
Pikiran yang tenang dapat meredakan banyak hal - Auraliv.
...༻∅༺...
Tiga hari terlewat. Keadaan Firda mulai pulih. Zidan yang merasa waktunya sudah tepat, mengajak wanita tua itu bicara.
"Sepertinya aku bisa menebak apa yang ingin kau bicarakan," ujar Firda. Membuat mata Zidan sontak membulat.
"Benarkah?" tanya Zidan.
Firda mengangguk. "Aku bisa melihatnya sejak awal. Kau dan Defan terlihat begitu akrab. Defan juga sangat menyukaimu. Kemarin saja, Defan bilang kepadaku kalau dia ingin menjadi dokter. Padahal dahulu cita-cita Defan adalah menjadi seorang polisi," ungkap Firda panjang lebar. Dia tergelak kecil bersama Zidan.
Suasana hening terjadi dalam sekian detik. Firda tampak memancarkan tatapan kosong. "Defan anak yang sangat baik dan beruntung. Aku tentu akan setuju kalau kau menganggapnya seperti anak sendiri," katanya pelan.
"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku berniat mengadopsi Defan?" tanya Zidan.
"Aku bertanya kepada seorang perawat di sini tentangmu. Katanya kau dan istrimu belum punya anak," jawab Firda.
Zidan tersenyum tipis. Kabar mengenai keluarganya yang tak kunjung punya anak memang sudah sering menjadi bahan omongan orang. Terutama di lingkungan rumah sakit.
Kepala Zidan tertunduk. Pikirannya akan terus terganggu jika tidak mengatakan apa yang terjadi kepada putra Firda dulu. Zidan merasa harus memberitahu kebenaran.
"Nek, ada sesuatu hal lain yang ingin aku katakan. Kita sebenarnya pernah bertemu sebelumnya. Putramu..."
"Aku sudah tahu juga tentang itu. Bahkan beberapa tahun yang lalu. Itu juga yang menjadi alasanku ingin membiarkan Defan dijaga olehmu. Aku mau kau membayar kesalahanmu." Firda memotong perkataan Zidan.
"Aku sangat bersedia. Terima kasih dan maafkan aku..." Zidan merasa terenyuh. Dia segera mencium punggung tangan Firda.
"Semua yang terjadi bukan karena kebetulan. Aku juga percaya kalau kematian putraku dulu bukan karena dirimu. Tetapi memang sudah nasibnya." Firda memegangi kepala Zidan. Air mata mengalir di pipinya. "Sekarang aku tahu alasan kenapa putraku pergi saat kau sedang bertugas menjadi dokternya. Ternyata semuanya untuk Defan. Apa yang terjadi di antara kita, semuanya memang adalah jalan untuk Defan," tambahnya.
"Aku berjanji akan menjaga Defan dengan baik. Aku juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkanmu," ujar Zidan antusias.
"Lupakan aku, Dok. Aku tahu umurku tidak akan panjang. Kau lebih baik kenalkan Defan kepada istri dan keluargamu. Aku ingin Defan terbiasa dengan kehidupan barunya, sebelum aku benar-benar pergi."
__ADS_1
"Jangan berkata begitu. Aku tahu keajaiban selalu ada. Sebagai dokter, aku bahkan sering melihatnya." Zidan berusaha meyakinkan Firda. Namun wanita tua tersebut hanya menanggapi dengan senyuman. Pembicaraannya dan Zidan berakhir disitu. Zidan segera beranjak untuk kembali bekerja.
Karena sudah mendapatkan izin dari Firda, Zidan mengajak Defan bertemu dengan keluarganya. Terutama Zerin.
Kepribadian Defan yang ceria dan mudah akrab, membuat semua orang menyukainya. Defan juga sangat bersemangat terhadap orang-orang baru.
Hari demi hari berlalu. Zerin dan Zidan juga sudah mengurus tentang hak asuh Defan. Anak itu bahkan pindah ke rumah Zerin dan Zidan. Dia kebetulan tidak sendiri, Firda juga diajak untuk menemaninya. Zerin dan Zidan sama sekali tak masalah dengan kehadiran Firda.
Kehadiran Defan, membuat Zerin dan Zidan merasakan kebahagiaan. Mereka seringkali mengajak anak tersebut jalan-jalan ke puncak. Sekarang adalah kali ketiga mereka pergi bersama. Kebetulan kali ini Firda tidak ikut karena merasa kurang enak badan.
"Apa kita akan melihat kebun buah lagi, Ma?" tanya Defan. Dia memunculkan kepalanya dari belakang. Anak itu sudah terbiasa memanggil Zerin dan Zidan sebagai Mama dan Papa.
"Tentu saja. Kali ini kita akan memetik stroberi," sahut Zerin. Dia mengusap puncak kepala Defan dengan lembut.
