
Karma akan melacakmu. Langkah demi langkah dari kota ke kota - Taylor Swift.
...༻∅༺...
Mendengar pernyataan Wira, Zerin dan Zidan perlahan bertukar pandang. Keduanya memancarkan binar datar yang sulit dijelaskan.
"Pah, aku ingin menyelesaikan pendidikan magisterku terlebih dahulu," ujar Zidan. Lalu menenggak air putih dari gelas sampai tandas.
"Itu lama sekali, Dan. Bagaimana dengan Zerin? Aku yakin dia juga ingin cepat-cepat punya anak," sahut Arni yang sependapat dengan Wira. Lia bahkan tampak mengangguk.
"Tidak, Mah. Aku tidak akan siap kalau Zidan juga belum siap." Zerin segera angkat suara. Dia mengembangkan senyuman sambil menggenggam jari-jemari Zidan.
"Bilang saja kalian masih belum puas bersenang-senang berdua," komentar Wira sinis. Dia memutar bola matanya.
"Tuh Papah tahu," tanggap Zidan. Semua orang tergelak bersama sejenak.
"Astaga, ini sudah lebih tiga tahun dan kalian masih belum puas?" tukas Lia. Dia menggeleng tak percaya. Gelak tawa lantas kembali terdengar.
Ketika makan malam sudah selesai, Zerin dan Zidan langsung pulang. Keduanya sedang berada di mobil. Dalam perjalanan menuju rumah pribadi mereka yang mewah.
Zerin dan Zidan sama-sama terdiam. Suasana hening menyelimuti dalam sesaat.
Sebenarnya Zerin hendak mengajak Zidan bicara, namun dia merasa suasana hati suaminya itu sedang tidak baik-baik saja. Jadi Zerin lebih memilih diam.
"Kau benar-benar tidak ingin punya anak?" celetuk Zidan. Ia justru menjadi orang pertama yang memulai pembicaraan.
"Tentu saja ingin. Tapi--"
"Kalau begitu, lakukan saja dengan lelaki lain." Zidan berucap begitu dengan gamblang. Bahkan sengaja memotong ucapan Zerin yang belum selesai.
"Apa maksudmu? Kau menyuruhku selingkuh?!" Zerin menatap tak percaya.
"Bukan selingkuh, jika aku mengizinkan. Aku sama sekali tidak masalah," ungkap Zidan.
"Zidan!!!" pekik Zerin. Dia merasa kali ini Zidan sudah keterlaluan. Bisa-bisanya seorang suami berkata begitu kepada istrinya. Jelas bukanlah sesuatu yang biasa.
"Teganya kau menyuruhku begitu! Kau harus tahu satu hal! Setelah aku menikah denganmu, tidak ada lelaki lain lagi yang ingin kusentuh selain kau!" tegas Zerin dengan dahi berkerut dalam.
__ADS_1
"Tapi kau tahu aku tidak bisa memberikan kepuasan kepadamu!" Zidan balas memekik.
"Maka lakukanlah sesuatu! Berapa lama kau akan membiarkannya, hah?!"
"Kau tidak mengerti! Hal seperti ini adalah hal paling memalukan bagi seorang pria!" Perdebatan Zidan dan Zerin berlanjut.
"Aku tahu! Tapi jika kau masih mencintaiku, setidaknya lakukan sesuatu! Aku akan mencarikan dokter spesialis urologi terbaik untuk menyembuhkanmu!" wajah Zerin memerah. Matanya juga terlihat berpendar akan cairan bening.
Zidan memutar setir. Dia mengarahkan mobil ke pinggiran jalan. Kemudian menginjak rem secara tiba-tiba. Zerin benar-benar terkejut akibat ulahnya.
Zidan mengatur nafas yang memburu akibat amarah. Dia berakhir menyandarkan jidat ke alat setir.
"Maafkan aku, Rin..." Zidan memecahkan tangis. Sungguh, Zidan benar-benar sedih terhadap masalah yang sedang diterimanya sekarang.
"Sayang... Aku tidak peduli bagaimana keadaanmu... Aku hanya ingin kita tetap bersama dan bisa seperti dulu lagi." Zerin membawa Zidan ke dalam pelukan. Setelah sekian lama, mereka akhirnya berpelukan.
Zidan membalas dekapan Zerin. Ia berusaha berhenti menangis sambil membenamkan wajah di dada Zerin.
"Kau harus periksakan keadaanmu ke dokter spesialis. Aku akan menemanimu," ujar Zerin. Dia tersenyum tipis. Bagaimana tidak? Dia sangat merindukan pelukan hangat Zidan yang sudah tidak dirasakan selama sebulan lebih.
"Jangan pernah malu menangis di hadapanku. Semua orang terkadang butuh melakukannya agar bisa lebih baik. Kau tahu itu." Zerin menggenggam lembut lengan Zidan.
