Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 22 - Berhenti Saja?


__ADS_3

Semuanya bisa berubah dalam sekejap. Bahkan dalam selang satu detik sekalipun - Auraliv.


...༻∅༺...


Zidan menghela nafas panjang. Lalu meregangkan lehernya beberapa kali. Setelah itu, dia menoleh ke arah Zerin. Perempuan tersebut terlihat masih tidur.


Senyuman licik mengembang di wajah Zidan. Ia menarik selimut yang menutupi badan Zerin. Mengamati lekuk tubuh perempuan itu.


"Ya, dia memang cantik. Dengan bentuk badannya yang sangat mendukung," komentar Zidan. Dia bermaksud membangunkan Zerin dengan cara yang tak terduga.


Zidan membuka kancing baju Zerin satu per satu. Hingga belahan dada perempuan itu tampak lebih jelas dengan balutan bra berwarna hitam.


"Sial! Dia memakai bra berwarna kesukaanku." Zidan menelan ludahnya sendiri. "Siapa suruh kau tidur di sini. Sekarang kau harus terima resikonya," ujar Zidan lagi. Dia segera memberi pagutan pelan ke belahan dada Zerin yang nampak.


Badan Zerin langsung berjengit. Tetapi mata perempuan tersebut masih belum terbuka.


Perlahan tangan Zidan mulai meraba alat vital milik Zerin. Saat itulah Zerin terbangun. Dia langsung membuka lebar matanya.


"Zidan! Kau!" Zerin mencoba mendorong Zidan. Tetapi lelaki itu sigap memegangi dua tangannya. Lalu disumpalnya mulut Zerin dengan ciuman menggebu.


Dahi Zerin berkerut dalam. Ia reflek menutup mata. Secara alami mulutnya membalas ciuman Zidan. Dia tidak tahu kenapa. Namun sentuhan lelaki tersebut selalu berhasil membuatnya terbuai.


Puas menyentuh Zerin, Zidan segera beranjak dari ranjang. "Pulanglah! Sebelum ibuku atau ibumu datang. Aku tidak ingin dipergoki untuk kali kedua," ucapnya seraya melepas pakaian atasan. Kini tampilan Zidan bertelanjang dada dengan balutan celana pendek selutut.


"Kau tadi sudah menyentuhku tanpa izin. Jadi kau harus membayar," cetus Zerin sambil mengancing bajunya satu per satu.


"Mulai sekarang aku tidak akan membayar jika melihatmu menikmati sentuhanku. Bukankah itu tidak adil?" balas Zidan. Dia mematut dirinya di depan cermin.


"Kapan aku menikmatinya? Kau selalu memaksaku!"


"Di setiap kita melakukannya!" Zidan mendadak mendekatkan wajah ke hadapan Zerin. Jarak wajah di antara keduanya hanya helat beberapa inci.


Zerin terkesiap. Matanya reflek membola. Zidan memang tidak akan bisa diam saat sudah sehat.


"Apalagi saat mendengar suara des-ahanmu. Bukankah itu namanya keenakan?" Zidan melanjutkan.


Zerin langsung mendorong Zidan. Dia bangkit dari ranjang.

__ADS_1


"Aku ingin kita berhenti saja mulai sekarang. Lagi pula kau sudah memacari Kinar bukan? Perlakukanlah dia dengan baik. Aku juga tidak ingin menjadi teman yang berkhianat," tukas Zerin.


Zidan berdiri tegak. Menatap Zerin dengan serius. "Kau yakin merelakan temanmu untuk jadi pacarku?" tanggapnya sembari tersenyum miring.


"Jika terjadi apa-apa, aku tidak akan tinggal diam. Ingatlah itu!" balas Zerin. Dia segera keluar dari kamar.


Zidan memutar bola mata jengah. Pertanda dia tak acuh dengan ancaman Zerin.


Sebenarnya Zidan masih merasa kurang sehat. Tetapi keadaannya terasa lebih baik dibanding tadi malam. Dia lantas meminum obat bawaan Zerin kemarin malam.


Sementara itu, Zerin sudah tiba di dapur. Dia sedang sibuk menyiapkan sarapan.


Kebetulan Ranti baru saja tiba. Ia langsung menghampiri Zerin dan minta maaf karena tidak datang tadi malam. Bi Ranti beralasan kalau dirinya memiliki kesibukan yang harus diselesaikan.


"Nggak apa-apa kok, Bi. Lagian Tuan Zidannya sudah membaik." Zerin tidak punya pilihan selain memaklumi.


Bersamaan dengan itu, Wira dan Arni pulang. Keduanya langsung memeriksa Zidan. Memastikan keadaan sang putra baik-baik saja.


Setibanya di kamar, Arni dan Wira menemukan Zidan sedang mandi. Hal itu mengartikan bahwa kondisi putra mereka sudah menjadi lebih baik. Sekarang Arni beranjak menemui Zerin.


