
Tidak ada yang kebetulan. Segala yang terjadi sudah tertulis sesuai pilihan - Auraliv.
...༻∅༺...
Di waktu luang, Zerin dan Zidan mendatangi panti asuhan. Keduanya mencoba mencari anak yang cocok untuk diadopsi. Akan tetapi mereka merasa tidak bisa menemukan anak yang dicari.
"Bagaimana dengan yang itu? Dia terlihat lucu kan?" Zerin menunjuk seorang anak dengan rambut ikal.
"Ya, dia cukup..." Zidan tidak melanjutkan perkataannya saat melihat anak berambut ikal itu merebut mainan teman yang lain. "Aku rasa tidak," bisiknya yang langsung berubah pikiran.
"Aku juga baru saja merubah pikiranku," sahut Zerin. Ia dan Zidan mencoba mengamati anak-anak lain. Namun hati mereka masih merasa belum ada anak yang cocok untuk diadopsi.
"Bagaimana kalau dia?" Zidan menunjuk anak lelaki bertubuh gempal.
"Dia lucu. Tapi aku merasa tidak yakin," tanggap Zerin. Alhasil dia dan Zidan memutuskan pulang saja. Mereka akan mencoba mencari anak adopsi di panti asuhan yang lain.
Sekarang Zerin dan Zidan sedang berada di mobil. Keduanya membahas tentang sulitnya menemukan anak yang cocok diadopsi.
"Kalau kita mengabaikan semua kriteria, mungkin akan mudah," celetuk Zerin.
"Kau benar. Kriterianya semakin bertambah saat kita menceritakan semuanya kepada keluarga. Orang tuaku menginginkan anak usia lima sampai tujuh tahunan. Sedangkan ibumu dan Amira ingin anak mudah berteman," ujar Zidan.
"Mungkin kita harus melanjutkannya besok. Aku setelah ini ada janji dengan pasien," imbuh Zerin sembari memeriksa arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
"Aku juga ada jadwal operasi dua jam lagi." Zidan mengarahkan mobil menuju klinik Zerin. Dia mengantarkan istrinya ke tempat kerja lebih dulu. Lalu barulah dirinya beranjak ke rumah sakit.
Dalam operasinya kali ini, Zidan harus menangani seorang wanita tua yang mengidap penyakit kanker stadium empat. Wanita tua itu bernama Firda. Ia sudah siap untuk melakukan operasi.
Zidan lantas menemui Firda. Dia kaget saat melihat siapa wanita tua tersebut. Bagaimana tidak? Putra Firda meninggal akibat keterlambatan Zidan dalam melakukan operasi. Jujur saja, sampai sekarang rasa bersalah itu terus menghantuinya.
Zidan mengeluarkan nafas dari mulut. Ia mencoba bersikap normal. Kini dirinya bertekad akan membantu Firda sebisa mungkin.
"Bagaimana? Apa kau sudah siap untuk melakukan operasi?" tanya Zidan lembut.
Firda mengangguk dan tersenyum. Dia berkata, "Aku sudah siap, Dok."
"Baiklah kalau begitu. Setelah mendapatkan anastesi, kau akan tidak sadarkan diri dan menjalani operasi pengangkatan sel kanker. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," ujar Zidan sembari tersenyum.
Setelah mendapat penanganan anastesi, Firda di operasi oleh Zidan dan rekan medisnya. Waktu operasi berjalan hingga tiga jam lamanya. Namun untung saja Zidan berhasil mengangkat sel kanker dari beberapa bagian tubuh Firda.
__ADS_1
Zidan mendengus lega. Dia merasa bisa membayar kesalahannya terhadap putra Firda tiga tahun lalu.
Kini Zidan tengah duduk di depan ruangan dimana Firda berada. Dia memegang gelas berisi kopi hangat.
Tak lama kemudian, seorang anak lelaki berusia tujuh tahunan muncul dari kejauhan. Dia tampak mengenakan seragam sekolah. Berlari menuju ruangan dimana Firda berada.
Zidan mengamati anak bernama Defan itu. Sampai Defan akhirnya menghampiri.
"Apa nenekku ada di ruangan ini?" tanya Defan dengan wajah polosnya.
"Apa nenekmu bernama Firda Larasati?" tanggap Zidan.
"Iya." Defan mengangguk sambil memegangi tali tas ransel.
"Nenekmu ada di dalam. Tapi--" perkataan Zidan terhenti, ketika Defan bergegas ingin masuk ke ruangan. Tetapi urung dilakukan karena Zidan dengan cepat menghentikan.
"Nenekmu masih belum sadar. Keadaan di ruang operasi juga agak berantakan. Kau bisa menemui nenekmu saat dia sudah dipindahkan ke kamar rawat inap. Mengerti?" tutur Zidan. Berbicara baik-baik.
