Gairah Cinta Zerin & Zidan

Gairah Cinta Zerin & Zidan
Bab 64 - Gangguan


__ADS_3

Gangguan bisa datang kapan pun. Bahkan di saat kita sedang terbuai akan sesuatu - Auraliv.


...༻∅༺...


Kini Arni sedang sibuk memasak di dapur bersama Lia. Dia berniat ingin membicarakan perihal Zidan dan Zerin kepada wanita itu. Arni juga sekaligus akan membicarakan mengenai usaha restoran.


"Bi Lia. Bisa bicara sebentar." Arni memanggil dari meja makan.


"Baik, Nyonya..." Lia lantas mendekat. Dia segera duduk ke kursi yang tersedia. "Ada apa ya?" tanya-nya penasaran.


Arni memilih untuk membahas mengenai restoran lebih dulu. Dia memberitahu Lia agar berhenti menjadi pembantu.


"Nyonya serius mau buka restoran bersamaku?" Lia merasa tidak percaya.


"Tentu saja." Arni mengangguk yakin.


"Tapi kenapa? Aku tidak mau merepotkanmu sampai sejauh itu."


"Alasan pertama karena aku ingin mencari kegiatan lain selain menjadi ibu rumah tangga. Alasan kedua, karena kau adalah partner memasak yang paling cocok denganku. Dan alasan terakhir, karena kemungkinan kita sebentar lagi akan menjadi besan." Arni menjelaskan panjang lebar.


"Apa? Be-besan? Apakah Zidan sudah ingin menikahi Zerin?" Lia membulatkan mata. Dia tentu merasa hubungan Zidan dan Zerin berjalan cukup cepat.


"Ya, kita harus menikahkan mereka secepat mungkin. Karena..." Arni segera menceritakan semuanya mengenai apa yang sudah diberitahukan Wira.


Lia tentu kaget. Ternyata apa yang dilihatnya tempo hari saat di dapur, hanya sebagian kecil atas kemesraan liar Zerin dan Zidan.


"Maafkan aku... Putraku sudah berbuat yang tidak sepatutnya kepada Zerin. Aku berjanji akan membuat Zidan menikahi Zerin." Arni memegangi tangan Lia.


"Kenapa kau minta maaf? Di sini kedua anak kita sama-sama salah. Tapi jujur, aku sangat beruntung lelaki yang dicintai Zerin adalah anakmu dan Wira. Kalian sama sekali tidak jijik dengan status sosial yang kami miliki. Andai keluarga lain, mungkin sekarang aku dan Zerin akan di suruh pergi sejauh mungkin," ungkap Lia seraya menggenggam tangan Arni. Dia menitikkan air mata. Bukan saja karena sedih terhadap kelakuan Zerin, tetapi juga karena merasa terharu akan segala penerimaan Arni dan Wira.


"Di dunia ini sulit mencari orang baik. Kau dan keluargamu adalah orang baik. Bagaimana kami bisa menolak besan sepertimu. Masalah uang, kau tidak usah khawatir. Mengingat sekarang kita akan membangun usaha bersama." Mata Arni berkaca-kaca. Dia dan Lia saling berpelukan.


Selanjutnya, Arni memberitahu Lia untuk menjaga Zerin baik-baik. Dia juga tidak lupa kalau Zidan akan menikahi Zerin dalam beberapa bulan lagi. Selama itu, Arni, Wira, dan Lia bertekad membatasi kebiasaan liar anak mereka.


Arni juga menyarankan Lia agar tidak memberitahukan semuanya kepada Zerin. Dia akan menjalankan rencana yang di inginkan Wira. Yaitu membuat semuanya berjalan secara alami.


Waktu menunjukkan jam delapan malam, Lia baru pulang ke rumah. Bersamaan dengan itu, Zerin keluar dari kamar. Putrinya tersebut tampak berpenampilan anggun dan cantik. Zerin sepertinya ingin pergi ke suatu tempat.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Lia.


"Aku akan jalan sama Zidan sebentar, Bu. Aku janji nggak akan pulang larut malam." Karena Zerin masih belum tahu kalau kedoknya dan Zidan ketahuan, dia memilih bicara jujur.


"Tidak! Kau tidak boleh kemana-mana sekarang," tegas Lia sembari mengunci pintu depan.


"Bu..." Zerin memelas.


"Kamu kan selalu ketemu Zidan setiap hari di kampus. Belum lagi pas berkunjung ke rumah keluarga Dirgantara. Apa itu masih belum cukup?" tanggap Lia dengan dahi berkerut. Dia meletakkan tas bahu ke meja. Lalu duduk ke sofa. "Mulai sekarang, kalau mau jalan pas siang saja. Aku baru dengar dari tetangga sini katanya banyak anak gadis yang hilang karena dibegal," ujarnya.


Lia tidak mempunyai alasan lain untuk menghentikan Zerin. Dia terpaksa membuat kabar yang dibuat-buat agar Zerin takut.


"Aku nggak takut sama begal, Bu. Kau kan tahu kalau aku bisa karate." Zerin mencoba merubah pikiran sang ibu.


