Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 73 - Akhirnya Tetap Ketahuan


__ADS_3

Rahasia tidak bisa disembunyikan selamanya. Apalagi jika melibatkan banyak orang - Auraliv.


...༻∅༺...


Pasien yang datang cukup banyak. Mereka merupakan korban kecelakaan beruntun. Pengemudi truk yang mengantuk adalah penyebab utama terjadinya kecelakaan tersebut.


Para dokter koas berusaha semaksimal mungkin membantu. Termasuk Zidan dan Zerin sendiri.


Zidan menggunakan otak dan tangannya dengan telaten. Serta memberi perintah kepada perawat untuk melakukan hal yang menurutnya tepat. Dari mulai memeriksa tensi darah sampai detak jantung. Berbeda dengan Zerin, yang mendapat tugas menangani pasien yang terkena luka kecil. Pasutri itu tentu tidak melakukannya sendiri, ada dua teman mereka yang juga merupakan dokter koas.


"Rin, kau sudah selesai? Kalau sudah, kau bisa bantuin aku periksa pasien nggak? Aku bingung," pinta Thalia. Dia merupakan dokter koas satu angkatan dengan Zerin.


"Baiklah. Tunggu sebentar." Zerin berusaha mempercepat kinerja. Kebetulan dia sedang mengurus luka yang cukup besar salah satu pasien.


"Linda, tolong selesaikan ya," perintah Zerin kepada seorang perawat. Dia segera mendatangi Thalia. Temannya itu terlihat kesulitan mengobati pasien. Karena lelaki paruh baya yang diobatinya terus mengomel.


"Dasar tidak becus! Kau membuat lukaku tambah sakit! Apa benar kau seorang dokter, hah?! Bagaimana bisa rumah sakit besar begini menerimamu bekerja?!" timpal lelaki paruh baya berdasi tersebut.


Zerin tidak terlalu mengamati wajahnya. Dia terfokus memperhatikan luka lelaki paruh baya itu. Kemudian bergegas menghampiri Thalia.


Menurut Zerin, Thalia sudah melakukan pengobatan yang benar. Hanya saja lelaki paruh baya yang diobatinya tidak pandai menahan rasa sakit. Jadi dia terus memarahi Thalia dan menghilangkan fokus gadis itu.


"Maaf, Pak. Temanku sudah melakukan hal yang benar untuk mengobati lukamu," tutur Zerin seraya mengamati luka di lengan si lelaki paruh baya.


"Zerin? Kau kah itu?" ucap sang lelaki paruh baya. Dia sepertinya mengenali Zerin.


Zerin langsung menoleh. Kini akhirnya dia melihat dengan jelas wajah lelaki paruh baya tersebut.


Mata Zerin membulat sempurna. Jantungnya juga bertabuh lebih cepat. Bagaimana tidak? Lelaki paruh baya di hadapannya sekarang adalah salah satu pelanggan Zerin saat masih menjadi sugar baby. Lelaki itu bernama Diky.


"Maaf, kau salah orang." Zerin menundukkan kepala. Dia diserang rasa panik tak terkira. Konsentrasinya seketika hilang.


"Thalia, maaf. Aku sepertinya tidak bisa membantu. Aku akan panggilkan Zidan," kata Zerin.


Thalia mengangguk. Dia mencoba memahami Zerin.


Saat Zerin hendak beranjak, Diky menghentikan. Dia memegang Zerin dengan tangannya yang tidak terluka.


"Jangan pergi, dokter. Aku hanya mau diobati olehmu." ujar Diky. Ia yang tadinya sempat marah, merasa senang ketika melihat sosok Zerin.

__ADS_1


"Ya sudah, Rin. Kalau begitu kau saja yang mengobatinya. Sepertinya Om ini mengenalmu," ucap Thalia. Dia yang mengerti langsung beranjak untuk mengurus pasien lain.


Zerin menghembuskan nafas berat. Dia tidak punya pilihan lain selain mengobati Diky.


Sambil terus menundukkan kepala, Zerin mulai melakukan pengobatan ke lengan Diky yang terluka. Pertama-tama, Zerin menuang alkohol ke kapas. Lalu mengolesnya dengan perlahan ke luka Diky.


"Pantas aku tidak bisa menemuimu lagi. Ternyata sekarang kau bekerja jadi dokter. Apa semua karena uang tambahan yang selalu kuberikan?" tukas Diky sembari sesekali meringiskan wajah akibat menahan rasa sakit. Walaupun begitu, setidaknya dia sudah berhenti mengomel.


Zerin hanya diam. Dia tentu enggan membahas perihal masa lalunya. Terutama terkait pekerjaannya sebagai sugar baby.


"Aku merindukanmu, manis..." Diky mencolek dagu Zerin dengan tangan satunya. Tindakan tersebut, membuat Zerin reflek menghindar.


"Maaf, Pak. Kau tidak sepantasnya berbuat begitu kepadaku!" tegas Zerin dengan dahi berkerut.


