Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 36 - Model Kampus Baru


__ADS_3

Sebenarnya tidak ada yang kebetulan. Karena setiap kebetulan itu terjadi berdasarkan pilihanmu - Auraliv.


...༻∅༺...


Dosen baru saja selesai menyampaikan materi kuliah. Dia mempersilahkan seluruh mahasiswanya untuk keluar kelas. Saat itulah Zidan menghampiri Ernest. Dia duduk ke kursi kosong yang ada di depan temannya tersebut.


"Gimana hubunganmu sama Zerin?" tanya Zidan. Jujur saja, dia hampir tidak bisa tidur semalam karena terus memikirkan kedekatan Zerin dan Ernest. Membuatnya tadi pagi harus datang ke kampus agak terlambat. Sehingga Zidan baru sempat bertanya kepada Ernest sekarang.


"Aku rasa berjalan dengan baik. Sikap Zerin welcome banget sekarang. Aku juga berusaha sebisa mungkin menghilangkan kegugupanku saat dekat sama dia," jawab Ernest panjang lebar.


"Cie... Akhirnya penantian panjangmu membuahkan hasil ya." Jaka tiba-tiba mendekat. Dia terlihat berdiri sambil menenteng tas ransel ke salah satu bahu.


"Aku bahagia banget. Zerin juga selalu balas chat aku." Ernest begitu sumringah. Dia yang sedang kasmaran, tidak berhenti membicarakan Zerin.


Zidan yang mendengar merasa jengah. Dia memilih untuk memisahkan diri sejenak dari Ernest dan Jaka. Dengan langkah cepat Zidan meninggalkan kelas.


Ernest dan Jaka reflek bertukar pandang. Keduanya heran terhadap sikap Zidan akhir-akhir ini.


"Zidan kayaknya lagi ada masalah. Sejak kemarin dia terlihat emosi gitu," ujar Jaka seraya sedikit memanyunkan mulut.


"Mungkin gara-gara putus sama Kinar. Aku juga baru tahu karena dikasih tahu Zerin," tanggap Ernest.


"Yang benar? Wah! Pantesan dari kemarin gilanya kumat. Kita cari dia yuk! Zidan pasti butuh hiburan sekarang. Kalau perlu kita ajak ke klub malam."


"Kalau ke klub malam, kau saja sama Zidan gih. Aku mau fokus dengan Zerin, jadi mau tobat sama yang begituan."


"Dih! Tobat. Kenapa nggak sekalian aja masuk pasantren," sarkas Jaka. Dia dan Ernest melenggang bersama untuk menyusul Zidan.

__ADS_1


Sementara itu, Zidan berjalan menyusuri koridor. Mendadak ada seseorang yang memanggil namanya. Dia tidak lain adalah Pak Tian. Salah satu dekan Fakultas.


"Kenapa, Pak?" Zidan terpaksa berbalik. Dia sebenarnya sangat malas berinteraksi dengan seseorang sekarang.


"Masuk sebentar ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan," ajak Pak Tian sembari melangkah masuk lebih dulu ke ruangan.


Dengan menghela nafas berat, Zidan mengikuti. Dia disuruh duduk ke sofa yang ada di ruangan Pak Tian.


"Kemarin aku beserta pegawai-pegawai penting kampus lainnya melakukan rapat. Kami sepakat untuk memilihmu menjadi model Universitas. Karena sebentar lagi tahun ajaran baru akan dilakukan, kami kebetulan belum menemukan model lelaki yang cocok untuk Universitas kita." Pak Tian menjelaskan.


"Pak Willy selaku rektor kampus sangat mengharapkanmu untuk menerima. Jujur saja, kami memilihmu bukan karena kau anak Pak Wira. Tapi karena kau tampan dan juga berprestasi. Kami sangat yakin kau akan menjadi mahasiswa andalan. Terutama di Fakultas Kedokteran ini." Pak Tian nampaknya berusaha keras merayu Zidan.


Senyuman mengembang di wajah Zidan. Dia sebenarnya tidak mau dirinya terlalu menonjol di mata banyak orang. Menjadi biasa seperti sekarang saja, Zidan sudah menarik banyak perhatian orang.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Pak Tian lantas menyuruh orang itu masuk.


"Nah, model wanitanya sudah datang." Pak Tian mempersilahkan Zerin duduk. "Zerin, kau sudah kenal Zidan? Dia akan menjadi model yang akan menemaninu di pemotretan nanti. Kebetulan setelah menerima hasil pemotretanmu sebelumnya, kami merasa kurang kalau kau hanya sendirian," ucapnya sembari menatap Zidan.


