Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 23 - Bertemu Pamannya Adi


__ADS_3

Semua akan terasa saat dia telah menjauh - Auraliv.


...༻∅༺...


Hari demi hari terlewat. Zerin dan Zidan sudah jarang bertemu. Keduanya sekarang sudah memiliki prioritas masing-masing.


Kini Zidan sedang berada di mobil. Dia dan Kinar dalam perjalanan menuju bioskop. Mereka kebetulan sepakat ingin menonton film bersama.


"Zidan, aku mau mengatakan sesuatu kepadamu. Ini mengenai ciuman yang kita lakukan tempo hari," celetuk Kinar. Memecah kesunyian yang sejak tadi terjadi.


"Apa? Katakan saja?" tanggap Zidan.


"Itu adalah ciuman pertamaku. Sejujurnya aku sangat gugup saat kau menciumku kemarin," ungkap Kinar sembari menatap Zidan dengan ujung matanya.


"Benarkah?" Zidan menatap Kinar selintas. Dia tidak tahu harus berkata apa. Ternyata Kinar adalah gadis baik-baik.


Keinginan Zidan yang pernah terbersit dipikirannya seakan terwujud. Sekarang dia bisa dekat dengan salah satu gadis seperti Kinar.


"Aku percaya kalau kamu lelaki baik. Karena yang aku tahu keluarga Dirgantara banyak dikagumi orang. Salah satunya adalah kedua orang tuaku. Mereka pasti senang saat mengetahui aku berpacaran denganmu. Apa kau nanti bersedia menemui mereka?" ujar Kinar. Menatap penuh harap.


Zidan membisu. Dia seakan dikekang oleh sesuatu. Entah kenapa Zidan merasa tidak bisa menjadi dirinya sendiri ketika bersama Kinar.


Langsung terlintas nama Zerin dalam benak Zidan. Dia jadi merindukan perempuan itu. Segalanya begitu natural saat bersama Zerin.


'Sial! Kenapa aku tiba-tiba memikirkan Zerin?' batin Zidan. Dia tenggelam dalam pikiran sendiri.


"Zidan?" Kinar menunggu jawaban Zidan. Panggilannya sukses menyadarkan lelaki tersebut dari lamunan.


"Eh, anu. Tentu saja bisa," ujar Zidan. Dia terpaksa mengiyakan.


"Makasih ya..." Kinar menggenggam jari-jemari Zidan. Lalu meletakkan kepala ke pundak lelaki itu.


"Nggak salah aku memilihmu sebagai orang pertama yang berciuman denganku. Aku tidak akan melupakan momen itu," ucap Kinar tulus.


Zidan tersenyum kecut. Dia menghembuskan nafas dari mulut. Ternyata berhadapan dengan gadis baik-baik sangatlah berbeda.


Di sisi lain, Zerin dan Adi baru saja selesai berbelanja. Keduanya tidak pernah melepas gandengan tangan mereka. Tertawa lepas sambil melangkah bersama.


Kebetulan Adi mengajak Zerin untuk bertemu pamannya di tempat karoke. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke sana.


"Kenapa di tempat karoke? Apa Om kamu suka bernyanyi?" tanya Zerin penasaran. Dia terlihat sangat cantik dengan make up tipis dan balutan dress selutut.

__ADS_1


"Omku itu memang suka bersenang-senang. Aku yakin kau pasti akan cocok dengannya," kata Adi antusias. Sejak kecil, dia memang tinggal bersama pamannya yang sudah menduda.


"Apa aku terlihat suka bersenang-senang?" Zerin mendekatkan wajahnya ke dekat Adi. Sengaja ingin membuat sang kekasih merasa gemas.


"Bukan begitu. Maksudku kau orangnya menyenangkan. Pamanku juga begitu."


"Harusnya lebih spesifik dari awal." Zerin mencubit pipi Adi. Dia berhasil membuat lelaki itu tertawa geli.


Adi lantas mengusap lembut puncak kepala Zerin. Saat lampu merah menyala, mobil dihentikan oleh Adi. Ia langsung menyatukan bibirnya dengan mulut Zerin.


Bertepatan dengan itu, mobil Zidan juga berhenti. Posisinya berada persis di sebelah mobil Adi.


Ketika menoleh ke arah mobil samping kanan, Zidan dapat menyaksikan dua sejoli yang asyik berciuman. Ia menyipitkan mata. Mencoba memperjelas orang yang dilihatnya. Sebab punggung dan rambut pendek sebahu yang dia lihat terasa tidak asing.


'Apa itu Zerin?' batin Zidan menduga.


"Eh, itu mirip mobil Kak Adi!" seru Kinar. Dia ikut memperhatikan mobil Adi. Matanya membulat kala melihat apa yang dilakukan sang pemilik mobil.


"Apa itu Adi dan Zerin?" tanya Zidan.


"Itu pasti! Aku sangat tahu bagaimana gaya rambut temanku," jawab Kinar sembari memegangi bibirnya sendiri.