"Kumohon lupakan yang kau lihat tadi," ujar Zidan seraya menatap Zerin secara selintas.
Zerin terkekeh. Dia memeluk lengan Zidan. Lalu meletakkan kepala ke pundak lelaki tersebut. Setidaknya hubungan mereka jadi lebih baik sekarang.
Saat pulang ke rumah, Zidan masuk lebih dulu. Di iringi Zerin dari belakang.
Zerin melajukan langkahnya. Dia meraih tangan Zidan. Membalik tubuh lelaki itu untuk menghadapnya.
"Kita memang bertemu setiap hari. Tapi aku sangat merindukanmu!" ucap Zerin. Dia mengecup dalam bibir Zidan dengan perasaan tulus. Matanya memejam rapat.
Puas memberikan ciuman, Zerin melepas tautan bibirnya dari mulut Zidan. Ia perlahan menjaga jarak. Namun Zidan sigap menghentikan.
"Aku juga merindukanmu!" seru Zidan. Dia menarik Zerin. Lalu kembali memadukan bibirnya dengan mulut Zerin.
Malam itu Zerin dan Zidan saling bersentuhan mesra. Meski tidak bisa melakukan hubungan intim, keduanya merasa menemukan tempat paling nyaman di dunia. Di akhir, mereka tertidur bersama di ranjang. Saling berpelukan dalam balutan selimut tebal.
__ADS_1
...***...
Karena hubungan Zidan dan Zerin sudah membaik, Zidan selalu pulang ke rumah saat memiliki waktu luang. Kini dia baru saja menyelesaikan makan siang bersama Zerin.
Zidan dan Zerin berusaha menemukan dokter spesialis urologi terbaik di kota. Karena malu, mereka enggan bertanya kepada rekan sesama dokter dan lebih memilih mencari di internet. Zidan juga tidak bisa pergi mencari dokter terbaik ke luar negeri, karena urusan pekerjaan dan pendidikan yang padat.
"Lihat, klinik ini sepertinya bagus. Hal menariknya, dokter di sini menjamin kerahasiaan identitas pasien," imbuh Zerin yang baru saja mendapatkan informasi melalui ponsel.
"Cukup bagus. Ayo kita pergi sekarang! Tiga jam lagi aku ada jadwal operasi," ujar Zidan sembari bergegas berganti pakaian.
"Baiklah! Aku juga ada jadwal khusus dengan seorang selebriti hari ini," sahut Zerin. Dia juga ikut bersiap.
"Selebriti siapa lagi kali ini? Sepertinya namamu sudah terkenal sebagai dokter kecantikan," tanggap Zidan.
"Entahlah. Aku rasa dia selebriti baru. Ini adalah pertama kalinya dia ingin melakukan perawatan di klinikku." Zerin menjawab sambil memoles bibir dengan lipstik. Setelah sepenuhnya siap, dia dan Zidan segera berangkat.
Setibanya di tempat tujuan, Zerin dan Zidan dipersilahkan mendaftarkan diri di meja resepsionis. Di sana Zidan juga disuruh untuk memberitahukan keluhannya terlebih dahulu.
"Keluhannya apa ya, Tuan? Yang berobat apakah Tuan atau Mbaknya?" tanya resepsionis dengan nada pelan. Sebab ada banyak orang di klinik itu selain Zidan dan Zerin.
Zidan menghela nafas panjang. Dia terlalu malu menyebutkan keluhannya.
"Suami saya. Namanya Zidan Dirgantara. Keluhannya..." Zerin mewakili Zidan bicara. Dia menuliskan masalah Zidan di lembar kertas kosong yang ada di meja.
Hanya dengan kata impoten yang dituliskan Zerin, sang resepsionis itu langsung mengerti. Dia tersenyum tenang dan menyuruh Zidan menunggu terlebih dahulu.
"Ini sangat memalukan..." lirih Zidan seraya memejamkan mata.
"Lebih baik menanggung malu dari pada menanggung penyakit selamanya," sahut Zerin. Mencoba menenangkan Zidan.
Selang sekian menit, nama Zidan akhirnya dipanggil. Dia diperbolehkan masuk. Begitu pun Zerin, selaku istri yang ingin mendampingi Zidan.
Zerin dan Zidan masuk ke ruangan dokter spesialis. Mereka duduk bersebelahan. Tak lama kemudian, dokter yang bertugas datang.
Mata Zerin dan Zidan terbelalak bersamaan. Bagaimana tidak? Dokter spesialis yang didatangi mereka sekarang adalah Ernest! Lelaki yang pernah teraniaya karena ulah Zidan dan Zerin.
Ernest menatap daftar keluhan yang diberikan resepsionis kepadanya. Selanjutnya, barulah dia menatap Zidan dan Zerin secara bergantian. Ernest tidak bisa menahan tawa atas masalah yang menimpa Zidan sekarang.
__ADS_1