Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 56 - Perjalanan Ke Bali


__ADS_3

Untuk sekarang semua membaik. Tapi setidaknya kita harus bersiap dengan kemungkinan terburuk bukan? - Auraliv.


...༻∅༺...


"Zidan! Kau sudah keterlaluan tahu nggak!" ujar Zerin sembari mencoba melepas pelukan Zidan. Masih dalam keadaan mata yang memejam rapat.


Zidan tergelak geli. Namun saat menerima pemberontakan Zerin begitu serius, akhirnya dia mengalah.


"Oke, oke. Kita keluar sekarang," kata Zidan seraya melepaskan Zerin. Saat itulah dia harus menerima pukulan tas dari perempuan tersebut.


"Dasar jahat!" omel Zerin yang masih terus memukulkan tas ke kepala Zidan.


Puas memukuli Zidan, Zerin pergi begitu saja menuju pintu keluar. Raut wajahnya tampak cemberut. Menunjukkan kalau dia benar-benar marah.


Zidan bergegas mengejar. Dia berhasil meraih tangan Zerin saat keluar dari ruang bioskop.


"Maaf... Aku janji kita nggak akan nonton film begituan lagi," tutur Zidan sembari memeluk Zerin dari belakang. Dia membuat langkah perempuan tersebut berhenti.


Zerin mendengus kasar. Lalu memutar tubuhnya untuk menghadap Zidan.


"Kenapa suka nonton film begitu sih? Kau bukan psikopat kan? Pakai suka segala lagi sama adegan sadis," tukas Zerin dengan nada mengomel.


"Ya bukanlah! Mimpiku kan jadi dokter." Zidan tersenyum. Dia lagi-lagi membawa Zerin masuk ke dalam pelukan. Zidan menciumi puncak kepala sang kekasih berulang kali. "Lagian kalau aku psikopat, kamu nggak bakalan hidup sampai sekarang," sambungnya. Bermaksud bercanda.


"Ish!" Zerin melepas pelukan Zidan. Lalu menampar pelan wajah lelaki tersebut. "Kamu itu bercandanya selalu kebangetan!" komentarnya.


Zidan tersenyum lebar. Dia merangkul Zerin dan melangkah bersama untuk pulang.


"Kau sudah siap untuk berangkat ke Bali besok?" tanya Zidan.


"Aku, Ibu, dan Amira sudah packing tadi pagi," jawab Zerin datar. Dia sudah tidak sabar menjejakkan kaki ke tempat yang sering disebut Pulau Dewata tersebut.


Zidan tersenyum miring. Dia sudah menyusun banyak rencana untuk menghabiskan waktu bersama Zerin di Bali.


Keesokan harinya, Zidan dan kedua orang tuanya sudah siap berangkat. Mereka dan keluarga Zerin akan bertemu di bandara.


"Mah, Pah. Aku ingin meminta sesuatu," celetuk Zidan. Dia, Arni, dan Wira sedang berada di mobil yang sama. Zidan duduk di belakang bersama Arni. Sedangkan Wira tengah duduk di sebelah sopir.


"Apaan? Mau nikah?" tebak Wira. Membuat Arni dan sopir yang mengemudi terkekeh bersama.

__ADS_1


"Ya enggaklah. Kami kan baru pacaran," bantah Zidan dengan dahi berkerut. Dia menghela nafas panjang dan melanjutkan, "aku ingin Bi Lia nggak jadi pembantu kita lagi. Karena aku berniat membantunya membuat usaha kuliner."


Wira dan Arni reflek bertukar pandang. Keduanya saling tersenyum. Seolah tidak masalah dengan permintaan Zidan.


"Kau telat, Dan. Aku dan Papahmu sudah bicara sama Bi Lia malah. Aku dan Bi Lia akan bekerjasama membuka sebuah restoran," ungkap Arni.


Pupil mata Zidan membesar. Dia tentu merasa senang mendengar kabar baik tersebut. Dengan begitu, Zidan tidak perlu repot-repot turun tangan sendiri.


"Yang benar, Mah?" Zidan memastikan.


"Benar lah! Nanti setelah pulang dari Bali, kami akan memulai semuanya. Kau juga tahu sendiri kalau masakan Bi Lia selalu enak," sahut Arni.


Zidan mendengus lega. Kini dia hanya perlu mengurus pembelian rumah mewah untuk Zerin. Lelaki itu berniat akan membelikan rumah saat usaha Lia sudah cukup sukses.


Setibanya di bandara, keluarga Zerin dan Zidan langsung bertemu. Di sana juga sudah ada beberapa pembantu lain yang ikut. Kebetulan semua biaya perjalanan ditanggung oleh Wira. Ia mentraktir seluruh orang yang bekerja di rumahnya.