"Tapi nenekku tidak mati kan?" tukas Defan. Anak kecil sepertinya memang selalu bicara tanpa harus berpikir dua kali.
Zidan terkekeh. "Tidak. Dia akan sehat lagi. Kau boleh duduk di sampingku kalau mau," tawarnya seraya menepuk bangku kosong di sebelah.
"Ngomong-ngomong namamu siapa?" Zidan menulai pembicaraan.
"Defan Pratama. Tapi orang sering memanggilku Defan," sahut Defan.
"Ibumu mana? Apa dia bekerja?" tanya Zidan penasaran. Sebab dia tidak melihat ada orang dewasa yang datang bersama Defan.
"Dia sudah lama meninggalkanku. Bahkan sebelum ayah pergi," jawab Defan. Dia mengayunkan dua kakinya yang menjuntai. Bangku yang Defan duduki memang cukup tinggi.
"Jadi... Kau hanya tinggal bersama nenekmu?" Zidan memastikan. Dia menatap Defan dengan perasaan iba.
"Ya, hanya kami berdua. Makanya aku khawatir nenek akan ikut-ikutan pergi meninggalkanku. Tapi kata nenekku, kalau dia pergi, aku akan tinggal bersama teman-teman yang seumuran. Di tempat yang lebih luas dan nyaman," ucap Defan. Dia kembali memegangi perutnya.
Zidan semakin merasakan belas kasih. Dia tentu paham rencana Firda. Wanita tua itu pasti sudah berencana memasukkan Defan ke panti asuhan.
Pikiran Zidan seketika buyar ketika mendengar suara perut Defan. Dia tersenyum dan segera mengajak anak lelaki itu makan sesuatu.
Zidan membawa Defan ke tempat makan dekat rumah sakit. Di sana anak lelaki itu terlihat makan dengan lahap.
__ADS_1
"Makanlah yang banyak. Kau tidak perlu malu kalau ingin tambah lagi," kata Zidan yang tak kuasa menahan senyuman. Entah kenapa dia merasa jatuh dalam pesona Defan. Anak itu begitu lugu dan mandiri. Di usianya yang tujuh tahun, dia sudah terbiasa pulang pergi ke sekolah sendiri.
'Aku merasa dia adalah anak yang tepat. Lagi pula Defan juga anak yatim piatu,' batin Zidan. Atensinya tidak terlepas dari sosok Defan yang asyik menikmati makanan.
Sambil menunggu Firda sadar, Zidan menjadi orang yang menemani Defan. Dia sering mendatangi anak itu ke kamar Firda.
Zidan sampai membelikan mainan mahal untuk Defan. Sekarang dia baru saja memberikan mainan tersebut kepada Defan. Mereka duduk di sofa dalam ruangan Firda.
"Mobil-mobilannya bagus banget, Om Dokter. Kau benar-benar membelikannya untukku?" Defan kesenangan. Dia memandangi mainan pembelian Zidan dengan perasaan kagum.
"Iya, tentu saja. Hanya kau anak-anak yang ada di sini. Mana mungkin aku membelikannya untuk nenekmu," sahut Zidan. Dia lantas tergelak kecil bersama Defan.
Bertepatan dengan itu, Firda membuka mata. Dia berhasil melihat kebersamaan Zidan dan Defan yang terlihat begitu akrab.
Firda tersenyum tenang. Dia segera memanggil Defan. Cucunya tersebut otomatis berlari ke pelukannya.
"Kalau begitu, sebaiknya aku pergi saja," pamit Zidan. Ia beranjak dari ruangan.
Zidan merogoh saku jas putihnya. Dia mengambil ponsel dari sana. Kemudian menghubungi Zerin.
"Aku rasa aku sudah menemukan anak yang tepat untuk diadopsi!" ungkap Zidan.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan secepatnya menemuimu," sahut Zerin dari seberang telepon.
"Kau bisa ke sini dan melihatnya. Tapi sebelum itu, aku harus bicara dengan neneknya terlebih dahulu."
"Dia masih punya keluarga?"
"Iya. Tapi neneknya menderita penyakit kanker. Aku rasa hidupnya tidak akan lama. Dia juga baru saja siuman pasca melakukan operasi. Aku akan bicara dengan nenek itu saat keadaannya benar-benar baik."
"Jika keadaannya begitu, aku yakin dia pasti membiarkan kita mengadopsi cucunya." Zerin merasa yakin. Pembicaraannya dan Zidan berakhir di sana.
..._____...
Catatan Author :
Guys, bentar lagi novel ini tamat ya. Mungkin di bab 90. Nanti dari bab 91 sampai 100 akan ada bonus chapter yang menceritakan anaknya Zerin dan Zidan. Makasih buat yang masih setia.
Buat Kak Junifa Safa yang telah mencapai fans silver selamat ya. Hadiahnya sudah dikirim 🙏
__ADS_1