Auraliv.
...༻∅༺...
Zerin tergelak mendengar pertanyaan Zidan. Bagaimana bisa lelaki nakal seperti Zidan menanyakan sesuatu seperti pernikahan? Benar-benar bukan gaya lelaki itu.
"Kenapa tertawa? Apa itu lucu?" tukas Zidan.
Zerin berhenti tertawa. "Sangat! Bagaimana seorang Zidan bisa tiba-tiba membicarakan perihal pernikahan? Aku bahkan belum yakin apakah naluri playboymu masih ada atau tidak," tanggapnya sembari sibuk berkutat dengan kamera.
Zidan tersenyum pongah. Mendengar Zerin berucap begitu, dia jadi enggan membicarakan pernikahan lebih lanjut. Lagi pula masa koas memang masih lama. Zidan masih punya waktu untuk membahasnya dengan Zerin.
Malam semakin larut. Bi Devi menyarankan Zidan, Zerin, dan yang lain untuk menginap. Sekarang mereka pergi ke kamar yang telah disiapkan.
Wira dan Arni baru saja masuk ke kamar. Arni tampak lebih dulu berganti pakaian. Sedangkan Wira duduk termangu di tepi kasur.
Semenjak berhasil memergoki kelakuan Zidan dan Zerin, pikiran Wira terus tidak tenang. Dia takut dua sejoli itu tetap melakukan hal tidak senonoh. Wira tidak akan bisa tenang sebelum melihat Zidan dan Zerin menikah.
Terpikir dalam benak Wira untuk memberitahu Arni dan Lia. Terlebih Zidan meminta untuk mengulur waktu. Wira merasa harus melakukan sesuatu agar hal buruk tidak terjadi.
Jika Arni dan Lia tahu, maka Wira tidak akan merasa sendirian mengawasi. Dia akhirnya memanggil Arni. Hingga istrinya tersebut menoleh.
"Ada apa?" tanya Arni.
"Ini tentang Zidan. Dia melakukan sesuatu yang buruk," jawab Wira.
"Zidan? Jangan bercanda. Putra kita tidak pernah melakukan hal buruk." Arni menepis.
"Aku juga selalu berpikir begitu. Tapi hari ini aku melihat buktinya dengan mata dan kepalaku sendiri," ungkap Wira.
"Kau melihat apa?" Arni otomatis dirundung perasaan cemas. Dia segera duduk ke sebelah Wira.
"Berjanjilah kau akan merahasiakannya dan jangan memarahi Zidan atau Zerin!"
"Zerin? Kenapa dia juga terlibat?"
"Mah, berjanjilah. Jika tidak, aku tak akan mengatakannya." Wira memastikan.
"Baiklah. Aku berjanji akan merahasiakannya dan tidak marah kepada Zidan dan Zerin! Emang apaan sih? Bikin penasaran saja." Arni memasang kedua telinganya baik-baik.
Wira lantas memberitahukan Arni mengenai apa yang dia lihat serta pengakuan Zidan. Kabar yang diberitahukan Wira itu sontak membuat Arni kaget bukan kepalang.
"A-apa? Itu tidak mungkin, Pah! Zidan dan Zerin--"
__ADS_1
"Kau berpikir aku berbohong? Kau tahu sendiri kalau aku tidak pernah bicara omong kosong! Apalagi jika terkait masalah anak kita." Wira memotong perkataan Arni. Dia menegaskan bahwa apa yang dikatakannya adalah kebenaran.
Arni merasa tidak percaya. Dia menunjukkan semburat wajah kekecewaan. Sampai akhirnya air mata Arni berjatuhan di pipi.
Wira segera memeluk untuk menenangkan. "Tenanglah. Aku sudah menemukan solusi. Aku sudah membujuk Zidan untuk menikahi Zerin. Tapi aku ingin kita melakukannya secara alami. Agar tidak ada orang yang curiga," tuturnya seraya mengelus pelan bahu Arni.
"Sekarang? Zerin tidak hamil kan?" tanya Arni.
"Tidak. Kita harus memanfaatkan itu sebelum semuanya memburuk. Apalagi kalau sampai Zerin benar-benar hamil." Wira menjelaskan panjang lebar. Ia melanjutkan, "tapi Zidan butuh waktu. Katanya dia akan siap menikah saat masa koas nanti. Karena itulah aku ingin bantuanmu dan Lia. Kita harus membuat Zidan dan Zerin menjaga jarak. Aku hanya tidak mau semakin banyak orang yang tahu bagaimana jauhnya hubungan mereka."
"Tunggu, apa kau menyuruhku memberitahu hal ini kepada Lia?"
"Iya! Dia ibunya Zerin. Hanya dia yang bisa menjaga Zerin dari dekat. Kita akan melakukannya sampai hari pernikahan nanti tiba," ucap Wira.
Arni menghapus cairan bening yang meluruh di wajah. Ia tidak bisa membantah perkataan Wira. Dirinya dan Wira memang membutuhkan bantuan Lia.
Di sisi lain, Zidan baru saja masuk ke kamar. Dia langsung menghempaskan diri ke kasur. Zidan mengambil ponsel dan menghubungi Zerin.
"Apa kau tidur sendiri?" tanya Zidan.
"Tidak. Aku bersama Amira," jawab Zerin dengan nada berbisik. Sepertinya dia bicara diam-diam agar tidak ketahuan Amira.
"Mau tidur denganku?" tawar Zidan.