"Apa? Tidak pantas? Bwahahaha!" Diky bicara dengan lantang. Gelak tawanya membuat orang-orang sekitar menoleh. Salah satu dari mereka adalah Zidan. Sebagai suami Zerin, dia tentu mencemaskan sang istri.


"Hentikan! Jangan membuat pasien lain terganggu." Zerin memperingatkan. Dia mempercepat pengobatannya terhadap luka di lengan Diky. Hal tersebut membuat semua orang berhenti memandang ke arah Zerin dan Diky.


"Tentu saja pantas, Manis... Kau itu seorang pela-cur bukan?!" Diky kali ini berusaha menyentuh bokong Zerin. Namun gagal karena Zerin sigap memegangi tangannya.


"Sikapmu sudah keterlaluan, Pak!" geram Zerin.


Sekali lagi Zerin melakukan perlawanan. Akan tetapi Diky memegang tangannya semakin erat.


"Hentikan!" kata Zerin. Dia saling melakukan perlawanan dengan Diky. Sampai akhirnya Zerin terpaksa melakukan serangan. Perempuan itu menekan luka Diky sekuat tenaga. Usahanya sukses membuat Diky mengerang kesakitan.


"Aduh... Tolong! Dokter jallang ini berniat membunuhku!" seru Diky. Membuat semua orang lagi-lagi menoleh ke arahnya.


Zidan bergegas menghampiri. Dia merasa Zerin sedang terlibat masalah serius.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Zidan.


"Dia mencoba melecehkanku. Jadi aku terpaksa menyakitinya," jawab Zerin.


"Apa?!" Zidan langsung melotot ke arah Diky. Ia segera mencengkeram kerah baju lelaki paruh baya tersebut.


Keributan yang terjadi, menarik seluruh orang di ruangan. Termasuk dokter spesialis bedah yang baru datang. Dia berusaha menghentikan.


"Zidan! Hentikan!" titah Reymond. Selaku dokter spesialis bedah yang bertugas.

__ADS_1


"Pasien ini tadi mencoba melecehkan Zerin!" cetus Zidan. Melakukan pembelaan.


"Aku tidak melecehkan! Dokter yang bernama Zerin ini memang adalah seorang pela-cur. Tentu saja aku berusaha menyentuhnya!" ungkap Diky seraya menunjuk Zerin dengan jari telunjuk.


Gigi Zidan menggertak kesal. Dia tentu marah istrinya disebut sebagai pela-cur. Bogem Zidan sudah di angkat ke hadapan wajah Diky. Dia tentu berniat menonjok wajah lelaki paruh baya tersebut.


Reymond buru-buru menghentikan. Dia menahan serangan Zidan.


"Jangan gila! Dia adalah seorang pasien! Tolong jernihkan pikiranmu!" kata Reymond.


"Bagaimana aku tidak marah! Dia mengatai istriku pela-cur!" sahut Zidan. Tak terima.


Mata Diky terbelalak. Sekarang dia paham kenapa Zidan berusaha menyerangnya.


"Zerin adalah istrimu? Wah... Kau beruntung sekali. Kau pasti bisa melihat payu-dara besarnya setiap hari," imbuh Diky.


Amarah Zidan sontak kian memuncak. Dia sekali lagi berusaha menyerang Diky. Tetapi Zerin memeluk dan berusaha keras menghentikan.


Zerin terlihat terus menundukkan kepala. Dia tidak bisa menahan tangis karena merasa sangat malu.


"Kenapa kau menghentikanku, hah?! Dia sudah menghinamu habis-habisan!" ujar Zidan dengan dahi yang berkerut dalam.


"Zerin! Kau dan Zidan sebaiknya pergi. Tenangkan diri kalian! Biar aku dan yang lain mengurus pasien ini," saran Reymond.


Zerin mengangguk dalam keadaan berlinang air mata. Dia segera membawa Zidan beranjak dari hadapan Diky.


"Nanti jenguk Om lagi ya, Manis..." seru Diky. Sebelum Zerin dan Zidan benar-benar pergi.


Mendengar hal itu, Zidan mencoba kembali. Namun Zerin tidak membiarkan.


"Sudah, Sayang! Kita pergi saja." Zerin memegang wajah Zidan.


Tangisan Zerin, membuat Zidan tidak bisa menolak. Alhasil dia menurut dan pergi menjauh dari Diky. Sekarang keduanya duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap dinding kaca. Dari sana mereka dapat melihat taman rumah sakit yang dihiasi air mancur, bunga, dan rerumputan.


"Aku sepertinya harus bersiap. Cepat atau lambat, semua orang pasti akan tahu," celetuk Zerin seraya menghapus air mata dari wajah.


"Tidak! Aku akan melakukan sesuatu! Kau tenang saja," tanggap Zidan.


Zerin memeluk lembut Zidan. "Maafkan aku... Seharusnya kau tidak menikah dengan perempuan sepertiku..." lirihnya yang kembali terisak. "Sekarang kau harus ikut menanggung malu," tambah Zerin.

__ADS_1


__ADS_2