Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 43 - Nasib Ernest


__ADS_3

Semua manusia bisa lupa. Terutama saat terbuai akan kebahagiaan - Auraliv.


...༻∅༺...


Zerin tersenyum kecut. Bi Ranti balas tersenyum. Wanita paruh baya itu bersikap ramah seperti biasa.


"Baru saja ngepel, Bi?" tanya Zerin. Mungkin dia terdengar seperti sedang berbasa-basi. Padahal dirinya ingin memastikan sesuatu.


"Iya, baru saja. Tadi habis ngepel di lantai bawah. Kamu?" jawab Bi Ranti. Balas bertanya.


"Aku mengantarkan martabak untuk Tuan Zidan." Zerin menanggapi seraya beranjak menuruni tangga. Dia mengelus dada karena merasa lega. Zerin pulang bersama Lia saat semua pekerjaan telah selesai.


Di kamar, Zidan merebahkan diri ke ranjang. Kegiatan intim yang terjadi tadi membuatnya ingin tidur.


Tetapi saat baru memejamkan mata, dering ponsel terdengar. Zidan mendapatkan panggilan telepon dari Jaka.


"Kau puas bukan? Ernest sekarang ada di kantor polisi!" ucap Jaka dari seberang telepon.


Mata Zidan membulat sempurna. Dia reflek berdiri tegak. "Kau sudah memberitahunya kalau aku akan membantu?" tanya-nya.


"Ya, dia sudah tahu. Ernest sangat marah kepadamu!!" timpal Jaka.


"Aku akan menemuinya sekarang!"


"Tapi--"


Belum sempat Jaka bicara, Zidan sudah mematikan telepon lebih dulu. Ia bergegas pergi ke kantor polisi. Zidan akan bicara dengan Ernest. Dia sebenarnya sama sekali tidak berniat menghancurkan Ernest sejauh itu.


Saat dalam perjalanan, Zidan kembali mendapat telepon dari Jaka. Dahinya berkerut heran. Walaupun begitu, dia tetap mengangkat panggilan tersebut.


"Kenapa?!" timpal Zidan.


"Bukankah aku yang harusnya tersulut amarah!" sahut Jaka.


"Bicaralah! Aku sedang mengemudi sekarang," desak Zidan.


"Aku kebetulan sudah di kantor polisi. Di depanku ada Ernest sekarang. Kami membicarakan mengenai tawaranmu."


"Apa?!" Zidan melebarkan kelopak matanya.


"Ya. Aku hanya ingin memberitahu kalau Ernest setuju untuk tutup mulut. Jadi..." Jaka terdiam sejenak. "Kau sebaiknya cepat bantu Ernest untuk lepas dari tuntutan!!!" pekiknya nyaring. Hingga sukses membuat Zidan reflek menjauhkan ponsel dari telinga.


Zidan tersenyum puas. Dia lantas memutar balik mobilnya. Zidan akan menemui Wira.


Mobil dihentikan Zidan di area parkiran. Dia mematung di kursi kemudi dalam sesaat. Lalu melirik ke sebuah gedung besar di depannya. Gedung itu tidak lain adalah perusahaan utama keluarga Dirgantara. Di sanalah semua bisnis dikelola oleh Wira. Semua orang penting perusahaan berkumpul di gedung tersebut.

__ADS_1


Untuk kali pertama, Zidan mendatangi perusahaan utama keluarganya. Dia berjalan dengan percaya diri ke meja resepsionis.


"Tolong beritahu Pak Wira, kalau Zidan ingin menemuinya," pinta Zidan.


Resepsionis yang berjaga membulatkan mata. Itu karena seluruh orang di perusahaan mengetahui nama putra Wira Dirgantara. Nama yang digadang-gadang akan menjadi pewaris keluarga Dirgantara selanjutnya.


"Zidan? Kau Zidan Dirgantara?" sang resepsionis memastikan. Dia kebetulan seorang perempuan yang memiliki tag nama bertuliskan Fida.


"Ya?" Zidan keheranan menyaksikan ekspresi kaget Fida.


"A-aku hanya memastikan, Tuan. Maaf sebelumnya atas ketidaksopananku." Setelah mengetahui siapa Zidan, Fida dan rekannya langsung membungkuk hormat.


Zidan tersenyum kecut. Dia tidak terkejut sama sekali terhadap reaksi Fida. Mengingat Wira dan Arni sering menceritakan namanya kepada orang-orang. Banyak orang yang tahu nama Zidan tetapi tidak tahu bagaimaba rupanya. Jadi tidak heran Fida kaget saat bertemu dengan Zidan.


"Bersikap santai saja. Tolong bilang pada Pak Wira aku menunggu," ujar Zidan.


Fida lantas menghubungi Wira. Lelaki paruh baya itu agak kaget dengan kedatangan Zidan. Wira tentu khawatir. Karena keadaan putranya belum benar-benar pulih.


Saat menunggu Wira, Zidan mendapatkan pelayanan bak raja dari para karyawan perusahaan. Dia bahkan mendapatkan tiga minuman sekaligus. Ditambah beberapa camilan kemasan dan kue.


Bertepatan dengan itu, Wira datang. Dia terlihat khawatir dan duduk ke dekat Zidan.


"Bukannya beristirahat, kenapa kau malah ke sini?" tukas Wira dengan kening yang mengernyit dalam.


"Ada yang ingin aku bicarakan, Pah. Ini terkait Ernest. Aku ingin kau menarik tuntutanmu padanya," ucap Zidan serius.


"Tapi--"


Wira mengembangkan senyum. Dia merasa kagum dengan sikap rendah hati Zidan.