"Pokoknya tetap tidak boleh!" Lia menegaskan. Dia beranjak membawa kunci dan masuk ke kamar.


Zerin terperangah. Dia terpaksa ikut masuk ke kamar.


Di waktu yang sama, Zidan melangkah cepat menuruni tangga. Langkahnya terhenti ketika Wira bangkit dari sofa. Lelaki tersebut berjalan ke hadapan Zidan. Seakan sengaja menghalangi jalan Zidan.


"Pah, aku mau pergi sebentar ketemu teman-temanku. Apa tidak boleh juga?" tukas Zidan.


"Teman!" Zidan mempertegas.


"Tidak boleh. Mulai sekarang, kau tidak boleh keluar malam kecuali bersamaku. Mengerti?"


"Perlakuan macam apa ini?! Kenapa kau memperlakukanku seperti anak balita?!" protes Zidan dengan nada penuh penekanan.


"Karena kau sudah berbuat yang tidak-tidak! Wajar jika aku berusaha keras untuk melindungi!" balas Wira.


"Melindungi?" Mulut Zidan menganga sembari memutar bola mata kesal.


"Ya, aku sekarang sedang melindungimu dan nama keluarga Dirgantara. Jika kau ingin bertemu Zerin setiap hari, nikahi saja dia!" pungkas Wira.


Zidan berdecak kesal. Dengan wajah cemberut, dia kembali ke kamar. Meskipun begitu, Zidan tetap ingin menemui Zerin. Ia lantas menghubungi perempuan itu melalui telepon.


"Rin, mungkin aku akan sedikit terlambat menjemputmu," kata Zidan sembari membuka jendela. Dia akan diam-diam keluar dari sana.

__ADS_1


"Benarkah?" sahut Zerin dari seberang telepon.


"Iya, maaf. Tapi aku akan secepatnya menemuimu."


"Cepatlah! Aku takut Ibuku keluar dan menemukanku. Entah kenapa dia hari ini melarangku keluar dari rumah. Padahal sebelumnya dia selalu mengizinkanku pergi saat tahu aku akan bertemu denganmu." Zerin bercerita panjang lebar.


"Benarkah?" Zidan mengerutkan dahi. Dia sudah berhasil keluar dari jendela. Kini dia hanya perlu mencari pijakan agar bisa turun sampai selamat ke bawah. Terlebih posisi kamarnya berada di lantai dua. Jelas posisi tersebut agak jauh dari tanah.


"Ya, dia juga menakut-nakutiku dengan masalah begal. Padahal setahuku lingkungan di sini terbilang aman dari penjahat."


"Kita akan bicarakan saat bertemu nanti, oke?" Zidan yang ingin cepat pergi, memutuskan sambungan telepon lebih dulu. Ia segera turun dengan hati-hati. Memijakkan kaki dan berpegangan ke tempat yang tepat.


Usaha pelarian Zidan berjalan mulus. Dia terpaksa tidak menggunakan mobil agar tidak ketahuan. Zidan memanggil jasa ojek mobil untuk menjemput Zerin.


Mobil berhenti tepat di hadapan Zerin. Perempuan tersebut bergegas masuk.


"Tumben nggak pakai mobil sendiri?" Zerin terheran.


"Lagi malas nyetir." Zidan memberikan alasan asal.


Zerin mengernyitkan kening dan menggelengkan kepala. Mobil lantas kembali berjalan.


"Kita mau kemana?" tanya Zerin.


"Apartemenku," jawab Zidan sambil menatap lekat Zerin. "Besok aku juga akan bicara kepada pemilik rumah mewah yang kau inginkan itu," sambungnya.


"Benarkah? Terima kasih..." Zerin memeluk Zidan. Dia merasa tersentuh.


Tak lama kemudian, Zidan dan Zerin tiba di tempat tujuan. Ketika baru memasuki apartemen, Zidan menutup pintu dengan bantingan. Lalu langsung melu-mat bibir Zerin dengan penuh gairah. Ia mengangkat perempuan itu, hingga kaki Zerin melingkar kuat ke pinggulnya.


Sama seperti Zidan, hasrat Zerin juga menggebu. Keduanya melakukan ciuman panas cukup lama. Sampai akhirnya Zidan membawa Zerin ke kamar, dan menjatuhkannya ke ranjang. Dengan cepat tangan Zidan melepas seluruh celana dibalik dress selutut Zerin.


Zidan memasukkan kepala di antara dua kaki Zerin yang terbuka cukup lebar. Kepalanya tersembunyi dibalik dress Zerin yang belum terlepas. Pangkal paha hingga alat vital Zerin tak luput dari permainan lidahnya.


"Akh..." Zerin hanya bisa mengerang. Dua kakinya bergerak tak karuan.


Zerin melekukkan badannya ke depan dalam keadaan menggigit bibir bawah. Kedua tangannya sibuk berpegangan ke seprai yang menjadi alas ranjang.

__ADS_1


"Zidan? Kau di sini?"


Pintu depan mendadak terbuka. Suara Wira yang nyaring dapat terdengar jelas.


__ADS_2