"Hati-hati dapat stroberi yang asam." Zidan berniat bercanda.
"Asam? Memangnya ada stroberi yang asam?" balas Defan. Dia memang hanya pernah memakan stroberi pembelian Zerin dan Zidan. Dua pasutri itu selalu membeli buah kualitas terbaik.
"Dih! Papa kenapa bohong? Kata Nenek nggak boleh," tukas Defan seraya mengacungkan jari telunjuk ke depan wajah. Zidan dan Zerin lantas tertawa kecil saat mendengarnya.
Selama seharian, Zerin, Zidan, dan Defan melakukan kegiatan menyenangkan di kebun stroberi. Puas menghabiskan waktu bersama, mereka beristirahat ke villa. Defan yang kelelahan langsung tertidur di kamar.
Kini Zerin berada di kamar mandi. Ia berniat membersihkan diri setelah seharian beraktivitas di bawah terik matahari.
Perlahan pintu kamar mandi terbuka. Zidan muncul sambil tersenyum. Ia mendekati Zerin. Lalu memeluk dari belakang.
"Defan benar-benar anak pembawa kebahagiaan," cetus Zidan yang langsung dianggukkan Zerin.
"Dia berhasil membuatmu sering tersenyum dan tertawa," tanggap Zerin.
"Mau mandi bareng?" tawar Zidan.
Zerin terkekeh. Dia memutar tubuhnya menghadap Zidan.
__ADS_1
"Tentu saja. Kita sudah lama tidak melakukannya di kamar mandi. Di ranjang mulu," tanggap Zerin. Dia mengalungkan tangan ke leher Zidan. Memberikan tatapan lekat kepada sang suami.
"Aku sangat beruntung memilikimu. Terima kasih, Sayang... Kau sudah menerima apa adanya diriku," ungkap Zidan. Menatap dalam manik hitam Zerin.
"Akulah yang beruntung. Kau membuat seluruh hidupku berubah drastis. Dari upik abu, menjadi seorang ratu yang punya segalanya," ujar Zerin. Sekarang dia dan Zidan saling menatap bibir satu sama lain. Tanpa basa-basi, keduanya segera berciuman.
Perlahan Zidan mengangkat Zerin. Sampai perempuan itu didudukkan ke wastafel. Mereka terus lanjut berciuman.
Satu per satu pakaian dilepaskan. Hingga Zerin dan Zidan tidak lagi menutupi badan dengan satu helai benang pun.
Zerin mendongakkan kepala. Dia menggigit bibir bawahnya, ketika Zidan sibuk meluma-aat buah dadanya secara bergantian. Kulit putih bersih Zerin mulai tampak dihiasi dengan tanda merah dari Zidan.
"Eumhh... Sayang..." desis Zerin. Mencoba menahan lenguhan. Dia takut keributan yang dibuatnya bersama Zidan akan membuat Defan terbangun.
Zerin melekukkan tubuhnya ke depan. Dia jelas sudah terangsang dengan sentuhan Zidan.
Merasa harus membalas sentuhan Zidan, Zerin menggigit kuping lelaki itu. Ia juga tak lupa menyentuh organ intim Zidan.
Perlahan Zerin mengecup dalam ceruk leher Zidan. Dia melakukannya cukup lama. Sambil tidak berhenti memberi sentuhan tangan.
Mata Zerin terbelalak saat merasakan sesuatu yang berbeda di alat vital Zidan. Hal serupa juga sebenarnya dirasakan lelaki itu.
Zidan lantas menoleh ke bagian bawah perut. Pupil matanya membesar saat melihat organ intimnya bisa mengeras kembali.
"Sa-sayang..." Zerin merasa tak percaya. Bagaimana tidak? Sudah tiga tahun lebih Zidan mengalami impoten. Kejadian sekarang bak sebuah keajaiban besar.
"Aku tidak akan menyia-nyiakannya!" seru Zidan. Dia membuka kedua kaki Zerin dengan lebar. Kemudian langsung melakukan penyatuan. Lagi pula Zerin memang sudah bergairah sejak tadi.
Serangan yang sudah lama tidak dirasakan Zerin, sekarang bisa terjadi lagi. Dia tidak bisa menahan erangan yang terus menuntut keluar dari mulut. Terlebih hentakan yang diberikan Zidan begitu dahsyat dan bergairah.
"Akh! Akh! Sayang! Pelan-pelan!" Zerin terus mengerang seiring pergerakan Zidan. Ia merasakan puncak secara berangsur-angsur. Tubuh Zerin bergetar hebat akibat ulah Zidan.
Zidan mencengkeram rambut Zerin dengan kuat. Mulutnya juga menempel kuat ke kulit leher Zerin. Hasratnya sekarang benar-benar seperti singa yang kelaparan. Buas dan tak tertahankan.
__ADS_1