
Cinta itu butuh kesungguhan - Auraliv.
...༻∅༺...
"Ya, bisa dibilang begitu." Zidan menjawab dengan anggukan.
Zerin tampak mengerjapkan mata berulang kali. Merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan Zidan.
"Kau benar-benar serius?" Zerin lantas kembali bertanya.
Zidan justru terkekeh geli. Dia menjauh dari hadapan Zerin dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
"Setelah banyak hal yang kulakukan untukmu, kau masih berpikir rencanaku adalah candaan?" ujar Zidan sembari menatap langit pelafon. Menjadikan satu tangannya sebagai bantalan.
Zerin mematung di tempat. Memandangi Zidan yang sudah telentang di ranjang.
"Aku hanya merasa kalau rencanamu kali ini benar-benar gila," ungkap Zerin.
Zidan lagi-lagi tergelak. Dia memiringkan badan ke arah Zerin berada.
"Itu memang gila. Namun bagiku itu hal yang mudah dilakukan dibanding urusan dengan Ernest kemarin," balas Zidan. Ia menatap nakal Zerin yang masih berdiri di depan pintu. "Tapi aku tidak akan melakukannya jika kau tidak bermalam di sini malam ini," sambungnya.
Zerin memutar bola mata malas. Dia tentu paham dengan tujuan Zidan.
"Aku rasa kita sudah terlalu sering melakukannya. Kita setidaknya harus melakukan jeda," cetus Zerin. Dia sudah memegang gagang pintu.
"Tidak ada kata jeda bagiku. Lagi pula kita selalu pakai pengaman. Kalau lupa memakainya, aku selalu memberimu pil agar tidak hamil. Aku tahu kau pasti takut bunting kan?" tanggap Zidan santai.
"Tentu saja aku takut. Tapi aku tidak bisa membuat ibu dan adikku cemas."
"Kau yakin? Karena kalau kau tidak mau aku tidak akan melakukan rencanaku tadi. Ya, mungkin menjalani hubungan secara diam-diam lebih baik." Zidan merubah posisinya menjadi telentang. Memejamkan mata dan menghembuskan nafas dari mulut.
Zerin membuka pintu. Dia tidak mengatakan apapun. Itu semua dirinya lakukan karena terlanjur berjanji dengan Amira untuk segera pulang. Akan tetapi tawaran Zidan terus mengganggu pikiran Zerin.
Dengan langkah pelan Zerin menuruni tangga. Rencana yang dikatakan Zidan terngiang di kepala berulang kali.
"Sial! Kenapa aku selalu kesulitan menolaknya?!" Zerin mengkritik dirinya sendiri. Dia mengambil ponsel dan menghubungi Amira.
"Mir, aku tidak pulang malam ini. Kebetulan aku lupa mengerjakan tugas kuliah. Aku terpaksa bermalam di rumah teman untuk mengerjakannya," ucap Zerin.
"Kenapa mendadak? Tadi katanya sudah dalam perjalanan pulang?" balas Amira dari seberang telepon.
__ADS_1
"Iya, soalnya aku baru saja teringat sama tugasnya, Mir. Harus dikumpulkan besok lagi. Tolong bilang sama ibu ya."
"Tapi, Kak--"
Zerin langsung mematikan panggilan telepon lebih dulu. Dia kembali masuk ke kamar Zidan. Lelaki itu membuka mata dan tersenyum puas.
Tas dilemparkan Zerin ke wajah Zidan. Namun lelaki tersebut dapat menangkapnya dengan baik.
Lemparan Zerin tidak berhenti. Dia melepaskan pakaian satu per satu dan melemparkan semuanya kepada Zidan. Termasuk celana dal-amnya yang berwarna merah muda.
"Hahaha!" Zidan otomatis tertawa lepas. Dia merasa lucu sekaligus bahagia.
...***...
Mentari bersinar cerah. Zerin membuka mata. Dia menemukan dirinya berada dalam pelukan Zidan. Tubuh mereka sama-sama telanjang bulat. Tertutupi oleh selimut tebal milik Zidan.
Zerin membalikkan dirinya menghadap Zidan. Kekasihnya tersebut masih tertidur pulas.
Tangan lentik Zerin yang berhiaskan kotex warna merah itu membelai rambut Zidan. Ia mencium lembut pundak Zidan beberapa kali.
Zerin mendekatkan mulut ke telinga Zidan. Lalu memberikan tiupan pelan.