"Makasih ya, Rin. Sudah jagain Zidan semalaman. Pasti kamu capek. Kamu sebaiknya pulang saja. Biar Bi Ranti yang bikinkan sarapannya," tutur Arni.


"Tapi, Nyonya..."


"Sudah... Kamu ini kayak lagi bicara sama orang asing saja. Nih aku sudah beliin buah-buahan sama makanan untuk kau bawa pulang. Ayo ambil tasmu dan pulang. Beristirahatlah! Kau juga harus pergi kuliah kan?" Arni memotong perkataan Zerin. Dia menyuruh perempuan itu untuk segera pulang.


Zerin tak bisa menolak. Dia pulang sambil membawa banyak buah tangan.


Kini Arni sibuk menyiapkan makanan di meja. Zidan yang telah selesai mandi, muncul dari belakang.


"Mah, lain kali Mamah nggak perlu panggil seseorang buat jaga aku. Ngerepotin tahu nggak!" imbuh Zidan.


"Orang sakit itu mana boleh sendirian. Kamu ini ada-ada saja deh," tanggap Arni seraya memukul pelan pundak Zidan.


"Lagian gimana Mamah tahu kalau aku sakit coba." Zidan berdecak kesal. Dia sebenarnya heran kapan sang ibu mengetahui kondisinya tadi malam.


"Kalau kamu tiduran lebih cepat dari biasanya, maka Mamah yakin pasti ada yang salah. Sebelum berangkat, aku sudah pastikan menyentuh dahimu. Ternyata badanmu sangat panas," jelas Arni.

__ADS_1


Zidan memutar bola mata malas. Dia segera berbalik untuk kembali ke kamar. Namun langkahnya terhenti ketika Arni mencegat.


"Mau kemana kamu?! Sarapan dulu!" titah Arni tegas.


"Iyaa..." dengan malas Zidan duduk ke kursi.


...***...


Waktu menunjukkan jam satu siang, Zidan dan kedua temannya baru keluar dari kelas. Mereka dalam perjalanan menuju kantin.


"Sumpah kepalaku puyeng banget kalau berhadapan sama Pak Anton. Disuruh bertanya mulu," celetuk Jaka. Mengeluh sambil menghembuskan nafas dari mulut.


"Tenang aja, Ka. Kan ada Ernest yang bikinkan pertanyaan buat kita." Zidan merangkul kedua temannya sekaligus. Kebetulan posisinya berada di tengah.


"Iya juga." Jaka setuju. Dia dan Zidan segera melirik ke arah Ernest. Tetapi raut wajah lelaki itu terlihat sendu sedari tadi.


"Mukamu kenapa kusut gitu?" Zidan menuntut jawaban.


"Iya, kayak lagi nahan berak," ujar Jaka yang juga merasa penasaran.


"Ini tentang Zerin..." jawab Ernest. Zidan dan Jaka segera membuang muka. Mereka menghela nafas panjang bersamaan.


"Zerin lagi, Zerin lagi..." keluh Jaka. Geleng-geleng kepala.


"Kali ini beda. Aku dengar dia pacaran sama Kak Adi. Kakak tingkat kita yang sudah koas itu loh. Sumpah! Aku sakit hati banget. Aku nggak karuan makan semenjak kemarin," ungkap Ernest dengan ekspresi masamnya.


"Cari gadis lain aja, Nest. Mau aku carikan?" tawar Zidan.


Ernest lekas menggeleng. "Nggak ada gadis yang bisa gantiin Zerin di hatiku," katanya.


"Kalau begitu, kau masih bisa berjuang kok. Sebelum janur kuning melengkung. Kan Zerin sama Kak Adi cuman pacaran, bukan nikah." Jaka mengemukakan pendapatnya.


Zidan membisu. Melihat ketulusan Ernest dalam mencintai Zerin, dia merasa bersalah. Mengingat dirinya sudah beberapa kali berhubungan badan dengan Zerin.


'Zerin mungkin benar. Sebaiknya sekarang kami lebih baik berhenti. Lagi pula aku sudah punya gadis lain sekarang,' batin Zidan. Dia terus melangkah hingga tiba di kantin. Di sana Zidan bertemu dengan Kinar dan yang lain. Termasuk Zerin sendiri.


"Dan, ini kesempatan besar buat Ernest untuk dekatin Zerin. Kita duduk satu meja saja sama mereka," saran Jaka yang langsung disetujui oleh Zidan.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Zidan dan Zerin duduk satu meja di kantin. Keduanya tidak saling bicara. Mereka justru asyik mengobrol dengan orang lain. Zidan dengan Kinar, sedangkan Zerin bicara bersama Ernest.


Sesekali Zerin dan Zidan saling bertukar pandang. Mereka berusaha bersikap senormal mungkin. Seolah keduanya benar-benar tidak saling kenal.


__ADS_2