Zidan terdiam seribu bahasa. Ia masih menatap ke arah Zerin. Ada perasaan mengganjal dihatinya. Entah kenapa Zidan merasa tidak rela melihat Zerin bersama lelaki lain.


"Ya, kalau boleh..." jawab Zidan. Dia segera mendapat kecupan singkat dari Kinar. Tetapi ciuman itu terasa biasa saja. Zidan bahkan tidak berminat melakukan ciuman lebih lanjut bersama Kinar.


Sementara Kinar masih terus menatap Zidan. Berharap lelaki tersebut membalas ciumannya.


Zidan sebenarnya mengerti. Namun kemunculan Zerin barusan membuat hatinya tidak karuan. Untung saja lampu hijau menyelamatkan Zidan. Hingga Kinar membiarkan dia fokus menjalankan mobil.


...***...


Adi dan Zerin sudah tiba di tempat karoke. Mereka menemui pamannya Adi di ruang VIP.


Pupil mata Zerin membesar ketika melihat sosok paman Adi. Dia tidak lain adalah Fadli. Duda yang pernah beberapa kali menyewa jasa Zerin. Tidak! Fadli bahkan pernah satu kali melakukan hubungan intim dengan Zerin.


'Sial! Sial! Kedokku bisa ketahuan kalau begini." Zerin merutuk daam hati. Dia lekas-lekas menundukkan kepala. Berusaha keras menutupi wajahnya dari Fadli.


"Om, ini dia gadis yang aku ceritakan setiap hari. Namanya Zerin. Cantik kayak orangnya." Adi menarik Zerin ke hadapan Fadli. Mencoba memperkenalkan perempuan tersebut baik-baik.


"Rin, ini dia Om Fadli. Orang yang sudah bikin aku bisa kuliah di Fakultas Kedokteran," ujar Adi.

__ADS_1


Zerin tersenyum kecut. Lalu mendongakkan kepala. Menatap Fadli dengan pandangan getir.


Fadli memperhatikan Zerin dengan seksama. Kelopak matanya melebar. Dia tentu sangat mengenal Zerin.


"Oh, ini yang namanya Zerin." Fadli berusaha bersikap seolah tidak mengenal.


Zerin benar-benar merasa lega. Namun kejadian sekarang membuatnya ingin cepat-cepat memutuskan hubungan dengan Adi.


Semuanya berjalan lancar. Zerin, Adi, dan Fadli bahkan sempat bernyanyi bersama. Sesekali Adi dan Fadli bertukar pandang, seakan ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan.


Satu jam terlewat. Semua orang sudah saling bergantian menyanyi solo. Adi menjadi orang yang terakhir bernyanyi sendiri. Sedangkan Zerin dan Fadli terlihat duduk di sofa. Meskipun begitu, posisi keduanya agak berjauhan.


Fadli menatap ke arah Zerin dengan serius. Jujur saja, tatapannya sukses membuat perempuan itu terintimidasi. Fadli bukannya tertarik kepada Zerin, dia seolah tengah memarahi dengan tatapannya.


"Adi! Berhenti dulu. Ada yang mau Om bicarakan," ujar Fadli. Menyuruh Adi berhenti bernyanyi.


Adi lantas menurut. Ia segera mematikan musik karoke. Lalu duduk ke dekat Zerin. Adi mencoba menggenggam tangan sang kekasih. Akan tetapi Zerin dengan cepat menjauhkan tangannya.


Kening Adi sontak mengernyit. Dia bingung kenapa Zerin mendadak menghindarinya.


Adi hanya bisa berpikir positif. Mungkin saja Zerin sedang malu karena ada Fadli bersama mereka.


"Kenapa, Om? Mau bicara apa?" tanya Adi.


Fadli menghela nafas. Lalu duduk tegak. Menatap Adi dan Zerin secara bergantian.


"Aku dan Zerin sudah saling kenal," kata Fadli.


Jantung Zerin berdegub kencang. Dia tentu kaget Fadli akan membeberkan segalanya tentang jati dirinya.


"Maksud, Om?" Adi menuntut jawaban.


"Tapi berjanjilah untuk merahasiakan semua ini. Aku yakin Zerin berusaha menutupinya mati-matian," ucap Fadli blak-blakkan. Perasaan panik Zerin otomatis kian memuncak.


"Om bicara apa?! Aku tidak mengerti!" tanggap Adi.


"Ayo katakan, Rin. Lebih baik kau sendiri yang mengatakan. Aku hanya tidak mau keponakanku memilih jodoh yang salah." Fadli menatap Zerin dengan serius.


"A-aku tidak mengerti maksud, Om." Zerin tentu tidak akan mengungkapkan rahasianya begitu saja. Dia tampak berusaha menyembunyikan rasa takutnya sebisa mungkin.


"Om kenapa begini? Jangan bikin Zerin takut!" tukas Adi sembari merangkul Zerin.

__ADS_1


"Zerin bukanlah wanita baik-baik. Dia bekerja sebagai sugar baby. Om bahkan pernah sekali bercinta dengannya," ungkap Fadli gamblang. Tanpa memikirkan perasaan Zerin.


__ADS_2