Zidan lantas terbangun. Dia merasakan sekujur tubuhnya merinding. Zidan tersenyum saat menyadari orang yang mengganggunya adalah Zerin.
"Sudah jam berapa?" tanya Zidan sembari melirik ke jam dinding.
"Jam tujuh lewat dua puluh menit," jawab Zerin.
Zidan segera merubah posisi menjadi duduk. Ia mengusap kasar wajahnya. Sedangkan Zerin tampak beranjak dari ranjang. Perempuan itu mengenakan pakaian.
"Aku akan memeriksa keadaan di rumah." Zidan bangkit dari kasur. Ia segera memakai pakaian. Selanjutnya, barulah dia keluar kamar.
Zidan berjalan turun dari tangga. Dia melihat Arni dan Wira ada di meja makan.
"Zidan! Ayo sarapan!" seru Arni yang baru menyadari kehadiran Zidan.
"Nanti, Mah. Aku mau mandi dulu," kilah Zidan. Ia beranjak dari ruang makan. Lalu kembali ke kamar.
Zidan menyuruh Zerin untuk mengikutinya. Mereka melangkah sangat pelan agar tidak ketahuan. Perjalanan keduanya berjalan mulus hingga melewati tangga. Namun bersamaan dengan itu, Wira tiba-tiba muncul. Lelaki paruh baya tersebut baru keluar dari ruang makan.
Mata Zidan dan Zerin sama-sama membulat. Zerin yang tahu harus melakukan apa, segera bersembunyi ke bawah tangga.
__ADS_1
"Zidan! Kamu ngapain? Katanya tadi mau mandi?" tukas Wira dengan dahi yang berkerut.
"A-anu, Pah. Aku olahraga bentar." Zidan menjawab dengan tergagap. Dia mengusap tengkuk tanpa alasan.
"Olahraga?" Wira merasa jawaban Zidan tidak memuaskan. Dia berjalan mendekati sang putra.
Zidan sontak gelagapan. Sebab jika Wira berada di posisinya sekarang, maka otomatis persembunyian Zerin bisa ketahuan.
Zidan bergegas menghampiri Wira lebih dulu. Lalu mengajak lelaki paruh baya itu kembali ke ruang makan.
"Pah, temanin aku makan ya," ujar Zidan.
"Tumben kamu makan pengen ditemanin," balas Wira.
"Kebetulan lagi nggak mau makan sendiri." Zidan beralasan. Dia dan Wira menjauh dari posisi Zerin. Saat itulah perempuan tersebut bisa pergi dari rumah dengan lancar.
Zerin mendengus lega. Dia segera berlari melewati gerbang. Kebetulan juga satpam yang berjaga sibuk makan sambil menonton televisi.
Di meja makan, Zidan menikmati hidangan yang disajikan oleh Arni. Wira juga terlihat duduk sambil membaca berita yang ada di tablet.
Zidan terpikirkan untuk memberitahu hubungannya dengan Zerin. Dia meminum segelas air putih dan bersiap untuk angkat suara.
"Mah, Pah... Ada yang ingin kubicarakan," ungkap Zidan serius.
Arni yang tadinya hendak membawa piring kotor ke dapur, tidak jadi pergi. "Mau bicara apa, Dan?" tanya-nya sembari duduk ke kursi.
"Iya, kayaknya serius banget." Wira juga memusatkan perhatiannya kepada Zidan.
"Aku punya pacar, dan orang yang kupacari ini--"
"Benarkah? Perempuan mana yang kau pacari? Orang Indonesia kan? Mamah nggak mau kalau orang luar negeri ya!" Arni tampak antusias. Karena baru sekarang Zidan membicarakan perihal hubungan asmara.
"Pastikan dia wanita yang baik, Dan. Kau harus mengenalkannya kepada kami." Wira juga sama antusiasnya seperti sang istri.
"Pah, Mah! Dengar aku dulu. Aku belum selesai bicara," ujar Zidan.
"Maaf, Dan. Kami terlalu bersemangat sekarang. Karena kau tidak pernah membicarakan tentang hal begini sebelumnya," tanggap Arni yang kesenangan.
"Mamah kamu benar. Kami terlalu bahagia. Aku bahkan sempat takut kau tidak pernah tertarik dengan wanita," ungkap Wira.
Zidan tersenyum tipis. Dia berkata, "Zerin! Dia perempuan yang kupacari sekarang!"
__ADS_1
Mata Arni dan Wira terbelalak bersamaan. Wira yang tadinya hampir menyuap makanan ke mulut, menjatuhkan makanan tersebut begitu saja.