"Ya, kebetulan Bi Devi menyediakan kamar khusus untukku."
"Baiklah kalau begitu. Aku akan segera ke sana. Kebetulan juga Amira sudah tidur."
Pembicaraan Zerin dan Zidan berakhir. Kini Zidan berganti pakaian.
Saat Zidan sibuk menyematkan kancing piama, Wira datang. Matanya sontak membulat.
"Papah?" Zidan heran kenapa Wira mendadak datang ke kamarnya.
"Kau sendirian? Pas sekali. Aku akan tidur denganmu," ujar Wira santai.
"A-pa?!" Zidan kaget sampai telan ludah sendiri.
"Kenapa kaget begitu? Nggak mau tidur sama Papahnya sendiri?" timpal Wira. Kedatangan dia sekarang memang salah satu rencananya dan Arni. "Atau... Kau sudah ada janji dengan Zerin?" sambungnya sambil melangkah ke hadapan Zidan. Memicing penuh selidik.
"Zerin? Tentu tidak! Ngapain ketemu malam-malam." Zidan menggeleng tegas. Setelah berucap begitu, pintu mendadak terbuka. Sosok Zerin muncul dengan senyuman cerah sambil memegang kamera milik Zidan. Namun senyuman itu pudar ketika melihat kehadiran Wira.
Mata Zerin terbelalak. Otaknya langsung berusaha mencari alasan tepat.
__ADS_1
"Zerin?" Wira terperangah. Dia menatap tajam Zidan. Wira tidak menyangka dugaannya benar seratus persen.
"Maaf, mengganggu. Aku hanya ingin mengembalikan kamera. Makasih, Dan." Hal yang paling di inginkan Zerin adalah melarikan diri secepat mungkin. Tidak ada yang terlintas dalam benaknya selain menyebutkan alasan tersebut. Zerin meletakkan kamera ke atas nakas. Lalu beranjak.
"Ternyata tebakanku benar! Kau sebaiknya cepat-cepat menikah! Akan menjadi aib besar jika kalian terus berbuat begini!" geram Wira dengan kening yang mengernyit dalam.
"Papah kenapa berprasangka buruk. Zerin tadi cuman mau mengembalikan kameraku. Kenapa menyimpulkannya begitu saja?" sahut Zidan. "Papah tenang saja. Aku pasti akan menikahi Zerin saat sudah masa koas nanti."
Mata Wira mendelik. Dia mendengus kasar dan duduk ke tepi ranjang.
"Sebaiknya kau lakukan secara alami. Rahasiakan apa yang sudah aku ketahui ini dari Zerin. Hanya dengan cara alami--"
"Segalanya dapat berjalan mulus. Aku sudah sering mendengar petuah itu dari mulutmu, Pah." Zidan menebak perkataan yang akan dikatakan Wira. Hal tersebut membuat sang ayah mengembangkan senyum. Meski Zidan berbuat salah, rasa sayang, perhatian, dan kagumnya tidak pernah pudar.
Puas saling mengobrol, Wira telentang dan tidur. Zidan memanfaatkan itu untuk memeriksa ponsel. Dia mendapatkan pesan dari Zerin.
'Zidan! Apa-apaan itu?! Kau pasti sengaja mengerjaiku bukan? Jantungku hampir copot pas lihat Om Wira tahu nggak!' begitulah pesan omelan yang dikirimkan Zerin.
'Aku sendiri tidak tahu dia akan datang ke kamarku! Tapi tenang saja. Dia sama sekali tidak curiga.' Zidan membalas pesan Zerin. Selanjutnya, dia segera tidur.
Keesokan harinya, acara pernikahan telah tiba. Semuanya berlangsung lancar dan membahagiakan. Kini Zidan tengah menggunakan kameranya. Dia mengambil foto lumayan banyak. Terutama foto Zerin.
Zidan mendekati Zerin yang sibuk mengobrol dengan keluarga Bi Devi. Jujur saja, sejak tadi pagi perempuan itu terus mengabaikannya.
"Kau kenapa? Marah karena yang tadi malam?" cicit Zidan.
Zerin memutar bola mata malas. "Iya. Kamu sengaja bohong kan?" balasnya.
"Aku kan sudah bilang kalau ayahku datang secara tiba-tiba. Pas banget lagi setelah aku selesai telepon kamu," tanggap Zidan. Tangannya perlahan merangkul pundak Zerin dan berbisik dengan nada sensual, "Maaf ya, sayang... Kita bisa melakukannya lagi di toilet pesawat..."
Mulut Zidan yang begitu dekat dengan kulit, membuat seluruh badan Zerin meremang. Dia dapat merasakan hembusan nafas Zidan.
Zerin menoleh ke samping. Tepat ke wajah tampan Zidan. Keduanya bertukar pandang dalam jarak dekat.
Dari kejauhan, mata Wira dan Arni membola. Sejak tadi keduanya memang terus mengamati interaksi Zerin dan Zidan.
"Kau benar, Pah. Lihat putra kita, aku tidak pernah melihat tatapan nakal itu sebelumnya," ungkap Arni.
"Kau sudah beritahu Lia?" tanya Wira.
"Belum. Itu bukan hal mudah. Aku akan memberitahunya saat pulang dari Bali saja."
"Ya sudah. Ayo kita dekati Zerin dan Zidan. Aku akan membawa Zidan, dan kau urus Zerin." Wira dan Arni melangkah beriringan ke arah putra mereka berada.
__ADS_1