"Kau luar biasa. Aku semakin yakin kalau kau pasti bisa memimpin perusahaan lebih baik dariku." Wira memegangi pundak Zidan. Ia mengabulkan permintaan putranya sesegera mungkin.


Zidan tersenyum puas. Rencananya berjalan begitu mulus. Sekarang dia hendak beranjak pulang. Namun Wira mencegah kepergiannya. Lelaki paruh baya itu ingin mengajak Zidan berkeliling perusahaan terlebih dahulu.


"Sepertinya tidak bisa, Pah. Kau lihat sendiri kalau kondisiku tidak memungkinkan?" Zidan menolak baik-baik. Dia mendekatkan mulut ke telinga Wira. "Aku ingin tampil tampan saat kau memperkenalkanku kepada semua orang. Jadi jelas bukan hari ini waktunya..." bisiknya.


"Kau benar. Papah lupa. Pulanglah dan hati-hati di jalan." Wira tergelak bersama Zidan.


...***...


Tiga hari terlewat. Insiden perselisihan di antara Zidan dan Ernest dirahasiakan sedemikian rupa.


Tidak ada gosip yang terdengar perihal Zidan dan Zerin. Zidan juga sepenuhnya pulih. Wajah tampannya sudah kembali.


Ernest sendiri memutuskan pindah. Dia tidak lagi berkuliah di Universitas Wijaya Dirgantara. Katanya Ernest berkuliah di universitas lain dengan jurusan yang berbeda.

__ADS_1


Berbeda dengan Jaka. Dia memilih bertahan. Meskipun begitu, Jaka sudah enggan berteman dengan Zidan.


Sekarang Zerin ada di kantin bersama teman-temannya. Mereka membicarakan perihal Ernest.


"Rin, Ernest kok tiba-tiba pindah? Kamu nggak tahu alasannya?" tanya Kinar penasaran.


"Aku nggak tahu." Zerin menggeleng. Dia dan Zidan memang sudah sepakat akan tutup mulut. Begitu pun Jaka.


"Menurutku, Zidan, Ernest, dan Jaka bertengkar deh. Tuh lihat aja. Mereka duduk terpisah begitu." Astrid bicara dengan nada berbisik. Dia juga menatap Jaka yang duduk sendirian. Dilanjutkan dengan menoleh ke arah Zidan yang terlihat duduk bersama teman-teman baru.


"Kayaknya kau benar." Gita sependapat dengan Astrid.


Zerin hanya membisu. Dia menoleh ke arah Jaka. Hingga matanya tidak sengaja bersibobrok dengan lelaki tersebut. Jaka langsung cemberut. Lalu membuang muka. Ia akhirnya beranjak dari kantin.


Kepala Zerin tertunduk. Rasa bersalahnya selalu muncul saat melihat Jaka. Dia sebenarnya sudah puluhan kali menghubungi dan mengirim pesan pada Ernest. Tetapi lelaki itu sama sekali tidak memberikan tanggapan. Nomor Ernest bahkan sudah tidak aktif lagi. Alhasil Zerin menyerah. Lagi pula dia sadar kalau dirinya salah.


Ponsel Zerin tiba-tiba bergetar. Sebuah pesan dari Zidan diterimanya. Lelaki itu mengajaknya berkencan nanti malam.


Senyuman terukir di wajah Zerin. Dia segera melirik Zidan yang duduk tidak jauh bersama teman-teman barunya. Bagi seorang Zidan, mendapatkan teman baru tentu bukanlah hal sulit.


Di sana Zidan membalas tatapan Zerin. Keduanya saling bertukar pandang dari kejauhan.


Selepas menyelesaikan seluruh materi perkuliahan, Zidan dan Zerin bertemu di parkiran. Sekarang keduanya asyik berciuman di kursi mobil depan. Mereka sudah bermesraan lebih dari tiga menit.


Zerin melepas tautan bibirnya dari mulut Zidan. Dia dan lelaki itu sama-sama mengatur nafas.


"Bukankah kita akan berkencan? Kita tidak akan berangkat kalau terus melakukan ini," ungkap Zerin.


"Melakukan apa? Coba jelaskan dulu," tanggap Zidan berlagak tidak mengerti.


Zerin memutar bola mata jengah. Saat itulah atensinya tertuju ke kamera Zidan yang ada di dashboard mobil. Zerin segera mengambil kamera itu.


"Benar juga. Aku melupakan sesuatu tentangmu," ujar Zerin sembari mendelik ke arah Zidan.


"Apa?!" tanya Zidan tak mengerti.


"Kau masih menyimpan foto-foto telanjang wanita bukan?!" timpal Zerin.


Zidan bergegas membuang muka sambil berdehem. Dia justru sibuk menyalakan mobil.


"Zidaaaan?" Zerin menuntut jawaban.


"Oke, oke. Aku memang masih memilikinya. Tapi jujur, setelah kita berpacaran, aku sudah tidak pernah masuk ke ruang gelapku lagi!" Zidan melakukan pembelaan.


"Ruang gelap?" Zerin melipat tangan di dada seraya berpikir. Seringai terukir diwajahnya tatkala terpikirkan suatu hal.

__ADS_1


"Kalau begitu. Kita tunda saja kencan kita malam ini. Aku tidak mau berkencan sebelum melihat kau mengurus foto wanita-wanita telanjangmu itu," cetus Zerin.


"Baiklah, kita ke sana sekarang." Zidan setuju saja. Dia segera menjalankan mobil menuju rumahnya.


__ADS_2