"Zidan, kau bersedia kan?" tanya Pak Tian. Berharap lelaki itu bisa memberikan jawaban pasti.


Zerin menoleh ke arah Zidan. Berbeda dengan Pak Tian, dia berharap Zidan tidak akan menerima. Sebenarnya tadi Zerin sangat kaget melihat keberadaan Zidan. Namun dirinya berusaha bersikap tenang sebisa mungkin.


"Aku bersedia!" ungkap Zidan. Membuat senyuman lebar merekah di wajah Pak Tian. Akan tetapi tidak untuk Zerin. Perempuan tersebut langsung mendelik ke arah Zidan.


Setelah dipastikan bersedia, Zidan dan Zerin keluar dari ruangan Pak Tian. Zidan memanfaatkan waktunya untuk mencengkeram pergelangan tangan Zerin. Lalu membawa perempuan itu ke tempat yang jauh dari keramaian. Tepatnya ke sebuah tempat sisi sepi kampus. Dimana semua orang hampir tidak pernah datang atau lewat di sana.


Zidan memojokkan Zerin ke dinding. Dua tangannya menopang ke dinding agar Zerin tidak mencoba pergi.

__ADS_1


"Jangan coba-coba menyentuhku! Aku sedang datang bulan! Jika kau ingin melakukannya, cari saja gadis lain!" tukas Zerin ketus.


"Kau bisa melakukannya dengan mulutmu bukan?!" sahut Zidan. Dia memancarkan sorot tajam dimatanya.


Zerin terperangah. "Coba beritahu aku. Kenapa kau bersedia ikut jadi model bersamaku? Aku yakin kau tidak memerlukan uangnya. Dan setahuku, kau tidak suka berfoto dan menarik perhatian orang banyak," timpalnya. Melipat tangan ke depan dada. Dia membalas tatapan tajam Zidan.


"Aku tidak pernah bilang begitu. Jangan sok-sokan mengenalku!" balas Zidan. Padahal apa yang dikatakan Zerin benar adanya. Zidan sendiri tidak tahu kenapa dirinya menerima tawaran Pak Tian. Namun satu hal yang pasti. Zidan memutuskan untuk ikut ketika melihat kemunculan Zerin.


Zidan dan Zerin saling terdiam untuk bertukar pandang. Tatapan tajam mereka perlahan berubah menjadi lekat. Debaran jantung sama-sama dirasakan oleh keduanya.


"Apa kau menyukaiku? Kau tidak jatuh cinta kepadaku kan?" Zerin menenggak salivanya. Jujur saja, dia sangat sulit berucap begitu. Tetapi Zerin hanya ingin kepastian. Sebab dia merasakan hal yang sama seperti Zidan. Terutama saat melihat tatapan Zidan yang begitu berbeda dibanding biasanya.


Zidan terkekeh sambil memegangi mulut. Dia seolah menganggap apa yang dikatakan Zerin adalah lelucon. Zidan langsung merubah mimik wajah menjadi serius dan berucap, "Berhentilah bicara omong kosong. Sekarang kau fokus saja untuk membayar hutangmu!"


Zerin mendengus kasar. Ia ingin menolak, tetapi tidak bisa. Karena dirinya tahu Zidan akan menggila jika terus mendapat penolakan. Lelaki tersebut mungkin akan melakukan sesuatu di luar dugaan. Zerin tidak tahu apa itu. Namun setidaknya dia tahu kalau Zidan merupakan orang yang sulit ditebak. Bahkan saat mereka pertama kali bertemu.


"Lakukan saja. Aku tidak akan melawan," ucap Zerin dengan raut wajah datar.


"Bagus. Kenapa tidak dari awal saja bilang begitu?" tanggap Zidan. Tangannya sudah meraba buah dada Zerin. Kemudian membuka kancing kemeja yang digunakan perempuan tersebut.


Zidan menenggak salivanya ketika melihat belahan dada Zerin yang menggoda. Karena naf-su telah mencapai ubun-ubun, dia langsung mengulum dalam bibir Zerin dengan buas.


"Mmphh!" tangan Zerin mencengkeram erat kemeja Zidan. Dia kewalahan menghadapi keliaran lelaki itu. Zidan melu-mat mulutnya begitu dalam. Membuat Zerin harus mendongak dan bergumam beberapa kali.


Puas mencium Zerin, bibir Zidan beralih ke leher perempuan tersebut. Ulahnya membuat Zerin reflek memejamkan mata.


Zidan menghabiskan waktu sekitar lima menit lebih hanya untuk menjelajah bagian dada Zerin. Nafas lelaki itu terdengar tersengal-sengal. Organ intimnya juga sudah menegang beberapa menit lalu.

__ADS_1


__ADS_2