Atensi Zidan langsung tertuju ke arah Zerin. Perempuan itu sangat cantik dalam balutan dress selutut berwarna merah muda. Ia juga membuat rambutnya agak bergelombang. Rambut pendek sebahu Zerin terlihat menyempurnakan penampilan.


Zidan dan Zerin saling tersenyum. Zidan melangkah laju menghampiri Zerin. Hingga dia akhirnya berdiri tepat di hadapan perempuan tersebut.


"Kenapa? Tatapannya lebay banget," pungkas Zerin.


"Kau sangat cantik. Tapi aku sedang tidak ingin menciummu sekarang. Aku ingin lebih dari itu..." bisik Zidan. Menyebabkan mata Zerin membuncah hebat.


Belum sempat Zerin melakukan sesuatu, Arni terdengar memberi teguran lebih dulu.


"Eh, eh, eh... Zidan! Mau ngapain Zerin kamu, hah?!" tukas Arni.


Zidan sontak menjauh dari Zerin. Dia menatap malas pada ibunya yang menegur.


"Aku cuman berbisik," jawab Zidan.


"Bi Lia, kalau Zidan macam-macam sama Zerin, tinggal marahin saja ya. Ditampar aja kalau perlu," ucap Arni. Berbicara kepada Lia.


"Dih! Mamah apaan coba," tanggap Zidan dengan tatapan memprotes.


Semua orang merespon dengan tawa kecil. Termasuk Zerin sendiri. Diam-diam dia menendang kaki Zidan.


"Jaga sikap, Dan... Kita lagi pergi bareng keluarga. Kamu tuh sadar nggak sih..." cicit Zerin. Berbicara sambil menggertakkan gigi.

__ADS_1


"Kau itu ternyata penakut banget," komentar Zidan.


"Penakut lebih baik dari pada gila!" balas Zerin.


Pesawat akhirnya diumumkan akan berangkat. Zerin, Zidan, dan yang lain segera memasuki pesawat.


Wira sengaja memesan kursi kelas bisnis untuk semua orang. Jadi Zerin dan keluarganya dapat menikmati pelayanan yang nyaman.


Zerin baru saja memilih tempat duduk. Zidan yang melihat, bergegas ingin duduk di sebelah Zerin. Tetapi Arni sigap menghentikan.


"Kamu duduk dekat Papah ya," ujar Arni seraya menyeret Zidan ke kursi yang ada di sebelah Wira.


Zerin terkekeh menyaksikan nasib Zidan. Meski sering bersikap nakal, tetapi lelaki itu selalu menurut dengan ibunya.


Amira menjadi orang yang duduk di sebelah Zerin. Kenyataan tersebut sebenarnya juga membuat Zerin kecewa. Sebagai kekasih, Zerin tentu menginginkan Zidan yang duduk di sampingnya.


Pesawat baru saja selesai lepas landas. Sekarang burung besi itu melaju di udara menembus awan. Perjalanan dari kota Jakarta ke Bali perlu memakan waktu hampir dua jam.


Usai menikmati sajian dari pramugari, banyak orang yang memutuskan tidur dan menonton televisi. Namun tidak untuk Zidan. Dia sesekali menoleh ke arah Zerin. Kekasihnya itu kebetulan duduk di kursi belakang bagian kanan.


Seakan mengerti, Zerin membalas tatapan Zidan. Selang sekian detik, dia mendapat pesan dari lelaki tersebut.


'Kita bertemu di toilet. Ada yang ingin aku bicarakan.' Begitulah bunyi pesan yang diterima Zerin dari Zidan.


'Ada yang dibicarakan atau dilakukan?' Zerin membalas sambil menatap Zidan. Lelaki itu menoleh. Jari telunjuk Zidan di arahkan ke lokasi toilet berada. Seakan mendesak Zerin untuk pergi lebih dulu.


Zerin berseringai. Ia terpikir untuk mengerjai Zidan. Mengingat selama ini selalu dirinya yang kena kerjai.


Zerin berjalan menuju toilet. Ia meninggalkan Amira yang tampak asyik mendengarkan musik dengan headphone.


Zidan tersenyum puas menyaksikan Zerin sudah bergerak. Setelah memastikan perempuan itu berjalan menuju toilet, barulah dia menyusul.


Pintu toilet terlihat tertutup rapat. Zidan yakin kalau Zerin sudah ada di dalam. Tanpa pikir panjang, dia masuk ke toilet. Akan tetapi Zerin tidak ada. Dahi Zidan otomatis berkerut dalam.


Tiba-tiba pintu tertutup sendiri. Zidan mencoba membuka, namun pintunya sudah terkunci. Dia yakin pasti pelakunya adalah Zerin.


"Zerin?..." panggil Zidan.


Benar saja, orang yang mengunci Zidan di toilet adalah Zerin. Suara gelak tawa perempuan itu dapat terdengar jelas oleh Zidan.

__ADS_1


__ADS_2